Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Tidak Mungkin!


__ADS_3

Tubuh Orion lemas, melihat Alea terbaring lemah di bed rumah sakit. Pria itu datang terlambat. Saat dia sampai, dia melihat Alea sudah jatuh berguling di tangga. Dia sama sekali tidak bisa mencegah Alea terluka.


Air mata Orion luruh, saat dia teringat ucapan dokter. "Maafkan kami. Kandungannya tidak bisa kami selamatkan." Satu berita yang membuat Orion sungguh bahagia juga menderita di waktu bersamaan. Dia tidak menyangka jika Alea tengah hamil anaknya.


Menurut dokter, umur kandungan Alea sekitar dua bulan, itu lebih kurang dengan waktu mereka bercinta hari itu. Orion tentu tahu Alea tidak pernah berhubungan serius dengan pria lain, selain circle pertemanan mereka.


"Kenapa kamu pergi? Padahal ayah akan sangat bahagia jika kamu sungguh nyata." Orion mengusap perut Alea yang masih rata. Pria itu menangis, merasa lagi-lagi gagal melindungi hal berharga dalam hidupnya.


"Rion....."


Orion mendongak, melihat wajah pucat Alea. Tangis Orion terisak, menatap wajah Alea. "Aku baru tahu dia pagi ini."


"Kenapa tidak bilang?"


"Sudah dibilangin baru tahu pagi ini. Tapi baguslah, dia tidak ada."


Orion mendelik mendengar ucapan Alea. "Awalnya aku benci padanya. Aku masih ingin kuliah. Juga statusku yang masih single. Kalau aku hamil...."


"Sudah pasti aku akan menikahimu!" potong Orion cepat. "Jangan membencinya. Dia anakku Al....anak kita," tambah Orion.


Alea menarik nafasnya," Tapi dia sudah pergi sekarang." Alea tiba-tiba menangis. Emosinya sepertinya kacau. Orion dengan cepat memeluk tubuh Alea. "Aku bukan ibu yang baik, aku...."


"Keadaan tidak mendukungmu menjadi ibu yang baik. Lain kali akan kuciptakan itu semua untukmu. Kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita." Tangis Alea semakin hebat, dalam pelukan Orion Alea terisak. Teringat betapa cerobohnya dia.


"Jangan khawatir, dia akan mendapat balasan setimpal sebab sudah mendorongmu!" Desis Orion penuh amarah. Orion sendiri tahu siapa dalang di balik jatuhnya Alea dari tangga.


Dan saat ini, Xuan sedang bekerja untuk menjatuhkan Tea. Tanpa menunjukkan siapa wajah parternya, video syuurrr Tea tersebar luas di dunia maya. Tentu itu hal yang sangat mudah bagi Xuan. Hanya saja efeknya membuat Xuan kesal. Dia yang jomblo, tentu kelabakan mendengar desaahhan Tea yang meracuni pikiran warasnya.

__ADS_1


"Orion mah gak mikir. Ngasih tugas beginian ke jomblo sejati. Suruh An atau Axa kek, mereka juga bisa kalau sekedar mencari video beginian lalu tekan "share" beres. Setidaknya mereka ada parter kalau tergoda. Lah aku...masak parteran sama sabun." Gerutu Xuan, menutup laptop. Mengakhiri tugas laknat dari sang atasan.


Tapi kenapa Orion menyuruhnya untuk menyebarkan aib wanita bernama Tea itu ya? Xuan tidak habis pikir. Orion bukanlah tipe orang yang akan menyerang dulu kalau tidak disenggol duluan. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Orion dan Tea. Atau Tea mantan Orion. Ah tidak mungkin, Orion cuma dekat sama Alea, sejauh yang Xuan tahu.


Pria itu kembali membuka laptopnya. Lantas mengulik nama Tea. "Ooo dia temen kampusnya Alea." Gumam Xuan. Pria itu terus memainkan jarinya sampai dia menemukan video di mana Alea jelas-jelas didorong oleh Tea.


"Sialan! Dia melukai Alea!" Geram, Xuan kembali mencari "aib" Tea yang lain. Dia yakin video seperti tadi tidak cuma satu. Dan benar saja. Tak berapa lama, deretan video yang menampilkan Tea tengah beradegan anu dengan banyak pria terpampang di depan mata Xuan.


"Aje gila! Ni perempuan ternyata ayamm kampus. Murahan." Xuan menelan ludah melihat bagaimana pro-nya aksi Tea saat bergoyang. "Kau menganggu Alea! Rasakan ini!" Xuan menyentuh icon "bagi" dan video itu kembali melanglang buana di dunia maya.


Setelah itu, Xuan keluar dari apartemennya. Menguncinya menggunakan password ganda. Apartemennya adalah tempat di mana banyak aib dan data rahasia tersimpan. Hacker seperti Xuan harus selalu bertindak satu langkah di depan orang biasa bahkan hacker lainnya.


"Xa, tanyakan pada Nika, alamat rumah sakit paling dekat dengan kampus Alea." Bodohnya Xuan, tidak mencari tahu sekalian alamat rumah sakit Alea di rawat.


Terdengar pertanyaan ada apa dari Axa, detik berikutnya dua mobil berangkat ke rumah sakit tempat Alea di rawat.


"Dia memang tidak bersalah. Yang dia lakukan justru menyelamatkan kita. Dia memimpin perusahaan dengan baik. Tidak mengambil sedikitpun yang bukan haknya." Felix menambahkan. Pria itu telah memeriksa seluruh pembukuan selama Alea memimpin. Semua clear, bersih. Apalagi Alea dengan berani menyingkirkan orang-orang yang jelas menjadi benalu bagi Star Jewelry.


"Dan dia begitu mirip dengan putriku." Tambah Meida lirih. Semua yang hadir di sana hanya diam. Dalam hati setuju dengan perkataan Meida.


"Hanya wajahnya. Mama belum melihatnya saat berantem dengan Orion atau...dia." Felix melirik ke arah Darrel yang langsung melengos.


"Dia benar-benar preman pasar!" Maki Darrel.


"Tapi itu cocok untuk menghadapimu yang selalu seenaknya pada wanita." Sambung Beni.


"Oohh...dia kena batunya Kek." Balas Felix sambil menaikkan satu alisnya. Satu tatapan mengancam Felix dapat dari Darrel.

__ADS_1


"Lalu apa keputusan kita? Bagaimanapun publik sudah mengenalnya sebagai Serafina Athaya." Pertanyaan Vano membuat semua orang kembali bungkam. Pun dengan Mikhayla yang akhir-akhir ini menjadi lebih pendiam. Sejak dia tahu Abraham menipunya mentah-mentah dan kemarahan Darrel padanya. Karena sang putra memergokinya saat bercinta dengan Abraham. Dia dan Darrel sedang terlibat perang dingin, atau lebih tepatnya Darrel yang mendiamkan sang ibu.


Di rumah sakit, tiga orang langsung menuju bagian pendaftaran. Nika yang bertanya di mana ruangan Alea di rawat.


"Ohh, pasien yand dirawat karena jatuh dari tangga lalu keguguran itu ya."


Mereka bertiga saling pandang. Alea keguguran? Alea hamil. Ketiganya bergegas naik ke lantai 5 di mana ruangan Alea berada. "Dia hamil? Kok aku gak tahu." Nika bertanya kepo.


"Aku aja gak tahu!" Axa menyahut.


"Pertanyaannya kapan mereka membuatnya." Balas Xuan konyol.


Dua keplakan Xuan terima sekaligus dari sepasang kekasih yang tengah dilanda kebucinan tingkat akut itu. "Lah pertanyaanku benar. Kapan mereka begituannya?"


"Ya gak usah kasih info sama kamu dong. Ntar kamu kepengen berabe." Skak mat. Xuan kicep mendengar ucapan Nika yang kadang sama pedasnya dengan bon cabe level 100.


"Ah elah tu mulut bisa sopan dikit gak kalau ngomong. Xa...gimana didikanmu ini."


"Lah aku mengambil semua sifat cerewetnya. Makanya dia yang diam."


Xuan ingin mendebat Nika, tapi sayangnya mereka sudah sampai di depan kamar Alea. Ketiganya langsung menerobos masuk. Mereka seketika shock melihat apa yang ada di hadapan mereka.


"Ini tidak mungkin!"


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2