Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Mengintai


__ADS_3

Messa beberapa kali mendesahh kesal. Dia tidak tahu ke mana Darrel membawanya. Lebih herannya lagi kenapa dia mau saja saat Darrel mengajaknya pergi. Plus dengan dandanan yang sepertinya sudah Darrel siapkan. Sepotong gaun dengan model simple, berwarna navy membalut cantik tubuh langsing Messa.



Kredit Pinterest.com


Darrel sendiri cukup terpukau melihat Messa setelah selesai dimake over. Dia terbiasa melihat Messa dengan seragam dinasnya. Jadi ini sebuah hal baru melihat Messa dalam pakaian pesta.


"Pakai baju tertutup aja cantik beut, apalagi kalau kagak pakai apa-apa." Dasar otak selangkangann, kepala Darrel justru dipenuhi fantasi liar soal Messa.


"Mau ke mana sih?" tanya Messa judes. Darrel segera kembali ke alam sadarnya.


"Pesta ulang tahun temen gue." Balas Darrel santai. Mobil pria itu mulai masuk ke parkiran sebuah kafe yang sepertinya sudah disewa untuk dijadikaan venue pesta. Terlihat dari dekorasi dan bunga-bunga yang sudah ditata cantik mulai dari depan kafe sampai ke belakang kafe. Sepertinya di belakang sana adalah pesta kebunnya.


"Gue gak bawa hadiah."


"Tenang aja. Hadiah mereka sudah gue transfer." Pongah Darrel.


"Iyalah tu. Orang kaya mah beda." Darrel tersenyum tipis mendengar pendapat Messa. Sepertinya gadis itu punya sedikit masalah dengan istilah orang kaya.


Saat masuk ke pintu kafe. Darrel segera menggandeng tangan Messa. Messa enggan digandeng, tapi saat melihat banyak orang, Messa jadi tidak bisa berkutik. Darrel berjalan penuh percaya diri ke arah kerumunan orang yang tengah bersulang.


"No alkohol!" bisik Messa di telinga Darrel.


"I know." Balas Darrel.


"Hai...guys." Sapa Darrel. Semua orang terpana, melihat Darrel datang bersama seorang gadis cantik dengan pakaian tertutup. Biasanya siapapun wanita yang dibawa Darrel bisa dipastikan kalau pakaian mereka sangat terbuka. Boleh dikatakan hampir telanjangg. Tapi ini, tunggu dulu, sikap Darrel juga berbeda saat bersama wanita ini.


"Koleksi baru?" bisik seorang teman Darrel yang otaknya sama isinya dengan Darrel.

__ADS_1


"Tidak juga."


"Kalau begitu buatku saja. Asetnya menggiurkan...."


"Kau dekati dia, kutembak pusakamu." Pria itu langsung merapatkaan pahanya. Ngeri membayangkan asetnya di aniaya oleh Darrel. Satu lagi, Darrel biasanya tidak sungkan berbagi wanita yang dia bawa dengan yang lain.Tapi yang ini, beda.


"Di mana dia?" tanya Darrel setelah memberikan segelas orange juice pada Messa. Satu tatapan penuh selidik Messa berikan pada Darrel.


"Aman kok, gak gue kasih obat perangsanng." Messa mendelik mendengar jawaban Darrel. Frontal sekali pria itu. Darrel mengulum senyumnya, memperhatikan Messa yang meneguk minumannya. "Sudah?" Darrel menarik tangan Messa menuju ke tempat di mana pesta sesungguhnya berada.


Messa langsung mengeratkan pegangan tangannya di lengan Darrel. "Gue bisa dipecat kalau ketahuan pergi ke tempat beginian." Cemas Messa, berusaha menghindari sentuhan dengan lawan jenis.


"Gak bakalan! Gak ada yang berani mecat elu. Kalau lu dipecat. Elu tinggal kerja sama gue. Jadi bini gue." Darrel meringis saat Messa mencubit pinggangnya.


"Tenang aja. Gue mau tunjukin elu sesuatu." Darrel membawa Messa ke tengah ruangan. Di mana sepasang pria dan wanita tengah menari dengan panas.


"Gak cemburu?" tanya Darrel.


"Cihh, ngapain juga cemburu. Dua-duanya sama murahan. Oh ya, mereka gak bakal kena sanksi kalau ketahuan berkunjung ke tempat beginian?"


"Ya enggaklah, ini kan kafe bukan diskotek dan sejenisnya. Hanya saja konsep ulang tahun si uyul adalah klub malam." Melihat reaksi santai dari Messa membuat Darrel lega, dia pikir Messa akan nangis kejer, melihat kebersamaan mantannya. Sebab itulah sebenarnya pertunjukkan yang dimaksud oleh Darrel.


"Gue lebih menghargai orang yang mau berubah menjadi lebih baik." Darrel tertegun mendengar ucapan Messa.


"Meski dia dulunya bajingann?"


"Semua orang punya kesempatan sama dalam memperbaiki diri, begitu juga dengan yang namanya bajinggan."


Darrel terdiam, seolah tersihir dengan ucapan Messa. "Kalau begitu bantu gue buat berubah jadi lebih baik." Messa terkekeh mendengar ucapan dari Darrel. Sampai gadis itu menjelaskan kalau berubah tidaknya seseorang tergantung dari kemauan orang itu. Mau tidak berubah.

__ADS_1


"Tapi lu bisa bantuin gue." Mata Darrel menatap lurus mata Messa yang berada di depannya. Keduanya kini jadi pusat perhatian karena dansa mereka dinilai romantis oleh banyak orang.


Kini giliran mantan Messa dan selingkuhannya yang meradang. Panas, pasalnya wanita yang jadi selingkuhan mantan Messa sangat menginginkan Darrel berada dalam pelukannya. Sementara mantan Messa terlihat tidak rela melihat Messa bersama Darrel, pria yang ia ketahui seorang casanova sekaligus pria kaya. Lebih kaya darinya.


"Menikahlah denganku." Messa menepuk pipinya pelan. Tidak percaya jika Darrel berani mengatakan hal itu padanya. "Dia pasti sudah gila!" Satu hal itu langsung muncul di benak Messa. "Dia pasti hanya ingin main-main denganku!" tambah Messa lagi.


Di sisi lain, Orion tampak menatap Alea yang tengah tertidur di kasurnya. Dua hari setelah kepulangan Alea dari rumah sakit. Orion kembali kena omel oleh Felix saat pria itu tahu kalau Alea masuk rumah sakit. Selama dua hari ini, Orion telaten membantu Alea. "Apa rasa orang melahirkan seperti ini?" Rasa tidak nyaman di perut Alea belum juga hilang.


"Tahun depan kita buktikan." Balas Orion santai. Kali ini Alea tidak menyangkal seperti biasanya. Gadis itu terdiam, seolah tengah mempertimbangkan sesuatu.


Dua minggu berlalu sejak keguguran Alea, wanita itu sudah kembali ke bangku kuliahnya. Tubuhnya sudah jauh lebih baik. Juga dia merasa bosan di rumah. Fakta kalau Alea keguguran sengaja disembunyikan oleh Orion dan tim dokter. Dia tidak mau Alea jadi bahan gunjingan di kampus.


Suasana kuliah Alea terasa berbeda, sepertinya ada yang hilang. Saat Alea memindai teman kelasnya. Dia tidak menemukan Tea, dari informasi seorang teman. Alea akhirnya tahu kalau Tea dikeluarkan dari kampus. Bukan hanya karena mendorong dirinya tapi juga karena profesi sampingan Tea tersebar di dunia maya. Demi menjaga nama baik kampus, pihak sekolah Alea memilih untuk mengeluarkan Tea.


Alea hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Ini pasti ulah Xuan. Siapa lagi orang yang bisa mencari aib orang sampai ke lubang semut sekalipun. Cukup prihatin dengan nasib Tea. Namun mau bagaimana lagi, semua juga hasil dari ulahnya sendiri.


Hari itu suasana kampus terlihat sepi. Alea mengambil sedikit ekstra materi untuk mengejar deadline kelulusannya. Skripsi wanita itu sedang menunggu ACC tahap pertama. Alea akan mengerjakan skripsinya lebih awal.


Menyeberang jalan untuk mencari taksi, wanita itu dikejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti di depannya.


"Masuklah." Pinta suara itu.


Senyum Alea mengembang lantas masuk ke dalam mobil hitam yang segera melaju meninggalkan tempat itu. Tanpa Alea tahu bahaya tengah mengintainya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2