Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Calon Istri


__ADS_3

Alea pada akhirnya terpaksa pulang ke rumah keluarga Athaya. Demi menjaga perasaan orang tua Felix. Padahal Felix sudah menjelaskan kalau Alea harus segera kembali, tapi Mario dan Meida meminta Alea tinggal lebih lama. Mereka masih rindu pada "putri" mereka itu. Felix hanya bisa menarik nafasnya dalam, dia harus menyelesaikan salah paham atau lebih jelasnya masalah yang sudah mereka ciptakan.


Dalam hal ini Orion setuju. Bagaimanapun juga Alea punya hak untuk melanjutkan hidup sebagai dirinya sendiri. Apalagi ide gadis pengganti ini adalah ide Orion. Jadi pria itu bersedia membantu menjelaskan. Ditambah dia juga ingin membuka identitasnya sekaligus meminta maaf.


Setelah hampir empat hari ditahan oleh orang tua Felix, akhirnya Alea diizinkan "pulang." Bukannya pulang ke Milan seperti yang orang-orang itu kira. Tapi pulang ke rumah ayah dan ibu Alea. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya bu Lani dan pak Anto, melihat Alea di depan pintu rumah mereka. Putri kesayangan mereka pulang. Alea berulangkali mendapat ciuman dari sang ibu.


Hari itu mereka seharian berada di rumah. Menghabiskan waktu bersama. Memasak, menonton tv, bahkan mereka tidur dengan menggelar kasur di lantai. Tidur bertiga. Absurb banget tu keluarga.


"Pak, Bu maafin sikap Alea yang dulu ya. Alea jahat sama bapak, sama ibu," kata Alea sendu. Ayah dan ibu Alea tersenyum, hampir setahun tidak bertemu, putri mereka banyak berubah. Alea tampak lebih dewasa, lebih pintar dalam bicara dan yang jelas tambah cantik.


"Kami maafkan, maafkan kami juga yang kadang tidak bisa memenuhi keinginanmu. Sampai kamu harus kerja kalau pengen sesuatu."


Ketiganya berpelukan setelah meluapkan perasaan masing-masing. Selanjutnya mereka banyak berbincang tentang banyak hal. Soal pengalaman magang Alea di "Milan". Wk wk wk...Alea tertawa dalam hati. Ampuni aku ya Tuhan sudah berbohong pada orang tuaku. Doa Alea dalam hati.


Sementara itu, Felix dan Orion tampak saling pandang. Keduanya menarik nafas bersamaan. Keheningan tengah menyelimuti ruang keluarga mewah itu. Demi apapun, Orion rela disalahkan dan dihukum, atas apa yang sudah orang tuanya perbuat pada keluarga Athaya.


Di atas meja besar itu bertebaran kertas-kertas yang berisi bukti kejahatan Abraham. Operasi plastik, korupsi, bisnis ilegal, bukti soal rekayasa kecelakan Sera. Juga bukti penyerangan pada Alea beberapa waktu lalu. Untuk Belia, wanita itu tidak banyak berbuat ulah. Dia hanya sekedar mengikuti kemauan sang suami karena takut akan ditinggalkan. Bisa dilihat raut wajah shock dari semua orang. Tak terkecuali Vano. Darrel dan Vano seketika memijat pelan pelipis masing-masing.


"Jadi Sera-ku sudah meninggal?" Itulah reaksi pertama yang keluar dari bibir Meida. Wanita itu seketika histeris, dengan Beni yang turut menangis terisak. Dia tidak menyangka cucunya menjadi korban keserakahan Abraham.


Meida berkali-kali memanggil nama Sera dalam pelukan Felix. Dengan Felix berkali-kali minta maaf. Orion, Axa, An dan Xuan hanya bisa menunduk. Turut merasa bersalah.


"Semua salah saya. Jika kalian ingin menghukum saya. Saya rela." Semua mengarahkan pandangannya ke arah Orion yang sudah berlutut di hadapan semua orang. Rasa bersalahnya teramat besar. Bahkan kini pria itu tidak berani memandang wajah orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Orion cukup." Beni yang bicara. Bisa dia rasakan perasaan Orion atau kini semua orang tahu kalau dia adalah Valdy, juga sama hancurnya seperti mereka. Mereka sama, sama-sama hancur karena ulah satu orang.


"Orion cukup!" Ulang Mario mengulan ucapan sang ayah. Mungkin di antara semua orang. Felix dan Mario yang paling realistis. Semua yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi. Yang bisa dilakukan hanya berusaha menerima dengan ikhlas. Untuk masa depan semua dapat direncanakan dan ditata ulang.


Darrel dan Vano adalah dua orang yang cukup terpukul dengan kepergian Sera. "Jadi firasatku soal Sera bukan Sera adalah benar." Batin Vano dan Darrel saling pandang. Tangis Meida mulai mereda. Dalam benaknya justru terbayang wajah Alea. Gadis pengganti yang datang untuk membantu menstabilkan keadaan waktu itu.


"Kita akan mendiskusikan ini dulu. Untuk semuanya, kakek harap jangan menyebarkan apapun ke media lebih dulu. Ingat ada siapa...Alea yah Alea di luar sana. Dia tidak bersalah. Yang bersalah adalah...maaf Orion, ayahmu. Untuk ayahmu, kakek akan mengajukan tuntutan berat. Termasuk kecelakaan kalian. Ya Tuhan, dia membuat kalian menderita di luar sana hampir sepuluh tahun."


"Maafkan aku." Orion kembali bersuara.


"Orionlah yang banyak menderita. Aku justru menjadi beban untuknya." Kali ini Orion mengangkat wajahnya. Melihat lurus ke arah Felix yang dari matanya terpancar ucapan penuh terima kasih.


"Aku tidak akan hidup sampai hari ini jika bukan karenamu." Orion menitikkan air mata mendengar ucapan tulus dari Felix. Melihat hal itu, semua orang kembali menarik nafasnya dalam.


**


**


Selanjutnya bagaimana dia akan menceritakan soal hal ini pada orang tuanya. Setahun pergi, setelah kembali Alea malah hamil. Murahan betullah kamu ini! Maki Alea dalam hati di depan cermin kamar mandi.


Langkah gontai Alea menuntun gadis itu keluar kamar. Di mana sejak tadi dia mendengar suara orang berbincang di lantai bawah. Siapa sih yang sudah bertamu sepagi ini. Mana ayah Alea terdengar akrab dengan tamu itu. Alea kan jadi kepo.


"Siapa bu?" tanya Alea yang lebih dulu melipir ke dapur. Minum air hangat untuk mengurangi efek muntahnya tadi.

__ADS_1


"Oh itu kemarin ada orang yang nginep di sini. Lagi bingung cari tunangannya. Nah dia main lagi ke sini tuh."


Uhuukk, Alea tersedak minumannya sendiri. Teringat cerita Nika soal Orion yang datang ke rumah untuk mencarinya. Wanita itu langsung bergegas pergi ke ruang tamu. Bola mata Alea membulat bertemu dengan senyum sumringah dari Orion. Siapa lagi yang bakal dengan gila berani menyusul Alea ke rumah orang tuanya.


"Ngapain kamu ke sini?" cecar Alea.


"Kangen sama bu Lani sama pak Anto." Jawab Orion sambil mengedipkan mata. "Rindu anaknya," kata Orion tanpa suara. Modus! Batin Alea.


"Loh...nak Orion sudah kenal sama kamu Al?"


Mampusss! Bagaimana mereka akan menjelaskan hubungan keduanya. Alea sama sekali belum siap untuk memperkenalkan Orion sebagai....kekasihnya. Cie......sudah mengaku kekasih ni. Sementara Orion tampak senang melihat raut wajah bingung Alea. Bisa dipastikan kalau Alea belum mau memberitahu orang tuanya soal hubungan mereka. Orion cukup paham akan hal itu.


"Kami sebenarnya....."


Orion sengaja menggantung ucapannya untuk melihat reaksi Alea. Sesuai dugaan Orion, wajah Alea pucat pasi saking takutnya. Pria itu mengulum senyum. Sangat menikmati wajah cemas Alea.


"Kapan lagi ada kesempatan buat ngerjain calon istri." Batin Orion happy.


***



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2