
Alea tentu terkejut melihat betapa heboh rumahnya. Plus tiga cogan yang ngeberantakin toko sang ibu. Awalnya Alea ingin meledak melihat kelakuan tiga pria dewasa yang kembali jadi anak TK, satu kantong kresek penuh dengan sampah jajan mereka. Dengan si pelaku hanya nyengir tanpa dosa.
"Sorry Al, mengenang masa kecil kurang bahagia." Kata Darrel enteng.
"Kurang bahagia pala lu." Vano mulai ketularan randomnya Darrel.
"Jelas kurang bahagia dong, mana ada kita kecil dibolehin bebas makan jajan kek gini. Yang ada mereka ngomel tujuh hari, tujuh malam. Nah sekarang gue balas dendam." Sahut Darrel sambil mengambil satu keranjang jajan dan snack dari rak display warung bu Lani.
"Astaga kalian benar-benar ya." Orion pun sampai menepuk jidatnya sendiri. Dan tingkah mereka masih jadi perhatian emak-emak kampung Alea. Bahkan tingkat kekepoan mereka semakin tinggi. Empat cogan sekaligus.
"Kira-kira yang jadi sama Alea yang mana ya. Yang gagal mau gue jodohin ma anak gue, tu masih jomblo di rumah. Mayan bening, cocok sama anak gue." Celetuk seorang emak dengan pede tingkat dewanya.
"Enak aja. Itu udah pesenan gue ya." Yang lain menimpali.
Alea benar-benar ingin marah. Tiga pria sibuk dengan bunyi kres...kres...kres...mengunyah snack. Di luar sana, omongan tidak karuan terdengar di sana sini.
"Permisi bu, ibu. Cuma mau ngumumin. Mereka berempat sudah ada yang punya ya, sudah punya istri, jadi jangan ribut mau jodohin sama anak-anak kalian!" Teriak Alea.
Uhukkkkk
Byuuuurrr
Felix, Darrel dan Vano, tersedak bersamaan. "Jangan sembarangan Al. Itu fitnah." Sangkal Vano. Orion tertawa terbahak. "Sumpah Van, gue mending kena fitnah, daripada dijodohin sama dakocan. Sereeemmmm."
"Eh elu ye, sembarangan nyebut anak emak dakocan!"
"Waahhh, dia masih ingat. Kaburrrrr!"
Orion keluar melalui pintu belakang warung, diikuti Felix dan yang lainnya. Mereka masuk rumah Alea melalui pintu dapur. Lantas duduk di ruang makan. "Lah nak Orion kapan datang? Itu siapa?" Bu Lani datang dari arah ruang tamu.
Tak ayal Orion pun mengenalkan Felix dan Darrel juga Vano sebagai kakak Alea. Meski Darrel kemudian protes, kalau dia adik Alea. Bu Lani hanya ber-ooo ria mendengar tingkah empat pria tampan itu.
Sementara Alea yang masuk dari arah depan, langsung disambut antusias oleh bapaknya juga keluarga Athaya. Sepertinya dua keluarga itu sudah sepakat atau lebih tepatnya ayah dan ibu Alea menyetujui keputusan keluarga kaya itu.
Ayah dan ibu Alea tidak masalah, asalkan mereka masih bisa bertemu putri tunggal mereka. Dalam kesempatan itu pada akhirnya Orion mengaku kalau tunangan yang dia cari hari itu adalah Alea. Sekaligus pria itu datang ingin melamar sang putri. Double shock buat pak Anto dan bu Lani. Awalnya mereka tidak percaya, tapi saat Orion meyakinkan soal hal itu, ditambah kesaksian dari orang-orang itu, dua orang tua itu bisa menerima kenyataan.
Pak Anto dan bu Lani hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa nasib baik menghampiri putri mereka secara bersamaan. Diangkat anak oleh keluarga kaya dan mendapat calon suami tampan dan juga mapan. Meski Orion tidak pernah menceritakan siapa dirinya, tapi dari penampilan pria itu, sudah terlihat kalau Orion bukan dari kalangan biasa.
__ADS_1
Dalam lamaran dadakan itu, Alea tanpa ragu menerima pinangan Orion, satu hal yang membuat pria itu bisa tersenyum. Di tengah lara yang tengah melanda, masih terselip bahagia untuk dirinya. Orion berjanji akan menjaga keluarganya dengan baik nantinya.
Alea hanya minta kalau pernikahan mereka dilaksanakan setelah wisudanya nanti. "Tahan dulu, Bro." Ledek Darrel.
"Ada yang mau sekalian, bisa patungan kita pestanya." Usul Orion membuat semua orang tercengang. Dengan tiga pria tampan itu saling pandang. "Ide bagus!!" Teriak Darrel kencang.
Waaahhh pesta besar dan meriah sepertinya akan digelar oleh keluarga Athaya tahun ini. Pertemuan dan lamaran dadakan itu berakhir dengan makan- makan sederhana, dengan menu serba dadakan. Serta tingkah konyol Darrel yang menguras uang cash Felix, Vano dan Orion untuk membayar jajan yang sudah mereka makan.
"Aku gak ikut Rel," tolak Orion.
"Bodo! Siniin uangmu." Paksa Darrel. Orion setengah mengumpat kelakuan pacar Messa itu. "Gue doain Messa nolak lamaran lu, biar yahok tu junior kelamaan puasa." Doa Orion.
"Awas lu ye. Kalo gue kagak nikah bareng kalian. Gue gangguin malam belah duren kalian." Ancam Darrel balik. Tawa seketika membahana di rumah sederhana Alea.
Beberapa bulan berlalu, skripsi Alea lulus dengan mulus. Gadis itu menyelesaikan kuliahnya dengan nilai memuaskan. Semua orang tentu bangga di buatnya. Terlebih pak Anto dan bu Lani. Dua orang itu berurai air mata mendengar Alea mengucapkan terima kasih juga mengungkapkan rasa sayang sekaligus minta maaf, saat Alea membawakan pidato mewakili teman-teman seangkatannya.
Bisa dibayangkan betapa meriahnya wisuda Alea dengan kedatangan keluarga besar Athaya, juga semua orang lengkap dengan pasangan masing-masing. Hanya Xuan yang masih betah sendiri. Mereka semua tentu menjadi pusat perhatian. Cantik dan tampan, sangat menyenangkan untuk dipandang.
"Xuan, pilih satu gih, siapa tahu ada yang cocok." Goda Darrel.
"Kalau ada daun muda yang masih seger kenapa nyari yang sudah second?" Balas An.
"Skill, bro. Gue nyari yang pro." Lanjut Xuan.
"Yang amatiran nanti juga pro, cuma perlu jam terbang dan pelatihan saja." Kali ini Axa yang menyahut.
"Ngomong apa sih kalian. Lingkungan kampus ini." Felix memperingatkan.
"Xuan lagi nyari janda pirang." Darrel menjawab cepat.
Cheeerrrssss, semua langsung pasang tampang cool masing-masing. Teriakan heboh seketika terdengar seantero hall wisuda itu.
Cherrrrsss, kali ini tampang konyol mereka tampilkan. "Astaga!! Hancur wisuda gue!" Teriak Alea kesal.
"Woii, calon manten gak boleh ambekan, alias marah-marah." Nika bersuara.
"Kalian juga samaaaa!!" Jerit Alea.
__ADS_1
**
**
Suara debur ombak terdengar mengalun di telinga. Suasana begitu damai dan tenang di sana. Hal yang membuat dua sejoli itu sejak tadi betah berada di tempat tersebut, berjalan sepanjang pantai, sambil bergandengan tangan. Membiarkan kaki mereka tanpa alas, sesekali disapu air laut.
Orion terlihat mengulum senyum beberapa kali, melihat Alea tampak bergelayut manja di lengannya. Pria itu mulai berdamai dengan keadaan. Mencoba memaafkan kelakuan sang ayah, yang akan menjalani hukuman untuk waktu yang cukup lama, seumur hidup, atas kejahatan yang dia lakukan
Juga sang ibu yang akan menjalani 7 tahun masa penjara. Untuk Belia, wanita itu secara resmi mengajukan permintaan untuk mengembalikan wajah aslinya. Dengan alasan ingin hidup sebagai dirinya sendiri, dan pihak pengadilan mengabulkan. Operasi akan dilakukan bulan depan. Setelah Orion dan Alea kembali dari acara bulan madu mereka ke Milan.
"Al...."
"Emmmm....." Wanita tampak sibuk bermain dengan air laut menggunakan kakinya.
"Lihat aku dulu." Alea spontan menjerit setelah Orion menggendongnya. "Apa sih? Nego selesai ya. Ke sana cuma liburan."
Orion manyun dibuatnya. Mahal-mahal dia beli rumah di sana, eh calon istri tidak mau tinggal di sana. Padahal dulu ngebet pengen ke Milan.
"Bukannya di Milan atau di sini sama saja. Asalkan sama kamu." Senyum Orion terukir lebar, terlebih saat wanita itu membisikkan kata-kata sakral yang selama sangat ingin Orion dengar.
"Aku cinta padamu." Sebuah ciuman Alea daratkan di bibir Orion, pria yang berhasil memenangkan hatinya, setelah berjuang meruntuhkan tembok keegoisan dan gengsi Alea yang setinggi gunung.
"Aku cinta padamu, Alea Nadiva Athaya.Ti voglio bene, Alea Nadiva Athaya."
Alea tersenyum mendengar ungkapan cinta Orion dalam dua bahasa itu. "Aku juga mencintaimu, Orion Harasya Alexander." Bahagia akhirnya datang untuk mereka yang sabar menanti dan berjuang.
END
***
Akhirnya Orion dan Alea tamat juga geeesss. Terima kasih buat dukungannya readers tercinta. Semoga kalian suka. Jumpa lagi di karya author yang lain. Bye...bye....dan jumpa lagi, salam sayang dari author. 🙏🙏🙏🥰🥰🥰
Salam hangat dari pasangan kita yang berbahagia, mewakili yang lain. Banyak banget couplenya 🤭🤭
****
__ADS_1