Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Tes DNA


__ADS_3

Atika berulangkali mencoba menghubungi Orion dan yang lainnya, namun gagal. Axa jelas tidak bisa diganggu, pria itu sedang dalam misi penting. Namun Xuan dan An hanya memeriksa pabrik di wilayah timur, dengan Orion sedang menemui klien penting. Gadis itu terlihat panik luar biasa. Test DNA Alea sungguh di luar prediksi mereka. Sama dengan Atika, Alea juga dilanda kecemasan yang tak terkira. Dia pikir apa hari ini kedoknya akan terbongkar. Alea melirik Darrel yang sudah selesai diambil darahnya. Pria itu tersenyum penuh makna pada Alea.


"Maaf Mbak, lengan bajunya bisa digulung ke atas." Suara seorang perawat memecah kepanikan Alea. "Ahhh, iya." Alea menjawab setengah tergagap.


Semua orang tentu bisa melihat hal itu. Mereka beramai-ramai mencemooh Alea dalam dalam hati. Kecuali Beni yang terlihat memandang Alea dengan tatapan yang sulit diartikan. Alea memejamkan mata saat jarum suntik itu menembus kulit di area lengan bawahnya. Keringat dingin mulai muncul di dahi Alea.


Di lantai bawah, dua mobil tiba bersamaan dengan moncong mobil saling berhadapan. Orion, An dan Xuan langsung keluar dari mobil masing-masing. Membiarkan mobil mereka diurus oleh petugas parkir.


"Langsung ke rencana." An dan Xuan mengangguk paham. Orion memisahkan diri dari dua asistennya. Dalam hitungan detik, pria itu sudah masuk ke ruangan Alea. Di mana, darah Alea baru saja selesai diambil. Dua tabung sample darah siap diantar ke laboratorium.


"Wah...aku sepertinya ketinggalan pertunjukkan seru." Kata Orion, pria itu bisa melihat wajah ingin menangis Alea. Orion tahu benar bagaimana takutnya gadis itu. Alea berdiri saat Orion berada di samping Alea. Saat itulah, Orion merengkuh tubuh gemetar Alea dalam pelukannya. "Semua akan baik-baik saja." Bisik Orion sambil mencium puncak kepala Alea. Semua sesaat melongo dengan pemandangan yang tersaji di depan mereka.


"Sepertinya ini tidak adil untuk keluarga Athaya, seharusnya semua anggota keluarga mesti melakukan tes DNA. Siapa tahu ada penyusup dalam keluarga kalian."


"Apa maksudmu?" Mario langsung bereaksi atas ucapan Orion.


"Wwooohh, tenang tuan Mario, jika Anda merasa anggota keluarga Athaya, Anda tidak perlu sewot." Balas Orion santai.


Pria itu membawa Alea ke luar dari sana setelah meminta izin kalau Alea perlu udara segar. Darrel segera memberi kode pada asisten pribadinya untuk mengikuti Alea dan Orion.


"Orion ini bagaimana?" Alea bertanya. Sementara Orion hanya terdiam sambil merengkuh pundak Alea menjauh dari ruangan kerja gadis itu.


"Semua akan baik-baik saja. Plan A siap." Suara Orion membuat Alea mendongak. Pria itu rupanya tengah bicara melalui ear piece-nya. Di depan mereka dua orang petugas medis yang membawa troli berisi sample darah Alea dan Darrel. Di belakang Alea dan Orion ada asisten Darrel yang mengikuti keduanya.


"Sekarang." Satu perintah dari Orion saat dia dan Alea berada di depan sebuah lift, di depan petugas yang membawa sample darah. "Adduuuhhh," satu teriakan terdengar disertai bunyi benda jatuh. Troli berisi sample darah itu tergelincir menyebabkan isinya berhamburan ke mana-mana. Termasuk sample darah Alea dan Darrel. Alea diseret masuk ke dalam lift oleh Orion. Sementara dua orang memakai masker langsung mengambil tabung berisi sample darah Alea dan Darrel, yang menggelinding menjauh dari troli.

__ADS_1


"Orion ini bagaimana?" Alea kembali bertanya panik saat gadis itu sudah berada dalam lift. Orion tidak menjawab, pria itu melirik kamera CCTV yang berada di sudut lift. Alea seketika membungkam mulutnya sendiri. Lupa kalau ada kamera pengawas di tempat itu.


"All clear." Suara Xuan terdengar di telinga Orion.


Pria itu dengan cepat melepas jasnya. Lalu mengeluarkan dua set jarum suntik beserta satu tabung sample dengan label nama Serafina Athaya. "Kita akan mengacaukan tes DNA-nya." Orion berucap cepat. Lantas mengulurkan tangannya, satu kode dari Orion membuat Alea paham. Gadis itu segera menggulung lengan kemeja Orion sampai sebatas siku. Bersamaan dengan Orion yang menggigit ujung penutup jarum suntik. Tanpa ragu, pria itu langsung menginjeksikan benda runcing itu ke titik nadi di lengannya. Seolah Orion tahu di mana tempat yang seharusnya dia tusuk.


"Lihat aku." Pinta Orion saat Alea menutup mata, waktu melihat darah Orion disedot ke dalam alat suntik itu.


"Done! Giliranmu!" Alea membulatkan mata saat Orion menarik tangannya, lalu tanpa ragu menggulung lengan blus Alea. "Apa ini?" Tanya Alea.


"Aku bilang kita akan mengacaukan tes DNA-nya." Pria itu mengabaikan tatapan tidak "connect" dari Alea. Pria itu kembali menggigit ujung penutup jarum suntik, jari Orion mulai mencari titik nadi di lengan bawah Alea. Detik berikutnya, cairan merah kembali dihisapp dari nadi Alea. Saat itulah Orion menatap intens wajah Alea. Pun dengan Alea, gadis itu juga memandang Orion.


"Tiga detik sebelum pintu terbuka." Orion segera mencabut jarum suntik dari lengan Alea. Lalu mencampurkan darah Alea dan darahnya ke dalam tabung sample. Menggoyangkannya sedikit.


"3....2.....1....."


Di tempat lain, tubuh Alea langsung lemas. Selain efek panik luar biasa, juga karena dua kali diambil darah. Meski tidak banyak, tapi hal itu cukup membuat Alea merasa lemah. "Kenapa kau lemah sekali?" Cibir Orion sambil menyerahkan satu cangkir berisi susu putih pada Alea.


"Aku takut jarum suntik, brengsek!" Alea protes.


Baik Orion maupun An saling pandang. Sepertinya mereka melewatkan informasi itu. "Sorry, gak tahu." Orion berucap santai, meski terdengar bersimpati, sebenarnya pria itu tengah meledek Alea.


Alea hanya bisa mendengus kesal, detik berikutnya, gadis itu menaikkan kakinya ke atas sofa lalu memejamkan mata. Giliran Orion yang langsung mengusir An dari sana. Lagi-lagi dress Sera kependekan untuk Alea pakai.


"Tidurlah, nanti kita akan ke mall setelah kau baikan."

__ADS_1


"Mau ngapain?" Alea bertanya dengan mata terpejam. Hingga gadis itu merasakan sesuatu menutupi kakinya. Alea kembali membuka matanya. Melihat Orion yang menggunakan jasnya untuk menghalangi pahanya terekspose ke mana-mana.


"Shopping. Gaun Sera terlalu pendek untuk kakimu."


"Dari kemarin kek." Sahut Alea kesal. Orion hanya berdecak kesal mendengar balasan Alea. Memilih diam, Orion mendudukkan diri di depan Alea yang benar-benar terlelap. Gurat panik itu masih terlihat jelas di wajah Alea. Tidak bisa Orion pungkiri, dirinya pun sangat cemas melihat ketakutan Alea.


Orion menarik nafasnya, masih dengan mata memandang Alea, pria itu menghubungi Xuan, meminta pria itu untuk mengawasi Darrel dan yang lainnya. Orion yakin kalau Darrel dan Mario tidak akan tinggal diam mengenai tes DNA Alea. Mereka akan melakukan apapun untuk mendepak Alea dari keluarga Athaya.


"Tunggulah sebentar lagi, sampai dia benar-benar pulih. Dan kau bisa kembali ke duniamu."


Kembali ke duniamu? Orion tersenyum kecil, berpikir kalau hidup Alea tidak akan lagi sama, meski setelah semua berakhir.


"Ada kemungkinan aku akan membawamu pergi ke Milan. Rumahku yang sesungguhnya." Bisik Orion lantas mencium lembut bibir Alea.


"Aku ingin bersamamu selepas semua ini usai." Wajah Orion melembut, mengusap bekas jarum suntik yang terdapat di kedua tangan Alea.


****



Kredit Pinterest.com


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2