Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Rencana


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Introducing Devano Nayaka Aciel


"Kau salah membawa ponsel, Sera."


Orion muncul sambil membawa ponsel yang tengah berdering. Nama "kakak besar" tertera di sana. Vano menatap tajam pada Orion. Sejak Sera pulang, Orion selalu menempel pada gadis itu. Pria itu jadi kesulitan untuk bicara berdua dengan Sera. Ada banyak hal yang ingin Vano tanyakan pada Sera, tapi Orion seolah menutup celah untuk hal itu.


Sebagai orang yang tumbuh bersama sejak kecil, Vano tentu paham dengan sifat Sera. Namun sejak kembali dari Milan, sifat Sera banyak berubah. Gadis itu jadi lebih pendiam. Padahal yang Vano tahu, Sera adalah gadis yang periang, penuh dengan senyum.


"Benarkah?" Alea berpura-pura terkejut. Lantas mengambil ponsel yang Orion bawa. Menyerahkan miliknya pada pria itu.


"Kakak besar percaya kan sekarang. Kalau aku adalah Sera." Tanpa menunggu jawaban dari Vano, Alea melenggang pergi dari sana.


Setelah Alea tidak nampak, Vano segera mendekati Orion. "Aku tidak peduli pada apa yang kau lakukan. Tapi jika kau menyakitinya. Kau akan berhadapan denganku." Vano menyusul langkah Alea setelah memberi peringatan pada Orion.


Orion, pria itu hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Vano. "Kau pikir apa yang sedang aku lakukan padanya? Aku sedang membantunya, asal kau tahu." Gumam Orion kesal.


"Sera...tunggu dulu Sera." Vano mencekal tangan Alea. Gadis itu dengan cepat menepisnya.


"Sorry," Vano mengangkat tangannya.


"Ada apa ya?" Alea berusaha santai menghadapi Vano.


"Apa kalian benar akan bertunangan?" tanya Vano. Alea mengangguk ambigu. Dia tidak tahu soal rencana itu. Sebab Orion tidak pernah menyebutnya dalam perjanjian.


"Apa kau yakin?" desak pria itu.


"Yakin dan tidak, itu tidak ada urusannya denganmu." Suara Orion kembali menyela. Vano seketika memejamkan mata, kesal dengan ulah Orion. Pria itu selalu saja ikut campur urusannya dengan Sera.


Vano baru saja akan menjawab, saat suara tepuk tangan terdengar. Darrel muncul dengan wajah menyebalkan seperti biasa. Alea benar-benar muak dengan sikap Darrel.


"Wah sepertinya akan ada cinta segitiga di rumah ini. Sera...Sera...jika kau pulang hanya membawa masalah, lebih baik tidak usah pulang." Kata Darrel penuh sindiran.

__ADS_1


Alea mengepalkan tangannya, jengkel dengan ucapan Darrel. Walau Orion dan Vano bersikap biasa saja. Dalam hati keduanya, mereka kompak memaki Darrel.


"Kenapa kau seperti orang kebakaran jengkot saja dengan kepulangan Sera. Asal kau tahu, Kakek yang mengutusku untuk menjemput Sera." Vano membalik perkataan Darrel. Sebuah makna tersirat dalam ucapan Vano, kalau kakek mereka yang menginginkan Sera kembali.


"Kau.....," geram Darrel.


"Daripada kau meributkan soal apa yang akan Sera lakukan, lebih baik kau pikirkan soal dirimu sendiri. Amankan posisimu selagi kau bisa." Bisik Orion, di telinga Darrel. Darrel seketika menatap tajam pada Orion.


"Kau tidak bisa ikut campur soal Star Jewerly. Itu milik kami."


Darrel tentu merasa terancam. Dia sudah lama mengincar posisi tertinggi di perusahaan itu. Padahal Beni sudah memberikan perusahaan Star Contructions padanya. Namun Darrel tidak terima. Dia ingin Star Jewelry menjadi miliknya juga.


Ketiganya berlalu meninggalkan Darrel yang hanya bisa mendengus geram, melihat ulah dua pria yang semakin lama, semakin menyebalkan di matanya.


"Apa kau akan ke kantor hari ini?" Vano bertanya di ujung tangga ke lantai dua. Tempat kamar Alea berada.


Alea mengangguk setelah satu kode Alea dapat dari Orion. Alea berjalan menuju kamarnya, tanpa menyadari kalau Orion mengikutinya. Baru setelah Alea menutup pintu, gadis itu terlonjak kaget kembali. "Aishhh, bisa gak sih dia gak nongol tiba-tiba begini. Bikin jantungan aja. Eeehhh...." Alea memundurkan dirinya saat Orion mendekatinya. Wajah pria itu terlihat kesal.


"Jangan pernah membuat kesalahan, sekecil apapun, aku tidak akan bermurah hati memaafkannya." Bisik pria itu tajam, penuh penekanan.


Jantung Alea serasa marathon, saat bibir Orion menyentuh telinganya.


"Berani membantah?"


"Uhuk...uhuk......" Alea memukuli lengan Orion, pria di hadapannya benar-benar mencekiknya. Nafas Alea memburu dengan wajah memerah. Gadis itu mulai kehilangan daya. Saat itulah, Orion melepaskan cekikannya.


"Peringatan pertama untukmu. Jangan membuat kesalahan. Jangan sampai mereka meragukan identitasmu sebagai Sera." Orion mencengkeram dagu Alea. Menatap dalam dua bola mata cantik yang kini berkaca-kaca, menahan sakit.


Nafas Alea terengah-engah, saat Orion berlalu dari kamarnya. Gadis itu dengan segera mengusap kasar air mata yang turun di pipi. "Orion sialan! Lihat saja! Kau akan bertekuk lutut padaku tidak lama lagi." Ucap Alea yakin. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan pria itu. Dia tidak boleh kalah. Sama sekali tidak boleh.


Alea bangkit lantas masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri. Xuan dan An sudah memberitahu soal gaya busana Sera. Karena itu, Alea harus mengikutinya. Sedikit menggerutu karena gaya feminim Sera yang sangat kentara. Hal itu bertolak belakang dengan Alea yang dasarnya tomboi. Berdandan pun Alea tidak pandai. Namun semalam dia sudah melihat tuturial cara memakai make up.


"Astaga, pendek sekali roknya." Gumam Alea, setelah melihat baju-baju Sera yang kebanyakan berjenis rok dan gaun.


"Ini hanya akan menutup bokongku saja." Lagi, satu gerutuan meluncur dari bibir Alea. Melihat satu set pakaian semi formal yang dia pilih untuk hari itu. Sedikit beresiko karena pendeknya rok yang akan dia pakai.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu, dan Alea tersenyum puas, melihat tampilannya di cermin besar yang ada di ruangan itu. "Sempurna," puji Alea pada dirinya sendiri. Alea cukup beruntung bisa menemukaan satu laci penuh dengan hot pants hingga tampilannya bisa terselamatkan. Meskipun paha mulusnya harus terekspose ke mana-mana. Hal yang tidak pernah Alea lakukan sebelumnya.


"Show time...." Ucap Alea sàat gadis itu meraih satu bag, yang akan menjadi penyempurna dandanannya hari itu.


"Pagi semua." Sapa Alea ceria. Semua orang tentu terkejut melihat Alea. Terlebih gaya Alea pagi itu sedikit berbeda dengan Sera.


"Kau tidak salah makan, selama liburan kan?" tanya Darrel yang diam-diam terkesima pada tampilan Alea.


"Aku sedikit mengubah gayaku. Apa ini buruk?" Alea bertanya.


"Tentu saja tidak. Kakek senang kau terlihat bahagia." Beni menanggapi celotehan Alea seperti biasa. Ekor mata Alea melirik tiga orang yang seketika memasang tampang tidak suka.


"Heran sekali. Mereka ini ayah, ibu dan tante kak Sera. Tapi semua tampak memusuhi kak Sera." Batin Alea perlahan mengunyah rotinya sebagai sarapan.


"Makanlah yang banyak. Hari ini akan ada banyak masalah yang menantimu di perusahaan."


Ujung bibir Darrel tertarik, satu seringai puas terbit di wajah pria itu. "Mari kita lihat seberapa besar kemampuanmu dalam mengatasi hal ini."


Alea mengangguk patuh, meski detik berikutnya mata Alea dan Darrel membulat bersamaan saat Beni memberitahu kalau Orion akan membantu Alea di kantor mulai hari ini. Darrel tentu saja protes. Dengan dalih, Orion adalah orang luar. Namun alasan Darrel terpatahkan, saat Beni menyebut kalau Orion adalah tunangan Sera, jadi pria itu akan menjadi anggota keluarga mereka tidak lama lagi.


Darrel menggebrak meja di ruangannya. Pria itu langsung meninggalkan meja makan sebagai protes atas keputusan sang kakek.


"Kau ingin bermain. Let's play the game."


"Halo, suruh dia pergi hari ini juga." Satu perintah meluncur dari Darrel. "Kita lihat bagaimana kau akan keluar dari situasai ini."


Di sisi lain, tampak Ayah dan Ibu Sera yang tengah berdiskusi. "Kita tidak bisa membiarkannya masuk. Dia akan jadi ancaman untuk semua rencana kita."


Suara ibu Sera mulai terdengar. Ayah Sera mengangguk setuju. "Sepertinya kita harus mempercepat rencana kita."


Kali ini ibu Sera menganggukkan kepala. Mereka sudah merencanakan hal ini sejak lama, keduanya tidak boleh gagal lagi. Seperti rencana-rencana mereka sebelumnya.


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2