
"Maaf cuma seadanya. Tidak tahu kalau ada tamu."
Orion tersenyum mendengar ucapan ibu Alea. Yang mengetuk kaca mobil Orion adalah ayah Alea, pria itu sepertinya sejak tadi memperhatikan mobil Orion, yang terparkir di warung mereka setelah Orion membeli air mineral. Merasa kasihan melihat wajah putus asa Orion, ayah Alea menawari pria itu mampir ke rumah mereka. Dan di sinilah Orion, duduk di meja makan sederhana keluarga Alea, bersiap untuk makan malam dengan menu seadanya.
Pikiran Orion serasa kembali ke masa kecilnya, di mana sang ibu selalu memasak makanan untuknya. Meski bukan menu yang mewah seperti yang biasa Orion nikmati sekarang. Namun pria itu sangat bahagia saat menyantapnya.
Seperti saat ini, mata Orion langsung berkaca-kaca, merasakan makanan itu punya rasa hampir sama dengan masakan ibunya, Belia. "Masih belum ketemu?" Suasana hangat sangat terasa di rumah Alea. Orion menggeleng pelan sambil terus melahap makanannya.
"Nanti juga ketemu." Ibu Alea ikut membesarkan hati Orion.
"Paling dia lagi...apa itu, istilah anak muda sekarang kalau ingin cari hiburan."
"Healing..."
"Nah itu dia. Nanti setelah dia selesai healing pasti pulang." Kata ayah Alea kali ini menenangkan Orion.
"Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu malah sakit sendiri. Begini saja, beri dia satu atau dua hari untuk healing. Kalau lusa dia belum kembali. Baru dilaporkan ke polisi atau dicari lebih serius." Saran ibu Alea sangat masuk akal.
Orion tampak berpikir, hingga pria itu manggut-manggut mengiyakan. "Baik, kau mau sembunyi, sembunyilah, aku mau pedekate sama camer." Orion terkekeh dalam hati. Camer kata dia.
Orion memasuki kamar Alea, memanfaatkan kebaikan ayah dan ibu Alea, Orion menerima saja tawaran orang tua Alea untuk menginap di rumah mereka. Hari memang sudah cukup malam, jika ingin mencari hotel, Orion harus kembali ke kota, lebih lima belas menit perjalanan. Tubuh Orion terasa sangat lelah, di tambah dia malas untuk menyetir lagi.
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
Pria itu sudah mandi di kamar mandi Alea. Mengganti pakaiannya dengan baju ganti yang memang selalu ada di bagasi. Sesaat mengulum senyum sembari mengamati detail kamar Alea. Girly sekali kamar itu. Bernuansa pink orange dengan pernik-pernik ala anak gadis. Meski cukup sempit untuk ukuran Orion yang terbiasa dengan ruangan luas, tapi kamar Alea lumayan mengobati rasa rindu pria itu pada Alea. Baru juga sehari tidak melihat, sudah rindu saja Orion pada Alea.
Pria itu membuka pintu, melangkah ke luar di mana satu balkon tersedia di sana. Satu set kanvas lukis terlihat ada di sana.
"Kamu memang suka melukis ya? Oke melukislah semaumu setelah semua ini selesai."
Pria itu menengadahkan kepalanya, melihat kilau langit malam bertabur bintang. Sangat cantik. "Aku harap kamu baik-baik saja di manapun kamu berada."
Tanpa Orion sadari, Alea juga tengah memandangi langit malam dari balkon vila kerucutnya. Berbaring di kursi bola yang empuk, Alea tersenyum lebar sambil menghitung bintang di langit. Kurang kerjaan sekali dia. Di samping Alea satu buah lukisan terpampang di sana. Lukisan dengan tema kebun teh di bawahnya itu baru 60% selesai. Besok Alea akan menambahkan latar matahari terbit pada lukisannya.
"Kamu lagi ngapain?" tiba-tiba saja ucapan itu terucap dari bibir Alea. Namun gadis itu buru-buru meralatnya. "Aku gak mikirin kamu kok." Sangkal Alea. Gadis itu memiringkan tubuhnya, sejak tadi pagi perut Alea terasa tidak nyaman. Gadis itu mengira kalau tamu bulanannya akan datang.
"Kenapa rasanya tidak nyaman begini sih." Gerutu Alea. Gadis itu akhirnya mencoba untuk tidur. Biasanya itu cara paling ampuh untuk menyembuhkan semua rasa sakit yang dia derita. Alea tidur di bawah naungan langit malam berbintang terang. Sedang Orion masih betah memandang si penguasa malam menunjukkan kuasanya.
Malam berganti pagi, Orion meringis saat menggerakkan tubuhnya. Kakinya terasa kebas, ranjang Alea terlalu pendek untuknya, atau tubuhnya yang terlalu panjang untuk kasur Alea yang memang terlihat mini. Yaelah Alea tinggi berapa, sedang tinggi Orion hampir 185 cm. Alea hanya sebahu Orion kalau mereka berdiri berdampingan.
Orion segera meraih ponselnya. Mengambil foto gambar itu, lantas mengirimkannya pada Xuan. Mengabaikan puluhan panggilan masuk juga pesan. Sebab tidak satu pun pesan itu dari Alea.
"Kemana saja kau?"
"Cari saja tempat itu!" Orion menyudahi panggilannya. Masuk ke kamar mandi Alea, membersihkan diri lantas memakai bajunya. Pria itu melihat parfum Alea, tanpa ragu menyemprotkan ke bajunya.
Bisa Orion pastikan kalau Alea pergi ke tempat itu. Tidak salah lagi. Orion melihat sekelilingnya, lantas dengan iseng mengambil foto dirinya di kamar Alea. "Kita lihat bagaimana kau akan bereaksi kalau melihat ini."
Orion memposting foto itu di akun sosial medianya yang jarang dia urusi, padahal follower jutaan. "One night in my fiancee room." (Satu malam di kamar tunanganku) Begitulah caption yang menemani postingan Orion.
__ADS_1
Bisa dipastikan sebentar lagi akan ada kehebohan gara-gara postingan asal Orion. Dan benar saja, tak kurang dari lima menit kolom komentar dipenuhi dengan ikon tangisan dan patah hati. Orion ngakak melihatnya.
"Apa yang kau lakukan ha?" Pesan dari Felix pun diabaikan oleh Orion. Pria itu memilih keluar kamar Alea. Menuju ke ruang makan bermaksud meminum air putih hangat, kebiasaannya di pagi hari setelah bangun tidur.
Namun ternyata di sana ayah Alea sudah menunggu untuk sarapan. Tidak enak untuk menolak, Orion yang biasa hanya makan sereal bercampur buah segar, terpaksa ikut makan pagi bersama ayah Alea.
"Jika belum ingin pulang, tinggal saja di sini. Kalau kamu tidak sibuk."
Senyum Orion melebar, mendengar tawaran menggiurkan dari ayah Alea. Why not? Kenapa tidak? Star Jewelry sudah ada Felix yang mengurusnya. Perusahaannya baik-baik saja. Dan misinya sudah selesai. Jadi dia bisa bersantai sejenak.
"Lumayan, tidur gratis dan makan gratis." Otak kere Orion mulai beraksi. Padahal di dompetnya dua black card dan deretan kartu kredit berjajar rapi siap digunakan. Kalau ada tawaran gratis kenapa juga harus repot-repot bayar.
Sementara di tempat Alea. Gadis itu mendengus kesal, sejak tadi bolak balik ke kamar mandi karena rasa mual yang menyiksanya. Lukisan kebun teh Alea gagal total, sebab sejak matahari nongol di ufuk timur, dia justru nongki cantik di kloset vila kerucutnya.
"Masak aku masuk angin gara-gara tidur di luar semalam?" tanya Alea dalam hati.
***
Kredit Pinterest.com
Yang lagi pedekate sama camer 😅🤣🤣
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****