Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Taruhan


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak kejadian di klub malam tersebut, meski Darrel berjanji tidak akan menyentuh Alea lagi, tapi sebagai jaminan, Orion tetap mengambil rekaman adegan ranjang Darrel dan seorang wanita malam.


Ya, yang malam itu An dan Orion gerebek adalah Darrel, sama seperti ibunya yang doyan bercinta. Darrel pun tak jauh beda. Malam itu, Orion menangkap basah Darrel tengah berpacu dalam gairahh dan kenikmatan, yang ia reguk bersama wanita yang telah An siapkan.


Orion hampir saja muntah, mendengar desaahhan Darrel saat masuk ke kamar tersebut. An bahkan sampai mengejek atasannya itu. "Jangan pasang tampang begitu. Nanti kena batunya lo," bisik An.


"Maksudmu?"


"Nanti kau ketagihan kalau sudah merasakan." An merengut ketika keplakan sekali lagi mendarat di lengannya. Satu tatapan penuh ancaman pria itu terima dari Orion.


Sampai disinilah mereka, menunggu Xuan yang tengah mengedit video syuuurr milik Darrel. Orion mengerutkan dahi tiap melihat adegan percintaan sepupu Sera itu, plus suara laknat yang mengiringi kegiatan tersebut.


Xuan sendiri merasa kesal. Kenapa juga dirinya yang disuruh mengedit rekaman itu. Bukannya menyuruh Jack yang sudah terbiasa dengan aksi itu. "Ckk, kalian benar-benar menyusahkanku." Gerutu Xuan sepanjang sepuluh menit waktu pengeditan. Pria itu sungguh kesal.


Yang lain hanya bisa saling pandang melihat "penderitaan" Xuan, yang tidak dipahami oleh tiga pria lainnya. Masak iya sih kalian tidak tahu soal begituan.


Readers be like, "Thor polosnya jangan kebangetan." 🤭


Author be like, "Iya deh, nanti author bikin yang pro soal begituan." 😁😁


Di sisi lain, Mario kembali mencak-mencak tidak karuan. Setelah kebakaran gudang berhasil diatasi, semalam datang kabar yang membuat kemarahan Mario melonjak seketika.


Mobil yang membawa obat-obatan ilegal buatannya, dicegat aparat keamanan. Semuanya disita, padahal barang itu adalah barang pesanan, tinggal menghantarkan saja. Mario berteriak kencang saking frustrasinya. Dia harus membayar ganti rugi jika barangnya tidak sampai tepat waktu.


"Sial! Siapa sih pelaku sebenarnya. Aku jadi ingin bertemu lalu kutembak kepalanya." Gerutu Mario tidak habis-habis sejak tadi. Pria itu nampak berpikir keras. Siapa orang yang sudah dua kali mengacaukan bisnisnya. Beberapa waktu berlalu, hingga satu nama muncul di benak Mario.


"Pasti dia, tidak salah lagi. Oke, karena kau mulai mengusikku, jangan salahkan aku, jika aku juga mengganggumu. Dan aku tahu pasti kelemahanmu." Mario menyeringai puas. Dia punya satu cara untuk menekan musuhnya kali ini.

__ADS_1


Di sisi lain, Darrel yang rupanya semakin membenci Orion, terus mencari cara untuk membuktikan kalau Alea bukanlah Sera. Darrel tahu jelas, jika Alea punya arti penting bagi Orion. Bukannya takut dengan ancaman Orion malam itu. Darrel justru semakin gencar mencari cara untuk mencari bukti soal Sera palsu. Kegagalannya saat ingin menculik Alea hari itu tidak juga membuat Darrel jera.


Seperti saat ini, pria itu tengah menunggu kabar dari anak buah yang dia kirim ke rumah sakit di mana Alea dan Sera dirawat setelah mengalami kecelakaan. Satu informasi masuk ke telinga Darrel. Informasi yang mengatakan kalau Sera sempat dirawat di rumah sakit itu.


"Dia bilang kalau sedang liburan, kenapa malah berada di rumah sakit. Oke kita tunggu apa yang sudah kau lakukan." Gumam Darrel.


Pria itu segera beranjak dari ruang kerja yang ada di kamarnya. Selain menunggu informasi dari anak buahnya. Hari ini sesuai keinginan Darrel, tes DNA akan dilakukan tanpa memberi tahu Alea lebih dulu. Darrel tahu benar kalau Orion sedang ada pekerjaan di luar, mengingat pria itu juga menyandang marga Alexander di belakang namanya. Jadi Orion tidak melulu ada di Star Jewerly.


Pria itu menunjukkan senyum iblisnya saat melihat Alea yang sedang sarapan bersama Beni. Darrel sendiri sudah meminta Beni untuk diam, biarkan dirinya yang mengurusi hal ini.


"Makanlah yang banyak, sepupuku. Hari ini kau akan perlu tenaga ekstra." Ucap Darrel penuh makna.


Sesaat Darrel terpana melihat kecantikan Alea pagi itu. "Sial! Lihat saja, jika kau bukan Sera, habis kau di ranjangku!" batin Darrel menatap Alea penuh hasrat. Bisa Darrel bayangkan bagaimana menggodanya tubuh Alea tanpa pakaian.


Sementara Alea memicingkan mata mendengar perkataan Darrel, dengan yang lain juga melihatnya dengan tatapan yang sulit Alea artikan. "Ada apa ini? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak begini." Batin Alea sambil mengunyah makan paginya.


*


*


Mikaila, Mario dan Meida melongo melihat bagaimana suksesnya Star Jewelry di bawah pimpinan Alea. Kantor itu terlihat sibuk dengan beberapa karyawan langsung menunduk memberi hormat saat rombongan Beni lewat di depan mereka. Mereka tentu tahu siapa Beni dan Darrel. Yang jadi pertanyaan mereka adalah kenapa mereka datang ke Star Jewerly bahkan dengan beberapa tim medis menyertai.


Mario dan Mikaila mengerling penuh makna, dua orang itu saling melempar senyum, mengingat percintaan singkat mereka di dalam mobil sebelum keluar dari kediaman Athaya tadi pagi. Sungguh gila dua orang itu.


Tanpa basa basi, rombongan itu masuk ke lift, lantas naik ke lantai di mana ruangan Alea berada. Sementara itu, Atika langsung menerobos masuk ke ruang kerja Alea. "Non, gawat!" Itulah kata Atika begitu sampai di depan Alea. Satu laporan dari security Atika dapatkan.


"Ada apa?" Alea bertanya setelah selesai memberi stempel persetujuan pada design Nika "Friendship Bracelet." Design yang selanjutnya akan diluncurkan setelah kesuksesan seri Black Rose di pasaran. Hal yang membuat Pearl Jewelry bungkam tanpa bisa membantah dominasi Star Jewelry di dunia design dan produksi perhiasan.

__ADS_1


"Tuan besar dan sepupu Non ada di sini."


Alea menghentikan gerakan tangannya. "Lalu apa masalahnya? Biarkan kalau mereka ingin sidak ke sini. Aku tidak melakukan hal yang salah. Kenapa aku harus takut." Balas Alea santai.


"Masalahnya mereka bawa tim dokter." Alea seketika mengangkat wajahnya, melihat wajah panik Atika. "Maksudmu?" Alea balik bertanya. Belum sempat Atika menjawab, alarm yang dipasang Xuan untuk mendeteksi kedatangan orang luar selain keenam orang itu berbunyi. Sensor khusus yang Xuan buat mampu mengenali suara orang lain selain orang yang sudah berada dalam daftar.


Dua gadis itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu, di mana rombongan Darrel dan Beni mulai masuk ke ruangan Alea. Darrel menyeringai melihat wajah terkejut Alea.



Kredit Pinterest.com


"Halo... sepupuku yang cantik. Aku harap kau tidak lupa kalau kita ada tes DNA. Dan hari ini, kita akan melakukannya."


Kata Darrel sambil berjalan mengitari meja Alea, lantas menyentuh pundak Alea yang jelas terkejut dengan tindakan berani Darrel.


"Kalau kau bukan Sera, aku akan menyeretmu ke ranjangku. Dan kita akan bermain semalaman." Bisik Darrel.


"Jika aku adalah Sera maka kau yang akan berakhir di jalanan." Balas Alea tajam, berusaha tenang. Padahal hati Alea cemas bukan kepalang. Gadis itu mencoba tersenyum pada Beni, sang kakek. Ayah dan ibu Sera serta Bibi Sera. Yang semua tampak acuh dengan sambutan Alea.


"Deal, kita taruhan." Sahut Darrel lirih, hanya terdengar di telinga Alea. Pria itu begitu yakin kalau Alea bukanlah Sera.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2