Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Ceroboh


__ADS_3

Anton Darmawan dan Bayu Aksara berteriak, sambil meronta saat empat anggota polisi menyeret paksa dua orang itu, setelah menerima bukti penggelapan dana yang dilakukan oleh keduanya dari tangan Xuan. Dua orang itu mengumpat Alea dan Orion bergantian. Semua orang dalam ruangan meeting itu sejenak terdiam. Mereka jelas terkejut dengan tindakan berani Alea dan Orion.


"Itu peringatan untuk mereka yang mencoba bermain-main dengan kami." Orion berkata tegas. Memandang semua anggota dewan direksi yang ada di sana. Sampai tatapan Orion berhenti pada Darrel yang tampak cemas. Bagaimanapun dua anteknya sudah tertangkap. Dia tentu khawatir dengan nasibnya sendiri.


Setelah keheningan mulai muncul di tempat itu. Alea kembali bicara. Kali ini dua nama Alea sebutkan untuk menggantikan Anton dan Bayu. Mereka adalah Arman Maladi dan Abimana. Keduanya terhitung masih muda, tapi kinerjanya tidak perlu diragukan lagi. Alea dan Orion sudah menyelidiki dua orang itu untuk beberapa waktu. Ditambah data dari Xuan yang menguatkan alasan mereka untuk menempatkan Arman dan Abimana untuk menempati posisi itu.


Dua orang itu tentu merasa tersanjung bisa dipilih oleh Orion dan Alea untuk menggantikan tempat Anton dan Bayu. Sebab selama ini mereka cukup tersiksa bekerja di bawah tekanan Anton dan Bayu.


"Dan kau, sesuai tempatmu kau akan kukembalikan ke tempatmu. Star Construction."


Alea memandang tajam pada Darrel yang langsung menyatakan protesnya. Pria itu jelas tidak terima. Dia bersikeras ingin bertahan di Star Jewelry. Sampai selembar surat Orion lemparkan ke hadapan Darrel. Pria itu seketika shock, membaca surat yang ada di tangannya.


"Kau bohong! Kau pasti memanipulasi surat ini. Kau menipuku!" Raung Darrel tidak terima.


"Kau lihat stempel siapa di sana?" Orion bertanya galak.


Darrel mendudukkan dirinya dengan lemah. Habis sudah kesempatan untuk merebut posisi CEO Star Jewerly. Hari itu perubahan besar-besar dilakukan Orion dan Alea. Keduanya ingin melakukan pembersihan pada sistem Star Jewerly.


Alea dan Orion masuk ke ruangan kerja gadis itu. Satu masalah selesai. Begitulah yang ada di benak dua orang itu. Namun keduanya salah. Tak lama setelahnya, Atika masuk dengan terburu-buru. Memberitahukan kalau Xia Sun dari Pearl Jewerly ada di ruang meeting. Alea dan Orion langsung menghela nafas bersamaan. Baru juga akan mengistirahatkan tubuh, sudah datang lagi masalah baru.


Orion langsung menarik ujung bibirnya, lucu melihat tingkah kekanakan Alea yang kadang muncul ke permukaan. Gadis itu berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Alea benar-benar mengubah mindset-nya soal orang kaya. Ternyata semua tidak seperti yang dia duga.


"Kenapa kau kesal sekali kelihatannya?" tanya Orion.


"Jadi orang kaya ternyata tidak enak!" Jawab Alea apa adanya. Dia jelas bukan orang yang suka berbasa basi.

__ADS_1


Tawa Orion seketika meledak, untuk pertama kalinya Alea mendengar Orion tertawa. "Kau tidak otewe gila kan?" Alea bertanya heran.


"Kau ini lucu sekali. Kau pikir hidup kami enak. Sama saja dengan hidupmu. Kau kerja keras. Sama, kami juga." Jawab Orion di sela gelak tawanya. Alea tertegun mendengar ucapan Orion.


Alea ingin bertanya, tapi mereka sudah sampai di ruang meeting di mana Xia Sun berada.


*


*


Alea melemparkan tubuhnya di kasur empuk milik Sera. Ya, akhirnya malam itu Alea bisa pulang ke rumah setelah tiga hari benar-benar tidur di kantor. Alea ingin mengistirahatkan tubuhnya. Gadis itu merasa lelah sekali. Orion benar-benar mencecarnya dengan pekerjaan yang Sera tinggalkan.


Tadi begitu pulang ke rumah, Beni langsung menyambut Alea dengan pelukan. Memberi selamat atas keberhasilan Alea dalam mengatasi masalah pinjaman dengan bank. Namun senyum Alea langsung hilang, saat bertemu Mikhayla, ibu Darrel. Ditambah Darrel yang langsung menyerang Alea.


Orion mendudukkan dirinya di sofa. Meraih laptop milik Alea. Lantas mulai mengulik benda persegi tersebut. Setengah jam berlalu, Alea keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono. Gadis itu melotot, melihat Orion yang sudah duduk di sofa kamarnya.


"Ngapain kamu di sini?" Bentak Alea. Orion seketika mengangkat wajahnya. Pria itu sesaat terpana melihat tampilan Alea. Tubuh tinggi langsing itu terlihat sangat menggoda di mata Orion. Bisa Orion lihat kalau Alea tidak memakai dalaman.


"Hanya ingin mengatakan kalau kakekmu ingin pertunangan kita segera dilaksanakan." Orion berkata sambil mendekati Alea, yang reflek memundurkan diri. Sadar kalau penampilannya bisa memancing pandangan mata pria manapun.


"Itu tidak ada dalam perjanjian." Alea menolak.


"Kau tidak ingat pasal terakhir. Semua bisa berubah mengikuti situasi dan kondisi."


Orion menekan tiap perkataannya, Alea tentu bertambah gugup saat Orion semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu mengeratkan pegangannya pada handuk kimono di bagian dadanya. Sangat takut jika Orion melakukan hal yang akan merugikan dirinya. Alea tidak bisa melawan dengan keadaannya yang sekarang.

__ADS_1


"Aku tidak mau!" Lagi-lagi Alea menolak. Orion menatap tajam pada Alea. Gadis itu benar-benar keras kepala. Sulit sekali membuat Alea berkata iya dengan mudah untuk satu rencana.


"Kita akan melakukannya, tidak peduli kau mau atau tidak." Desis Orion penuh penekanan. Selanjutnya pria itu melangkah keluar dari kamar Alea. Meninggalkan Alea yang langsung berteriak marah, mengumpat Orion dengan sebutan tukang paksa.


Sementara Orion mengulum senyumnya, mendengar makian Alea padanya. Ingatan pria itu mengarah pada satu jam sebelumnya. "Aku mau kau menjaga cucuku, Sera. Setelah ini akan ada banyak orang yang menargetkan dirinya. Termasuk Darrel. Jadi aku ingin pertunangan kalian dipercepat. Supaya kau bisa melindunginya. Kau harapanku satu-satunya." Satu ucapan dari Beni pada Orion.


Bisa Orion lihat kalau Beni sangat menyayangi Sera. Pria tua itu sepertinya rela melakukan apapun untuk keselamatan Sera.


"Apa karena kau takut kalau nasib Sera akan seperti cucu sulungmu?"


Orion menenggak satu gelas wine yang ada di tangannya. Pria itu berada di balkon apartemennya. Apartemen itu berada tepat di depan rumah keluarga Athaya. Lebih tepatnya mengarah ke kamar Alea. Meski berjarak beberapa blok, tapi pria itu bisa melihat walau samar, kalau Alea masih mengerjakan pekerjaannya. Pria itu lantas meraih ponselnya. Mengirim pesan ke nomor Alea. Untuk pertama kalinya Orion mengirim pesan pada seorang gadis.


Pesan terkirim, beberapa detik berlalu, dan tidak ada balasan. Pria itu menggeram marah. Bisa-bisanya Alea mengabaikan pesannya. Tak berapa lama, pria itu kembali mendengus kesal. Telepon darinya tidak Alea indahkan.


"Oke, kau berani mengabaikanku kali ini. Lihatlah hukuman apa yang akan kau terima besok pagi."


Gumam Orion kesal setengah mati. Pria itu tidak suka diabaikan. Orion kembali mengawasi Alea yang kini malah tertidur di atas meja. "Dasar gadis ceroboh!" maki Orion kesal.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2