
Alea melemparkan kuasnya ke lantai, kesal! Dia sama sekali tidak bisa fokus pada lukisannya. Rasa mual itu benar-benar menyiksa. Wanita itu tengah berbaring di kursi bulatnya, hanya itu yang bisa membuat perutnya nyaman. Beberapa kali Alea menggigit bibirnya.
Alea sudah mencari tahu di internet, dirinya kemungkinan tidak masuk angin. Tapi hamil. Alea menepuk dahinya sendiri. Berpikir bagaimana bisa sekali bercinta langsung melendung eh hamil. "Bodoh! Bodoh! Ini semua gara-gara Orion brengsek itu! Huwekk!!!"
Alea berlari ke kamar mandi, memuntahkan roti sandwich yang baru di makannya. "Woelah kagak terima amat bapaknya dimaki!" Seloroh Alea seorang diri. Berjalan keluar kamar mandi setengah sempoyongan, kembali menjatuhkan diri di kursi favoritnya.
Alea mengacak rambutnya, tidak pernah terbayangkan di usia 23 tahun dia hamil. Karena kecerobohannya sendiri. Meski semua belum pasti, tapi kemungkinan dia hamil lebih dari 50%, mengingat bulan lalu dia ternyata tidak kedatangan tamu bulanannya. Dia melupakan hal itu.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Niat hati ingin memutuskan hubungan dengan Orion dan yang lainnya. Tapi kenapa malah si kecebong malah tumbuh jadi tauge. Ingin rasanya Alea menangis sekencang yang dia bisa. Berpikir kalau hidupnya sial sekali. Sepuluh bulan hidup seperti buronan, karena banyak yang mengincarnya. Setelah bebas dari buronan malah jadi seperti wanita penghibur. Hamil...eh tapi ini ketahuan sih siapa penanam sahamnya.
"Duh.. masak iya sih aku harus minta tanggung jawabnya." Alea pusing sendiri. Bisa dibayangkan bahagianya Orion kalau dirinya mengiyakan lamaran pria itu. Wanita itu mengangkat tangannya. Di mana cincin pertunangan dari Orion masih berada di sana. Orion paham kalau Alea menyukai model yang simple untuk perhiasan. Alea tahu jika batu berkilau di cincinnya adalah berlian asli bukan KW. Walau tidak terlalu mencolok tapi mahal sudah tentu.
"Pakai cincinnya lagi atau aku bawa kau ke kasurku lagi."
Dahlah Alea pasti manut kalau sudah diancam mau dieksekusi di ranjang. Dia jelas tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Melihat cincinnya lagi, tidak akan ada yang sadar kalau Alea memakai cincin.
Sementara Alea bingung dengan kehamilannya yang belum pasti, raut wajah ketakutan tampak di raut wajah Axa. Di mana pria itu sekarang sedang di sudutkan oleh Nika, sang kekasih. "Bisa dijelaskan kenapa Orion bisa ada di kamar Alea dan bilang kalau Alea tunangannya?!" Dua kali Nika bertanya dan dua kali Axa menyangkal dengan jawaban tidak tahu.
Awalnya Nika tidak menggubris saat teman satu divisinya heboh ketika Orion mengunggah fotonya di kamar Alea. Namun Nika lama-lama kepo juga. Melihat ekspresi lebay teman-temannya. Sampai Nika mencari akun media sosial Orion, betapa terkejutnya Nika saat melihat kamar Alea di postingan Orion. Nika tahu benar kamar Alea. Mereka sering menghabiskan waktu di sana.
Yang membuat Nika langsung mencari Axa adalah caption Orion yang berbunyi kamar tunangan. Bukankah tunangan Orion Sera, kenapa sekarang pria itu seolah mengatakan kalau Alea tunangannya. Maksudnya bagaimana.
"Axa jelaskan!" Pekik Nika kesal.
"Jelaskan apa lagi? Itu Orion hanya iseng, gak ada kerjaan dia. Kesepian." Balas Axa mencoba bersikap tenang.
"Jangan bohong kamu. Itu jelas ya kamar Alea. Ngapain dia di sana?"
__ADS_1
"Mana tahu dia cuma ngedit gambar itu. Aarrrgghhh." Axa meringis saat Nika menjewer kupingnya. Habis sudah harga dirinya sebagai bodyguard nomor wahid bagi Orion. Dia selalu kalah di hadapan Nika, yang Axa akui punya seribu satu cara untuk mengatasi dirinya.
"Eh bapak yang ngakunya pakar IT sama bodyguard hebat. Ngeditnya bagaimana? Lihat dong itu jelas foto aku sama Alea. Cuma ada dua. Gak ada di tempat lain." Nika memperbesar foto di belakang Orion. Di mana terlihat foto Nika dan Alea berpelukan.
"Mati aku!!! Mau mengelak pakai cara apa lagi sekarang." Batin Axa frustrasi. Pria itu tidak menyangka kalau Nika akan sedetail itu saat mengamati sesuatu.
"Malah diam! Nggak bisa ngelak kan sekarang?! Sekarang jelaskan! Apa Bu Sera adalah Alea. Apa mereka bertukar tempat?" Bola mata Axa membulat, tidak percaya jika ucapan Nika begitu tepat sasaran. Axa terdiam, memikirkan cara untuk berkelit. Namun pikirannya buntu.
"Diam berarti iya. Oh my God. Apa ini." Nika melepaskan jewerannya dari kuping Axa. Gadis itu lantas berjalan mondar mandir tidak karuan di depan Axa.
"Jangan begitu dong. Tambah pusing aku jadinya." Nika langsung menghentikan aksinya. Melihat tajam ke arah Axa.
"Katakan kalau yang aku ucapkan tadi benar! Sera adalah Alea." Axa langsung kelabakan dibuatnya. Mau menjawab bagaimana, semua membuatnya serba salah.
"Axalio Satya jawab!!!" raung Nika yang spontan membuat Axa membekap mulut sang kekasih.
"Bodo amat! Jawab atau aku teriak ni."
"Teriak saja. Ruangan ini kedap suara." Axa teringat hal itu akhirnya. Nika mengubah ekspresi wajahnya menjadi seringai. Gadis itu mendekat ke arah Axa, pria tembok yang menjadi kekasihnya itu sangat anti untuk skinship dan anti romance, Axa hanya dua kali mencium Nika sejak mereka jadian.
"Mau apa?" tanya Axa curiga. Pria itu memundurkan diri saat Nika menghimpitnya ke tembok. Gadis itu sengaja menempelkan tubuhnya ke tubuh kekar Axa. Nika sendiri sebenarnya kepo dengan tubuh sang pacar. Dia pernah melihat Axa berganti baju dan tubuh sang pacar benar-benar membuat Nika berkali-kali menelan ludahnya.
"Hei....hei....singkirkan tanganmu dariku." Axa mulai gelagapan saat tangan Nika mulai bermain di dadanya.
"Bilang tidak?" Nika mulai menciumi leher Axa. Semakin tidak karuanlah Axa di buatnya. Tubuh Axa mulai merinding dengan yang dibawah sana mulai bergejolak. Nika bukan hanya mencium tapi sesekali menghisap leher pria itu, dengan tangan Nika mulai melepas kancing kemeja sang kekasih.
"Busyeett dah! Kenapa ni cewek jadi agresif begini. Minta dibawa ke kasur apa?" batin Axa frustrasi.
__ADS_1
"Pilih. Beritahu aku yang sebenarnya atau aku teruskan ini." Nika mulai mencium bibir sang kekasih, gila! Kalau begini caranya bisa-bisa Nika yang memperkosaa Axa.
Aksi Nika membuat hasrat Axa naik. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani memancing sisi kelelakiannya. Ini sangat berbahaya. Pikiran Axa mulai melayang saat tangan Nika menelusup masuk ke dalam kemejanya. Bergerak turun hingga menyentuh gaspernya. Saat itulah alarm tanda bahaya di otak Axa berbunyi. Pria itu langsung menangkap tangan Nika. Menghentikan kegilaan Nika yang memang kadang sama levelnya dengan sang sahabat, Alea. Level akut.
"Akan aku beritahu, tapi ada harga yang harus kamu bayar." Nika mengulum senyum dengan bibir masih menempel di bibir Axa.
"Berapa atau kamu mau dimasakkan apa?" Axa suka masakan Nika.
"Aku tidak butuh itu semua. Aku perlu kamu untuk menuntaskan apa yang sudah kamu mulai."
Bola mata Nika membulat. Berniat ingin mengerjai Axa, justru Nika sendiri yang kini terjebak dalam permainannya sendiri. " Mati aku! Mahal benar bayarannya buat dapatin info soal Alea." Batin Nika yang detik berikutnya menjerit. Karena Axa membopongnya ke sofa terdekat.
"Mau ngapain?" Giliran Nika yang bertanya ketakutan.
"Let's start the game!"
****
Couple yang rada-rada pagi ini 🫣🫢
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1