
Orion berlari keluar dari rumah Alea selepas mendapat telepon dari Axa, mengenai keberadaan Alea. Setelah berpamitan pada bu Lita, pria itu masuk ke dalam mobilnya. Lantas melajukannya pergi dari sana.
"Jika luang mainlah ke sini. Ajak pacarnya ke sini." Orion tersenyum mendengar ucapan bu Lita. Pria itu pikir akan datang lagi sambil melamar Alea. Melamar? Wah otak Orion sudah mengajak serius untuk berumah tangga rupanya.
Dalam hati Orion sibuk mengumpat Xuan, masa mencari keberadaan Alea saja tiga hari tidak ketemu. Xuan sendiri sudah begadang untuk mencari Alea, tapi entah kenapa pria itu tidak bisa menemukan tempat Alea menginap. Vila berbentuk kerucut itu, semua tempat sudah Xuan retas datanya tapi tidak menemukan satu tamu atas nama Alea.
Satu informasi justru di dapat Axa dari Nika. Pria itu sambil "mengerjai" Nika, sembari mengorek informasi soal Alea. Awalnya Nika ketakutan saat Axa menindih tubuhnya, mencium bibirnya. Sampai Nika mendorong kembali tubuh Axa, meminta kepastian jawaban soal Alea dan Sera. Gadis itu seketika menutup mulutnya, tidak percaya saat Axa akhirnya buka mulut soal Alea menggantikan tempat Sera yang sudah meninggal. Berkali-kali Nika bertanya itu serius? Berulang kali pula Axa menjawab iya, di tengah aksi gila pria itu mencumbu tubuh Nika.
Saat Nika mulai terlena, Axa lekas menanyakan tempat yang ingin Alea ingin kunjungi. Dan satu tempat terucap dari bibir Nika sebagai jawaban, di tengah rasa geli dan nikmat saat Axa menciumi leher Nika. Begitu mendengar jawaban Nika, Axa langsung berhenti dari acara mencumbu tubuh sang kekasih. Misi selesai, meski kini dia yang kerepotan. Yang dibawah sana terlanjur bangun.
Nika menghembuskan nafas lega. Saat Axa merebahkan diri di sampingnya lantas memeluk tubuh Nika. Sofa itu sedikit kekecilan untuk Axa dan Nika. "Tcckkk, kau menyusahkanku!" Gerutu Axa, merasakan miliknya serasa menyiksa. Terlebih Nika yang justru berbaring diatas tubuh Axa. "Salah sendiri mancing-mancing. Sekarang ceritakan bagaimana semua bisa terjadi." Pinta Nika. Dan mulailah Axa bercerita soal kejadian sepuluh bulan lalu, sampai hari ini.
**
**
"Kau yakin dia ada di sana?" tanya Orion melalui head set bluetooth-nya.
"Kata Nika, itu satu-satunya tempat yang ingin dia kunjungi selain Milan. Berhubung dia menolak ke Milan, Alea pasti ke sana. Suruh Xuan melacak ke tempat itu."
"Kenapa bukan kau saja yang nyari."
"Aku sedang ada urusan." Balas Axa santai. Orion melepas alat kecil itu dari telinganya. Setelah memperingatkan Axa untuk tidak macam-macam. Axa tersenyum mendengar peringatan Orion. Melihat ke arah Nika yang tidur di sofa. Paha gadis itu sedikit terekspose karena rok yang Nika pakai terangkat ke atas. Jangan lupa pemandangan indah yang tersaji di depan mata Axa, bahu putih nan menggoda melambai seolah memanggil Axa untuk mengecapnya. Sebagian dada Nika juga terlihat pasalnya Axa memang membuka kancing blus yang gadis itu pakai. Axa menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Menyusahkan saja." Axa masuk ke kamar mandi, menyelesaikan apa yang sudah Nika mulai.
Di tempat lain, Orion terus memacu kendaraannya. Melaju ke arah barat di mana ada perbukitan dan perkebunan teh di sana. Perlu waktu lama untuk mencapai tempat itu. "Alea mengecoh kita. Vila kerucut di tempat itu cuma beberapa buah. Yang lain bentuknya kubah sama rumah biasa. Lah aku fokus nyari ke vila yang bentuknya kerucut doang." Xuan beralasan.
Orion sedikit kesal dengan asistennya yang satu itu. Bisa-bisanya tertipu oleh Alea. "Lah dia cewekmu, harusnya kau paham kalau dia akan sama licik dan licinnya denganmu." Orion tersenyum mendengar bantahan Xuan yang enggan di salahkan. Ya, Alea memang sulit ditebak. Namun yang jelas, sifat keras kepala Alea yang belum ada obatnya.
Sementara itu, Darrel tampak mengerutkan dahi membuka amplop yang diberikan anak buahnya. Mereka yang Darrel suruh untuk mengawasi rumah sakit dokter Made.
"Ini apa maksudnya?" Darrel melebarkan mata melihat foto Mario dan Meida dalam pakaian khas pasien rumah sakit itu. "Kenapa Paman dan Bibi ada di sana. Lalu siapa yang ada di rumah ini. Jika mereka ada di sana." Gumam Darrel lirih.
"Salah satu di antara keduanya palsu atau bisa dikatakan sedang menyamar." Asisten Darrel menjawab.
"Ha? Maksudmu ada penyusup di rumah ini. Lalu yang asli yang mana?" Darrel bertambah bingung.
"Melihat dari penjagaan yang dilakukan oleh Tuan Orion, kemungkinan yang ada di rumah sakit itu adalah yang asli. Jika mereka hanya menyamar untuk apa mereka di masukkan ke rumah sakit."
Darrel dan Alea memang sering bicara di green house. Membicarakan banyak hal. Satu hal yang pasti Alea selalu mengajari Darrel untuk hati-hati dalam berpikir dan bertindak. Apa pria ini sekarang bisa berpikir jernih setelah banyak bicara pada Alea.
"Lalu sekarang bagiaman? Apa kita akan diam saja?"
"Tentu saja tidak. Salah satu di antara mereka palsu. Kita bisa membuktikannya. Haisshhh, Sera sudah pergi. Kalau dia ada bisa kuajak untuk mengerjai mereka." Ucapan tanpa sadar dari Darrel membuat si asisten bingung. Apa tuannya ini benar-benar sudah berteman baik dengan Sera. Sepupu yang dulu sangat dibencinya.
"Tuanmu hanya kesepian. Dia tidak tahu harus bagaimana, makanya dia sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Suka main perempuan karena beranggapan mereka bisa diajak bicara. Tapi bukan itu yang dia perlukan. Dia perlu teman bicara."
__ADS_1
Satu ucapan dari Alea membuat asisten Darrel tertegun. Benar apa yang dikatakan Alea. Darrel sangat kesepian. Tidak punya sahabat yang bisa diajak bercerita. "Apa tuan sudah menghubungi non Sera?" pertanyaan asistennya membuat Darrel meletakkan foto Mario dan Meida.
"Belum. Aku bukan siapa-siapanya. Jadi aku pikir dia tidak memerlukanku."
"Bagaimana jika anda salah? Bagaimana jika non Sera benar-benar menganggap anda teman atau bahkan sepupu, saudara."
Giliran Darrel yang terdiam. Mencoba meresapi ucapan sang asisten.
**
**
Orion memarkirkan mobilnya di depan lobbi penginapan. Pria itu langsung masuk bertanya pada resepsionis. Dan jawaban mengecewakan langsung Orion dapat. Tidak ada tamu atas nama Alea Nadiva Vinata di tempat itu. Orion bahkan sampai memaksa si resepsionis untuk berkata jujur. Tapi hasil yang didapat sama. Tidak ada nama Alea di sana.
Pria itu keluar dari lobbi dengan perasaan gundah. Tidak mungkin dia salah. Dia yakin Alea ada di tempat itu. Orion menatap jauh, di mana penginapan dengan bentuk kubah dan kerucut berjejer rapi di atas sana. Ada jalan setapak juga tangga yang menghubungkan lobbi dan villa-villa kecil itu.
"Aku harus masuk. Kalau perlu aku akan memeriksa tempat itu satu persatu." Batin Orion.
Saat itulah Orion mendengar satu sapaan dari resepsionis. "Mbak Diva mau belanja atau jalan-jalan?"
"Diva?" Batin Orion curiga.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Sudah selesai baca? Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
***