Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Axa VS Nika


__ADS_3

Ciiitttt


Bunyi rem yang ditekan dalam terdengar. Axa menepikan mobilnya. Pria itu berhenti di sebuah bangunan mirip kontrakan. Axa meringis merasakan sakit pada luka di paha bawahnya. Sepertinya pria itu harus mencari bantuan. Dia pikir lukanya tidak terlalu parah. Nyatanya semakin lama kian perih rasanya.


Axa melirik ke kiri dan kanannya, padahal dua puluh menit lagi, dia akan sampai di apartemennya. Dia bisa mengobati dirinya sendiri. Pria itu mendengus kesal, karena tidak menemukan klinik atau sejenisnya. Setidaknya apotik agar dirinya bisa membeli antibiotik dan obat lainnya.


Saat Axa kebingungan, pria itu memicingkan mata, melihat seseorang yang dia kenal, turun dari sebuah bus. Melihat arah berjalan orang itu, bisa dipastikan kalau dia sedang pulang menuju kontrakannya.


"Nika!" Axa berteriak tertahan saat melihat Nika melintas di depan mobilnya. Nika yang baru saja melepas ear phone-nya tentu tidak mendengar panggilan Axa.


Axa berdecak kesal. Lukanya makin sakit karena jeans ketat yang ia pakai serasa menekan lukanya. "Annika Anabel!" kali ini Axa berteriak keras. Hingga gadis berambut panjang dengan aksen oriental itu menoleh ke arah mobil yang Axa tumpangi.



Kredit Instagram.com @rei_ss85


Meet Annika Anabel


"Itu kan asisten Axa, ngapain dia di sini?" gumam Nika heran. Gadis itu berjalan menuju Axa.


"Tolong aku." Pinta Axa langsung. Pria itu benar-benar perlu pain killer dan antiseptik untuk membersihkan lukanya. Juga celana yang longgar.


*


*


"Gak ada yang lain apa?" protes Axa. Pria yang biasanya seperti kutub utara pindah itu terpaksa jadi cerewet kali ini.


"Gak ada, Tuan. Ini celana paling besar yang saya punya. Lihat saya aja pakai ukuran 27, ini salah beli harusnya ukuran Alea, 28...." Suara Nika merendah saat menyebut nama Alea.


Axa langsung menyambar celana perempuan dengan bahan katun lembut untuk dia pakai sementara, sebelum celana kolor yang dipesannya datang. Menghindari pembicaraan lebih lanjut soal Alea. Axa berjalan terseok ke arah kamar mandi. Tak berapa lama keluar dengan tampilan yang seketika membuat tawa Nika meledak. Axa tampak menggemaskan menggunakan celana kolor bunga-bunga.

__ADS_1


"Ketawa lagi aku tembak kau!" Satu ancaman dari Axa membuat Nika diam saat itu juga. Pria itu kembali ke sofa di ruang tengah kontrakan Nika yang sempit. Axa harus menarik nafasnya dalam saat masuk ke rumah sewa Nika. Paru-paru Axa seolah menyusut melihat bagaimana sempitnya tempat tinggal sahabat Alea itu. Melihat tempat Nika, Axa berpikir apa tempat Alea juga sesempit ini. "Aishhhh, ini sih rumah keong bukan rumah manusia." Gerutu Axa dalam hati.


Axa memejamkan mata, saat lututnya menubruk sisi meja yang runcing. Lihat, bahkan kakinya saja tidak punya ruang yang lapang meski sudah ditekuk. Axa, pria yang punya taraf hidup kelas atas, tentu terbiasa dengan ruangan luas. Apartemennya saja ada di pusat hunian mewah dengan luas hampir seperti lapangan bola. Bekerja pada Orion membuat Axa punya penghasilan tetap yang besar, belum lagi bonus yang akan dia terima jika bisa menyelesaikan misi yang Orion berikan padanya.


"Berikan obatnya!" Axa berkata judes. Pria itu tidak pernah berinteraksi dengan orang lain selain Orion, An dan Xuan. Dan sekarang ditambah Alea. Jadi sikap Axa terkesan kaku dan sombong pada orang lain.


Melihat betapa galaknya Axa, Nika buru-buru mengambilkan apa yang diminta pria itu. Satu nampan penuh dengan obat yang diminta Axa. "Galak bener ni orang. Belum tahu rasanya diuber karena belum bayar kontrakan ya." Maki Nika dalam hati.


"Eh dia kan olang kaya. Mana tahu rasanya ngontrak." Nika meralat monolognya dalam hati. Omong sendiri, jawab sendiri.


"Berbalik!" Perintah Axa.


"Iya-iya. Aku pergi ke dapur." Pamit Nika berjalan ke sisi kiri Axa. Di mana sebuah dapur minimalis ada di sana. Axa langsung menaikkan celana bunga-bunga yang tadi sempat membuat dia bergidik ngeri. "Kalau yang lain tahu aku pakai beginian, bisa habis harga diriku diledekin mereka." Gumam Axa sambil menempelkan kapas yang sudah dibasahi dengan antiseptik. Rasa perih membuat Axa mendongakkan kepala sambil memejamkan mata.


Paha berotot Axa menegang menahan nyeri. Ternyata lukanya cukup dalam, kalau dibawa ke rumah sakit pasti dapat jahitan setidaknya empat atau lima jahitan. "Awas kau ya, sudah melukaiku, sampai aku harus memakai celana sialan ini." Batin Axa sambil meraih ponselnya, dengan sebelah tangannya membersihkan luka. Sudah tidak terlalu perih.


Saat itulah suara gedoran terdengar di pintu Nika. Pria itu mengerutkan dahi, bukannya tadi Nika sudah melapor kalau dirinya ada di sana. Berdalih menjadi kakak Nika.


"Siapa sih....alamak....." Nika buru-buru membalikkan badan. Melihat paha Axa yang terekspose sampai ke pangkalnya.


"Kagak lihat gue. Kagak lihat." Nika melipir saat melewati Axa, yang masih memasang tampang seolah baru kena intip.


"Siapa sih?" Nika memundurkan langkahnya saat si empunya kontrakan merangsek masuk.


"Tanggal berapa ini, kenapa belum bayar uang sewa?" Telinga Nika auto berdenging mendengar teriakan super melengking dari ibu kosnya.


"Astaga, baru juga tadi ngebatin soal uang sewa rumah. Dah ditagih pula." Batin Nika seperti baru saja kena karma instan karena mengumpat Axa.


"Bu, kalau besok pagi gimana? Lupa belum ngambil di ATM." Cengir Nika. Niat hati setelah turun bus mau mampir ke mesin penarik uang untuk mengambil duit guna membayar uang kontrakan. Eh dia sudah lebih dulu dipanggil Axa. Jadi lupa kan. Mana dia harus ke apotik untuk beli obatnya Axa lagi, semakin tidak ingatlah Nika jika harus ke ATM.


"Kagak bisa! Kemarin aja dah telat. Sekarang mau telat juga? Ambil sana! Ibu tungguin di sini." Si ibu langsung mendudukkan diri di satu kursi plastik yang ada ruang tamu Nika. Terhalang sebuah rak kecil membuat ibu itu tidak melihat Axa ada di dalam.

__ADS_1


Nika mendengus kesal. Dia harus keluar lagi, mana jarak ATM ke rumahnya lumayan jauh lagi. Gadis itu berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya, kesal. Sudah capek, masih harus jalan lagi. Sampai satu tatapan tajam dari Axa membuat Nika menghentikan aksi kekanak-kanakannya.


"Gunakan ini dulu." Axa mengulurkan satu tumpuk uang pecah ratusan ribu.


"Buat apaan?" tanya Nika polos.


"Bayar kontrakan kamu. Buruan kasih, biar dia cepat pergi. Berisik tahu, aku mau tidur sebentar."


"Tapi aku bisa ambil di....."


"Terlalu malam, bahaya keluar sendiri. Buruan!"


Lagi-lagi tatapan penuh intimidasi dari Axa membuat Nika menciut nyalinya. Nika menerima uang dari Axa, menghitungnya lalu mengembalikan sisanya.


"Ini aja, buat bulan ini saja."


"Bayarin semua!" Axa mendorong uang itu pada Nika.


"Gak mau, nanti utangku banyak."


"Gak usah dikembalikan." Potong Axa cepat. Sungguh pria itu malas harus berdebat panjang lebar dengan Nika.


Ha? Bagaimana bisa? Uang yang ada di tangan Nika cukup untuk membayar kontrakan gadis itu dalam lima bulan ke depan.


"Bayarin semua, atau bayar satu bulan. Tapi bulan depan kau pindah dari sini!" Putus Axa.


Bola mata Nika membulat sempurna. "Ini orang maksudnya apa sih?" Tatapan mata Nika menyiratkan protes pada Axa. Sementara Axa balas menatap Nika dengan tatapan tidak ingin dibantah. Begitu Orion, begitu pula Axa. Bos dan anak buah sama-sama tidak suka ditolak keinginannya.


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2