
Orion berjalan tergesa-gesa menuju Green House, tempat di mana Vano dan Alea berada. Begitu masuk, pria itu tertegun dengan keadaan Green house. Dia pikir tempat itu hanya sebuah tempat yang penuh dengan tanaman. Ternyata tidak, di tengah Green House itu ada seperangkat sofa yang bisa digunakan untuk beristirahat. Dengan pemandangan asri dari banyak tanaman yang tumbuh di sana, sangat menyejukkan mata.
Tempat itu terlihat nyaman, tapi tidak untuk Orion. Wajah pria itu berubah kesal saat mendengar suara Alea yang tertawa. Pria itu masuk ke sisi kiri dari tempat itu, hingga terlihatlah dua orang yang berdiri berdampingan dengan tangan masing-masing terbungkus sarung tangan.
"Aku benar-benar tidak ingat, kakak besar." Suara Alea terdengar memenuhi gendang telinga Orion. Satu dejavu seketika muncul di benak Orion.
"Kalian semua memang menyebalkan. Kak Valdy lihat, mereka semua menggangguku."
Sebentuk senyum terukir di bibir Orion. Bayangan gadis kecil berambut panjang muncul di pikiran Orion. Namun detik berikutnya, senyum Orion memudar, wajah pria itu kembali ke mode kesalnya. Sementara di depan sana, tampak Vano dan Alea yang asyik menanam tanaman mawar.
"Ck, kau ini memang pelupa." Terdengar ucapan Vano, yang meski terkesan mengeluh, tapi pria itu terlihat sangat bahagia. Senyum Vano begitu lebar saat membantu Alea memindahkan tanaman mawar itu ke sebuah pot besar.
"Apa yang kalian lakukan?" pertanyaan Orion cukup membuat Alea dan Vano terkejut. Keduanya menoleh bersamaan ke arah Orion yang berjalan ke arah mereka.
"Menanam bunga. Apa kau tidak lihat." Jawab Alea judes. Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya, tidak mempedulikan kehadiran Orion.
"Kau di sini?" Vano bertanya heran. Dia pikir sungguh aneh. Tidak di kantor atau di rumah, Orion selalu ada di sekitar Alea, pria itu benar-benar menjaga Alea di manapun gadis itu berada. Tidakkah ini berlebihan, begitulah pikir Vano.
"Tentu saja aku di sini. Apa kau keberatan? Aku dan Alea sebentar lagi akan bertunangan, jadi wajar kalau aku dan dia sering bersama."
Satu tatapan tajam Orion terima dari Alea. Gadis itu belum memberikan jawaban soal pertunangan mereka, tapi Orion sudah lebih dulu memberitahu Vano.
"Apa itu benar?" Vano tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
"Aku belum memberinya jawaban." Balas Alea santai, gadis itu mengabaikan ekspresi kesal Orion. Dua tangan Orion terkepal menahan emosi yang mulai memenuhi dadanya.
Seulas senyum terbit di bibir Vano, dia pikir masih punya harapan untuk merebut Alea dari tangan Orion. Terlihat jika Alea tidak terlalu antusias dengan kata pertunangan yang Orion lontarkan. Mungkinkah hubungan Alea dan Orion tidak seperti yang Vano bayangkan? Apakah Orion memaksa Alea dalam hubungan mereka? Dua pertanyaan itu seketika muncul di pikiran Vano. Dia harus menyelidikinya. Ada yang tidak beres soal Alea dan Orion.
"Apa maksudmu dengan mengatakan itu?" Orion bertanya setelah Vano pergi dari tempat tersebut. Sang ayah menghubungi Vano, berkata ingin bicara.
"Soal apa?" Sahut Alea enteng. Gadis itu terlihat menikmati berkebun. Memindahkan tunas mawar yang baru saja tumbuh, dari polybag ke pot yang lebih besar.
"Gunakan sarung tanganmu." Desis Orion penuh peringatan, saat Alea tidak lagi menggunakan sarung tangan untuk bercocok tanam.
__ADS_1
"Begini lebih asyik." Balas Alea girang. Gadis itu seperti tidak masalah jika kuku cantiknya kotor oleh tanah.
"Itu berbahaya...kau sedang mengurusi mawar."
"Mereka tidak akan melukaiku." Lagi, Alea menjawab santai. Orion berdecak kesal mendengar jawaban keras kepala dari Alea.
"Terserahlah! Kau ini memang susah dinasehatin. Soal pertunangan itu, kita akan melakukannya sebulan lagi."
Aaaawwww, satu ringisan terdengar. Orion segera menarik tangan Alea, pria itu mendengus geram, saat melihat jari telunjuk Alea berdarah, tertusuk duri tajam bunga mawar.
"Kau ini benar-benar ceroboh!" maki Orion. Detik berikutnya, mata Alea membulat, saat Orion tanpa ragu, memasukkan jari Alea ke dalam mulutnya lalu menghisssappnya. Alea ingin menarik jarinya, namun yang terjadi justru dirinya yang ditarik mendekat ke arah Orion. Dua mata itu saling tatap.
Bagi Orion, ada hal menarik dalam diri Alea yang membuat pria itu penasaran. "Orionnnn...." Bisik Alea merasakan hisapann bibir Orion di jarinya. Tubuh gadis itu merinding seketika. Sementara mata pria itu tidak lepas dari manik cantik milik Alea yang seolah menghipnotisnya.
Selanjutnya, Alea terkejut saat Orion menarik pinggang Alea. Orion menelan cairan asin dari telunjuk Alea, lantas mencium bibir Alea. Gadis itu kembali meronta, namun Orion sigap menahan pinggang dan tengkuk Alea.
"Itu upahnya." Kekeh Orion melihat santai ke arah Alea yang wajahnya sudah memerah menahan marah. "Kau ini suka sekali memanfaatkan kesempatan!"
Orion hanya tertawa mendengar umpatan Alea. "Suka atau tidak, bulan depan kita bertunangan." Kata Orion penuh penekanan. Berikutnya, Orion meraih pekerjaan Alea yang belum selesai, melanjutkannya. Alea tentu terkejut saat melihat Orion dengan cekatan menanam mawar miliknya.
Alea menatap Orion yang tengah memberi pupuk pada pot bunga mawar yang baru ditanamnya.
*
*
"Kau lihat?"
Suara Adnan membuat perasaan Vano bertambah kesal. Ya, Vano adalah putra Adnan, asisten Beni. Keduanya berada di sisi jendela, tepat di atas Green House. Atap kaca Green House memungkinkan keduanya melihat semua yang terjadi di sana.
"Sera tidak bisa kau miliki. Baik dulu atau sekarang." Adnan kembali berucap.
Vano memendam rasa pada Sera sejak kecil. Dulu dia sungkan pada Felix, sang kakak. Dan sekarang ada Orion di antara mereka.
__ADS_1
"Sadarlah No, rasa sukamu menyiksamu. Lepaskan dia, bukalah hatimu untuk gadis lain. Tidakkah kau tahu kalau Xia Lin sangat mencintaimu."
Adnan teringat adik Xia Sun yang selalu mengunjunginya. Bukan untuk cari perhatian, Adnan bisa merasakan ketulusan Xia Lin.
"Aku belum bisa, Ayah. Rasaku pada Sera terlalu besar untuk aku lupakan begitu saja. Bahkan setelah kepergiannya ke Milan selama sepuluh tahun. Aku pikir bisa melupakannya, ternyata aku salah," Vano menyahut sendu.
Adnan hanya bisa menghela nafas. Dia tahu perasaan Vano, sebab pria itu juga mengalaminya. Setelah ibu Vano meninggal, pria itu memilih hidup sendiri, tanpa ingin mencari cinta lain. Mengabdikan hidupnya pada keluarga Athaya dan membesarkan Vano seorang diri. Menyimpan rasa cinta pada sang istri untuk selamanya.
"Kita sama-sama tahu rasa itu, ayah. Jadi biarkan aku menjalaninya. Kita tahu benar, hanya melihat mereka tersenyum saja, kita sudah merasa bahagia. Aku pun begitu, bagiku kebahagiaan Sera adalah segalanya."
Adnan tidak mampu menjawab perkataan Vano, sebab itu semua benar adanya. Untuk sesaat keheningan melingkupi keduanya.
"Sebentar lagi akan ada kehebohan di keluarga Athaya."
Adnan lantas menceritakan soal tes DNA yang akan dilakukan pada Sera dan Darrel.
"Apa hal itu tidak keterlaluan. Mereka sudah membuangnya ke Milan selama sepuluh tahun. Dan sekarang mereka meragukan siapa Sera. Kejam sekali." Maki Vano tanpa basa basi.
Sungguh, Vano kadang tidak paham dengan jalan pikiran keluarga tempat ayah dan dirinya bekerja.
"Memang kejam untuk Sera, tapi apa yang bisa kita lakukan. Kita sudah melihat banyak drama dan kepedihan yang keluarga ini alami, semua hanya karena satu hal, harta. Ingatlah, Vano putraku, ambillah sesuai hakmu. Jangan mengambil yang bukan milikmu. Itu hanya akan membuatmu sengsara."
Satu petuah dari Adnan membuat pria tinggi besar itu mengangguk yakin. Dia hanya ingin hidup tenteram dengan sang ayah.
****
Kredit Pinterest.com
Devano Nayaka Aciel
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****