Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Surprise Besar


__ADS_3

Xia Sun melesat keluar dari kamar tempat Xia Lin mengganti baju, setelah si pelayan yang menyenggol Xia Lin hingga nyemplung ke kolam di temukan. Langkah Xia Sun diikuti oleh Alea, gadis itu akan memastikan kalau Xia Sun tidak memarahi waitress itu di luar batas.


Setelah kepergian semua orang, Orion yang berada paling belakang pun ingin menyusul. Namun satu pelukan membuat urung niat Orion. "Kau yakin ingin pergi?" Orion sejenak terdiam. Bisa pria itu rasakan tubuh Xia Lin yang hanya terbalut bathrope kamar mandi hotel. Jelas gadis itu tidak memakai pakaian apapun di sebalik kain tersebut.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Orion tanpa berbalik ataupun bereaksi atas pelukan Xia Lin.


"Tinggalkan Sera, dan kau akan mendapat lebih saat bersamaku."


Orion tersenyum mengejek. Apa Xia Lin pikir, dia sedang mencari sesuatu yang lebih dari Alea. Tentu saja tidak, Orion tipe pria yang konsisten dengan pilihannya.


"Apa kau pikir aku tertarik padamu?"


"Aku bisa berikan apa yang Sera berikan padamu. Bahkan lebih."


Xia Lin membalik tubuh Orion, lantas tanpa basa basi berjinjit lalu mencium bibir pria yang baru saja menjadi tunangan Alea itu. Xia Lin mencium Orion penuh nafsuu. Sesungguhnya apa yang Xia Lin rasakan pada Orion, dia sendiri tidak tahu. Yang jelas, sejak kecil Xia Lin selalu iri dengan apa yang Sera miliki. Felix, Vano dan Valdy selalu mengelilingi gadis itu. Memperlakukan Sera bak seorang putri. Meski dia sudah punya Xia Sun yang juga sangat menyayanginya, entahlah. Bagi Xia Lin itu tidak cukup.


Sudut bibir Xia Lin tertarik saat Orion mulai membalas ciumannya. Keduanya mulai memagut sama lain, sampai Orion mendorong jatuh Xia Lin ke ranjang di belakangnya. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Orion akan jadi miliknya di hari pertunangannya.


Orion mulai melepaskan dasinya, jasnya, vest bahkan mulai mengurai kancing kemeja. Saat itulah Xia Lin merasa keberhasilan sudah ada di depan mata. Sampai satu ucapan Orion membuat Xia Lin bungkam.


"Sayangnya aku tidak tertarik padamu. Apapun yang kau tawarkan padaku, tidak akan membuatku berpaling dari Sera." Orion berbalik sambil membawa pakaiannya.


"Apa yang dia miliki sampai kau dan yang lainnya, melihatku pun tidak?!" Pertanyaan Xia Lin adalah rasa yang selama ini terpendam dalam hatinya sejak lama.


Orion menghentikan langkahnya lantas berbalik. "Dia baik, dia tulus, tak peduli pada siapapun itu. Dan sekarang, yang paling aku suka dari Sera adalah....dia tidak pernah pura-pura di hadapan banyak orang. Apa adanya." Xia Lin mengepalkan tangannya erat melihat Orion berlalu keluar dari kamar tersebut.


"Serafina Athaya, kau benar-benar membuatku muak!" Xia Lin mengamuk di kamar itu. Gadis itu mengumpat, memaki nama Sera tanpa henti. Sementara itu Orion berjalan menjauh dari kamar Xia Lin sembari menyentuh pergelangan tangannya.


"Kak Vano ini bagaimana bisa melukai tangan kak Valdy?!" Sera remaja berteriak marah pada Vano. Gadis kecil itu langsung menarik tangan Valdy lalu mengobati lukanya.

__ADS_1


"Aku ada sesuatu untuk Kak Valdy."


Sebuah gelang yang kini melingkar di tangan Orion ternyata pemberian Sera, untuk menutupi bekas luka yang ada di sana. Air mata Orion mengalir saat dia teringat, dia tidak mampu melindungi Sera, bahkan gadis itu sampai meninggal. Dia sendiri tidak tahu bagaimana menghadapi Felix nanti.


"Mereka akan membayar mahal untuk apa yang sudah mereka lakukan pada kalian, Sera dan Kak Felix."


*


*


Sinar mentari menerobos masuk ke sela-sela tirai yang menutupi jendela hotel kamar Alea. Orion mengerjapkan matanya. Berusaha menyesuaikan dengan cahaya terang yang masuk ke ruangan itu. Pria itu menggeliat pelan, hingga di mendengar satu gumaman lirih, begitu dekat dengannya.


Orion membuka mata, dan nampaklah wajah Alea yang tidur dalam pelukannya. Tangan gadis itu berada di perutnya, seolah memeluk dirinya. Seulas senyum terbit di bibir Orion, teringat bagaimana semalam keduanya malah gelud tidak jelas di atas ranjang besar itu.


Alea marah kenapa Orion malah masuk ke kamarnya, mereka baru tunangan belum menikah. Tidak boleh berada di satu kamar yang sama, apa lagi satu tempat tidur yang sama. Sementara Orion yang memang sengaja ingin mengerjai Alea, terus saja berkata kalau dia akan meniduri Alea.


Kontan Alea berteriak kesal begitu mendengar ucapan Orion yang baginya tidak masuk akal. Hampir dini hari dua orang itu mengakhiri debat unfaedah mereka. Orio melirik Alea yang berkali-kali menguap, saking ngantuknya. Bertengkar dengan Alea ternyata mampu memperbaiki moodnya yang hancur gara-gara ulah Xia Lin.


"Dua jam lagi." Orion terbahak, dua jam lagi kata Alea.


"Lima menit atau bangun sekarang. Kau tidak lihat kau tidur di mana?"


Alea justru mengeratkan pelukannya pada Orion dengan tangan Alea merayap naik ke dada pria itu, ditambah kaki Alea yang melingkari paha Orion. Dekat sekali dengan pusakanya.


"Hei, maksudmu apa? Mau menggodaku?" Orion berucap panik. Benda itu selalu bangun di pagi hari, begitu rutinitasnya. Lah kalau sekarang ditambah godaan datang dari Alea, bisa gawat ini.


"Godain apaan sih? Kan kamu tidur di sofa. Gitu peraturannya."


"Sofa dari mananya? Lihat ini. Buka matamu!" Gemas Orion memencet hidung Alea, membuat gadis itu langsung membuka mata.

__ADS_1


Teriakan Alea melengking, hingga Orion pun memejamkan mata. "Kau...ngapain di sini?"


"Malah balik nanya? Kau yang ngapain?"


Alea membulatkan mata melihat kelakuannya sendiri. "Sembarangan kalau ngomong. Dia sendiri yang minta diterkam mau nyalahin orang!" gerutu Orion sengit.


"Mana ada!" sanggah Alea. Dia jelas malu dengan tindakannya. Dia kalau tidur memang suka bergerak tidak karuan. Peluk sana sini sudah sering terjadi jika dia tidur dengan Nika.


"Ada juga gak apa-apa. Buruan bangun atau aku makan sekarang. Dia bangun tu."


Alea langsung ngibrit ke kamar mandi begitu melihat sesuatu menyembul di balik celana, di pangkal paha pria itu.


"Orion mesummmm!!!" Teriak Alea dari kamar mandi. Sementara Orion langsung memejamkan mata, mengambil selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Alea membuat darah Orion memanas, melihat dada mulus gadis itu. Gaun model off shoulder yang Alea kenakan, memang sedikit mengekspose pundak dan dada atas gadis itu.


Itu sudah lebih baik dibanding gaun lain yang mempertontonkan hampir semua lekuk tubuh si pemakai. Ada yang bahannya lace menerawang, belahan dada rendah, belahan pada tinggi, backless- punggung terlihat. Haish Orion pusing sendiri saat menemani Alea fitting waktu itu. "Gak sekalian telanjang saja." Komen Orion waktu itu.


Angan Orion buyar saat ponselnya berbunyi. Bagus, dia perlu pengalihan untuk menidurkan miliknya yang masih menegang di balik selimut.


"Halo, Rion kabar bagus. Felix siap kembali dan aku...kami berhasil menemukan klinik di mana mereka melakukan operasi plastik. Kau akan shock saat tahu siapa mereka. Ini di luar dugaan kita, kau akan dapat surprise besar sebagai hadiah pertunanganmu."


Orion memandang lurus ke depan. Mungkinkah dugaannya selama benar. Jika iya, ini bukan hanya surprise besar untuknya tapi pukulan telak dalam hidupnya.


"Aku harap itu bukan kalian."


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2