Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Hal Langka


__ADS_3

Alea memanyunkan wajahnya, gadis itu benar-benar kesal dengan ulah Orion. Hampir sepanjang pagi Orion berada di kamar Alea. Mengamati tiap gerak-gerik gadis itu. Berkali-kali, Alea mengusir Orion dari kamarnya, tapi pria itu tidak mau menurutinya. Mengenakan kemeja abu-abu simple dan celana berwarna hitam, memberi kesan santai pada penampilan Orion



Kredit Pinterest.com


Lah malah salfok sama jarimu mas...


Berbeda dengan hari biasa, di mana tampilan formal Orion membuat pria itu terlihat gagah dan berwibawa. Plus wajah dingin yang selalu Orion tampilkan, menimbulkan aura yang membuat orang lain segan untuk menyenggolnya.


"Kenapa kau masih ada di sini? Pergi sana!" Usir Alea untuk yang ke sekian kalinya. Gadis itu sebal sekali. Orion memang tidak melakukan apapun setelah kejadian pria itu menindih dan menciumnya tadi pagi. Tapi keberadaan Orion di kamar itu, cukup mengganggu Alea. Pria itu bersikap biasa saja setelah berhasil membuat Alea panas dingin karena ulahnya.


Berbeda dengan Alea yang merasa canggung setelah kejadian tadi pagi. "Isshhh, galak bener. Masih kurang hukumannya?" Orion bertanya santai.


Alea berdecak kesal, sambil memeriksa ponselnya. Satu pesan dari Vano masuk ke benda pipih tersebut. Pria itu mengajaknya sarapan di ruang makan.


"Mau ke mana?" Orion bertanya saat melihat Alea keluar dari kamarnya.


"Menghindarimu!" Sahut Alea cepat. Gadis itu pikir akan menghindari Orion sepanjang hari. Dia merasa malu dengan kejadian tadi pagi. Orion terkekeh mendengar jawaban Alea. Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tanggung jika ditinggal.


Baru beberapa menit bekerja, satu informasi masuk ke ponsel Orion. "Baru juga diberi kesempatan, sudah meleng saja dia." Orion berucap kesal. Menutup kasar laptop Alea. Lantas keluar dari sana, secepat kaki panjangnya melangkah. Menuruni tangga dua-dua, pria itu dalam hitungan detik tiba di meja makan. Namun dia tidak melihat Alea di sana.


"Alea baru saja keluar dengan Vano. Biasanya mereka akan Green House." Beni memberi tahu. Tanpa kata, Orion langsung menuju ke tempat yang disebutkan Beni, tanpa menyapa Darrel atau Mikaila, bahkan Mario maupun Meida.


"Kau lihat? Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun, orang seperti itukah yang Ayah pilih untuk jadi cucu menantumu?" Mikaila mulai mengompori Beni. Di seberang meja terlihat Meida dan Mario yang sesaat menatap ke arah Mikaila. Di depan banyak orang, Mario akan bersikap acuh pada Mikaila. Mereka hanya akan bermesraan saat berdua saja.


"Kenapa kau terlihat tidak menyukai Orion? Tidakkah kau lihat kalau dia cemburu pada Vano. Jelas sekali jika Orion sangat mencintai Sera."

__ADS_1


"Tapi Kek, aku meragukan kalau itu Sera. Sera dua bulan lalu, sangat berbeda dengan Sera yang hari ini."


"Apa maksudmu? Apa kau ingin mengatakan kalau Sera bukan anak kami!" Mario berucap


tidak terima.


"Alah Paman, apa Paman tidak curiga, dia seperti orang lain di tubuh Sera," celetuk Darrel. Semua orang kini menatap ke arah Darrel. Pria itu terlihat santai. Meski Darrel tampak tidak masalah kalau Star Jewelry menjadi milik Alea. Dalam hati, Darrel tidak akan begitu saja membiarkan Alea memimpin Star Jewelry dengan tenang. Darrel bertekad akan mengganggu Alea.


"Lalu apa maumu? Bukankah kau sudah mendapat Star Construction."


"Darrel hanya ingin kakek tidak salah pilih. Sepuluh tahun Sera tidak bersama kita. Apa kita tidak curiga, dia Sera yang asli atau bukan. Kek, kita harus berjaga-jaga. Darrel hanya ingin memastikan kalau dia benar-benar Sera. Bukan orang lain yang menyamar sebagai Sera." Darrel semakin gencar mempengaruhi Beni.


Sesaat Darrel dan Mikaila saling bertatapan. Seolah memberi kode.


"Bagaimana caranya kita tahu dia Sera atau bukan?" Untuk pertama kalinya Meida bersuara soal Sera. Selama ini, ibu Sera itu selalu diam. Seolah tidak peduli dengan Sera. Namun kali ini, wajah Meida menyiratkan kecemasan.


Beni tampak berpikir. Memang dia sedikit meragukan Sera yang sekarang. Ada aura lain yang Beni rasakan saat pria itu bersama Alea. Meski sifat Alea hampir menyerupai Sera. Namun tetap saja, ada perbedaan di antara keduanya.


"Apa Kakek takut menghadapi kenyataan, kalau dia bukan Sera?" Kali ini Mikaila turut memojokkan Beni.


"Apa maksudmu? Kau ingin mengatakan kalau dia bukan Sera?" Mario tampak shock mendengar perkataan Mikaila.


"Aku tidak berkata seperti itu. Tapi kalau kau merasa seperti itu. Baguslah. Intinya aku tidak ingin orang lain memimpin Star Grup." Mikaila memberi penekanan pada ucapannya. Mengatasnamakan Star Grup padahal itu hanya keinginannya sendiri.


"Kau...." Mario berdiri sambil menatap tajam pada Mikaila.


"Sudahlah! Jangan bertengkar. Kakek akan bicara pada Sera. Kita akan melakukan tes DNA. Tapi jika Sera terbukti cucuku, kalian tidak boleh mengganggu gugat keputusanku untuk memberikan Star Jewerly pada Sera dan Felix. Dan Star Construction padamu." Beni menatap tajam pada Darrel dan Mikaila.

__ADS_1


Sementara Mario dan Meida saling melempar senyum. Mereka tinggal menonton lalu bisa memanfaatkan keributan ini. Memancing di air keruh untuk mendapatkan keuntungan ganda.


"Kami setuju. Tapi kalau ternyata dia bukan Sera. Semua akan menjadi milikku." Darrel mulai menunjukkan keserakahannya.


"Kau ini tamak sekali." Maki Meida.


"Kalau bukan padaku. Lalu Kakek akan memberikan pada siapa?" Darrel bertanya dengan wajah penuh kemenangan. Dia sangat yakin kalau Sera yang sekarang bukanlah Sera tapi orang lain yang menyamar sebagai Sera. Dan Darrel akan melakukan apapun untuk menunjukkan kalau Alea bukan Sera.


"Bisa saja aku memberikannya pada Orion."


"Kakek jangan bercanda! Dia jelas orang lain!" Tentang Darrel langsung. Diberikan pada Sera saja Darrel tidak terima apalagi pada Orion, yang jelas-jelas adalah orang lain.


"Asalkan dia mampu. Kakek tidak masalah. Toh dia hanya akan mewakiliku, bukan memiliki Star Jewerly." Beni menyahut santai.


"Kakek jangan bercanda dengan kami. Masih ada kami, anak, cucu dan menantu kakek. Kenapa malah menunjuk orang lain untuk memimpin perusahaan. Kami sangat mampu untuk mengurus seluruh jaringan Star Grup." Mario berkata mewakili Meida atau mewakili dirinya sendiri. Pria itu sama serakahnya dengan yang lain.


"Syarat Kakek sangat mudah kan. Dia mampu, totalitas, loyalitas, semua hanya untuk Star Grup." Kata Beni enteng. Pria itu menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya. Bukan dia tidak percaya, namun ada yang mengganjal di hati Beni mengenai anak, menantu dan cucunya sendiri. Entah apa itu. Hanya saja, pria tua itu ingin mencari ketulusan dalam diri anggota keluarganya.


Dan akhir-akhir ini, Beni merasakan hal langka itu dari Alea yang datang menggantikan Sera. Sebagai orang yang sudah berpengalaman menghadapi banyak orang, insting Beni sangat tajam. Mungkin dia bisa ditipu soal wajah, tapi soal hal yang satu itu, Beni yakin kalau hatinya tidak akan pernah tertipu.


"Aku harap kau bisa melindungi Sera atau siapapun itu, Orion." Batin Beni penuh harap. Dia ingin hidup tenang di sisa hidupnya. Dan ketulusan adalah hal terakhir yang ingin Beni rasakan.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2