Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Cemburu


__ADS_3

"Ayo pulang."


Alea mengangkat wajahnya saat mendengar satu suara di telinganya. Melihat Orion yang berada di depannya justru membuat suasana hati Alea bertambah buruk. Setengah diri Alea menyalahkan Orion. Pria itu yang sudah menyeret dirinya dalam ruwetnya masalah keluarga Athaya. Walau salahnya juga, mau menerima tawaran Orion.


"Tidak mau! Aku tidak mau pulang!" Teriak Alea histeris. Emosi gadis itu seketika meledak. Kejadian hari ini membuktikan kalau jauh di lubuk hati Alea, gadis itu sangat menyayangi ayah dan ibunya. Alea ingin pulang, dia ingin menemui dua orang tuanya, ingin minta maaf juga ingin mengatakan kalau dia sangat merindukan mereka.


Orion yang suasana hatinya juga kurang baik, langsung ikut terpancing, pria yang memang temperamental itu marah. "Jangan pikir untuk melarikan diri. Kau akan di sini sampai tugasmu selesai." Orion menekan tiap ucapannya. Pria itu tidak ingin dibantah.


"Aku tidak mau!" Braakkkk, aaarrgghhhhh.


Alea meringis saat Orion menarik tubuhnya lantas menghimpitnya di badan mobil Alea.



Kredit Pinterest.com


Dua orang itu saling pandang, Alea jelas tidak mau mengalah, dan Orion tidak akan menarik kata-katanya. Alea berkali-kali ingin melepaskan diri dari cekalan tangan Orion. Namun pria itu tidak mau melakukannya.


"Ingat Alea, kau sudah menandatangani perjanjiannya, asal kau tahu tidak ada yang bisa mundur dari kesepakatan itu, kecuali kau mau mati!"


"Kalau begitu bunuh saja aku. Bunuh aku! Daripada aku harus tersiksa karena rasa ini. Aku rindu ayah dan ibu....." Air mata Alea mengalir, pun dengan cekalan Orion yang mendadak melemas. Tubuh Alea perlahan merosot, saat Orion benar-benar menyingkirkan tangannya dari lengan Alea. Pria itu terhenyak untuk beberapa waktu, di hadapannya Alea menangis terisak sambil memeluk lututnya.


"Ayah....aku ingin pulang. Ibu...aku rindu padamu." Orion memalingkan wajah mendengar rintihan Alea. Hari ini dia dikejutkan oleh fakta soal dua orang tuanya, hal yang membuat Orion benci pada mereka. Berbanding terbalik dengan Alea yang justru menemukan dirinya begitu mencintai dua orang tuanya.


"Kita selesaikan ini. Lalu kau bisa pulang. Aku janji...ini tidak akan lama." Orion merengkuh tubuh Alea dalam pelukannya. Tangis gadis itu semakin kencang dalam dekapan Orion.


"Dasar tuti, tukang tipu!" Jerit Alea kesal. Namun begitu, pria itu tidak marah. Orion sendiri tahu, dia sudah terlalu banyak melibatkan Alea dalam bahaya. Semua di luar perkiraan mereka.

__ADS_1


Mobil Orion berhenti di depan kediaman Athaya, Orion keluar, lalu menggendong tubuh Alea yang tertidur. Omelan Alea berhenti setelah gadis itu memejamkan mata. Alea marah karena tidak boleh mengendarai mobilnya sendiri. Sementara Orion tahu kalau Alea berniat ngebut di jalanan untuk meredakan amarahnya.


"Kan bagus kalau kau bisa diam begitu." Gumam Orion setelah merebahkan tubuh Alea di kasur. Pria itu terpaksa harus menghadapi Beni lebih dulu di ujung tangga. Bertanya apa yang terjadi pada cucunya.


"Apa reaksimu jika kau tahu kalau Alea bukanlah Sera." Gumam Orion lirih. Meski begitu ucapan Orion masih bisa terekam alat perekam yang terpasang di bawah meja. Hingga orang yang kebetulan sedang mendengarkan rekaman itu seketika tersenyum, dia mendapatkan bukti kalau Alea bukan Sera.


"Jadi dugaanku benar. Gadis itu tidak mungkin selamat setelah kecelakaan yang kurencanakan untuknya. Sama seperti kakaknya." Orang itu tersenyum puas. Kini tidak ada lagi orang yang bisa mengacaukan langkahnya.


"Orion...kau pikir kau siapa, berani mengganggu rencanaku. Lihatlah, aku dapat buktinya. Kau akan segera hancur dan aku yang akan mendapatkan semua."


*


*


Alea keluar dari ruangannya, wajah gadis itu terlihat manyun. Mengingat Orion yang bohong padanya. "Dia bilang ada urusan. Nyatanya dia pergi makan malam dengan rubah betina itu." Gerutu Alea sepanjang jalan. Mulai cemburukah dia? Atau hanya karena Xia Lin yang mengajak makan malam Orion.


An pergi dengan Atika, dia tadi juga melihat kalau Axa berjalan berdua dengan Nika. Sudut bibir Alea tersenyum. Axa pria baik, Alea jelas tahu itu. Sedang Xuan, si pecinta kerja itu sejak tadi masih setia dengan benda persegi di hadapannya, apa lagi kalau bukan laptop.


"Sera kau mau pulang?" suara yang tidak asing membuat Alea menoleh. Vano berjalan keluar dari lobi, lantas berhenti di samping Alea.


"Iya, tapi bosen kalau pulang sekarang. Harusnya aku tadi nemenim Xuan lembur saja." Sesal Alea.


"Emmm, kalau kau bosan, mau temani aku makan malam? Akan kutunjukkan resto yang bagus. Kau suka melihat bintang kan?" Senyum Alea merekah, mendengar ajakan Vano.


"Memangnya kau saja yang bisa makan malam dengan rubah betina itu, aku juga bisa." Batin Alea kesal pada Orion.


Giliran senyum Vano mengembang setelah Alea mengiyakan ajakannya. Di lantai atas, Xuan mengerutkan dahi setelah Alea menghubunginya. Meminta orang untuk membawa mobilnya pulang. Satu jawaban Xuan dapat membuat pria itu mengusak rambutnya kasar. "Astaga gadis kecil itu berani memancing amarah singa gunung."

__ADS_1


Xuan tahu persis bagaimana cemburunya Orion pada Vano, dan sekarang Alea malah pergi makan malam dengan Vano. "Perang dunia ke 50 bakal meledak ini kalau Orion tahu." Gumam Xuan cemas.


Sementara itu, Alea langsung bersorak gembira saat sampai di rooftop sebuah resto dengan view langit malam. Sangat cantik. "Kau suka?" Alea mengangguk antusias sebagai jawaban.


Pria itu membiarkan Alea menikmati indahnya langit malam yang berkelap kelip bertabur bintang, dengan Vano mulai memilih menu makan malamnya. "Sera, kau mau makan apa?" Vano bertanya sambil membolak balik buku menu.


"Tidak tahu." Alea menjawab dengan tubuh bersandar pada sofa dan wajah menatap ke atas.


"Kalau kupesankan salad bagaimana? Kau kan suka makan itu kalau malam."


"Boleh....emmm bisa pesankan wine, melihat langit malam sambil minum wine kayaknya asyik." Vano menarik ujung bibirnya mendengar permintaan Alea.


"Tentu saja. Aku juga pesan pasta, itu cocok di temani wine."


Alea terus memperhatikan langit malam, tanpa dia tahu Vano yang menatapnya sambil tersenyum. Bagi Vano tidak ada kepura-puraan dalam diri Alea. Itu yang dia suka. Meski dia juga tahu ada perbedaan yang besar antara Sera dan Alea.


Tanpa keduanya tahu, sepasang mata menatap penuh amarah pada Vano dan Alea. Dia adalah Orion. Teringat Alea yang suka melihat bintang, pria itu memilih resto tersebut. Tanpa dia tahu, Alea juga berada di sana.


"Kau berani membuatku cemburu? Kita lihat saja, apa yang akan kau dapat sebagai balasan!" Orion melihat Alea dari bagian pintu yang dibuat dari kaca tembus pandang. Hingga dari bagian itu Orion bisa melihat apa yang terjadi di seberang ruangan mereka.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2