Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Penjebakan


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Alea menenteng sepatu flatnya, wanita itu berjalan di sepanjang pantai. Bermain air, sesekali melompat kecil menghindari terjangan ombak yang datang mendekat. Bebas, itulah perasaan yang dirasakan oleh Alea. Udara pantai juga sama bersihnya dengan udara di villa kerucut. Beberapa kali Alea menarik nafasnya dalam. Sambil sesekali menyentuh perutnya.


Entahlah, dia pikir akan segera memeriksa dirinya apakah hamil atau tidak. Lalu jika dia sungguh mengandung apa yang akan dia lakukan. Memberitahu Orion? Nanti dulu. Dia tidak akan terburu-buru mengatakan soal kehamilannya pada pria itu.


Tanpa terasa hari beranjak gelap. Alea memutuskan untuk kembali ke penginapan. Saat itu, tanpa dia tahu Orion sudah menunggu di depan rumah singgah Alea. Bersandar pada mobil sambil memainkan ponselnya. Orion memarkirkan mobilnya agak jauh dari penginapan Alea.


Pria itu memicingkan mata melihat sosok yang kemudian dia kenal sebagai Alea mendekat ke arahnya. Wanita itu menenteng sepatu dan satu paper bag. Alea berpikir akan beristirahat sejenak sebelum pulang ke kontrakannya. Lusa dia akan mulai masuk kuliah sambil mencari part time. Meski rekeningnya tengah "gemuk" saat ini. Tapi Alea sadar, jika dia tidak bekerja, berapapun jumlah uang yang ada dalam rekeningnya akan habis.


Alea masuk ke rumah penginapannya. Baru saja akan menutup pintu. Satu sosok menerobos melewati dirinya. Orang itu langsung membekap mulut Alea. Lalu menyeret wanita itu ke ranjang. Takut, perasaan itu yang segera Alea rasakan. Dalam kepanikannya, Alea tidak sempat memperhatikan wajah orang yang memeluknya dari belakang.


Alea berontak, berusaha melepaskan diri. Namun dia tidak cukup bertenaga melawan orang yang kini mendorongnya ke ranjang. Tengkurap.


"Kau mau apa?" Alea berteriak sekencang yang dia bisa. Berharap ada orang yang mendengarnya. Tidak ada jawaban, pria itu mengumpulkan tangan Alea di belakang tubuhnya. Lalu mengikatnya. Hal yang sama juga orang itu lakukan pada kaki Alea. Dia benar-benar seperti korban penculikan sekarang.


"Siapa kau? Mau apa? Apa yang kau lakukan padaku ha?!" Alea menggerakkan tubuhnya. Ingin melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Juga penasaran dengan orang telah melakukan hal konyol itu padanya.


"Selesai! Nah kau mau lari ke mana lagi sekarang?"


Alea melotot mendengar suara yang orang yang sudah mengikatnya seperti seorang tahanan. Wanita itu berusaha membalikkan tubuhnya untuk memastikan kalau dirinya tidak salah sangka. "Jangan banyak bergerak, nanti tubuhmu sakit." Alea menggeram marah, melihat Orion berbaring di sampingnya. Menyamping dengan tangan menyangga kepalanya.


"Breng....."


"Tidak boleh mengumpat!" Orion memperingatkan. Alea kesal bukan kepalang. Bagaimana bisa Orion lagi-lagi bisa menemukan dirinya. Ini sangat tidak mungkin.


"Heran bagaimana aku bisa menemukanmu? Alea...Alea...setelah ini aku pastikan, meski kau sembunyi ke lubang semut sekali pun aku akan segera menemukan dirimu." Pria itu melepaskan cincin pertunangan Alea. Mengambil fotonya. Lalu memakaikannya kembali. Pria itu lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sederet kode dari berlian itu Orion dapat. Sistem GPS diaktifkan. Dalam berlian cincin Alea ada GPS yang dipasang untuk melacak keberadaan cincin tersebut.


"Akan kubuang cincinnya." Ancam Alea, dia tahu Orion menghidupkan pelacak di cincinnya.

__ADS_1


"Buang saja. Dan kau akan kukurung di Milan. Bagaimana?" Orion menaikkan satu alisnya. Menatap penuh tantangan pada Alea.


"Kau....aaarrgghhhh." Alea meringis, perutnya terasa sakit. Orion segera membalikkan tubuh Alea. "Kenapa?" pria itu mulai terlihat panik.


"Tidak apa-apa." Alea menarik nafasnya lantas menghembuskannya perlahan. Begitu beberapa kali. Sampai rasa sakit itu berkurang.


"Ke dokter ya?" tawar Orion. Alea menggeleng pelan. Dia sebenarnya lapar. Tapi melihat kelakuan Orion selera makannya hilang seketika. Atau lebih tepatnya dia merasa kenyang tiba-tiba.


"Al..."


"Diam! Aku capek. Mau tidur."


Gagal maning rencana Alea. Wanita itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, mencoba tidur. Meski tubuhnya terasa lengket. Alea mengabaikan tawaran Orion untuk membersihkan diri.



Kredit Pinterest.com


"Santai aja, Bro." Ledek Darrel melihat wajah tegang sang sepupu. Felix mendengus kesal mendengar ucapan Darrel.


"Kau memang menyebalkan!"


"Itu kau!" Darrel membalas ucapan Felix cepat. Keduanya berada di sana untuk menjebak Mario yang mereka duga KW. Satu lagi hal yang membuat dua orang itu makin curiga adalah hal ini. Mario yang asli, alias ayah Felix tidak suka pergi ke klub malam. Tapi ini, Abraham malah sudah memesan wanita penghibur untuk menemaninya di ruang VIP sebelah mereka. Dan di sinilah mereka akan beraksi. Perempuan yang dipesan oleh Abraham adalah wanita yang sudah dibayar oleh Darrel.


Dua pria itu melengos bersamaan, sampai telepon dari anak buah Darrel membuat mereka kembali saling bicara. "Apa dia suka celap celup sana sini?" Darrel hampir menggebrak meja mendengar pertanyaan Felix.


"Kau menyindirku ya?"


"Astaga, kenapa kau sensi sekali sih. Kalau kau suka begitu itu urusanmu. Yang aku tanyakan dia.. dia." Felix lama-lama emosi juga menghadapi Darrel. Sedang Darrel langsung berdecak kesal.


"Dia masuk. Kita tinggal menunggu."

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu, pintu tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berpakaian super mini masuk. Felix hampir tersedak dibuatnya. "Dapat!" Seru wanita itu girang sambil menyerahkan satu plastik klip pada Darrel. "Yakin kau tidak menyentuhnya?" Si wanita menunjukkan tangannya yang masih terbalut sarung tangan palstik transparan.


Darrel tersenyum puas, lantas tanpa ragu mencium bibir wanita seksi itu. Bisa dibayangkan bagaimana malunya wajah Felix melihat kejadian itu. Terlebih Darrel dan perempuan itu berciuman cukup lama.


"Ehemmm...." Felix berdehem untuk mengganggu kegiatan Darrel. Lagi-lagi Darrel hanya bisa mendelik melihat kelakuan sepupunya itu. Felix buru-buru menolak tawaran si wanita untuk memanggil temannya.


"Kenapa kau malah ke sini? Selesaikan tugasmu sana. Aku jamin kau akan puas." Satu kedipan mata, Darrel berikan pada perempuan penghibur itu.


"Dasar kadal buntung!" Maki Felix dalam hati.


"Aku selesai dengannya. Ternyata partner ranjangnya datang. Tidak masalah yang penting dia sudah membayarku." Terang si wanita.


"Siapa partnernya?" Kepo Felix.


"Aku pikir dia orang kaya. Oh dia punya tato mawar di lehernya. Darrel seketika menghentikan gerakannya.


"Kau yakin itu tato mawar?" Tanya Darrel setengah shock. Si perempuan langsung mengangguk setelah meminum birnya.


Darrel segera berdiri dan keluar dari sana. Dia ingin memastikan sesuatu. Sang asisten langsung menyusul Darrel. Tak berapa Darrel masuk kembali dengan langkah lunglai tidak bertenaga. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dia sungguh tidak ingin percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


"Tuan siapa tahu kita salah lihat." Asisten Darrel mencoba menenangkan.


"Kau tahu itu benar. Itu dia, dia yang sedang bercinta dengan bedebahhh itu." Kata Darrel frustrasi.


Felix hanya bisa melihat Darrel dengan pandangan tidak mengerti. Siapa yang dimaksud oleh Darrel. Mungkinkah dia orang yang Darrel kenal. Sepertinya penjebakan malam dapat menangkap dua ikan sekaligus. Rambut untuk tes DNA, sekaligus mereka bisa mengetahui siapa teman ranjang Abraham.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah baca ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2