
Rasa perih dan sakit di sekujur tubuh Alea menyambut gadis itu saat membuka mata keesokan paginya. Ditambah rasa pusing yang terasa di kepala. Gadis itu meringis, sesaat kemudian dia terkejut dengan hembusan nafas yang terasa di pundak juga lehernya. Terlebih rasa dingin AC yang mengusik tidur Alea.
Ada beban berat terasa di perut Alea. Gadis itu seketika melebarkan mata, betapa terkejutnya Alea melihat di mana dia berada. Juga bagaimana keadaan dirinya. Gadis itu membalik tubuhnya. Mata Alea melotot melihat dada bidang Orion tanpa baju juga selimut putih yang menutup tubuh pria itu dari pinggang ke bawah.
Astaga! Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Seingat Alea dia bersama Vano semalam, dan mereka berciuman. Tunggu! Bukan Vano yang berciuman dengannya, tapi Orion! Alea hafal benar parfum Orion. Hanya aroma itu yang tercium olehnya sepanjang malam. Oh my! Sepanjang malam? Apa yang telah mereka lakukan selama itu? Alea mengintip ke arah tubuhnya sendiri. Netra Alea mendelik, melihat dirinya sendiri yang polos tanpa memakai pakaian apapun. Di tambah Alea bisa melihat bekas kissmark sejauh mata menjangkau tubuhnya. "Issshhhh" bibir Alea mendesis saat merasa perih di area pribadinya. Tunggu! Dia tidak mungkin melakukannya dengan Orion kan?
Alea berusaha mengingat apa yang sudah terjadi. Hingga samar-samar ingatan Alea kembali, di mana dia mampu mengenang kembali bagaimana Orion yang mencumbu dirinya dengan lembut. Dia ingat dirinya yang tidak menolak tiap sentuhan yang Orion berikan padanya. Bola mata Alea berubah merah menahan marah, saat otakknya bisa mengingat bagaimana Orion menerobos masuk miliknya, merenggut mahkota yang hampir 23 tahun dia jaga.
"Brengsek! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?"
Arrrghhhhhh! Orion reflek berteriak dan membuka mata saat Alea menggigit pundaknya. Di mana rupanya itu bukan satu-satunya gigitan yang Alea lakukan. Ada bekas membiru lain yang terlihat di bahu kokoh Orion.
"Alea!!! Ada apa?"
"Kau yang ada apa?!" Bentak Alea keras. Gadis eh salah wanita itu, tidak habis pikir kenapa Orion melakukannya. Melihat kemarahan Alea, Orion seketika mendudukkan diri. Alea reflek menoleh dengan tangan meraih selimut, menaikkan sampai menutupi dadanya.
"Gak usah ditutupin. Aku sudah lihat semuanya." Balas Orion santai.
"Kau......" Alea sungguh kehilangan kata mengenai tindakan Orion. Alea menarik nafasnya kasar lantas menghembuskannya. Sekarang apa yang apa yang akan terjadi padanya.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri. Tidak masalah, kan kita akan menikah."
"Siapa juga yang mau menikah sama kamu!" Pekik Alea protes.
"Terus mau nikah sama siapa? Sama Vano? Terus kalau dia tahu kamu sudah enggak pewe lagi. Kira-kira dia marah gak?"
__ADS_1
Bola mata Alea membulat sempurna, bagaimana bisa Orion malah mengatakan hal itu. "Kau sengaja melakukannya kan?" Tanya Alea sambil memukuli lengan Orion. Marah, kesal, kecewa, sedih itu yang Alea rasakan sekarang. Sebagai seorang gadis dia diajarkan oleh sang ibu untuk menjaga diri dari semua pria. Perasaan Alea sudah membuat benteng untuk melindungi dirinya sendiri dari godaan para lelaki. Tapi nyatanya dia gagal. Kehormatannya justru diambil oleh pria yang selama ini terlihat dekat dengannya.
"Sudahlah Alea. Aku minta maaf, aku juga berjanji akan bertanggung jawab."
Tidak ada jawaban, sebab Alea sudah menangis sambil memeluk lututnya. "Aku benci padamu Rion! Aku benci! Aku pikir kau adalah pria baik, meski kau sangat kejam. Tapi nyatanya kau sama saja dengan ribuan pria di luar sana. Suka mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Alea......Al....dengarkan aku dulu."
Alea mendorong jauh tubuh Orion, tidak ingin pria itu menyentuhnya lagi. Alea sendiri merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia merasa kotor, tidak berharga, tidak ada lagi yang bisa dia banggakan dari dirinya sendiri. Sudah miskin, tidak bisa menjaga diri. Sebentar lagi akan ada yang menyebutnya murahan, jika tahu Alea sudah tidur dengan seorang pria.
Orion tidak tinggal diam, meski Alea terus menolaknya. Namun pria itu mencoba merengkuh Alea. Reaksi Alea sungguh di luar dugaannya. Dia tidak berpikir kalau Alea akan bersikap demikian.
"Maafkan aku Alea, maafkan aku. Aku tidak pernah ingin menyakitimu. Aku melakukannya karena aku mencintaimu...."
"Kalau kau cinta padaku, kau tidak akan melakukannya!" potong Alea cepat.
"Aku tidak butuh janjimu!"
"Oke! Bangun, pakai bajumu! Kita pergi ke catatan sipil sekarang. Kita akan menikah hari ini juga!"
Lagi-lagi mata Alea dibuat melotot dengan ucapan dari Orion yang terkesan meremehkan sebuah pernikahan. "Pernikahan bukan sebuah permainan Orion! Apa kau tahu itu?"
"Justru karena aku tahu pernikahan adalah hal yang serius, maka aku tidak mau menundanya lagi."
Dua orang itu saling tatap. Perbedaan itu jelas terlihat. Tangan Orion perlahan terulur, mengusap air mata yang mengalir di pipi Alea. "Aku tahu, aku salah. Aku memanfaatkan keadaanmu saat kau mabuk. Tapi percayalah Al, sungguh... aku tidak main-main dengan perasaanku. Aku serius padamu."
__ADS_1
"Brengsekkk!!!" maki Alea lagi. Wanita itu sungguh tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Alea merasa hancur, hina, kotor. Pikiran Alea kosong, tidak fokus. Sampai Alea tidak sadar kalau dirinya sudah berada dalam pelukan Orion. Kali ini Alea tidak meronta, melawan dekapan Orion.
Orion memeluk Alea untuk beberapa waktu, hingga dering ponsel Orion berdering. Orion melirik jam ponselnya, agak kesiangan sih mereka. Namun bukan hal itu yang penting, tapi berita yang Xuan kabarkan dari ujung sana.
Tak kurang dari satu jam, mobil Orion sudah berhenti di depan lobi Star Jewelry. Agak lama sebab Alea membuat drama soal kissmark yang bertebaran di leher Alea, akibat ulah Orion. Persoalan selesai setelah pria itu membantu mengoleskan foundation pada bekas hicky tersebut.
"Kenapa harus ditutupi? Kan bagus." Alea mendelik mendengar nada bangga yang terdengar dari suara Orion.
"Bagus kepalamu! Ingat Rion. Aku benci padamu!" Desis Alea. Keduanya turun dari mobil dengan sorot kamera yang langsung menyambut keduanya.
"Ada apa sih?" bisik Alea. Orion tampak melindungi Alea dari arah belakang, dari kejaran paparazi yang sudah menyerbu Star Jewelry. Di depan sana, berdiri Xuan yang terlihat panik.
Alea dan Orion baru masuk ke lobi Star Jewelry. Ketika Mario dan Beni sudah menghadang mereka, di tambah Darrrel yang tampak tersenyum penuh kemenangan.
"Ada apa ini?" Orion bertanya. Dia belum ada komunikasi dengan Xuan sejak semalam. Jadi pria itu tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kami ingin menunjukkan bukti kalau dia bukan Sera. Tapi seorang pengganti, seorang penyusup yang sengaja dikirim untuk mengambil alih Star Jewelry."
Baik Orion maupun Alea langsung saling pandang. Terkejut. Bukti? Bukti apa yang mereka punya soal Alea?"
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****