
Alea menatap tajam pada Orion. Satu berita dibawa Orion pagi itu. Sebuah permintaan tes DNA yang diajukan oleh Darrel dan sialnya disetujui oleh Beni. Gadis itu sangat gusar, kesal dan marah. Meski Orion berkali-kali mengatakan untuk tidak khawatir soal hal itu. Karena dia dan yang lainnya akan membantu.
"Kalian ini seperti sedang mendorongku ke jurang yang paling dalam." Gerutu Alea kesal.
Dia pikir kalau tugasnya tidak akan serumit itu. Nyatanya nyawa pun harus jadi taruhannya.
"Sudah kubilang kau tidak perlu khawatir. Kami akan membantumu menghadapi Darrel, sepupumu itu." Balas Orion santai.
"Dia sepupu Kak Sera! Bukan sepupuku! Aku minta naik gaji kalau begitu!" Pinta Alea.
Orion terkekeh melihat tingkah Alea. Gadis itu semakin memiliki nilai lebih di mata Orion. Terlebih setelah pria itu melihat tubuh sempurna Alea saat mandi waktu itu. Secara fisik, Orion menyukai tubuh Alea. Ditambah sifat gadis itu yang selalu menjaga jarak dan jual mahal padanya. Hal itu semakin membuat Orion penasaran.
"Kamu mau gaji berapa? Yang kemarin saja sudah bisa buat beli rumah." Tantang Orion.
"Yang banyak." Balas Alea cepat.
"Kau tahu kalau gajimu yang kemarin, sepuluh kali gaji manager." Tukas Orion.
"Aku tahu. Tapi kan manager gak ada resiko jadi target pembunuhan. Gila aja, gaji segitu tapi balik tinggal nama." Alea mulai bernegosiasi dengan Orion. Pria itu kali ini meledakkan tawanya.
Duukkkk
Orion meringis saat Alea menendang tulang kering pria itu. "Iya, iya. Kalahkan aku! Akan kupertimbangkan kenaikan gajimu." Seringai Orion penuh arti.
"Siapa takut!" Sahut Alea cepat. Keduanya memang sedang berada di sebuah tempat latihan pribadi. Di mana hanya Orion yang memiliki akses ke ruangan itu. Tempat itu adalah private area milik Orion, bahkan saking pribadinya, Axa dan yang lainnya tidak berani mengganggu Orion saat pria itu berada di sana.
"Tapi jika kau kalah, kau harus memenuhi permintaanku." Orion berujar saat menahan kaki Alea yang ingin menendangnya.
"Kau curang!" raung Alea. Gadis itu semakin membabi buta menyerang Orion. Alea memukul Orion, pria tersebut sigap menghindar. Orion, pria itu ternyata begitu handal dalam bertarung. Alea mengakuinya. Alea menendang Orion dan pria itu kembali menahannya.
Serangan demi serangan Alea lancarkan, demi kenaikan gaji. Duel sengit itu kembali terjadi. Saat Orion dan Alea saling menunjukkan serangan terbaiknya. Dua puluh menit berlalu penuh ketegangan dan energi Alea mulai terkuras. Dengan tingkat fokus dan kewaspadaan gadis itu semakin menurun. Sementara Orion, pria itu sama sekali tidak terlihat kelelahan.
__ADS_1
Peluh yang bercucuran di tubuh Orion justru membuat pria itu terlihat kian seksi. Sial! Alea merutuki dirinya sendiri yang malah sibuk memperhatikan Orion.
Aarrgghhh, Alea kehilangan konsentrasinya, hingga Orion berhasil membanting tubuh langsing itu ke lantai.
"Menyerah?" Orion bertanya dengan mode congkaknya.
"Jangan mimpi!" Alea berdiri lagi, melancarkan serangannya. Gadis itu bermaksud memukul Orion. Namun pria itu dengan cepat menghindar. Orion menggeser tubuhnya ke samping. Hasilnya Alea memukul udara kosong. Dalam kesempatan itu, Orion menarik pundak Alea, membaliknya. Lantas mendorongnya ke dinding. Menghimpit tubuh Alea.
Alea mendengus kesal, saat Orion berhasil mengunci pergerakannya. Alea meronta, tapi Orion sama sekali tidak melonggarkan kunciannya. Pria itu justru semakin menghimpit tubuh Alea menggunakan tubuhnya.
Mata Alea membulat melihat bagaimana dekatnya wajah Orion. "Kau tidak akan bisa melawanku. Meski kuakui, kemampuanmu lumayan." Bisik Orion di depan wajah Alea. Alea memejamkan mata, merasakan hembusan nafas Orion.
Alea mendengus kesal, gadis itu berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun Orion tidak mau melepaskannya.
"Kau curang Rion!"
"Mana ada! Kita bertarung adil. Aku hanya menggunakan setengah dari tenagaku untuk melawanmu." Tegas Orion.
Alea sungguh marah, dia terlalu meremehkan Orion. Kemampuan bela diri Orion ternyata sangat mumpuni.
Pria itu melepaskan cekalannya pada Alea. Lantas meninggalkan gadis itu begitu saja. Membiarkan Alea meluapkan kemarahannya dengan menghentak-hentakkan kakinya. Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya di matras yang baru saja mereka gunakan untuk bertarung.
Malam kembali datang, suasana makan malam tampak berbeda. Alea yang baru saja turun dari kamarnya terlihat mengerutkan dahinya. Melihat semua orang berkumpul di ruang tengah. Ada suara tawa yang terdengar.
Satu tatapan penuh kode datang dari Orion. Pria itu tampak sebal. Di depan Orion duduk seorang gadis yang seketika membuat Alea cukup terkejut. Xia Lin, gadis itu duduk di samping Vano. Melihat Alea, Vano seketika salah tingkah.
Seperti kekasih yang ketahuan selingkuh.
"Ah Sera kau sudah turun? Kau tentu sudah mengenal Xia Lin kan? Dia bilang baru berkunjung ke kantor." Beni menyapa Alea, pria itu terlihat antusias dengan kedatangan Xia Lin.
Alea mendudukkan diri di samping Orion. Dengan Xia Lin yang seketika mengalihkan perhatiannya pada Alea dan Orion.
__ADS_1
"Aku dengar kalian akan bertunangan. Apa itu benar?" Xia Lin bertanya dengan senyum sinis di wajahnya.
Orion menarik sudut bibirnya. Satu tangan Orion meraih pundak Alea lantas merangkulnya. Alea seketika memandang tajam wajah Orion yang tampak acuh pada tatapan Alea.
"Bulan depan kami akan bertunangan." Orion mengeratkan pelukannya pada Alea. Sebab pria itu tahu kalau Alea akan protes padanya.
"Ahhh, lega rasanya kalian akhirnya mau bertunangan." Beni bersorak gembira. Sementara yang lain saling pandang penuh kode. Begitupun dengan Alea yang berdesis lirih, "Kita harus bicara."
"Boleh, mau di sini atau di kamar." Balas Orion setengah berbisik. Alea mendelik mendengar jawaban Orion.
Sementara itu, Nika melangkah terburu-buru masuk ke rumahnya. "Baru pulang Nika?" satu suara menyapa Nika. Gadis itu menoleh, melihat sang ibu berdiri di depan pintu kamarnya.
"Iya, Bu." Annika berbalik, mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya.
"Bagaimana soal Alea? Sudah bertemu?"
"Dari kampus memberi keterangan kalau Alea sedang magang di Milan selama satu setengah tahun."
"Tapi kenapa ayah dan ibu Alea tidak bisa menghubungi nomor Alea." Ibu Nika bertanya.
Annika seketika terdiam. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Alea sebenarnya. Nika bertanya-tanya ke mana sebenarnya sang sahabat pergi. Saat Nika bertanya ke bagian administrasi kampus. Jawabannya sungguh di luar dugaan. "Alea telah mengajukan cuti kuliah selama dua semester. Dia ada urusan di Milan."
"Milan? Alea memang ingin berkarier ke Milan. Bagaimana dia bisa pergi ke sana? Dia perlu sponsor dan uang saku. Dari mana dia mendapatkan semua itu." Batin Nika bingung.
Gadis itu sudah kehabisan kata, menjawab pertanyaan dari ayah dan ibu Alea. Nika dan orang tua Alea sangat mengkhawatirkan keadaan Alea. Takut hal buruk terjadi pada gadis 22 tahun itu.
"Al...kamu di mana? Kami sangat mencemaskanmu." Annika kembali membatin, sambil melihat foto dirinya dan Alea di ponselnya.
***
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****