Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Hubungan Gila


__ADS_3

Pagi menjelang, saat Alea merasakan sesuatu bergerak di atas tubuhnya. Lebih tepatnya di atas bibirnya. Sesuatu yang begitu lembut dan membuat tubuh Alea meremang. Benda itu ******* bibirnya dengan lembut, sesaat Alea terbuai, lalu tanpa sadar membalas gerakan tersebut. Alea pikir tengah bermimpi, hingga tidak apa-apa melakukan hal itu. Untuk beberapa waktu Alea begitu menikmati "mimpi gilanya" itu.


Hingga aroma parfum yang mulai dia kenal merasuk ke hidungnya. Mana mungkin orang bermimpi tapi aroma parfumnya tercium begitu nyata. Gadis itu seketika berusaha membuka matanya. Mata bulat Alea membelalak melihat siapa yang tengah berada di atasnya.


Alea dengan cepat mendorong tubuh orang yang tidak lain adalah Orion. "Kau bangun?" tanya Orion santai. Pria itu hanya menghentikan pagutannya pada bibir Alea, tapi masih dengan bibir menempel pada milik Alea.


"Apa yang kau lakukan ha?" Alea berteriak marah. Dia ingin menikmati hari liburnya dengan bangun siang, tapi Orion justu mengganggunya. Bukannya beralih dari tubuh Alea, pria itu hanya menjauhkan bibirnya dari Alea.


"Apalagi? Ini yang disebut morning kiss." Balas Orion santai. Pria itu tidak bergeming dari atas tubuh Alea yang rupanya tidur tanpa mengganti handuk kimononya.


"Brengsek! Menyingkir dari atas tubuhku!" Alea menggeliat, berusaha menghindari tindihan tubuh Orion yang lama-lama bisa membuatnya gila. Bukannya pergi, Orion malah menyeringai. Gerakan Alea berhasil memancing hasrat pria itu, yang selama ini jarang sekali merespon pada wanita.


Bahkan saat masih bersama Sera, sepuluh tahun mengenal Sera tidak membuat sisi kelelakian Orion bangkit dan bergejolak seperti saat ini.


"Damn! Dia membangunkannya." Umpat Orion dalam hati. Meski begitu dirinya senang karena akhirnya menemukan gadis yang bisa membuat gairahnya membara.


"Kalau aku tidak mau? Bukankah kita akan bertunangan sebentar lagi, lalu menikah."


"Ciiihh, siapa yang mau menikah denganmu? Pria galak, gak peka. Gak punya hati. Tukang maksa."


Habis sudah semua makian keluar dari bibir Alea yang baru saja Orion nikmati. "Pandai sekali kau mengumpatku. Belum kapok aku cium?"


Pria itu kembali menyerang bibir Alea, kali ini ciuman Orion begitu menuntut. Alea dengan cepat berusaha mendorong tubuh Orion menjauh. Namun pria itu dengan sigap menahan dua tangan Alea di atas kepala gadis itu. Alea berontak, meronta, berusaha mencari jalan lari dari tindihan tubuh Orion. Terlebih ciuman Orion mulai membuat Alea kewalahan.


"Gila! Orang ini bisa buat aku lupa diri!" Alea memaki dirinya yang hampir saja terbuai dalam permainan bibir Orion yang begitu memabukkan.


"Orion berhenti! Aku kehabisan nafas." Suara Alea teredam di antara bunyi decapaaan dan hisapaan yang Orion lakukan. Pria itu mulai menggila. Sampai gigitan dari Alea membuat pria itu mengumpat marah.

__ADS_1


"Ohhhh shittttt!" Orion tanpa ragu mengumpat di depan Alea. Dua orang itu saling pandang dengan nafas memburu.


"Stoopp!!!!" Alea berteriak saat Orion kembali menurunkan wajahnya, hendak menciumnya lagi.


"Kau ini gila atau apa sih? Sudah kubilang, jika kau ingin bermain dengan perempuan, cari satu sana. Kau bisa bermain dengannya sampai pagi atau selama apapun yang kau suka. Tapi aku bukan wanita murahan yang bisa saja kau tiduri....mmmmpphhh...Orion!!!!"


Alea berteriak marah, saat Orion kembali menciumnya. "Berisik tahu! Kau ngomel sekali lagi aku pastikan kau habis pagi ini!" ancam Orion. Pria itu masih mengungkung tubuh Alea. Penampilan keduanya sama-sama berantakan. Kemeja putih yang Orion pakai sudah terbuka beberapa kancingnya. Sekilas menampilkan dada bidang yang membuat Alea menelan salivanya susah payah. Dada berotot disusul deretan abs yang begitu sempurna, menunjukkan sisi maskulin dari seorang Orion.


"Menyingkir dari tubuhku! Kau berat tahu!"


"Tidak mau! Ini hukuman karena kau mengabaikan panggilanku semalam." Ceplos Orion tanpa sadar. Alea seketika membulatkan mata. Gadis itu mencoba meraih ponsel yang ada di nakasnya. Susah payah, dia melakukan itu karena Orion belum beranjak dari atas tubuhnya.


Alea menunjukkan ponselnya yang mati karena kehabisan baterai. "See, aku tidak tahu kau menghubungiku. Lagian ngapain kau meneleponku malam-malam? Orion membuatku sesak!" Alea berteriak kesal. Jika tadi Orion masih menggunakan dua tangannya untuk bertumpu, sekarang tidak. Dada bidang pria itu telah menekan dada kenyal miliknya.


"Gila! Tubuhnya langsing tapi aset depannya lumayan besar." Batin Orion semakin frustrasi.


"Cium aku, baru aku lepaskan," tantang Orion.


"Ssstttt, berhenti bergerak! Kau membangunkannya." Bisik Orion di telinga Alea. Mata Alea membulat. Dia tahu benar maksud Orion. Sebab Alea pernah terjebak di ruang kesehatan kampusnya dengan sepasang kekasih yang memanfaatkan ruangan itu untuk bercinta. Setengah jam yang membuat Alea rasanya ingin muntah sekaligus merinding, panas dingin. Dan kini Alea merasakan bagaimana itu terjadi padanya. Meski Orion hanya menciumnya, tapi tubuh Alea benar-benar menikmati sentuhan pria itu.


"Maka menjauhlah dariku!" desis Alea penuh peringatan. Satu sudut bibir Orion tertarik. Pria itu tahu Alea juga menikmati ciumannya mereka pagi itu. "Kenapa? Bukankah kau juga menikmatinya?" Orion bertanya sembari membelai wajah Alea. Mulai dari pipi, lalu turun ke leher, hingga berakhir di dada gadis itu. Pria itu menatap dada mulus Alea yang sebagian sudah terbuka, menampilkan kulit bersih tanpa cela milik Alea yang begitu menggoda. Ingin sekali Orion mencicipi bagaimana rasa bagian itu.


"Berhenti menggangguku!" Lagi satu peringatan Alea berikan.


"Kalau aku tidak mau?" satu jawaban penuh tantangan Orion ucapkan.


"Kau!" Detik berikutnya, satu desahannn lolos saat Orion menciumi dada Alea. Sikap pria itu berubah dalam dua hari hari terakhir. Karakter Alea membuat Orion tertarik. Ditambah ternyata Alea memiliki tubuh seksi yang membuat Orion semakin penasaran.

__ADS_1


"Orion brengsek!" Maki Alea tanpa ragu, saat pria itu menciumi lehernya, hingga membuat tubuh Alea merinding disko.


*


*


"Kau tidak boleh menyerah begitu saja!" Teriakan Mikaila menggema di sebuah kamar kedap suara di sayap kiri rumah keluarga Athaya. Bagian yang cukup jauh dari rumah utama di mana Alea dan Beni tinggal.


"Tapi aku muak dan lelah dengan semua ini, Ma. Bukankah sudah cukup kita punya Star Construction. Itu sama besarnya dengan Star Jewerly!" Suara Darrel sama kerasnya dengan sang mama.


"Kau tidak tahu SJ sangat penting untuk Mama!"


"Kalau begitu Mama sendiri saja yang rebut sana! Aku sudah tidak tahan dengan semua ini!" Darrel keluar dari sana sambil membanting pintu.


"Darrel! Darrel! Dasar anak tidak tahu terima kasih!" Maki Mikaila. Wanita itu terlihat begitu marah. Bagaimanapun, dia ingin Star Jewelry menjadi miliknya. Rahang Mikaila mengeras menahan amarah.


"Jangan marah, itu tidak baik untuk kesehatanmu." Satu suara membuat amarah Mikaila menguap entah ke mana. Terlebih setelah sepasang tangan memeluk Mikaila dari belakang.


"Kau ke sini? Bagaimana jika dia tahu kau menemuiku?" tanya Mikaila sambil memejamkan mata, kala pria itu mulai menciumi lehernya.


"Dia tidak tahu aku ada di sini. Lagi pula dia sekarang sibuk dengan butiknya. Aku merindukanmu." Bisikan pria itu, membuat Mikaila tersenyum. Wanita itu membalikkan badannya. Ditatapnya wajah pria yang seharusnya menjadi iparnya. Namun beberapa tahun terakhir ini bukan status ipar yang mereka sandang. Tapi partner ranjang.


Ya, Mikaila dan ayah Sera, Mario menjalani hubungan terlarang beberapa tahun terakhir ini. Tanpa rasa bersalah keduanya sering melakukan hal yang tidak pantas yang seharusnya tidak terjadi. Perceraian Mikaila lima belas tahun lalu membuat wanita itu kesepian. Dan kehadiran Mario menarik perhatian Mikaila. Lalu hubungan itu mulai terjadi. Seperti saat ini, ketika Mario tengah menikmati tubuh Mikaila dari arah belakang. Benar-benar gila kedua orang itu.


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2