Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Hampir Gila


__ADS_3

Axa keluar dari rumah sakit yang dimaksud Xuan. Sesuai dugaan, semua tidak akan mudah. An tersenyum melihat wajah Axa. Marah sih tidak, sebab semua sudah diprediksi oleh Orion. "Plan B?" tanya An santai. Axa mengangguk pelan. Bahkan setelah jadian dengan Nika, sifat kutub Axa tetap tidak berubah, berkurang diikkiiitt banget. Itu pun gara-gara Nika yang protes terus, sebab dia seperti bicara dengan tembok berjalan saat bersama Axa.


Xuan memang tidak memberi kepastian kalau orang tua Felix yang asli ada di sana. Namun dari semua CCTV yang Xuan retas, hanya kamera pengawas rumah sakit itu yang kedapatan mempunyai rekaman wajah sepasang suami istri yang mirip dengan Mario dan Meida yang asli.


Terlebih lokasi rumah sakit jiwa itu berada di kota paling dekat dengan tempat yang pernah dikunjungi oleh orang tua Sera delapan tahun lalu, dua tahun setelah Felix dinyatakan meninggal dan Sera dikirim ke Milan dengan alasan pemulihan depresi.


Hari itu tidak ada seorang pun yang tahu kalau ayah dan ibu Valdy, melakukan pertukaran tempat dengan orang tua Sera. Abraham menculik Mario dan Meida lantas memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Semua identitas dirampas, hingga Mario dan Meida dianggap gila karena mengaku sebagai anggota keluarga Athaya. Mereka tidak punya bukti apapun saat itu.Tidak ada yang percaya waktu itu, sebab Abraham dan Belia sudah lebih dulu masuk ke rumah keluarga Athaya. Tinggal anak buah Abraham yang memastikan kalau dua orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


"Aku yakin dia pasti melapor pada orang itu." An berujar pelan.


"Kalau begitu lumpuhkan yang di sana dulu. Putuskan komunikasi antara dia dan anak buahnya. Pastikan membawanya keluar saat anak buahnya sudah berada di bawah kendalimu."


Sederet perintah An dan Axa terima dari Orion. Keduanya mengangguk paham. "Pacarmu gak marah, sudah dua hari kau tinggal?"


Axa hanya menoleh kesal pada An. "Memang Atika tidak?" Axa membalas singkat.


"Kan dia tahu aku lagi tugas. Demi kelangsungan masa depan." Kata An nyengir sembari memakai sarung tangan, juga ear phone-nya. Lirikan tajam dari Axa menyiratkan kalau Nika juga tahu kalau dirinya ada urusan.


"Urusan apa kau bilang padanya."


"Luar negeri."


"Bohong dosa lo."


Axa tidak menjawab. Namun langsung keluar dari mobil, diikuti An. Jam kerja sudah berakhir, hingga rumah sakit itu mulai terlihat sepi. Axa melompati pagar untuk masuk ke bangunan besar itu. Setelah Xuan melumpuhkan sistem kamera pengawas lebih dulu. Di belakang Axa, An berjalan santai.


Berbelok ke arah loker staf rumah sakit. Axa menyeringai melihat resepsionis yang tadi dia temui. Pria itu berdiri membelakangi Axa sambil memainkan ponselnya. Bugh, Axa memukul tengkuk pria tersebut. An dengan sigap menarik tubuh pria itu ke sebuah ruang kosong. Sementara Axa langsung mengulik ponsel pria itu. Satu pesan baru saja akan dikirim ke kontak dengan nama bos besar. Bisa dipastikan jika itu nomor Abraham.


Axa ikut masuk ke ruang kosong tempat An menahan kaki tangan Abraham tersebut setelah mengirim pesan pada Abraham dengan bunyi, "Semua baik-baik saja."


"Mereka ada di sini." Axa berkata sambil menunjukkan ponsel orang itu. An tersenyum sambil menarik satu jarum dari lengan orang itu. Obat bius. "Ambil dia!" satu perintah terucap dari bibir Axa. Keduanya lantas memakai jas dokter yang temukan di tempat itu, yang rupanya sebuah area dry cleaning rumah sakit. Tak lupa masker keduanya pakai.

__ADS_1


Berjalan tenang menuju ke sebuah ruang yang mereka yakini sebagai ruangan tempat ayah dan ibu Felix dirawat. "Pantas saja kita tidak menemukannya di bangsal biasa. Lihat saja." An melirik ke depan di mana dua orang tampak berjaga. Berpakaian sebagai cleaning service tapi hanya diam memegang satu set alat pembersih ruangan. Tampak tidak bergerak dari satu pintu yang mereka jaga.


An dan Axa hanya melintas hingga mereka berhenti di sebuah lorong. Axa melihat ponsel orang yang tadi dibius An. Dengan An juga menghubungi anak buah. "Tidurkan mereka sampai besok pagi."


"Datang ke ruang dry cleaning."


Dua pesan dikirim ke dua nomor berbeda. Tak berapa lama dua orang itu beranjak pergi dari tempat itu. Axa mengeluarkan kunci lantas membuka pintu secara perlahan. Saat pintu di buka terdengar satu teriakan. Hingga Axa pun merangsek masuk.


Satu tendangan mendarat di punggung seorang pria yang sedang menyuntikkan sesuatu ke lengan seorang wanita. Pria itu terjungkal meninggalkan jerit histeris si wanita yang tak lain adalah ibu Felix, Meida.


Si pria berusaha bangun lagi, namun bogem mentah dari Axa kembali membuat pria itu tersungkur di lantai. Meida langsung merapat ke dinding, ketakutan luar biasa terlihat di wajah wanita itu.


Jika Axa terus menghajar dokter gadungan itu. An sibuk mencari Mario, ayah Felix. "Mario tidak ada di sini."


Axa menoleh, saat itulah satu pukulan menghantam pipinya. "Brengsek!!!" Maki Axa. Dia tidak boleh kena memar di wajah, atau Nika akan curiga. Nika kalau curiga, Axa tidak bisa melawan. Soal cerewet Nika dan Alea selevel.


"Cari Mario Athaya." An menghubungi Xuan. Satu sisi baku hantam, satu sisi tampak ketakutan. Namun saat An menyebut nama Mario, Meida berkata pelan. "Di...dia...dibawa pergi." Suara Meida terdengar bergetar dengan sesekali wanita itu menggelengkan kepala. Tubuh Meida gemetaran dengan tangan berkeringat dingin.


An segera melesat keluar dari sana, setelah menghubungi anak buahnya, untuk membantu Axa. Xuan segera melacak keberadaan Mario. Sebuah mobil mencurigakan Xuan temukan di gerbang samping rumah sakit, sedang menaikkan seorang pria yang tampak linglung.


"Ya, kita akan bertemu Felix."


"Sial!" An memaki saat mobil itu melaju pergi. Pria itu melirik kiri dan kanannya, hingga sebuah jalan pintas ia temukan. "Pandu aku!" An berlari sekuat tenaga, sambil mengikuti petunjuk dari Xuan. Sepuluh menit berlari, An melihat mobil itu berjalan, satu lantai di bawah An. An ada di lantai dua.


Brakkkk


Ciiitttttt


Mobil itu mengerem mendadak begitu mendengar sesuatu menimpa mobil mereka.


Bruukkkk

__ADS_1


Gubrakkkk


"Alamak....pinggangku!!!" An sesaat menggelepar di lantai cor semen. Pinggangnya serasa patah, dengan kepala yeng-yengan menghantam lantai keras. Dia terlempar dari atap mobil karena mobil itu berhenti tiba-tiba.


"Brengsek! Kau siapa?"


"Kau yang brengsek! Main rem tiba-tiba. Pinggangku patah, tanggung jawab kau!"


"Banyak omong!!!"


Duel pun terjadi. An meringis menahan sakit sambil meladeni serangan dari tiga orang yang langsung keluar dari mobil. Meninggalkan Mario seorang diri di dalam mobil. Saat itulah Axa masuk. Mario tentu ketakutan melihat Axa. Sosok yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Mau apa? Jangan bawa aku. Aku mau bertemu...."


"Felix....." Potong Axa cepat.


Wajah Mario yang tadinya ketakutan berangsur tenang setelah mendengar nama Felix disebut.


"Mereka membuat Mario dan Meida mengalami halusinasi. Ini keterlaluan." Gumam Axa sambil membimbing Mario keluar dari sana.


"Felix.....Sera...." Panggil Mario tiada henti.


"Mereka hampir gila dibuatnya."


*****



Axa dan An


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****


__ADS_2