Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Pacar Bersama?


__ADS_3

Di tempat lain, Felix terlihat berlari ke arah Alea, saat melihat gadis itu keluar dari kampusnya. "Al....Alea....!!!" teriak Felix. Pria itu terlihat senang melihat Alea baik-baik saja. Sementara Alea, tentu terkejut melihat kehadiran Felix di sana.


"Kakak ngapain di sini?" tanya Alea kaget. Alea sama sekali tidak menduga kalau Felix akan datang ke sini.


"Ayo ikut aku." Ajak Felix langsung menggandeng tangan Alea.


"Tunggu dulu Kak, pulang ke mana? Aku tidak bisa pulang ke sana." Alea menahan tangan Felix. Pria itu pun berhenti, lalu melihat ke arah Alea.


"Dia terluka Al, belum bangun sejak semalam." Bohong Felix, padahal tadi pagi Orion sudah bangun. Namun pria itu mengeluh pusing jadi dia tidur lagi. Alea tentu terkejut. Terluka?


"Maksudnya apa?"


"Sudah, kita berangkat dulu. Nanti aku jelaskan di jalan." Potong Felix cepat, menarik tangan Alea, lalu membukakan pintu mobil.


Interaksi itu tidak luput dari pengamatan mata teman Alea yang julid. "Waahhh, kalau sugar daddynya seganteng dia aku juga mau." Seru teman Tea, melihat bagaimana tampannya wajah Felix.


"Isshh kau ini!" Tea menggeram kesal. Padahal dalam hati dia begitu iri pada Alea. Kalau teman tidur Alea setampan dan sekaya Felix, dia juga tidak menolak. Tea hanya bisa mengumpat Alea, saat mobil Felix melaju, menjauh dari kampus Alea.


Dalam mobil Felix, Alea beberapa kali menghela nafas. Meski kata Felix tidak parah tapi luka Orion cukup dalam. Kenapa Nika tidak memberitahunya kalau Orion terluka. Padahal semalam mereka bertemu, dan mengobrol sampai pagi.


"Nika tidak tahu, sebab Axa dilarang bercerita. Jadi jangan salahkan dia."


Dua jam terasa setahun untuk Alea. Hingga ketika mobil Felix masuk ke area rumah sakit. Alea sudah menghambur masuk ke dalamnya. Tanpa menunggu Felix yang memarkirkan mobilnya. Pria itu menggelengkan kepala melihat kelakuan Alea. Benar kata Orion, lain di hati lain di mulut.


Alea menerobos masuk ke ruang rawat Orion setelah bertemu An, di depan lift. Wanita itu langsung memeluk Orion yang seketika meringis. Alea menekan lukanya.


"Kamu gak apa-apa?"

__ADS_1


"Sekarang ya apa-apa. Sakiitt." Balas Orion. Alea sontak menghentikan aksinya. Baru sadar kalau luka Orion ada di bahu.


"Maaf." Raut wajah Alea terlihat bersalah. Meski begitu wajah bahagia ditunjukkan oleh Orion. Dia senang melihat Alea ada di dekatnya.


"Aku senang kamu ada di sini." Orion menarik tubuh Alea lantas mencium pipi wanita itu. Mengabaikan tatapan malas dari An.


Sementara itu, Felix tengah berjalan di lobi, pria itu sedang menerima panggilan dari asistennya. Panggilan berakhir dan langkah Felix berhenti.


"Tessa...." Felix berlari mengejar seorang gadis berpakaian perawat. Jantung Felix berdebar kencang. Melihat wanita yang lama dia rindu.


Gadis itu masuk ke ruangan seorang dokter. Dengan Felix mengekor di belakangnya. Felix berhenti di depan ruangan tersebut. Baru saja akan mengetuk pintu, Felix kembali mundur. Terdengar jika ada yang memanggil sayang dari dalam ruangan itu. "Mungkin itu kekasihnnya." Gumam Felix. Pria itu berbalik lalu kembali berjalan menuju ruangan Orion.


Sepanjang jalan pikiran Felix menerawang jauh. Setahu dia gadis bernama Tessa ini tidak punya kekasih. Aah tapi sudahlah. Toh dia dan Tessa tidak punya hubungan apa-apa. Jadi dia tidak berhak melarang Tessa memiliki pacar.


"Kenapa wajahmu?" tanya Orion yang menyadari perubahan wajah Felix sejak menjemput Alea. Orion jelas bahagia sebab untuk pertama kali Alea mengungkapkan kecemasannya akan keadaan Orion. Alea jarang sekali menunjukkan kepeduliaannya pada Orion, tipe wanita cuek sejagat raya.


Felix menghela nafasnya. Tak lama kedikan bahu menjadi jawaban atas pertanyaan Orion. "Kau bisa maju sekarang. Siapa yang akan menolak seorang Felixio Athaya." Orion mengompori Felix. Bukannya menyambut gembira ide Orion, justru lemparan bantal sofa yang Orion dapatkan.


"Apa kau tidak tahu kalau Tessa itu Alea jilid dua. Keras kepala dan prinsipnya itu lo. Aku tidak bisa mengubahnya." Keluh Felix.


"Berarti kau memang menyukainya." Todong Orion. Felix langsung kicep mendengar balasan Orion. Selama ini tidak seorang pun tahu kalau Felix punya seorang tambatan hati. Tessa, seorang perawat yang Orion bayar untuk mejadi perawat pribadi Felix. Selama hampir lima tahun, Tessalah yang merawat Felix. Dari yang depresinya mulai membaik sampai Felix bisa berjalan kembali.


Kebersamaan lima tahun itu menumbuhkan rasa yang berbeda di hati Felix. Terlebih Tessa begitu sabar menghadapi sikap emosian Felix di awal Tessa merawat dirinya. Jika Felix memiliki rasa pada Tessa, perawat itu justru terlihat cuek. Kesabaran Tessa memang patut diacungi jempol, juga sikap baik dan perhatiannya pada Felix sebagai pasiennya. Namun di sisi lain, Tessa adalah pribadi yang keras kepala dan cuek saat tidak berhubungan dengan pekerjaannya.


Sampai Felix dinyatakan sembuh enam bulan lalu, Tessa hanya tersenyum datar tanpa ekspreai berlebihan terlihat di wajahnya. Dan hubungan lima tahun itu berlalu begitu saja setelah Felix bisa mandiri dan mampu mengurusi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ditambah setelah itu Felix dan Tessa kehilangan komunikasi.


"Jadi tidak ingin memastikannya?" tanya Orion setelah Felix berkata biarkan saja. Felix diam seribu bahasa, hingga pintu dibuka dan masuklah Alea juga Atika kembali dari makan siang mereka.

__ADS_1


Terlihat raut wajah bahagia dari dua gadis itu. Rupanya sepuluh bulan bersama membuat dua wanita itu dekat. "Makan Kak." Kata Alea sambil memberikan satu paper bag pada Felix.


"Aku gak dibagi?" protes Orion.


"Kamu kan masih mengikuti diet dari rumah sakit." Balas Alea.


"Sekali-kali napa. Hambar tahu makanan rumah sakit." Keluh Orion.


"Lah kan kamu memang suka makanan berbumbu minim. Alias tanpa rasa."


Felix dan Atika saling pandang lalu menggelengkan kepala bersamaan. Dua orang itu kalau bersama selalu membuat telinga budeg, kalau tidak ada, sepi. Susah sekali menyesuaikan dengan mood mereka. Rame tapi tidak sampai membuat pusing kepala.


Suara pintu dibuka membuat semua orang mengarahkan pandangannya ke tempat itu. Seorang dokter tersenyum sambil berkata akan memeriksa luka Orion. Namun bukan hal itu yang membuat Orion dan Felix tercengang. Kehadiran seorang perawat yang sekilas mirip dengan gadis yang baru dilihat oleh Felix. Tessa, gadis berpakaian perawat itu mengekor di belakang dokter yang mulai memeriksa luka Orion.


Perawat itu tampak ramah, tersenyum pada semua orang. Namun senyumnya berubah kaku saat melihat Felix. Gadis itu sepertinya mengenal Felix.


"Kau lihat? Dia ada di sini?" Felix langsung meledak begitu Tessa dan si dokter keluar dari sana.


"Jangan gegabah dulu. Dia bukan Tessa meski wajahnya sama."


"Tapi......"


"Tessa siapa? Selingkuhanmu? Atau pacar bersama kalian?" Ucapan dari Alea seketika membuat Orion dan Felix sadar kalau ada Alea di sana. Dan gadis itu tidak tahu menahu soal Tessa. Alhasil Alea jadi curiga dan berpikir yang tidak-tidak.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2