Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Kehilanganmu


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa, Alea?" An bertanya cemas, melihat wajah pucat sang atasan. Gadis itu tengah berbaring di sofa, setelah meminum obat. Alea menggeleng pelan sebagai jawaban. An dan Atika saling pandang. Jika sampai terjadi apa-apa pada Alea. Mereka berdua bisa mendapat hukuman dari Orion. Alea adalah prioritas mereka. Perlindungan ekstra Orion berikan pada gadis itu.


"Biarkan aku istirahat sebentar. Nanti juga akan membaik." Alea berkata dengan mata terpejam. Rasa mual dan perih diperutnya membuat kepalanya pusing. Sekaligus ingin muntah.


Alea sudah melepas heels sepuluh sentinya. Dengan Atika yang sudah memberikan selimut untuk menutupi tubuh Alea. Mendengar perintah sang atasan, An dan Atika mengangguk paham. Keduanya keluar dari ruangan Alea, setelah An mengunci ruangan Alea dengan password yang hanya mereka berempat yang tahu.


"Biarkan dia istirahat. Pintunya akan terbuka oleh sensor tubuhnya." An berkata. Atika adalah salah satu anak buah Orion yang pria itu susupkan ke kantor. Asisten sekaligus bodyguard. Atika mengangguk paham dengan perintah An.


Satu jam berlalu, baik Axa dan Xuan maupun Orion sudah mendapatkan apa yang mereka minta. Ketiganya sedang dalam perjalanan kembali ke kantor.


Sementara itu tanpa An sadari, sesuatu terjadi di ruang kerja Alea. Gadis itu masih memejamkan mata, saat Alea merasakan sesak di dada. Ini aneh, dia punya maag tapi bukan asam lambung yang akan menimbulkan sesak jika kambuh.


"An....Atika. Kenapa ada asap di sini?" Alea setengah sadar bangun dari rebahannya. Gadis itu melihat sekelilingnya. Asap? Dari mana semua asap ini berasal? Alea beranjak dari sofa bed yang berada di sudut ruang kerjanya. Meraih ponselnya lantas menghubungi An atau Atika. Tidak diangkat.


Asap itu kian tebal, seolah kebakaran tengah terjadi. Tak berapa lama, alarm kebakaran di ruangan Alea berbunyi, namun tidak ada pancaran air yang keluar seperti biasa.


Alea mulai terbatuk-batuk. Gadis itu menghirup banyak asap. Di depan pintu ruang kerja Alea, An mencoba mendobrak pintu. Namun nihil. Password juga tidak berfungsi.


"Alea apa yang terjadi?" An bertanya panik. Meski An tahu kalau suaranya tidak mungkin di dengar oleh Alea. Ruangan itu kedap suara.


"Tenanglah. Aku akan mengeluarkanmu dari sana." An berucap cemas.


Di lobi Star Jewelry, Atika terlihat sangat panik. Gadis itu tahu kalau ruangan Alea akan sulit dimasuki. Dia takut terjadi hal buruk pada Alea. Dua mobil datang bersamaan dari arah berlawanan membuat Atika ingin melompat saking senangnya.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" Orion bertanya marah setelah menyerahkan set perhiasan yang baru saja dia ambil pada Atika. Sedang pencetak Black Rose langsung diantar oleh Axa ke tempat Vano.


"Buka pintunya Xuan!" Orion memberikan titah pada Xuan. Padahal Xuan sudah bergerak dari tadi. Rasa khawatir Orion begitu besar. Dalam hidupnya, belum pernah dia merasakan kecemasan seperti ini.


"Sial! Ada yang menyabotase sistemku!" Maki Xuan geram.

__ADS_1


"Hancurkan dia!" Perintah Orion langsung ditanggapi dengan senyum oleh Xuan. Pria itu sangat menyukai tantangan. Terlebih yang berhubungan dengan dunia cyber.


"Sorry Orion. Aku lengah." An berucap penuh permintaan maaf. Ketiganya ada di satu lantai di bawah ruang kerja Alea, dengan tangga penghubung di depan mereka.


"Gotcha!" Xuan berseru girang. Orion mencoba menghubungi Alea tapi gadis itu tidak menjawab panggilannya. Orion seketika mengumpat kesal. Baru ditinggal sebentar saja, sudah ada orang yang berani mengganggu Alea.


"Pintu tidak bisa dibuka menggunakan password. Jadi kita terpaksa mendobraknya." Info Xuan.


"Asapnya sudah memenuhi 70% ruangan Alea. Kita harus cepat." Xuan kembali menambahkan.


Empat pria itu langsung bersiap naik ke lantai Alea. Tap...tap...tap...bunyi langkah keempatnya menaiki tangga menuju ruangan Alea. Setelah sampai di depan pintu, keempatnya kembali saling pandang. Seolah memberi kode satu sama lain.


"Ingat, banyak asap dan alat pemadam kebakaran tidak berfungsi. Masuk, cari Alea. Mengerti?" Orion memberi instruksi. Yang lain mengangguk paham.


Braakkkkk


Braakkkkk


Pintu tebal itu bergeser.


Brraaakkkkkk


Kali ini dengan tenaga penuh ketiganya menghajar pintu di depan mereka. Pintu terlepas dari engselnya. Keempat pria itu menghambur masuk ke ruangan Alea, sembari memanggil nama gadis itu. Xuan yang menghubungi ponsel Alea, menemukan ponsel gadis itu di lantai karpet dekat jendela. Sepertinya gadis itu mencoba memecah kaca jendela. Namun gagal. Jelas saja tidak bisa, kaca jendela ruangan Alea adalah kaca anti peluru dengan ketebalan mencapai 30 mm.


"Alea!!!" Teriakan bersahutan membahana di ruangan yang dipenuhi asap tebal itu. Keempatnya mulai terbatuk. Padahal Xuan sudah mengaktifkan pembersih udara yang sistemnya sempat dihack.


"Brengsek! Siapa yang berani melakukan ini. Akan kukirim dia ke Sahara!" Maki Orion. Mereka mencari ke tiap sudut ruangan, tapi nihil. Mereka tidak menemukan Alea. "Mereka tidak mungkin menculiknya kan?" An berucap konyol.


"Jangan bicara aneh-aneh!" Bentak Orion. Keempatnya kembali mencari. Sampai Orion teringat satu hal. Pria itu berlari ke kamar pribadi Alea. Menyusuri tiap sudut ruangan itu. Sampai pria itu menemukan tubuh Alea bersandar di dinding, dekat jendela. Dengan kaca yang terbuka sedikit. Sehelai handuk basah menutupi hidung Alea.

__ADS_1


"Al...Alea....Alea!" teriak Orion panik. Wajah gadis itu pucat. Dengan tubuh tidak bergerak sama sekali. Orion beberapa kali mengguncang tubuh Alea. Jendela itu sudah Orion buka dengan sempurna, hingga udara bersih mengalir ke ruangan itu. Menggantikan asap yang masih ada di tempat itu.


Xuan dan yang lainnya mendekat ke arah Orion. Ikut melihat keadaan Alea. "Tim medis sedang dalam perjalanan."


"Rahasiakan ini semua." Semua mengangguk paham. Orion memindahkan tubuh Alea ke ranjang. Sementara yang lain sigap membuka jendela di seluruh ruangan itu. Orion naik ke atas ranjang. Jas pria itu sudah tergeletak di samping Alea. Menyisakan kemeja hitam yang kini tengah Orion gulung sampai ke siku.


Pria itu menatap wajah Alea, pucat. Masker handuk itu perlahan Orion pindahkan. "Bangunlah." Bisik Orion lirih, detik berikutnya bantuan CPR mulai Orion berikan. Gadis itu harus bernafas kembali sebelum mendapatkan pertolongan dari pihak medis.


Sekali, tidak ada respon. Pria itu mengulanginya lagi. Menyalurkan oksigen melalui mulut Alea. Tubuh Alea masih bergeming.


"Ayolah Al! Masak kau mau menyerah begitu saja!" Geram Orion diantara ketakutan yang melanda hatinya. Yang lain hanya bisa menatap cemas pada Alea. Udara sudah bersih 60%.


Sekali lagi Orion memberi bantuan CPR. Kali ini dengan durasi agak lama. Semua berharap cemas pada Alea. "Alea, bangunlah!" Orion berteriak sembari menatap wajah Alea.


Hening untuk beberapa saat, sampai suara batuk terdengar, membuat semua orang menarik nafas lega. Alea membuka mata, melihat Orion yang berada tepat di atas tubuhnya. "Minggir!" Meski lirih, tapi suara Alea cukup membuat Orion tersenyum.


"Kau hampir membunuhku!"Orion melemparkan tubuhnya ke samping Alea. Membiarkan tubuhnya terbaring di sana. Hal itu bersamaan dengan tim medis yang masuk ke kamar Alea. Memberikan pertolongan pertama berupa masker oksigen. Alea kembali memejamkan mata. Membiarkan orang-orang itu mulai bekerja. Memasang saturasi, bahkan satu buah infus sudah dipasang mengingat maag Alea yang baru saja kambuh.


"Anda cerdas sekali. Masker handuk adalah cara paling efektif untuk menyaring asap kebakaran." Seorang petugas medis memuji Alea. Di samping Alea, Orion kembali tersenyum.


"Tidak tahu apa yang aku rasakan. Tapi aku sangat takut kehilanganmu." Batin Orion, memandang Alea yang kini benar-benar terlelap karena pengaruh obat tidur.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2