Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Korslet


__ADS_3

Abraham termenung di sel tahanannya. Setelah peluru dikakinya di ambil, pria itu dikembalikan ke penjara. Menunggu sidang yang akan dibuka kembali, dengan pasal tambahan yang menambah jerat pada Abraham. Perbuatan yang menghilangkan nyawa orang lain, alias pembunuhan.


Fakta kalau Orion adalah putranya sangat mengguncang jiwa Abraham. Semua yang dia lakukan selama ini sia-sia. Putranya masih hidup saat menolong Felix yang dia dorong ke air terjun. Orion yang merawat Felix sampai sembuh. Dendamnya nyata salah alamat. Pria itu perlahan menangis tergugu, dalam kesunyian sel tahanan yang dikhususkan untuknya, Abraham mulai merasa menyesal. Rasa itu semakin menyiksa, saat teringat sorot mata Orion yang terlihat sangat menderita.


"Semua salahku. Sampai putraku sendiri membenciku." Lirih Abraham di dalam ruangan sempit itu. Sekarang menyesal pun sudah terlambat. Iming-iming harta dunia, Abraham justru kehilangan semuanya. Dia tidak mendapatkan apa-apa.


**


**


Terdengar pintu jeruji besi dibuka, tapi penghuninya sama sekali tidak tertarik untuk melihat siapa yang masuk ke selnya. Sampai pintu itu ditutup kembali. Wanita itu tidak menoleh sama sekali. Hanya menatap tembok di di depannya, yang catnya mulai mengelupas dengan pandangan kosong.


Wanita itu Belia, sebuah perban tampak mengelilingi kepala wanita itu. Belia beberapa kali mencoba melukai dirinya. Bermaksud untuk mengakhiri hidupnya. Sekarang Belia terpaksa diikat kaki dan tangannya, agar tidak lagi melakukan hal itu.


"Bu....." Suara Orion bergetar saat memanggil ibunya sendiri. Sepuluh tahun lebih, nyata rindu itu terasa besar. Belia menoleh, mendengar panggilan yang sudah lama dia rindu. Berpikir itu hanya dejavu atau tipuan pendengarannya saja, Belia kembali melihat dinding di depannya.


"Bu, ini Valdy." Kali ini Belia membalikkan tubuhnya, menatap penuh harap supaya harapannya menjadi nyata. Belia bisa melihat Valdy kembali.


"Jangan berbohong. Kamu bukan Valdy. Valdyku sudah pergi dan semua salah ayahnya." Belia menangis terisak.


Pun dengan Orion yang mulai berkaca-kaca. Pria itu perlahan mendekat ke arah Belia. Melepas kancing kemejanya. Lalu menurunkan kain yang menutupi bahunya. "Aku putramu Bu, apa ibu tidak ingat ini?" Tangan Belia bergetar, saat menyentuh tanda lahir di bahu Orion. Dia tahu jelas tanda itu. Sebagai ibu yang melahirkan Valdy, dia hafal simbol itu.


"Kamu sungguh Valdy? Valdy ibu?" Orion mengangguk, detik berikutnya tangis haru memenuhi ruangan sempit itu. Suaranya sampai terdengar ke luar sel, hingga Alea yang mengantarkan Orion pun turut menitikkan air mata. Dia tahu benar rasa itu seperti apa.

__ADS_1


Di tempat lain, Vincent tengah menodongkan pistolnya pada Miguel. Marah luar biasa Vincent rasakan. Miguel gagal menangkap Ilario. Kini pria itu tidak diketahui di mana rimbanya. Lolosnya Ilario adalah ancaman besar bagi klan mafia yang dipimpinnya. Bukan hanya itu saja, keberadaan Ilario bisa saja membahayakan Orion dan yang lainnya.


Padahal Vincent sudah membebaskan Orion. Keduanya tidak ada hubungan kerja sama lagi. Namun jika begini keadaannya, mau tidak mau, dia harus memperingatkan Orion. Ilario bisa saja menargetkan keluarga Orion untuk dilukai mengingat karena Orionlah, Ilario kehilangan sepuluh juta Euro. Tanpa bisa ditarik kembali, tanpa tahu ke mana uang itu pergi.


"Hubungi Orion, peringatkan dia kalau Ilario masih bebas berada di luar sana." Perintah Vincent, Miguel seketika menghembuskan nafasnya lega, saat Vincent menyimpan kembali pistolnya.


"Siap tuan!"


Vincent terdiam, dia berpikir untuk mundur dari dunia gelap, sama seperti pendahulunya. K aka Johannes Arka Kian Rivaldy atau Ian dan tangan kanannya, Maximilian. Mengubah Black Chimaera menjadi sebuah organisasi legal, saat ini itulah yang sedang Vincent lakukan.


(Ian ada di karya Mafia Kena Karma ya gesss)


Apalagi sang istri, Maria Angela sedang mengandung anak pertama mereka. Vincent berharap kalau cita-citanya akan segera terwujud. Dia bisa menjalani kehidupan biasa tanpa takut ancaman dari musuh. Juga agar keluarga kecilnya bisa hidup seperti keluarga lainnya, tanpa rasa cemas dan ketakutan.


"Lain kali saja." Orion berbalik, menarik tangan Alea pergi dari sana. Alea menarik nafasnya. Maklum kalau Orion belum siap untuk bertemu sang ayah. Alea sendiri tidak akan memaksa Orion soal hal itu. Biarlah semua berjalan apa adanya.


"Apa kamu tahu, kalau kakek dan papa mamamu sedang bertamu ke rumah orang tuamu." Kata Orion santai.


"Apa katamu?!" Bola mata Alea hampir melompat keluar dari tempatnya. Detik berikutnya, mobil Orion melaju menuju rumah Alea. Orion tersenyum, membayangkan betapa keponya tetangga Alea melihat rombongan keluarga Athaya. Terlebih ada Felix, Darrel dan Vano. Bisa dibayangkan betapa ramainya kampung Alea.


Orion sebenarnya keberatan dengan ide itu. Sebab kedatangan mereka bisa memancing media untuk mencari tahu identitas Alea. Tapi Beni mengatakan biarkan saja. Mereka tidak akan merespon berita miring apapun soal Alea di luar sana.


Seperti dugaan Orion, rumah Alea mendadak heboh. Melihat dua mobil yang terhitung mewah nangkring di depan rumah sederhana Alea. Jika tetangga Alea langsung pada keluar mode julidnya. Lain halnya dengan bu Lani dan pak Anto, mereka heran siapa yang berkunjung ke rumah mereka.

__ADS_1


Akhirnya Mario menjelaskan semua yang terjadi. Dari awal sampai akhir. Hanya saja Mario tidak menceritakan soal Alea yang jadi pengganti Sera. Intinya keluarga Athaya ingin mengangkat Alea menjadi anak. Lani dan Anto saling pandang. Tidak paham dengan maksud keluarga kaya itu. Sampai akhirnya Meida yang mengambil alih pembicaraan itu.


Sementara itu, tiga pria yang tidak muat masuk ke rumah Alea, saking gedenya ruang tamu. Memilih masuk ke warung bu Lani. Mengabaikan tatapan penuh kekepoan dan kejulidan para netijen kampung Alea.


Tiga pria itu secara random memakan jajan yang ada di sana. Sampahnya dikumpulkan sebagai bukti pembayaran nanti. Heboh gak tu para netijen melihat cowok setampan mereka ada depan mata.


"Aje gila artis mana lagi tu yang datang nyamperin Alea. Laku bener tu si buluk rupa." Komen seorang netijen.


"Eh mata lu buta. Sekarang mah Alea gak buluk rupa tapi mis unipers. Yang kemarin aja bikin ngiler apalagi yang ini...beuuhhh." Sambung yang lain.


Tiga pria itu saling pandang, lantas memutar matanya malas. "Betah ya Alea tinggal di tempat beginian?" Darrel bertanya.


"Apa kata kita pindahin aja rumah mereka?" Vano bicara semakin ngawur saja.


"He....kalian tu mikir gak sih? Mereka hidup dari warung ini. Di sini rame yang beli. Kalau dipindahin ke komplek yang mau beli siapa?" Felix si paling realistis.


"Ya jangan warung, tapi ganti jadi supermarket atau hypermarket." Balas Darrel asal.


Vano dan Felix saling pandang. Otak Darrel lagi korslet sepertinya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2