Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Hilang


__ADS_3

Orion menerobos masuk ke ruang kerja Felix, 16 jam setelah Alea masuk pesawat. "Dia tidak terbang ke sana!" Nada antara cemas dan takut tersirat dalam suara Orion. Felix dengan cepat menghentikan pekerjaannya.


"Apa maksudmu? Dia tidak pergi ke Milan?" tanya Felix berusaha tenang. Meski hatinya langsung bergemuruh panik. Alea tidak sampai ke Milan? Lalu ke mana dia?


"Sudah menyelidikinya?" Orion mengangguk, mengatakan kalau Maria mengabarkan jika gadis yang seharusnya dia jemput tidak muncul di bandara internasional di Milan, Italia. Maria sudah mengecek dan menyisir area bandara tapi tidak menemukan Alea. CCTV juga sudah diperiksa, dan mereka tidak menemukan jejak Alea di bandara itu.


"Apa mungkin mereka....tidak mungkin." Orion menyingkirkan pikiran buruk akan apa yang mungkin terjadi pada Alea.


"Mereka tidak mungkin menculiknya kan?" Orion seketika menatap tajam wajah Felix, saat pria itu justru mengutarakan ketakutan Orion yang paling dalam.


Wajah Orion berubah pias. Untuk kedua kalinya dia merasa kecolongan, merasa gagal menjaga seseorang. Apa kejadian Sera akan terulang lagi, dia berharap tidak. Sungguh, dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika kejadian Sera terulang kembali.


"Jangan terulang lagi, aku mohon. Aku tidak bisa kehilanganmu." Orion, pria dengan sifat dingin seolah tanpa perasaan, tiba-tiba merasa lemah karena seorang Alea lepas dari pengawasannya.


Saat Orion mencoba menguatkan diri, Xuan, An dan Axa masuk ke ruangan Felix. "Bagaimana? Sudah ketemu?" Cecar Felix. Kepanikan rupanya juga melanda Felix.


"Dia tidak masuk ke pesawat yang terbang ke Milan." Satu info dari Xuan membuat dua pria itu menatap tajam ke arah Xuan. Xuan dengan cepat membuka laptopnya, mengetikkan beberapa kata. Dan muncullah manifest penumpang pesawat yang seharusnya ditumpangi Alea.


"Namanya ada di manifest...."


"Tapi dia tidak masuk ke pesawat." Potong Xuan cepat. Semua orang menarik nafasnya bersamaan. Satu pikiran terlintas di kepala mereka. Ke mana gadis itu pergi? Atau apa yang terjadi pada Alea?


"Bagaimana dengan Abraham?" tanya Felix. Pria itu bertanya sambil melirik ke arah Orion, yang terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun saat Felix menyebut nama sang ayah.


"Tidak ada apa pun yang terjadi. Aku terus memantau pergerakan Abraham sejak Alea masuk bandara. Dia memang mengirim beberapa orang ke bandara tapi mereka tidak melakukan apa-apa." Axa melapor.

__ADS_1


Hening seketika menyelimuti tempat itu. "Bisa kalian dapatkan alamat orang tua Alea. Aku akan memeriksanya ke sana. Selain kita, dia tidak punya tempat lain untuk pergi. Kecuali pulang."


Xuan bergerak cepat, dua alamat langsung pria itu dapat. Satu alamat kost Alea, satu lagi alamat orang tua Alea. Selain itu, Xuan juga memberitahu kalau nomor Alea sudah tidak aktif sejak masuk ke bandara.


"Dia mematikan ponselnya. Aku melihatnya." Orion teringat Alea yang menon-aktifkan ponselnya setelah mereka berciuman waktu itu.


"Tapi seharusnya aku tetap bisa melacaknya, meski dia mematikan GPS-nya juga."


Hening kembali hadir di tempat itu. "Apa kalian tidak berpikir kalau Alea berusaha lari dari kita?" suara Felix membuat semua orang menatap pria itu.


"Jangan ngawur kamu!" Sentak Orion.


"Tapi aku juga memikirkan hal yang sama." An mulai bersuara.


Ketegangan mulai terasa di antara mereka. "Dia tidak mungkin mengkhianati kita!" Orion berucap penuh penekanan.


"Dia meninggalkan semua kartunya di laci meja kerjanya." Suara Atika membuyarkan ketegangan di ruangan itu. Kekasih An tersebut membawa satu slot penuh dengan kartu milik Alea, bahkan black card yang Orion berikan waktu itu juga ditinggal oleh Alea. Selebihnya ada kartu identitas milik Sera, sederet kartu kredit dan ATM atas nama Sera, semua tidak Alea bawa.


"Apa dia gila? Dia tidak membawa uang sepeserpun?"


"Dia hanya membawa dua kartu. Kartu identitas Alea dan ATM-nya yang lama." Atika berkata sendu.


"Dia ingin kembali ke kehidupannya yang lama." Orion segera bangkit berdiri, melesat ke luar dari sana. Jika Alea masih berada di negeri ini, gadis itu akan menghadapi ancaman dari Abraham juga orang lain yang tahu kalau dirinya adalah Sera. Ada banyak orang yang menargetkan Sera, dan itu jelas berimbas pada Alea, yang orang awam menganggap gadis itu adalah Sera.


Orion melajukan mobilnya, menuju alamat orang tua Alea. Di pinggiran kota, dua jam dari kantor Star Jewelry, teringat saat Alea berteriak kalau dia merindukan orang tuanya. Orion menduga kalau Alea pasti pulang ke sana.

__ADS_1


"Beraninya kau mengambil tindakan tanpa persetujuan dariku. Awas kau, Al!" Batin Orion panik bercampur marah.


"Rion, dia menarik uang cash di ATM bandara, 30 menit setelah pesawat take off, itu berarti dia memang tidak masuk pesawat."


"Lacak dia di semua CCTV. Aku akan membawanya pulang. Gunakan scan kornea Sera untuk mencarinya!" Sebaris perintah dari Orion membuat empat orang di ruangan Felix, mulai melakukan pencarian.


Sementara Felix mengambil ponsel, memberi perintah untuk mengawasi Abraham dan juga Darrel. Dua orang itu Felix curigai punya potensi untk melakukan hal buruk pada Alea.


Pembicaraan Felix terjeda saat Atika menyerahkan satu kotak kecil. Gadis itu berkata menemukannya di antara tumpukan kartu yang Alea tinggalkan. Felix menerima kotak dengan tulisan "Untuk Kak Felix" diatasnya. Pria itu berjalan menuju mejanya. Sebuah bros mawar kembar berkilau saat Felix membuka kotak itu. Dengan sebuah note kecil di atasnya.


"Kak Sera memasukkan ini ke saku jaketku saat kami kecelakaan. Ada inisial FSA di sana. Jadi aku pikir ini milik kalian. Sekarang aku kembalikan. Aku tidak berhak memiliki apapun yang kak Sera punya."


Air mata Felix menetes di sudut mata, Felix melihat bros mawar kembar dari Sera, di balik benda mungil itu, inisial FSA memang tercetak di sana. Felix tahu soal bros ini, sang adik pernah berkata ingin membuat benda yang cantik, yang bisa dijadikan kenangan. Jadi Sera membuat benda ini saat gadis itu berusia 14 tahun, setahun sebelum kecelakaan yang menimpa Felix dan Valdy.


"FSA seharusnya Felix Sera Athaya. Tapi bagaimana jika itu juga bermakna Felix Sera Alea."


Bukankah takdir sangat tidak bisa di duga. Felix menyimpan benda itu, berdampingan dengan satu miliknya, jika milik Sera adalah mawar emas, maka Felix punya adalah Black Rose. Seri perhiasan yang baru saja mengharumkan nama Star Jewelry karena penjualannya yang tinggi di pasaran.


"Bahkan planning pemasaran Sera sepuluh tahun lalu, kau pun bisa mewujudkannya. Katakan, apa kamu ingin kakak membawanya kembali. Menghidupkanmu lewat dirinya. Itukah yang kamu inginkan, Sera?"


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2