Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Impas


__ADS_3

Saat masuk ke lobbi Star Jewerly, seorang wanita dengan penampilan make up bold sudah menunggu Alea. Gadis itu bertanya kepada Orion, apakah Sera pernah bertemu Xia Lin sebelumnya. Pria itu mengatakan belum pernah, jadi terserah Alea mau bersikap bagaimana terhadap Xia Lin.


Saat Alea dan Xia Lin bertatapan, bisa Alea rasakan kalau wanita itu meremehkan dirinya. Jadi Alea tak akan sungkan lagi untuk menunjukkan taringnya. Alea tidak suka direndahkan.


Mereka berjalan masuk ke ruang meeting. Di sana dilihatnya Xuan dan An yang sudah bersiap.


"Wah, kau kerja dikelilingi pria tampan."


Alea mengepalkan tangannya, tahu kalau Xia Lin tengah menyindirnya. "Iya, selain bisa menambah mood, mereka lebih efisien dibanding kaum kita yang ribet."


Tiga pria itu saling pandang, tidakkah Alea sedikit meremehkan mereka. Meski mereka tahu, jawaban Alea untuk membalas sindiran Xia Lin yang menganggap Alea murahan.


Xia Lin kesal dengan respon Alea. Dia sudah lama menargetkan Vano untuk digaet menjadi salah satu partner kerja di studionya. Namun Vano selalu menolak. Loyalitas Vano pada SJ sangat tinggi. Apa lagi di tambah Alea sekarang berada di sana. Berperan sebagai Sera, membuat Vano bertambah enggan menerima tawaran Xia Lin.


"Langsung saja kalau begitu. Kami ingin mengajukan protes soal design kalian yang sama dengan design milik kantor kakakku."


Alea dan Orion saling pandang. Masalah yang ini saja belum selesai, sekarang datang lagi tuduhan plagiat. Keduanya lantas duduk bersebarangan. Dengan Alea mulai melihat design perhiasan milik Pearl Jewerly. Membandingkannya dengan design milik Vano.


Satu kode dari Orion membuat Alea paham. "Baik kami akan membahas ini dengan tim kami. Minggu depan kami akan memberikan jawaban."


Xia Lin menarik ujung bibirnya. Rencananya untuk menggoyang Alea yang menggantikan Sera akan berhasil. Star Jewerly akan diguncang dengan isu yang paling sensitif dalam dunia design, plagiat.


Alea langsung melemparkan foto perhiasan dari Pearl Jewerly. Mood gadis itu hancur seketika. Atika, sekretaris pribadinya masuk membawakan secangkir teh untuk Alea. Atas perintah Orion tentunya.


Alea membiarkan Atika meletakkan teh itu di atas meja. Setelahnya gadis itu meletakkan kepala di punggung sofa. Baru sehari masuk kantor, Alea sudah dihantam dengan dua masalah besar. Sepertinya pendapat Alea soal enak jadi orang kaya akan segera berubah. Jadi orang kaya ternyata tidak semudah pemikirannya. Mana mulai hari ini dia akan menginap di kantor.


"Deadline-nya minggu depan. Jika kita tidak bisa menemukan solusi untuk masalah ini, mereka bisa menuntut kita."


"Aku tahu." Sahut Alea judes. Alea kuliah di bidang seni, dia tahu soal plagiat dan akibatnya jika mereka meniru karya orang lain. Merasa diabaikan Orion mulai kesal. Pria itu tadinya ingin menghajar Xuan, karena berani membohonginya soal aset SJ yang ternyata sudah bisa diaksesnya. Namun melihat tingkah Alea, pria itu jadi teringat omongan Alea soal bekerja dengan pria tampan bisa menaikkan mood.


"Kau bilang bekerja dengan pria bisa menaikkan mood. Apa maksudmu?" Orion bertanya pada Alea yang masih memejamkan mata. Penampilan Alea kini semakin menggoda. Orion memang memoles Alea sebelum masuk rumah keluarga Athaya. Pria itu cukup terkejut saat mendapati cantiknya Alea setelah di-make over.

__ADS_1


"Diamlah, aku tengah berpikir bagaimana mengatasi pinjaman bank itu." Alea menjawab lirih.


"Perlu bantuan?"


Alea sontak membuka mata, saat mendengar suara Orion begitu dekat dengannya. "Apa yang kau lakukan?" Gadis itu terkejut karena Orion sudah berada di atas tubuhnya, menggunakan dua tangannya sebagai tumpuan, dengan meletakkannya di kiri kanan tubuh Alea.


"Aku hanya heran padamu. Kau ini wanita atau bukan, kenapa begitu berani pada kami, para pria."


Dua pasang mata itu saling tatap. Orion dengan tatapan yang mulai penasaran pada Alea. Sedang Alea dengan pandangan tidak paham soal perkataan pria itu.


"Apaan sih?" Alea mendorong tubuh Orion menyingkir, lantas berjalan ke pintu penghubung. Di mana ruang kerjanya berada. Namun sebelum masuk ke ruangannya. Orion sudah menarik tangan Alea lantas menghimpit tubuh Alea ke dinding. Tanpa ragu, pria itu mencium Alea.


Mata Alea membulat, merasakan bibir Orion yang langsung melummatt bibirnya. Alea seketika bingung dengan sikap Orion. Maunya apa sih. Di depannya begitu dingin dan galak, tidak berbelas kasih, tapi lihatlah sekarang. Pria itu dengan santai mengambil ciuman pertamanya.


"Brengsek!" Alea mengumpat setelah berhasil melerai ciuman Orion. Sementara Orion menyeringai penuh kemenangan.


"Is that your first kiss?" tanya Orion.


"Kenapa mereka? Gelud lagi?" tanya An yang memang super cerewet.


"Lama-lama mereka bisa bucin." Sambar Xuan asal. Pria itu bicara tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar benda persegi yang tengah diuliknya.


Ruang kerja Alea sendiri berupa ruangan yang lumayan luas. Tempat dengan warna putih berpadu dengan warna hitam dan abu-abu dalam pemilihan furniturenya. Tempat itu dilengkapi sofa yang nyaman dengan karpet tebal. Juga seperangkat meja dan kursi untuk para tamu yang ingin membahas sesuatu dengan Alea.



Kredit Pinterest.com


Tanpa mengindahkan tatapan penuh intimidasi dari Orion, Alea mulai menyalakan laptop miliknya. Sesuai perjanjiannya, setahun menjadi Sera, Alea harus melakukan apapun untuk mempertahankan milik Sera. Sementara Orion, kini menatap tajam pada Alea.


An mendekati Alea, menyerahkan laporan aset yang akan digunakan menjadi jaminan saat memohon perpanjangan waktu. Sebab pinjaman itu aslinya berjangka 1,5 tahun baru jatuh tempo. Kenapa baru satu tahun pihak bank sudah minta pelunasan. Hal ini pula yang menjadi perhatian khusus Orion.

__ADS_1


Alea mulai membolak balikkan kertas yang mulai bertebaran di atas mejanya. Matanya fokus menatap layar laptopnya. Tangannya sigap menandai kertas yang asetnya bisa digunakan. Satu ujung bibir Orion tertarik. Alea lebih lincah dari Sera. Kepribadian gadis ini juga lebih kuat. Alea, jelas lebih tahan banting dibanding Sera. Batin Orion masih mengamati gerak gerik Sia.


Di sisi lain, seorang pria tengah bicara pada sepasang pria dan wanita. Ketiganya tampak puas dengan berbagai masalah yang menyerang Star Jewerly. Pria itu terlihat begitu membenci keluarga Athaya. Pun dengan si perempuan. Hampir lima belas tahun keduanya menipu keluarga besar itu. Heran sekali tidak seorang pun anggota keluarga Athaya menyadari soal tingkah dua orang itu.


"Aku yakin sudah membunuh Sera. Tapi aku heran, kenapa Orion bisa membawa pulang Sera."


"Kau yakin dengan yang katakan?" Si pria mengangguk yakin. Ketiganya saling pandang. Hingga satu pikiran yang sama seolah masuk ke benak mereka. "Orion pasti menemukan doppelganger Sera." Seru si perempuan.


"Ini menarik. Aku pikir setelah kematian Felix, tua bangka itu akan menyerah. Dan menyerahkan SJ pada kita. Nyatanya dia memilih mendatangkan cucu kesayangannya untuk menjemput ajalnya."


Ketiganya tertawa senang. "Tapi Orion jelas bukan orang yang mudah dihadapi. Latar belakangnya saja tidak jelas. Titel Alexander hanya tersemat pada namanya tanpa ada konfirmasi dari keluarga konglomerat itu."


"Apa kau mencurigai sesuatu?"


"Aku pikir Orion bukan putra kandung John Alexander."


"Adopsi? Tapi bagaimana bisa dia mendapat hak penuh atas AL Group?"


"Itu masih tanda tanya."


Ketiganya kembali terdiam. Lebih dari lima belas tahun menyimpan dendam, tak membuat ketiganya merasa bosan untuk terus mencari cara mengacaukan keluarga Athaya.


"Kalian menyebabkan putra kami meninggal. Karena itu kami juga tidak akan berhenti sampai keturunan Athaya habis. Baru ada kata impas di antara kita."


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


*****

__ADS_1


__ADS_2