
Alea memanyunkan bibirnya. Seminggu berlalu sejak pertengkarannya dengan Arch, dan pria itu bersikukuh tetap ingin bertunangan dengannya. Alea bahkan sudah merengek minta pada Beni agar pertunangan itu dibatalkan atau setidaknya diundur. Dan jawaban Beni sungguh di luar dugaan. "Kamu mau nyari yang kayak gimana lagi. Pokoknya semua akan sesuai rencana kakek. Kebanyakan ditunda, nanti kakek gak cepat dapat buyut."
Alea mendengus kesal, membuat si MUA terkejut. Ya, hari ini adalah hari pertunangan Alea dan Arch. Gadis itu sedang dirias di kamar hotel tempat pesta itu dihelat. Alea hanya bisa meminta satu hal pada Beni. Cukup pesta sederhana, tidak berlebihan. Kali ini Beni mengabulkan permintaannya.
Masuk ke kamar ganti, Alea keluar dengan balutan gaun pertunangan paling sederhana yang sengaja dia pilih. Lagi-lagi untuk mengacaukan pestanya. Namun siapa sangka, Orion yang menemani Alea untuk memilih gaun pertunangan mereka, tidak protes sama sekali dengan pilihan Alea.
Hingga di sinilah Alea, berjalan diiringi Atika keluar dari kamarnya, menuju ke ballroom. Di mana Orion tengah menunggunya. "Tika, gantian aja gimana?" keluh Alea. Semua ini membuatnya tidak nyaman. Alea memakai heels setinggi sepuluh senti gegara kata stylish-nya Alea terlalu rendah untuk Orion. Hal yang membuat Alea kesal. Siapa juga yang mau dengannya, gerutu Alea dalam hati.
"Idiihhh gak mau, yang ada aku di-ngap sama pak bos." Tolak Atika tegas.
"Maksudku kamu sama An yang tunangan, uhuuukkkk." Alea terbatuk, saat masuk ke dalam lift. Atika dengan cepat menahan lift dan menarik Alea keluar dari sana.
"Apa lagi sekarang?" keluh Alea. Dia pikir menggantikan Sera adalah hal paling berbahaya yang pernah dia lakukan. Setelah kabur dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya. Ayah....tiba-tiba Alea rindu pada orang tuanya. Ayah dan ibunya, juga rumahnya. "Setelah ini selesai, aku akan berubah." Tekad Alea dalam hati.
Alea bersandar pada dinding depan lift. Tak sampai lima menit, An dan Axa datang. Mereka langsung mengawal Alea masuk ke lift sebelah, setelah Xuan memastikan lift itu aman.
"Kek naik rollercoaster aja hidupku." Ucap Alea menyandarkan tubuhnya ke dinding lift, mencoba mengusir sedikit rasa serak di tenggorokannya. Yang lain saling pandang mendengar ocehan Alea. Mereka sepertinya mulai hafal dengan sifat Alea. Pintu lift terbuka, Alea berjalan dengan pengawasan penuh dari An dan Axa, menuju pintu ballroom.
"Minta minum bisa gak?" Alea berhenti saat melihat deretan minuman di luar pintu ballroom. "Gak boleh, Xuan belum menelitinya." Cegah Axa.
"Astoge pak besi, belok dikit napa sih? Jangan kaku-kaku amat." Ledek Alea pada Axa yang terkenal straight dengan rule dari Orion, tanpa bisa dibantah.
"Mau kamu mati kalau disitu ada racunnya."
"Kayaknya gue pilih mati deh." An buru-buru menarik Alea ke arah pintu, di mana Orion sudah menunggu. Sesaat Orion terpana melihat tampilan Alea. Meski gadis itu tampak manyun dan tidak nyaman.
"Kenapa lagi?" Suara bariton Orion membuat Alea mendongak ke arah Orion. Deg, lah kenapa Orion jadi ganteng begitu ya. Kali ini Alea sampai tidak berkedip saat menatap Orion. Mengenakan setelan jas berwarna abu-abu. Orion terlihat begitu mempesona malam itu. Alea menggeleng mendengar pertanyaan Orion.
__ADS_1
"Pakai ini?" Alea berkomentar saat sudah berjalan di samping Orion, menuju sebuah dekorasi pertunangan "sederhana"
Kredit Pinterest.com
"Menyesuikan dengan gaunmu. Bukankah ini yang aku fitting hari itu." Tanya Orion, sementara Alea langsung nyengir sebagai tanda dia tidak tahu.
Suara tepuk tangan menyambut Alea dan Orion saat sudah sampai di atas panggung. Sedikit basa basi dan kata sambutan disampaikan oleh Adnan mewakili Beni yang enggan berada di atas panggung. Sementara Mario menolak, dengan alasan terlalu bahagia hingga tidak bisa berkata-kata.
Alea berdecih kesal melihat Xia Lin yang ada di deretan tamu undangan. Duduk diapit Vano dan Xia Sun, sang kakak. Xia Lin seolah ingin menunjukkan kalau dialah bunga yang sebenarnya. Alea mendengus kesal melihat bagaimana wajah Xia Lin yang terlihat jelas mencemooh dirinya.
"Pengen nyemplungin dia ke kolam boleh gak sih?" Omel Alea lirih. Orion seketika mengulum senyumnya. Ada-ada saja tingkah Alea di moment seperti ini.
"Ada juga kamu yang tenggelam kan kamu gak bisa renang?" Alea memejamkan mata mendengar peringatan dari Orion. Dia lupa kalau dia memang hanya bisa gaya batu kalau ketemu kubangan air alias tenggelam.
"Kamu mau kabur akan kupatahkan kakimu!" Alea menelan ludahnya susah payah saat ancaman datang dari Orion. Pria itu seolah bisa membaca pikirannya.
Pada akhirnya Alea hanya bisa pasrah saat cincin cantik itu melingkar di jarinya. Pun dia yang tak bisa menolak saat Orion mengulurkan jarinya. Menunggu dirinya untuk menyarungkan cincin itu ke jari Orion. "Rantai sudah kuikatkan di kakimu. Aku harap kau tidak berpikir untuk lari."
Bibir Orion perlahan menyentuh milik Alea, bersamaan dengan pria itu merengkuh pinggang Alea. Alea reflek menahan dada Orion, namun pria itu seolah tidak peduli. Orion begitu menikmati ciuman itu untuk beberapa waktu. Sampai pria itu mengurai pagutannya. "Kita bisa meneruskannya di atas." Alea langsung mendorong jauh tubuh Orion, mendengar ucapan sang tunangan.
"Lihatlah, tidakkah mereka sungguh lucu. Malu-malu tapi mau." Kekeh Beni yang disambut putaran mata malas dari beberapa anggota keluarga Athaya, siapa lagi jika bukan Mario dan Meida, juga Mikhayla serta Darrel.
Tawa sinis juga terlontar dari bibir Xia Lin. Jelas sekali jika wanita itu tidak menyukai pertunangan Alea dan Orion.
*
__ADS_1
*
Alea melemparkan dirinya di kasur hotel, gadis itu mengusak-ngusakkan kakinya, senang bukan kepalang. Akhirnya, setelah semua hal membosankan yang terjadi malam ini. Ada satu hal yang membuat Alea bisa tertawa puas. Gadis itu bisa mewujudkan cita-citanya. Memanfaatkan lantai licin di sekitar kolam renang, Alea berhasil menceburkan Xia Lin ke kolam renang. Alea tentu bahagia, meski seorang waitress harus menjadi korban amukan Xia Sun. Namun Alea bisa melihat senyum waitrees itu, saat Alea memberi sejumlah uang pada pelayan itu, berdalih permintaan maaf dari Xia Sun yang sudah memarahinya. Pelayan itu bukannya sedih malah senang, meski dia dipecat tapi malam ini dia bisa membawa ibunya berobat ke rumah sakit. Hal yang membuat Alea langsung menambahkan nominal uang yang dikirimkan melalui mobile banking-nya. Berkali-kali gadis itu mengucapkan terima kasih pada Alea. Dia merasa beruntung malam ini.
"Kau beruntung, aku sengsara. Ternyata dengan uang kita bisa melakukan apa saja." Gumam Alea setelah tawanya sirna.
"Tentu saja. Dengan uang kita bisa melakukan apa yang kita mau, mendapatkan apa yang kita mau."
Alea membulatkan mata, melihat Orion yang sudah berada di atas tubuhnya. Kapan pria itu masuk ke kamar, dan kapan pria itu naik ke atas ranjang, Alea sama sekali tidak tahu.
"Hei...hei...kau mau apa?"
"Kau sudah cukup bersenang-senang kan? Sekarang giliran kita yang akan bersenang-senang."
Bola mata Alea membulat saat Orion mulai mencium dirinya. Sedikit kasar di awal, tapi berubah lembut setelah beberapa waktu. Alea berusaha menghindar tapi dia tidak bisa menyingkirkan tubuh besar Orion.
***
Yang tunangan ya geees
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1