Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Alergi


__ADS_3

Dua hari berlalu, Orion berjalan di parkiran rumah sakit tempat sample darah Alea dan Darrel diuji. Setelah berhasil mengacaukan sampel darah Alea. Kini waktunya menukar hasil tes DNA.


Kali ini Orion sendiri yang akan berhadapan dengan asisten Darrel. Menggunakan sebuah trik, Orion berhasil mencuri hasi tes DNA dari ruang dokter yang menguji DNA Alea dan Darrel, setelah asisten Darrel melihat hasil tes DNA.


Orion keluar dari ruangan dokter itu dengan satu berkas berada di tangannya. Berkas asli tes DNA Alea dan Darrel. Sementara yang di dalam sana adalah hasil manipulasi Xuan. Orion tersenyum kecil melihat asisten Darrel yang bakal kena marah. Karena hanya pria itu yang sudah melihat berkas asli tes DNA dua sepupu itu.


Orion melajukan mobilnya sengaja melewati asisten Darel yang sedang berjalan menuju mobilnya. Namun pria itu tidak menyadari hal tersebut.


Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Pengumuman hasil tes DNA. Semua orang berkumpul di ruang keluarga malam itu. Alea tampak panik seperti biasa. Gadis itu benar- benar punya gangguan panik yang berlebihan. Padahal Orion sejak tadi sudah memberitahunya kalau semua sudah beres. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Di depan mereka, tampak Darrel yang tersenyum puas. Si asisten sudah memberi tahu kalau hasilnya negatif. Alea bukan Sera. Pikiran pria itu sudah membayangkan malam panas yang bakal dia lakoni bersama Alea. Tanpa pria itu tahu, kalau semua tidak seperti yang dia rencanakan.


Asisten Darrel menyerahlan hasil tes DNA yang masih tersegel tapi. Adnan menerimanya lalu membukanya, untuk selanjutnya di serahkan pada Beni. Semua yang ada di sana terlihat cemas, bahkan Vano yang juga berada di sana beberapa kali melirik ke arah sang ayah. Adnan tersenyum untuk menenangkan sang putra. "Semua akan baik-baik saja." Seperti itulah makna senyum Adnan pada Vano.


Darrel sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Alea. Bahkan saat Beni mulai membacakan hasil tes DNA yang seketika membuat semua orang menunjukkan ekspresi yang berbeda.


Jika Alea langsung menghembuskan nafasnya lega, sama dengan Beni, Vano dan Adnan. Hal itu tidak terjadi dengan yang lain. Darrel bahkan langsung menggebrak meja. Tidak percaya dan tidak terima. Bukankah tadi asistennya sudah memberitahunya kalau hasil tes DNA itu negatif. Kenapa sekarang hasilnya berubah. Awalnya Mario juga ingin protes, sebab dia juga andil dalam mengubah hasil tes tersebut. Namun sentuhan tangan sang istri membuat Mario urung melakukannya.


"Tes itu pasti palsu. Dia bukan Sera!" teriak Darrel kesal. Dia jelas marah karena gagal mendepak Alea dari rumah itu. Ditambah dia juga kalah dalam taruhannya.


"Kenapa kau begitu yakin kalau dia bukan Sera? Bahkan tes DNA saja menyatakan kalau dia Sera. Apalagi yang kau ragukan?" Beni bertanya, jengah dengan kelakuan cucunya yang satu itu. Kerja tidak becus, yang Darrel lakukan hanya mengacau.


"Itu...itu...." Darrel kelabakan menjawab pertanyaan Beni. Dia jelas terlalu berlebihan saat ini, hal yang justru menimbulkan kecurigaan banyak orang.


Darrel kehilangan kata untuk menjawab. Tak lama keheningan menyelimuti tempat itu. "Jadi karena tes DNA membuktikan kalau Sera adalah Sera, maka aku harap kau akan memenuhi janjimu. Kau tidak akan mengganggu Sera juga Star Jewelry. Kau kembalilah ke bagianmu." Orion berkata tegas. Tatapan tajam Orion berikan pada Darrel. Tatapan penuh ancaman dan peringatan.

__ADS_1


"Sekarang semua sudah jelas. Jadi kakek minta tidak ada lagi rasa curiga di rumah ini. Kau lihat Darrel, kakek sudah memenuhi permintaanmu. Dan hasilnya kau lihat sendiri. Kakek berharap kau tidak akan mengganggu Sera. Kalian semua, bekerjalah dengan baik. Untuk memajukan Star Grup."


Semua mengangguk paham. Kecuali Darrel yang nampaknya masih tidak terima dengan hasil tes DNA. "Satu pengumuman akan kakek berikan. Kakek berpikir, setelah semakin yakin kalau kamu memang Sera, maka pertunangan kalian akan kakek adakan dua minggu lagi."


Uhuukkkk


Alea tersedak makanannya. Mereka semua sudah pindah ke meja makan. Vano pun sangat terkejut dengan keputusan Beni. Padahal pria itu berpikir akan mendekati Alea setelah kekacauan ini berakhir.


"Tapi, Kek...." Alea ingin protes, tapi genggaman tangan Orion mencegahnya.


"Kenapa? Kau ingin pesta yang meriah? Tidak masalah."


Alea menggeleng pelan. "Dia hanya terkejut, Kek. Semua sangat tiba-tiba untuk kami." Balas Orion santai. Sementara Alea yang badmood, langsung melahap puding yang ada di hadapannya. Tanpa bertanya dulu puding apa itu. Tanpa dia ketahui, puding itu adalah puding strawberry yang terbuat dari buah strawberry asli yang diblender. Lalu dimasukkan ke dalam adonan puding.


Selanjutnya makan malam jadi tempat untuk membahas pesta pertunangan Alea dan Orion. Meski bagi Alea, Vano dan Darrel topik itu menjadi bahan yang tidak menarik sama sekali.


Alea membalikkan badan saat suara Vano terdengar. Gadis itu baru saja menaiki tangga menuju kamarnya.


"Tentu saja. Kenapa? Ada yang salah?" Alea menjawab sambil menahan rasa tidak nyaman yang mulai menyerang dirinya.


"Apa kau mencintai Orion?" Vano bertanya sambil menatap dalam bola mata Alea.


"Tentu saja kami saling mencintai." Orion muncul, langsung menghadap Vano. Menghalangi pria itu menatap Alea lebih lama.


Vano terdiam. Dia sama sekali tidak punya bantahan soal perkataan Orion. Vano seketika merasa kalah melawan Orion. Sementara itu di belakang Orion, Alea semakin gelisah. Apa dia salah makan tadi. Rasa panas mulai menjalar di kerongkonganya. Rasa gatal itu kian bertambah parah. Dengan nafas Alea yang mulai sesak. Meski begitu, dia masih ingin mengamuk pada Orion.

__ADS_1


Brakkkk...


Suara pintu yang ditutup kencang membuat Orion berjengit, pria itu masuk ke dalam kamar Alea. "Kenapa kau dengan mudah menerima pertunangan kita?" Teriak Alea, dengan tangan mulai bergerilya di tubuhnya sendiri.


"Kenapa? Bukankah dengan begitu aku punya alasan yang kuat untuk bersama denganmu. Melindungimu, juga... aku bisa tidur disini." Bisik Orion. Alea memundurkan langkah, menghindari Orion yang bisa menciumnya tanpa basa basi seperti saat itu.


"Alasan apa itu?" Alea mulai berteriak, dengan rasa sesak semakin menjadi. Bintik-bintik mulai muncul di leher dan bagian tubuh Alea yang lain.


"Itu alasan paling tepat untukku agar bisa dekat denganmu....Al...Alea.....kamu kenapa?" Orion bertanya panik. Melihat Alea yang mulai susah bernafas.


"Puding apa tadi?" hanya makanan itu yang membuat Alea curiga.


"Puding...puding...." Orion membulatkan mata. Strawberry, apa Alea alergi strawberry?


"Strawberry."


Brukk, tubuh Alea ambruk dengan Orion yang terlambat menahan tubuh Alea. Gadis itu meringis karena dia menggunakan sikunya untuk menahan tubuhnya sendiri.


"Aku alergi strawberry." Alea menjawab terbata.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2