Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Tidak Rela


__ADS_3

Malam kian larut, saat Felix turun ke lobi rumah sakit. Mencari udara segar. Di kamar Orion, Alea sudah sibuk berdebat dengan Darrel. Pria itu langsung pergi ke rumah sakit setelah tahu kalau Sera, tahunya Darrel.. pulang dari Milan. Semua orang kena tipu mentah-mentah.


Alea juga sempat mengunjungi Beni, bisa dibayangkan betapa senangnya Beni melihat Alea. Pun dengan Meida dan Mario yang langsung memeluk erat "putri" mereka. Keduanya tak henti-hentinya menciumi wajah Alea, membuat Alea merasa bersalah sekaligus rindu dengan ayah dan ibunya. Wanita itu bertekad akan mengunjungi ayah dan ibunya akhir pekan ini. Orion akan keluar lusa, jadi dia masih punya waktu dua hari sampai akhir pekan tiba.


Felix menarik nafasnya dalam. Pria itu merasa banyak hal harus diluruskan, tapi dia bingung harus mulai dari mana. Kematian sang adik tidak bisa disembunyikan selamanya. Pun dengan penyamaran Alea. Suatu saat akan terbongkar juga.


Satu hal yang pasti, Felix sudah menemukan dalang dari kecelakaan yang mengakibatkan Sera meninggal. Meski buktinya sudah diberikan pada polisi. Tapi Felix belum memberitahu Orion. Sebab pelakunya adalah Abraham, ayah Orion. Lagi, pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Orion jika tahu kalau sang ayah yang sudah melenyapkan Sera.


Dalam kegundahan hati Felix, tiba-tiba saja seorang gadis duduk di samping Felix, di ruang tunggu lobi rumah sakit. Awalnya Felix pikir itu penunggu pasien juga. Sama seperti dirinya, tengah mencari udara segar. Namun setelah agak lama, Felix merasa kepo dengan teman duduknya. Terlebih gadis itu ternyata sejak tadi memperhatikan dirinya.


"Tes...Tessa." Betapa terkejutnya Felix saat melihat Tessa di sana.


"Jadi itu benar kau? Yakin aku ini Tessa." Tanya gadis itu setengah menantang. Felix terdiam, sembari menelisik wajah gadis yang duduk di depannya. Felix seketika membulatkan matanya. Melihat wajah gadis itu dari dekat.


"Kau bukan Tessa. Tapi wajah kalian begitu mirip." Felix akhirnya menyadari sesuatu. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Tessa, tapi Felix mampu menemukan perbedaan di antara keduanya.


"Akhirnya kau sadar juga. Aku Messa, adik Tessa." Astaga, Felix memukul dahinya, di sana ada Sera dan Alea yang sama persis, nyaris tidak bisa dibedakan. Sekarang Tessa dan Messa, kakak beradik yang wajahnya bak pinang dibelah kapak eh dua. Mirip sekali.


"Bagaimana bisa....kalian kembar?"


"Tidak, aku dan Tessa berjarak dua tahun. Dan kau......"


"Eehhhh....apa-apaan ini?" Felix terkejut saat Messa mencengkeram kerah bajunya.


"Kau laki-laki tidak peka yang membuat kakakku jomblo selama lima tahun. Menolak semua pria yang datang padanya, dengan alasan sudah punya pacar. Pacar dari nerakaa!"


Felix meringis saat Messa menghempaskan tubuh Felix ke kursi tunggu yang terbuat dari besi.

__ADS_1


"Maksudnya apa sih?" Kesal Felix. Pria itu membenarkan kemejanya yang berantakan akibat ulah Messa.


"Tuh kan, orang ini memang tidak peka. Kakakku suka padamu." Bola mata Felix serasa mau melompat keluar dari tempatnya, mendengar penuturan to the poin Messa.


"Jangan bohong kamu!"


Plakkk, satu keplakan mendarat di lengan Felix. Pria itu kembali meringis. Busyet, sudah seperti korban penganiayaan saja Felix. "Gak paham juga. Kakakku suka sama kau o-ooon." Gemas Messa, gadis itu bahkan sampai membuat gerakan meremas tangan.


**


**


"Kau mau ke mana?" Axa bertanya saat melihat Felix berlari keluar rumah sakit. Felix langsung berhenti, melihat Axa keluar dari mobilnya.


"Pinjam mobilmu." Felix merampas kunci dari tangan Axa, setelah Nika turun, barulah pria itu melajukan mobilnya keluar dari area rumah sakit.


"Jemput calon istri!" teriak Felix. Axa dan Nika saling pandang mendengar jawaban Felix. "Memang dia punya pacar?" tanya Nika. Dan kedikan bahu menjadi jawaban atas pertanyaan Nika.


"Tessa akan dipertemukan dengan calon tunangannya malam ini. Batas waktu yang ayahku berikan sudah habis. Jadi, mau tidak mau Tessa harus bersedia menerima perjodohan ini."


Felix memukul setir mobilnya. Pria itu melajukan mobilnya menuju satu alamat yang Messa berikan. "Bodoh sekali aku!" Berkali-kali Felix merutuki kebodohannya sendiri.


Mobil Felix bergerak dengan kecepatan penuh. Berzig-zag menyalip mobil yang ada di hadapannya. Mengabaikan teriakan penuh kemarahan dari pengemudi lain. "Sorry semua. Kebelet kawin." Gumam Felix somplak.


Kuda besi itu melesat masuk ke satu kawasan restauran mewah di pusat kota. Saat Felix berhenti di depan pintu restauran itu, dia melihat seorang gadis berlari ke arah pintu keluar. Lebih tepatnya ke arahnya. Felix terpana melihat siapa gadis itu. "Tessa....." gumam Felix.


"Tessa!! Berhenti!" satu teriakan membuat Felix sadar. Pria itu membunyikan klaksonnya, hal itu membuat Tessa terkejut. Lebih kaget lagi melihat siapa yang melakukannya. "Felix...." Lirih Tessa.

__ADS_1


"Masuklah!" Seru Felix. Tessa menoleh ke belakang. Saat itu dilihatnya sang papa berlari ke arahnya, merasa tidak punya pilihan.


"Maafkan aku, Yah." Tessa berlari masuk ke dalam mobil Felix. Di mana selanjutnya Felix melajukan mobil Axa cepat dari tempat itu. Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya ayah Tessa.


"Jadi tuan, perjanjian kita batal!" Ayah Tessa hanya bisa tertunduk lesu. Mungkin sudah nasibnya mengalami kebangkrutan usaha bengkel mobilnya.


Di sisi Felix, pria itu melirik ke arah spion. Tidak ada mobil yang mengikutinya. Bagus sekali. Selanjutnya pria itu membawa Tessa ke sebuah taman, pria itu pikir kalau Tessa perlu udara segar. Sama seperti dirinya.


"Terima kasih." Ucap Tessa dengan wajah tertunduk. Bukannya menjawab, Felix justru menatap dalam wajah Tessa. Cantik seperti biasa. Oh salah, kecantikan Tessa berlipat-lipat malam ini. Felix belum pernah melihat Tessa berdandan.


"Siapa mereka?" tanya Felix sambil memakaikan jas yang pria itu temukan di kursi belakang Axa. Tessa tentu terkejut dengan perlakuan Felix. Pria itu dulu Tessa kenal dengan sikap kaku dan dingin. Tapi kenapa malam ini dia bersikap manis padanya.


"Malah diam." Tessa kelabakan dengan pertanyaan Felix. Hingga mengalirlah cerita dari mulut Tessa soal hutang yang sang ayah miliki. Dan pertunangannya malam ini adalah cara Tessa untuk membantu sang ayah.


"Kau jadi penebus hutang?" tanya Felix tidak percaya.


"Bukan seperti itu ceritanya. Aku hanya membantu."


"Dengan bertunangan dengan orang itu. Sama saja Tessa."


"Tapi aku kan rela melakukannya. Jadi tidak masalah." Felix seketika berjalan mendekati Tessa, gadis itu reflek memundurkan langkah. Jantung Tessa berdebar tidak karuan. Sekian lama mencoba melupakan Felix, tapi usaha Tessa selalu gagal. Terlebih sekarang Felix ada di hadapannya. Makin susahlah Tessa untuk move on. Ditambah tampilan Felix sekarang berbeda. Pria itu tampak lebih tampan, lebih sehat dibanding satu tahun lalu.


"Tapi aku tidak rela!"


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2