Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Misteri


__ADS_3

Alea melihat Orion dengan tatapan penuh tanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Alea tahu jelas siapa pemilik suara itu. Orion bisa merasakan kepanikan luar biasa dari Alea. Saat gadis itu akan berbalik, Orion menahan tangan Alea, mencegah gadis itu menunjukkan wajahnya.


"Al, itu kamu kan?"


Suara itu kian mendekat. Jantung Alea benar-benar hampir copot dibuatnya. Dia pikir penyamarannya akan tamat hari. Saat Alea sedang cemas dengan panggilan dari Nika, satu suara lain terdengar.


"Annika, tuan Ralf memanggilmu."


Keempat orang itu menarik nafas lega saat melihat Nika menjauh dari tempat itu. "Kau beruntung kali ini." Ledek An pada Alea, mengabaikan tatapan sinis dari bos penggantinya.


Keempatnya masuk ke dalam lift bersamaan. Alea dan Orion kembali berdebat saat mereka masuk ke ruangan itu. Alea berpikir sayang untuk menjaminkan tanah itu. Nilainya terlalu tinggi untuk dijadikan jaminan utang.


"Apa kau tidak yakin dengan kemampuanmu dalam memimpin?"


"Bukan begitu. Tapi bukankah ini seperti membiarkan tanah itu lepas begitu....."


"Kalau begitu jangan biarkan mereka memilikinya. Dalam enam bulan ini, tunjukkan kalau kau mampu mengembalikan pinjaman itu. Dan membungkam mulut mereka yang meragukan Sera."


Alea seketika terdiam. Ucapan Orion adalah tantangan sekaligus peringatan untuknya. Tantangan soal kemampuannya, juga peringatan untuknya. Kalau dia hanyalah peran pengganti.


"Apa untungnya buatku? Aku yang bekerja keras tapi kak Sera yang mendapat nama?" Alea bertanya sembari menatap wajah Orion.


"Kau mulai melawan?" tanya pria itu geram. Dia sungguh tidak menyangka kalau Alea punya pikiran untuk mengingkari perjanjian mereka. Sementara Alea malah terdiam. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu.


"Ingatlah, jika bukan karena Sera kau sudah mati bersamanya." Orion berucap dingin.


"Aku tidak memintanya....."

__ADS_1


Uuhggghhhh, Alea meringis kala Orion mencekiknya lagi, sesaat Alea terperangah, namun detik berikutnya gadis itu melawan cekikan Orion.


"Kau salah memilih lawan, aku besar di keluarga yang miskin, aku selalu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang aku mau. Aku bukan orang yang bisa kau ancam dengan gertakan anak kecilmu."


Bugghhhhh, Alea menepis cekikan Orion. Lantas tanpa Orion duga, gadis itu kuat menjegal tubuh besar Orion, hingga pria tersebut kini terkapar di lantai dengan nafas terengah sambil menahan sakit di punggungnya.


"Brengsek!" Orion tidak menyangka sama sekali jika Alea akan menantangnya. Detik berikutnya Orion dan Alea telah berduel sengit. An dan Axa langsung melongo, melihat bagaimana Alea melawan Orion.


"Waahhh, dia benar-benar kebalikan Sera." Gumam An kagum. Sementara Axa hanya terdiam, memperhatikan pertarungan antara Orion dan Alea. Tanpa seorang pun tahu Alea suka mengambil part time menjadi guru taekwondo dan karate kalau dia punya waktu luang. Selain menambah penghasilan, gadis itu bisa belajar cara melindungi dirinya sendiri.


"Ini menarik. Taekwondo plus karate. Sedang Orion sangat menggemari krav maga dan muay thai." Axa benar-benar terpana pada kemampuan Alea. Selama ini tidak ada orang yang mau melawan Orion.


Suara tendangan beradu, Orion dan Alea sama-sama menendang. "Hebat, taekwondo dan karate. Sepertinya aku melewatkan satu informasi penting soal dirimu." Ekor mata Orion melirik tajam An dan Axa.


"Itu bukan bagian kami!" An dan Axa kompak mengelak. Alea memberi tekanan pada tendangannya, hingga Orion tersentak ke belakang. Pria itu menyeringai penuh arti pada Alea. Orion jelas belum pernah menemukan seorang wanita yang mampu mengimbanginya.


"Sebaiknya kau terima usulan ini dulu. Sebab masalah plagiat itu mulai muncul ke permukaan." An mengingatkan. Alea mendengus geram mendengar perkataan An. Gadis itu lupa kalau dia masih harus menghadapi Pearl Jewelry.


"Haisshhh." Alea menggeram kesal. Dia baru teringat dengan masalah plagiat itu.


Rasa kesal Orion menguap, begitu tahu kalau Alea ternyata bukan gadis biasa yang mudah digertak dan ditakhlukkan. Pria itu duduk di sofa dengan mata tak lepas melihat Alea. Semua serangan Alea tepat sasaran dengan tenaga penuh. Gadis itu punya basic yang bagus dalam taekwondo dan karate.


Alea menggerakkan jarinya dengan cepat, sebuah dokumen siap, dengan An sigap mendekat. Mengambil berkas yang Alea berikan. "Suruh dia ACC." Perintah Alea judes. Dua sudut bibir Orion tertarik membentuk sebuah satu lengkungan senyum. Semakin mengenal Alea, membuat Orion kian tertarik dengan gadis itu.


Orion memakai kacamata khusus, di mana benda itu bisa memindai benda sampai sedetail mungkin. Orion tengah membandingkan tanda tangan asli Sera dengan tanda tangan milik Alea. Orion ingin sebuah paraf yang sama persis dengan milik Sera.


Pria itu kembali menarik sudut bibirnya. Puas dengan hasil tanda tangan Sera yang mampu Alea tiru. Bunyi stempel di bubuhkan menandakan kalau berkas itu lolos dari pengamatan Orion. Setelah itu, An keluar dari sana diikuti Axa. Keduanya akan pergi ke bank dengan membawa surat jaminan yang baru.

__ADS_1


Hening sesaat menyelimuti ruangan Alea. Orion sibuk dengan berkasnya, sementara Alea dengan design yang dikatakan meniru design Pearl Jewerly. Gadis itu sesekali menarik nafas, tanda frustrasi. Orion kembali tersenyum sambil membenarkan letak kaca matanya.


Alea mungkin punya keunggulan dalam kekuatan fisik dibanding Sera. Namun Alea juga punya kekurangan. Gadis itu mudah panik. Alea harus tenang saat mengambil keputusan. Satu hal lagi yang membedakan Alea dan Sera.


"Mereka akan memberikan keputusannya minggu depan. Jika proposalmu diterima, kau bisa mendepak semua orang yang tidak kau suka. Tapi jika sebaliknya, bersiaplah untuk dihujat."


Orion berkata setelah menerima panggilan telepon dari pihak bank.


"Dihujat adalah makananku tiap hari. Tidak ada yang kutakutkan dalam hidupku. Bahkan orang tuaku pun akan aku lawan jika mereka tidak menuruti kemauanku." Alea menjawab tanpa melihat pada Orion.


Orang tua? Orion tersenyum getir mendengar nama orang tua. "Apa yang orang tuamu lakukan masih mending. Setidaknya mereka tidak membunuh orang untuk mendapatkan apa yang bukan milik mereka."


Orion membalas perkataan Alea sambil mengulik laptop miliknya. Alea seketika menatap lurus pada Orion. Membunuh? Bukan milik mereka? Apa maksud perkataan Orion. Gadis itu mengerutkan dahi. Sementara Orion sejenak menghentikan pekerjaannya. Pria itu teringat siapa dirinya.


Bagaimana dia berjuang selama sepuluh tahun untuk sampai di titik ini. Bagaimana dia menguatkan dirinya sendiri untuk membantu seorang teman yang menjadi korban keserakahan kedua orang tua Orion.


"Tidak! Aku tidak punya orang tua! Mereka sudah mati sejak sepuluh tahun lalu. Sejak mereka memilih mengabdi pada keserakahan."


Batin Orion sembari mengepalkan tangannya. Siapa dirinya masihlah sebuah misteri. Nama Akexander yang dia sandang, sering dikaitkan dengan nama salah satu konglomerat di negeri tetangga. Padahal Orion tidak ada sangkut pautnya dengan pengusaha itu. Orion memang kaya namun siapa yang tahu, dari mana sumber kekayaan pria itu. Semua orang hanya tahu kalau Orion salah satu penerus AL Group.


Siapa Orion yang sebenarnya adalah sebuah teka teki untuk banyak pihak. Bahkan saat Beni Athaya dan kedua orang tua Sera menyelidiki siapa Orion, mereka hanya menemukan kalau Orion bagian dari keluarga Alexander.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2