
Abraham tersenyum puas, melihat sebuah konferensi pers di sebuah TV. Satu pengumuman yang membuat pria itu merasa menang.
"Keluarga Athaya mengumumkan sebuah perubahan besar. Penggantian nama Serafina Athaya, menjadi Alea Nadiva Athaya...."
Dengan kata lain, nama Alea kini tercatat dalam kartu keluarga Athaya, meski mereka mengatakan perubahan nama, tapi sejatinya itu hanyalah cara mematikan salah satu identitas mereka. Kematian Sera hanya keluarga dan beberapa orang terkait yang tahu.
Terkesan lancang karena keluarga Athaya tidak meminta izin pada ayah dan ibu Alea. Namun mereka sedang mempertimbangkan keselamatan Alea diluar sana. Hal ini sekaligus untuk menegaskan siapa Alea. Dalam pandangan orang umum, Alea adalah Sera. Namun status Alea adalah anak angkat dalam keluarga Athaya. Lagi-lagi itu sebuah rahasia besar.
Kenapa keluarga Athaya melakukan ini, sebab Meida sudah terlanjur menganggap Alea adalah Sera. Dan wanita itu enggan berpisah dengan Alea. Tanpa bermaksud melupakan Sera, akhirnya keputusan itu diambil.
"Selamat bos, dapat anak milyarder." Ledek An lirih. Orion tidak menjawab, harta? Dia tidak perlu itu, dia sendiri sudah kaya. Menghidupi Alea itu hal kecil untuk Orion.
Hari itu, Orion kembali ke rumah sewa Alea, bermaksud memberi tahu status baru Alea, sekaligus ingin menemui orang tua Alea. Sesuai permintaan Felix untuk lebih banyak mengawasi Alea. Mengingat insting Felix mengatakan kalau Abraham masih hidup.
Orion sendiri sedikit shock dengan berita kebakaran yang menimpa penjara tempat sang ayah dirawat, dan berujung pihak kepolisian mengeluarkan keputusan kalau Abraham sudah meninggal. Orion tidak tahu pasti apakah itu hanya siasat Abraham atau bukan. Namun yang jelas dia merasa sedih dengan keadaan sang ibu. Wanita itu dilanda depresi dan kini di rawat di sel khusus. Terpisah dengan nara pidana lain.
"Maafkan Valdy, bu." Batin Orion sembari menatap wajah kusut Belia. Pria itu berniat ingin merawat Belia, dia akan membuka jati dirinya saat keadaan mental sang ibu stabil.
"Al....Alea...." Orion masuk ke rumah sewa. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Alea di rumah. Orion merasa aneh. Bukannya jam kuliah Alea sudah berakhir dari tadi siang. Wanita itu sempat mengirim pesan pada Orion.
Orion langsung menghubungi Nika. Biasanya duo itu suka lupa waktu jika sudah kumpul berdua. Pukul sepuluh malam, hati Orion semakin was-was saat Nika memberitahu sedang berkumpul bersama Atika dan yang lainnya.
Satu perintah dari Orion membuat acara nongkrong itu bubar. Nika sendiri sudah menghubungi Lani, ibu Alea. Dan Alea tidak ada di rumah orang tuanya. Orion juga sudah menghubungi Felix, mencari tahu apa Alea bersamanya. Sebab pria dengan kedok kakak itu, sering kali membawa Alea jalan-jalan atau sekedar bertemu Meida, jika ibu yang satu itu merasa rindu dengan Sera. Dan Alea lah yang jadi pengobat rindu untuk Meida dan yang lainnya.
Sementara sikap Vano dan Darrel tampak biasa saja setelah tahu kalau Alea bukanlah Sera. Meski sempat kesal karena merasa dibohongi, pada akhirnya keduanya bisa menerima dan menjadi sahabat.
__ADS_1
"Alea ada di kota." Info dari Xuan membuat Orion segera melesat keluar dari rumah Alea. langsung melajukan mobilnya, kembali ke ibu kota.
"Siapapun kau?! Aku tidak akan mengampunimu. Awas saja jika kau berani menyentuh Alea." Orion merasa yakin seseorang telah membawa Alea.
"Jadi dia orangnya?" Seorang pria berparas bule bertanya sambil melihat ke arah ranjang. Di mana seorang gadis tampak terbaring dengan tangan dan kaki terikat.
Abraham mengangguk. "Dia sepertinya hanya gadis biasa, kau yakin dia adalah kelemahan Orion?"
"Kau meremehkannya? Jangan salah menilai. Dia gadis keras kepala dan tangguh. Orion sendiri yang melatihnya tiap akhir pekan." Abraham segera menyangkal keraguan Ilario.
"Baguslah jika begitu. Berhati-hatilah, bukan hanya pada Orion, tapi juga pada rekan-rekannya. Mereka sama bahayanya dengan Orion." Ilario memperingatkan Abraham sebelum keluar dari tempat itu.
Ilario menyeringai, saat Orion dan yang lainnya sibuk dengan urusan Alea, dia akan keluar dari negeri ini. Mencari cara masuk kembali ke negaranya. Xuan terus mencari jejak keberadaan Alea. Dengan Axa dan An, turut berkeliaran di jalanan.
Satu hal yang membuat Xuan curiga, siapa orang yang bisa membawa Alea dengan mudah. Sebab Alea tidak akan mudah menurut pada orang yang belum dia kenal. Sampai satu pemikiran masuk ke kepala Xuan. Alea tidak pernah tahu kalau ada dua Mario dan dua Belia di kota ini. "Rion bisa jadi yang membawa Alea adalah ayahmu!"
Satu kecerobohan mereka adalah Alea belum tahu semua yang terjadi dalam keluarga Athaya akhir-akhir ini. Bahwa pria yang selama ini dianggap Mario bukanlah Mario yang asli. Orion langsung memukul kemudi mobilnya, berapa kali dia lalai menjaga orang yang berharga untuknya.
"Juga....aku menemukan rekaman wajah Ilario di sebuah jalan. Dia dan Abraham sepertinya masih hidup." Satu lagi info dari Xuan yang membuat kepala Orion semakin pusing.
"Hubungin Vincent, Ilario bukan urusan kita!" Axa yang bergerak kali ini. Dengan An memegang kendali mobil. Sementara Orion mulai mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel yang ada di salah satu sudut kota.
Di tempat lain, Alea tampak membuka matanya. Sesaat memindai tempat di mana dia berada. Sebuah ruangan terlihat seperti hotel. Wanita itu berusaha menggerakkan tangannya namun tidak bisa. Tangan dan kakinya diikat. Dia cukup terkejut dengan keadaannya.
"Kau bangun?" Alea langsung mencari sumber suara.
__ADS_1
"Ayah.....kenapa Sera diikat?" Tanya Alea bingung. Pria yang ada di depannya hanya tersenyum. Namun senyuman pria itu terasa sangat menyeramkan bagi Alea.
"Aku bukan ayahmu dan kau bukan Sera. Kita tahu itu." Mata Alea membulat mendengar ucapan pria itu.
"Ayah....."
"Aku bukan Mario, hanya wajahku saja yang sama dengannya. Dan kau, kau bukan Sera, tapi namamu Alea."
Semakin terkejutlah Alea mendengar penuturan pria itu. Bagaimana dia bisa tahu soal dirinya yang sebenarnya. Ini gawat. Alea perlahan mencoba melepaskan ikatan tangannya. Melakukannya secara pelan dan sembunyi-sembunyi.
"Kalau kau bukan ayah. Lalu siapa kau?" Alea mulai mengulur waktu.
Abraham menatap tajam pada Alea. Lalu tanpa diduga, pria itu menarik bangun tubuh Alea, "craaasshhhh" sebilah pisau menggores pipi Alea. Wanita itu meringis pelan, merasakan darah mengalir dari luka yang Abraham ciptakan.
"Tidak sakit? Hebat! Orion melatihmu dengan baik. Tapi kita tidak akan bermain dengan itu...."
"Siapa kau?!" Suara Alea mulai menggeram marah. Abraham sungguh takjup dengan sosok Alea. Keberaniannya patut diacungi jempol.
"Nyalimu besar sekali. Baiklah daripada kau penasaran, akan kuberitahu siapa aku. Aku Abraham. Dan yang akan kulakukan adalah membuat Orion menangis darah karena kehilangan tunangannya."
"Kau tidak akan bisa melakukannya!" Tubuh Alea melemah, saat Abraham menutup mulut Alea dengan sapu tangan bercampur obat bius. "Saatnya bermain petak umpet."
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***