Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Bersamamu


__ADS_3

Felix menurunkan pistolnya, rupanya pria itu yang sudah menembak kaki Abraham. Sementara tembakan Abraham mengarah ke atas. Hingga tidak melukai siapapun. Semua jelas terkejut dengan kemampuan Felix, tidak ada yang menyangka kalau pria itu bisa menembak.


"Berhentilah membuat onar, sampai membuat putramu sendiri takut untuk pulang!" Bentak Felix keras. Abraham terpaku di tempatnya ambruk, melihat ke arah Orion yang menangis terisak dalam pelukan Alea. Setelah sekian lama, baru kali ini mereka melihat sisi lain seorang Orion. Terlebih untuk Axa, Xuan dan An. Ini pertama kali melihat Orion lemah, tidak berdaya.


Dari cerita Felix, ketiganya akhirnya tahu bagaimana tersiksanya Orion karena rasa bersalah.


Abraham tentu tidak percaya begitu saja dengan ucapan Felix. "Kenapa? Kau tidak percaya kalau Orion putramu?!" Felix berjalan cepat ke arah Orion, menarik pria itu mendekat, lalu tanpa ragu menunjukkan tanda lahir di bahu Orion.


"Masih ingin menyangkal?!" Abraham tergugu. Menatap tidak percaya pada Orion. Pria yang selama ini Abraham benci setengah mati adalah anaknya sendiri.


"Valdy......." lirih Abraham.


"Putra sebaik dia tidak pantas punya ayah bajjngann sepertimu!" suara Mario begitu menusuk hati Abraham.


Sedang Alea hanya bisa terpaku di tempatnya. Gadis itu baru menyadari kalau ada dua Mario dan salah satu Mario itu adalah ayah Orion, begitu? Kepala Alea tiba-tiba pusing. Tubuhnya terhuyung ke belakang, beruntung Vano dan Darrel berada di belakang Alea. Dua pria itu kompak menahan masing-masing satu lengan milik Alea.


"Itu ceritanya bagaimana? Kenapa Om Mario ada dua...."


"Papa, kau akan memanggilnya papa."


"Woohh yo gak bisa, dia papanya kak Sera. Aku dah punya bapak." Balas Alea polos. Kini Alea sudah selonjor di aspal jalan. Memperhatikan drama di depannya yang masih berlanjut. Felix sejak tadi berteriak kesal, menumpahkan rasa yang mungkin saja Orion rasakan selama ini. Kecewa, takut dan merasa jadi orang paling bertanggungjawab atas kekacauan dalam keluarga Athaya.


"Kau ingin kaya? Putramu bisa mencarikan uang sebanyak yang kau mau tanpa perlu mengambil milik orang lain!" Sederet kalimat dari Felix terdengar begitu tajam dan pedas di telinga.


"Iisshh aku baru tahu kalau dia badboy juga. Kalau ngomel, mak emak satu komplek kalah." Gumam Darrel.


"Satu lagi, kapan dia belajar menembak?" Vano menambahkan deretan keheranan mereka.


"Kau bisa tanya Tessa soal itu." Saran Xuan. Mereka semua manggut-manggut setuju. "Ada yang bawa makanan gak. Laper nih gue." Bisik Alea di telinga.


"Weehhh sama. Ya sudah kita sarapan dulu. Gara-gara nyariin elu, kita kagak ada yang makan dari semalam." Darrel menyentil kening Alea yang hanya bisa nyengir tanpa dosa.

__ADS_1


Mereka melihat ke arah Orion yang dipapah Felix saat menjauhi Abraham yang diangkut ke ambulan dengan penjagaan polisi." Valdy, maafkan ayah. Kamu boleh membenci ayah. Tapi jangan lakukan itu pada ibumu!" Abraham berteriak sebelum pintu mobil ambulans tertutup.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alea segera. Orion hanya menggeleng pelan. Tanpa ada keinginan untuk menjawab. Rasa sedih dan kecewa itu jelas sekali tergambar di wajah Orion.


**


**


Alea masuk ke kamar lamanya di rumah keluarga Athaya. Gadis itu baru saja mengambil sarapan pagi yang setengah siang. Kehebohan langsung terjadi di rumah besar itu setelah Mario menghubungi Adnan agar memasak sarapan untuk lebih dari selusin orang. Padahal mereka hanya perlu punya waktu satu jam sebelum Mario dan yang lainnya sampai.


Awalnya para pria itu ingin makan di restauran yang mereka jumpai di jalan. Lapar gila! Setelah keadaan terkendali giliran perut mereka yang protes. Sialnya tidak ada resto buka sepanjang jalan. Alhasil, Alea yang sudah kelaparan merampok cash sang kakak, untuk memborong penjual roti keliling yang dia lihat.


"Gak kenyang Al." Protes Axa, menerima dua bungkus roti dari Alea. Gadis itu mendelik, bukan itu alasan sebenarnya. Rata-rata para pria itu sarapan menu full protein di pagi hari, atau minim sereal atau oat dengan kombinasi buah segar.


"Buat ganjel lambung bentar. Nanti om Adnan masakin kalkun harus elu habisin."


"Serius?" tanya Axa berbinar. "Ya kagaklah. Pol mentok ayam geprek." Balas Alea sembari menggigit rotinya. Axa langsung memasang tampang cemberutnya. Sementara Orion sama sekali tidak merespon apapun yang orang-orang itu lakukan.


Satu ucapan dari Beni membuat Alea menghembuskan nafasnya pelan. Dia tidak menyangka jika tawaran menjadi seorang gadis pengganti membawanya berada di situasi ini. Impiannya menjadi orang kaya terkabul. Meski sekarang bukan materi lagi yang dicari Alea. Menyandang nama besar Athaya tentu akan membuat Alea memiliki poin plus di mata banyak orang.


Orion menggeliat pelan di bawah selimut. Benar sekali ucapan Axa dan Xuan waktu itu. Orion pun tidur tanpa memakai baju. "Eehhhhhh." Alea memekik saat Orion menarik tubuhnya untuk ikut berbaring.


"Jangan pergi!" Lirih Orion sambil memeluk tubuh Alea yang mati-matian menjauhi Orion.


"Iya aku tidak akan pergi, tapi pakai baju dulu."


"Aku pakai celana kok." Balas Orion. Alea menghembuskan nafas penuh kelegaan.


"Tapi gak pakai pakaian dalam." Cengir Orion. Alea seketika berontak dari pelukan Orion. "Idiihhh ogah....."


"Diamm....nanti dia bangun. Lagian kamu gak ingat kata dokter. Tiga bulan baru boleh dimasuki lagi." Alea bungkam, setidaknya dia aman kali ini.

__ADS_1


"Al...Al...." Panggil Orion di telinga Alea.


"Emmmm...." Alea sudah mulai memejamkan mata.


"Kamu tidak keberatan soal siapa aku?" tanya Orion ragu. Alea seketika membuka matanya kembali. Lalu membalikkan tubuh, menghadap Orion.


"Soal yang mana?" wajah Alea berubah kepo. Hilang sudah acara mengantuk mereka.


"Soal ayahku, yang penipu, pembunuh...." Ucapan Orion terhenti saat Alea meletakkan jarinya di bibir pria itu.


"Yang aku tahu kamu baik, itu sudah cukup untukku. Soal ayahmu tidak ada urusannya denganmu kan. Cuma aku harus manggil kamu apa? Orion atau Rivaldy?"


Senyum Orion mengembang. Dia sejak tadi tidak bisa tidur sebenarnya. Sebab dia kepikiran soal ayahnya dan juga Alea. Bagaimana jika Alea pergi setelah tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Juga soal kejahatan sang ayah. Dan jawaban Alea cukup membuat Orion lega.


"Orion Harasya Alexander, identitasku itu sekarang. Aku secara resmi mengganti nama. Nama Valdy banyak meninggalkan kenangan buruk untukku. Aku ingin membuka lembaran baru, melupakan hal buruk di masa lalu, berharap masa depan mau berbaik hati padaku, memberi kebahagiaan untukku." Balas Orion.


"Apa definisi bahagia bagimu?"


"Bersamamu."


Meleleh gak tu Al, mendengar jawaban manis dari pria yang setengah tahun ini sibuk mengejarnya. Pria itu membuka laci di samping ranjang. Mengambil kotak, lalu membuka isinya. Sebentuk cincin cantik kembali Orion sematkan di jari manis Alea.


"Mari menikah. Kali ini aku tidak terima jawaban tidak. Kamu pakai cincinnya berarti jawabanmu iya."


"Dasar tukang paksa." Maki Alea. Yang terjadi selanjutnya adalah perdebatan dua orang yang kini sama-sama merasa siap untuk berjalan beriringan, sambil bergandengan tangan.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2