Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Panik


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Vano berjalan mondar mandir di ruang kerjanya. Satu fakta baru saja dia ketahui. "Jika Orion adalah dia. Bagaimana bisa ini terjadi?" Vano mengusak rambutnya kasar. Dia melihat dengan jelas bagaimana dua orang itu terjatuh ke air terjun. Tubuh mereka hilang ditelan derasnya aliran sungai di bawah air terjun tersebut.


"Jika dia adalah Valdy, apa kemungkinan kak Felix juga masih hidup." Pertanyaan itu kini muncul di benak Vano. Bersamaan dengan rasa ingin tahu kenapa Valdy kembali dengan identitas lain. Apa sebenarnya tujuan Valdy melakukan semua ini.


Vano berkali-kali menarik nafasnya berat. Seolah beban berat tengah ia bawa di pundaknya. "Kenapa Valdy kembali sebagai Orion? Apa salahnya mengaku sebagai Valdy, toh kakek Beni akan senang jika Valdy pulang." Gumam Vano.


Lamunan Vano buyar saat pintu diketuk dari luar. Pria itu berbalik, dilihatnya Xia Lin yang berjalan ke arahnya. Pria itu mengerutkan dahi melihat Xia Lin yang berkunjung ke kantornya. "Ada apa kau kemari?" Vano bertanya tanpa basa basi. Bukannya marah, Xia Lin justru tersenyum.


"Apa kau lupa kalau kita ada schedule untuk melihat brankas bahan baku Star Jewerly. Bukannya Sera sudah menyetujuinya. Kalau kau akan menemaniku. Sebagai bonus karena kami telah menjadi reseller dengan penjualan paling banyak untuk seri Black Rose dan Friendship Bracelet." Tutut Xia Lin panjang lebar.


"Astaga bagaimana aku bisa lupa." Vano melempar tatapan tajam ke asistennya yang langsung memasang tampang memelasnya. "Harusnya setelah makan siang schedule touring-nya, tapi kenapa dia rajin sekali, sepagi ini sudah datang." Asisten Vano berbisik pada atasannya.


"Masalahnya aku tidak membawa kartu akses ke brankas milik Tuan Athaya." Vano memberi alasan.


"Bukankah ada Sera, dia kan bisa membukakan pintunya untuk kita."


Glek! Vano menelan ludahnya kasar. Dia yang hanya percaya 50% kalau Alea adalah Sera tentu panik. Membuka brankas Star Jewelry, perlu proses rumit jika dibuka secara manual. Ada beberapa tahap yang harus Alea lalui. Dan itu tidak mudah.

__ADS_1


Vano baru saja akan memikirkan cara untuk menolak keinginan Xia Lin, tapi wanita itu sudah menarik tangan Vano. Keluar dari sana menuju ruangan Alea. Tanpa basa basi Xia Lin langsung masuk ke ruangan Alea setelah mengetuk pintu. Alea, Orion dan Xuan seketika mengangkat wajah masing-masing. Melihat kedatangan Xia Lin dengan menggamit lengan Vano. Ketiganya saling pandang.


"Ada apa kalian kemari?" Suara Orion kembali membuat Xia Lin terpukau. Ketampanan pria itu tidak kalah dibanding Vano.


"Selamat pagi, bisakah kau membuka pintu brankas untuk kami. Kami ada touring pagi ini." Kata Xia Lin cepat.


"Bukankah jadualmu setelah makan siang. Kenapa kemari sepagi ini?" Xuan dengan berani menjawab permintaan Xia Lin setelah melihat tabnya, menyusup ke schedule Vano.


"Aku ada meeting penting dengan klien setelah makan siang. Jadi touring-nya kuajukan sekarang." Xia Lin menjawab santai. Jelas ada maksud tersembunyi dari niat Xia Lin itu. Apalagi jika bukan untuk membuktikan Sera itu palsu atau tidak.


Orion dan Alea saling pandang. Membuka pintu brankas Star Jewelry, prosesnya akan sangat sulit untuk Alea. Sebab pengunciannya menggunakan data Sera waktu gadis itu berusia 15 tahun, sehari sebelum kepergiannya ke Milan. Pintu brankas hanya bisa dibuka dengan kartu khusus milik Beni Athaya. Dan selama ini hanya tiga orang yang biasa menggunakannya. Beni, Adnan dan Vano.


"Kenapa? Kau tidak bisa....atau tidak mau? Baiklah kalau tidak mau. Aku bisa bilang pada mereka kalau pintu brankasnya tidak bisa dibuka." Kata Xia Lin sambil berbalik arah, keluar dari ruangan Alea.


"Kau tidak bisa melakukannya." Orion mencekal tangan Alea. Pemandangan itu sesaat menyita perhatian Vano. "Bagaimana jika Orion adalah Valdy? Apa yang akan aku lakukan?" Lamunan Vano buyar saat Xia Lin menarik tangannya setelah Xia Lin mengedipkan satu matanya pada Orion. Di mana Orion langsung memutar matanya jengah dengan kelakuan Xia Lin.


"Aku hanya bisa membantunya sampai lolos scan sidik jari." Xuan berucap setelah pintu terkunci otomatis. "Lakukan. Selanjutnya kita akan bergantung pada keberuntungan Alea." Perintah Orion. Xuan segera bekerja. Menyusup masuk ke database brankas Star Jewerly. Sementara itu Alea berjalan dengan raut wajah cemas, di sampingnya berjalan An, sedang di belakangnya ada Vano dan Xia Lin.


"Tes DNA memang membuktikan kalau kau Sera. Tapi kita lihat, apa kau bisa melewati ini." Batin Xia Lin tidak sabar, ingin melihat bagaimana Alea menghadapi pintu brankas Star Jewelry.


Dua orang petugas berjaga di depan pintu besar dengan satu perangkat layar monitor. Xia Lin menolak tawaran Vano yang ingin mengambil kartu akses milik Beni. Berdalih kalau ini tidak akan lama, tidak akan mengganggu jam kerja Alea. Vano menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak tahu bagaimana membujuk Xia Lin agar membatalkan touring sialan ini.

__ADS_1


"Apa ada cara lain untuk membobol pintu itu?" Orion bertanya dengan mimik wajah panik.


"Ada, tapi itu akan memakan waktu lama. Dan Alea keburu ditolak sistem. Pass, finger print lewat." Orion mengangkat wajahnya setelah mendengar info dari Xuan.


"Next, cornea scan. Aku yakin dia lolos. Yang terakhir enam digit angka. Itu yang aku tidak bisa memecahkannya sampai sekarang."


Orion menggigit kukunya, kebiasaan kalau dia panik. Kebiasaan yang tidak berubah dari seorang Rivaldy Antareksa.


Di sisi Alea, gadis itu menarik nafasnya lega saat scan kornea menyatakan dirinya lolos. Terang saja dia Alea lolos. Kornea matanya adalah milik Sera. Vano dan Xia Lin jelas terkejut. Hal ini diluar prediksi keduanya. Bagaimana bisa dia lolos finger scan dan scan kornea? Dua orang itu bertanya dalam hati.


"Yang terakhir enam digit angka yang harus Nona Sera masukkan. Silahkan." Seorang petugas menunjukkan satu bilah papan berisi digit angka dari o sampai 9.


"Mati aku! Aku sama sekali blank soal ini." Alea menggigit bibirnya, sambil melihat panik ke arah An, yang seketika membuat wajah tak tahu. Lah dia memang tidak tahu menahu soal password masuk ke brankas SJ. Raut wajah panik itu rupanya tertangkap oleh Vano dan Xia Lin.


"Akan kulihat sejauh mana kau bisa menipu semua orang. Tes DNA bisa kau manipulasi, aku yakin itu. Tapi password ini, aku dengar sangat rahasia. Hanya empat orang yang tahu soal kode ini. Jika kau Sera yang asli kau pasti tahu kodenya. Jika tidak, aku meragukan soal siapa dirimu." Batin Xia Lin.


"Hanya ayah dan ibu Sera, Sera dan kak Felix yang tahu password ini." Giliran Vano juga berucap panik dalam hatinya.


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


*****


__ADS_2