Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Pertukaran


__ADS_3

"Yakin kamu mau kuliah sekarang?" tanya Orion keesokan harinya. Alea mengangguk mantap. Wanita itu sudah mengganti bajunya. Alea harus melapor dulu ke bagian administrasi kalau dia akan kembali kuliah. "Memangnya kamu gak kerja?" tanya Alea balik. Dengan santainya Orion menjawab kalau dia bisa bekerja dari sini.


Alea mendengus kesal, berjalan keluar dari kamar kontrakan yang dia pastikan harganya lima kali lipat kontrakan lamanya. Bicara soal kontrakan lamanya, hari ini dia berencana bertemu Nika. Dia rindu dengan sahabatnya yang satu itu.


Memilih menggunakan taksi, alih-alih memakai mobil Orion, wanita itu harus menghafalkan jalan antara rumah itu dan kampusnya. Lima belas menit waktu tempuh yang Alea perlukan untuk sampai ke kampusnya. Semua berjalan lancar. Dia bisa mulai kuliah hari itu. Bagian administrasi jelas sudah diatur oleh Xuan dan An. Hingga mereka tidak menaruh kecurigaan apapun pada Alea.


Beberapa teman Alea yang terkenal julid, mulai menelisik pada Alea. Mulai dari tampilan sampai hal paling kecil sekalipun tidak luput dari pantauan mereka. "Lu magang di mana di Milan?" selidik teman Alea.


Alea tidak menjawab, sejak dulu mereka acuh padanya kenapa sekarang tiba-tiba sok akrab. Cih...Alea yang sepuluh bulan ini mendapat pendidikan keras soal menghadapi berbagai sifat orang banyak, tentu tahu harus berbuat apa. Diamkan saja, nanti juga berhenti sendiri.


Kuliah pertama berjalan lancar, meski beberapa teman Alea menatap penuh kecurigaan pada Alea. "Lu gak nyambi kan di sana? Lelaki sana kan tampan-tampan." Satu teman julid Alea kembali bertanya.


"Aku tidak serendah kalian ya!" Balas Alea judes. Dia benci disebut seperti itu. Dia selama ini dikenal anteng, tahunya hanya kuliah dan part time. Lain tidak. Meski banyak yang mendekatinya, tapi Alea tidak pernah menanggapinya.


"Cih!! Murahan! Lihat saja habis magang baju bagus, wajah glowing. Padahal kita tahu magang itu seperti apa." Bisik satu teman Alea. Yang lain mulai ikut berbisik-bisik membicarakan Alea. Sungguh Alea tidak mau menggubris itu semua. Baginya cukup urusi hidupmu sendiri, yang lain tidak penting.


Wanita itu melihat ke arah jamnya, jam kantor belum selesai. Namun Alea enggan pulang ke rumah. Dia sedang malas berdebat dengan Orion. Akhirnya dia memutuskan jalan-jalan. Melihat-lihat sekitar kawasan kampus. Tidak banyak yang berubah sejak dia pergi dari tempat itu.


Saat Alea masih berjalan-jalan, waktu itulah Nika turun dari taksi. Pihak kampus mengabarinya kalau Alea sudah pulang dari magang. "Alea!!!" teriak Nika tanpa peduli pada kiri kanannya. Senyum Alea mengembang melihat sang sahabat berlari ke arahnya. Akhirnya Alea bisa melepas topengnya, kembali ke kehidupan nyata.


Dua wanita itu lantas menghabiskan waktu dengan makan dan berbincang di sebuah kafe. Di mana Alea menceritakan semua dan Nika tidak terkejut sama sekali.


"Maaf." Satu kata itu akhirnya menjadi akhiran ampuh untuk memulai kembali persahabatan mereka. "Tidak apa-apa asal kamu baik-baik saja. Axa sudah menceritakan semuanya." Alea mengembangkan senyum mendengar Nika tidak marah padanya. Ada kelegaan luar biasa saat Nika tidak mempermasalahkan kebohongannya. Nika sendiri berusaha memahami bahwa saat itu Alea tidak punya pilihan selain menerima tawaran Orion dan yang lainnya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana hubungan kalian selanjutnya? Mau lanjut atau berhenti sampai di sini? Publik terlanjur mengenal wajahmu sebagai tunangan Orion Harasya Alexander. Wow!!!! Mimpi apa kamu bisa dapat cowok setampan dan setajir Orion." Oceh Nika.


"Alah kamu sedang meledekk? Dia sendiri bagaimana? Pacaran dengan Axalio Satya. Asisten CEO yang jadi incaran banyak wanita." Dua wanita itu tertawa cekikikan. Menertawakan nasib baik yang datang pada mereka tanpa mereka sangka.


"Berarti Orion ada di tempatmu? Pantas saja dia tidak ngantor beberapa hari ini. Ngurusin tunangannya yang kabur ke dunia nyata to." Tawa pecah di meja Alea. Keduanya kembali terpingkal-pingkal mengenang nasib mereka.


"Apa kamu tahu kalau Orion sudah pergi ke rumahmu?" Uhuukkk, Alea tersedak minumannya sendiri.


"Bagaimana bisa?" Selanjutnya Nika yang bercerita soal Orion yang mencarinya sampai ke rumah ayah dan ibunya.


"Kamu keterlaluan Al!" Komen Nika di akhir cerita. Nika sendiri bisa melihat keseriusan di mata Orion untuk Alea, sang sahabat. Alea bungkam seribu bahasa mendengar kritikan Nika padanya.


"Buka hatimu untuknya. Dia sungguh-sungguh padamu."


Sampai satu pesan masuk ke ponselnya. "Aku kembali dulu. Ada urusan penting. Hati-hati di sana. Jaga kesehatanmu. Aku akan segera kembali. Saat itu aku akan menemui orang tuamu."


Alea terduduk lemas di sofa. Baru kali ini dia merasa kehilangan saat Orion tidak ada di sampingnya. Ada sesuatu yang hilang di hati Alea saat tidak melihat Orion. "Aku ingin melihatmu." Gumam Alea lirih, merebahkan diri di sofa, Alea tiba-tiba kehilangan semangat hidupnya.


**


**


"Hasil tes DNA sudah keluar. Kita akan melakukannya malam ini. Maaf jika aku bertindak tanpa sepengetahuanmu."

__ADS_1


Satu pesan dari Felix membuat Orion segera memacu mobilnya kembali ke ibu kota. Jalanan mulai padat saat memasuki kota. Orion sendiri sudah menerima salinan hasil tes DNA tersebut via e-mail. Dan hasilnya sesuai prediksinya.


"Pastikan kau membawa mereka dengan selamat sampai kediaman Athaya. Kita bertemu di sana Malam ini kita adakan pertukaran."


Perintah Orion pada Axa dan An. Malam ini akan jadi akhir drama penyamaran delapan tahun orang tuanya.


**


**


Makan malam keluarga Athaya berlangsung seperti biasa. Meski sejak tadi wajah Darrel sudah tidak enak dipandang. Pun dengan suasana hati Darrel. Sangat buruk. Pria itu memandang penuh amarah pada dua orang yang tampak berbincang hangat.


"Sungguh menjijikkan!" Gumam Darrel pelan. Pria itu sudah ingin menghancurkan kantor Felix, saat Darrel membaca hasil tes DNA. Felix beberapa kali memperingatkan Darrel melalui tatapannya. Darrel hanya bisa mendengus geram, mati-matian menahan diri untuk tidak menerjang dua orang yang terlihat sangat menikmati makan malam mereka.


Makan malam berakhir saat terdengar dua mobil berhenti di depan rumah keluarga Athaya. Orion langsung menyambut Mario dan Meida yang tampak berkaca-kaca, melihat rumah mereka. Mereka tidak percaya bisa kembali ke rumah ini setelah delapan tahun berlalu. "Aku merindukan Felix dan Sera." Kata Meida antusias.


Saat itulah hati Orion merasa tercubit. Pria itu mengakui kalau kelalaiannya menjaga Sera adalah kesalahan terbesar yang pernah dia buat.


"Aku akan menebusnya. Malam ini akan kukembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kalian. Tapi untuk Sera, maaf."


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2