
Ilario dan Abrabam saling pandang dengan senyum puas terukir di bibir masing-masing. Keduanya sengaja menciptakan kebakaran dan mengecoh petugas penjara dengan dua mayat yang sudah disiapkan oleh anak buah Ilario. Keduanya ternyata mempunyai musuh yang sama yaitu Orion, hingga mereka merencanakan kabur dari penjara untuk membalas dendam.
Mobil yang membawa Ilario dan Abraham menjauh dari kawasan penjara yang masih kacau karena ulah mereka. Ilario yang seorang mafia berkedok pejabat pemerintah, tentu punya seribu satu cara untuk sekedar lepas dari penjara.
Terlebih dia enggan dideportasi ke negaranya, pasalnya akan lebih ribet urusannya. Akan lebih baik jika negaranya tahu kalau dia sudah mati. Mobil itu membawa Ilario dan Abraham ke sebuah vila di pinggiran kota. Sebuah tempat yang terlihat biasa, tapi begitu mewah saat Abraham masuk ke dalamnya.
"Apa kau sudah punya rencana untuk membalasnya?" tanya Ilario sambil meminum wine dari tangannya.
"Tentu saja sudah." Balas Abraham sambil menyeringai. Ilario menarik sudut bibirnya. Dia yang akan memetik keuntungan dari aksi Abraham membalas dendam. Orion mati, dia yang senang.
Berita soal kematian Abraham sampai ke telinga Belia, bisa dibayangkan bagaimana sedihnya wanita itu, anaknya sudah meninggal, dan kini suaminya juga pergi. Putus asa langsung mendera Belia. Perempuan itu terlihat sangat terpukul, yang Belia bisa lakukan hanyalah menangis dan menangis. Hidup terasa tidak adil untuk wanita itu.
Di tempat lain, semua orang kembali menatap takjub pada sosok Orion yang datang ke rumah Alea. Ditambah kepulangan Alea, semua menjadi tanda tanya yang besar bagi netijen maha benar dan tetangga super julid di sekitar rumah Alea. Satu hal yang pasti mereka tidak rela jika Orion berjodoh dengan Alea.
Menurut pendapat mereka, Alea yang super buluk tidak pantas bersanding dengan Orion yang super glowing. Padahal mereka belum melihat penampilan terbaru Alea. Yang kini cetar membahana, kece badai. Si muka dakocan aja kalah.
"Kagak rela gue kalo si ganteng itu beneran pacaran ama si buluk lupa." Bisik seorang ibu setelah keluar dari warung bu Lani. Yang lain langsung mengangguk antusias. Serasa mendapat teman setim, satu server, satu perjuangan ehhh.
"Lah memang nak Orion bukan pacarnya Alea kok." Bu Lani menimpali, dia tidak marah mendengar putrinya dijelek-jelekkan oleh tetangganya sendiri. Yah beginilah hidup di kampung. Kuping harus anti banting dan anti dengar. Kalau tidak, bisa darah tinggi mendengar pendapat dari para haters berkedok tetangga.
Bu Lani hanya tersenyum, kelakuan tetangganya memang ajib, seenaknya saja kalau njeplak, waton bunyi. Tetangga bu Lani masih berada di sana saat Alea dan Orion keluar bersamaan dari dalam rumah.
Seketika, semua orang menganga mulutnya. Bak scene di sebuah film kartun, mereka semua salfok dengan wajah bening milik Alea. Seolah ada lampu neon seribu watt yang menerangi wajah Alea.
"Elah bujug ajib, itu Alea apa bukan sih. Kenapa jadi kek mis unipers begitu yak? Cantik bener." Seloroh seorang ibu berdaster bunga matahari.
__ADS_1
Yang lain tentu kepo, mereka merapatkan barisan bak menyambut artis terkenal mau lewat. Seperti fashion show, Alea dan Orion tampak seperti model yang berjalan di atas runaway dengan para emak menjadi jurinya.
"Kenapa ke sini?" tanya bu Lani setelah Alea masuk ke warung. Mengabaikan tatapan kepo banyak orang.
"Masih sama seperti dulu bu?" tanya Orion seperti biasa langsung mengambil air mineral dari showcase yang ada di warung bu Lani.
"Ya begitulah nak Orion. Maklum orang kampung. Ada yang beda sedikit langsung jadi topik hangat." Alea mendengus kesal mendengar jawaban sang ibu. Dua hari ini, Alea akan menikmati waktunya di rumah sebelum kembali ke rutinitas kuliahnya. Gadis itu mulai membantu sang ibu, menata barang dagangan yang baru saja datang.
"Bu, jadi gak mau nambah gudang di belakang?" Alea teringat dulu Lani pernah mengatakan ingin menambah sebuah gudang di belakang toko. Barang dagangan bu Lani semakin banyak dan mereka kekurangan tempat untuk menyimpan. Apalagi jika sales datang bersamaan.
"Alea punya tabungan dari hasil magang. Kalau ibu mau pakai?" Lani tersenyum. Putrinya juga bertambah dewasa sekarang.
**
**
Orion sendiri sudah seminggu kembali ke ibukota. Di rumah Alea, Orion hanya menginap satu malam. Dia belum memberitahu orang tua Alea soal siapa dirinya yang sebenarnya. Pria itu ingin membiarkan ayah dan ibu Alea menikmati waktu mereka tanpa memikirkan hal lain.
Pikiran Alea jadi kalut. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Orion kalau dia hamil. Pria itu akan menerima atau justru mengingkarinya. Kegundahan Alea bertahan sepanjang hari. Beruntung besok kuliah Alea libur, akhir pekan selalu libur. Langkah Alea gontai sepanjang jalan menuju pintu keluar kampus. Tanpa Alea tahu, kalau Tea mengikutinya.
Kekesalan Tea sepertinya sudah mencapai puncaknya. Bagaimana sekarang Alea bertambah cantik, juga dikelilingi pria tampan di sekitarnya. Tea iri setengah mati pada Alea. Gadis itu berpikir harus memberi Alea pelajaran. Sedikit pelajaran agar Alea kapok dan tidak tepe-tepe lagi. Dia adalah ratu kampus ini. Tidak ada yang boleh menandingi kecantikan dan kepopulerannya.
"Eh sugar baby!" Alea memejamkan mata mendengar panggilan Tea. Siapa lagi yang akan memanggilnya seperti itu selain Tea and the geng.
Suasana hati Alea yang sedang buruk, membuat Alea kesal. Hanya saja bumil itu masih mampu menahan diri. Kalau tidak, dia bisa menghajar Tea menggunakan jurus bela diri yang banyak Orion ajarkan padanya.
__ADS_1
"Aku bicara padamu! Kau dengar tidak? Alea!!"
Alea menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Tea. "Kau memanggilku?" tanya Alea sambil menunjuk dirinya sendiri.
Tea mendekat ke arah Alea. Lalu mendorong tubuh wanita itu. Alea terhuyung ke belakang, tapi masih dapat menyeimbangkan diri.
"Kenapa kau?!" bentak Alea marah.
"Kau wanita murahan! Berani kau membentakku!"
"Aku bukan wanita murahan!" teriak Alea kesal. Amarahnya mendekati puncak.
"Lalu apa kalau bukan murahan namanya?" Alea menyeringai mendengar ejekan Tea.
"Murahan katamu? Setidaknya aku tidak perlu mendessah di bawah tubuh Mr J untuk mendapatkan nilai bagus!"
Bola mata Tea membulat, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Bagaimana Alea bisa tahu soal hal itu. Ucapan Alea memicu kemarahan Tea semakin besar. Diselimuti amarah, Tea tanpa ragu mendorong tubuh Alea ke arah tangga. Semua orang memekik melihat bagaimana tubuh Alea berguling-guling di tangga. Sampai berhenti di ujung tangga. Alea sejenak terdiam. Tak berapa wanita itu tidak sadarkan diri. Dengan darah mengalir dari kepala, juga kedua belah kakinya.
"Alea!!!"
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1