Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Frustrasi


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Alea menggerakan tubuhnya pelan. Matanya masih terpejam, tapi panggilan alam memaksanya untuk membuka mata. "Mau kabur?" Alea mengangkat wajahnya, saat itu baru dia sadar kalau dia tidur dipeluk Orion. Pria itu kurang kerjaan sekali pakai acara mengikat dirinya segala. Dia pikir dirinya hewan peliharaan atau apa, yang harus diikat agar tidak lari.


Sesaat Alea merasakan ketenangan saat mencium aroma tubuh Orion. Sejak kemarin, wanita itu tidak merasa mual. Apa ini ada hubungannya dengan kehadiran Orion.


"Kamar mandi." Sengal Alea. Rasanya sudah diujung, bisa-bisa dia ngompol kalau begini caranya. Orion memicingkan mata, memastikan kalau Alea tidak berbohong padanya. "Buruan lepasin. Kamu pikir aku kambing apa? Pakai acara diikat segala." Protes Alea pada akhirnya.


"Makanya jangan hobi main petak umpet aja. Ini masih mending aku ikat pakai dasi. Kalau kamu kabur lagi. Aku borgol tanganmu." Ancam Orion.


"Borgol aku masih bisa lari." Tantang Alea sambil berjalam terseok-seok ke kamar mandi. Kakinya kesemutan terlalu lama ditekuk.


"Aku borgol tanganmu sama tanganku." Teriak Orion karena pintu kamar mandi sudah Alea tutup. Alea selesai dengan hajatnya. Bukannya keluar kamar mandi. Wanita itu justru duduk di atas kloset. Melamun. Sekarang apa yang harus dia lakukan?


Orion yang tidak sabaran serta masih menaruh curiga pada Alea berdiri di depan kamar mandi. Menunggu Alea keluar dari tempat itu.


"Al...Alea...sudah selesai atau belum." Orion mengetuk pintu kamar mandi. Takut kalau Alea kabur lagi. Tidak ada jawaban. Orion merangsek masuk ke dalam, ternyata Alea tidak menguncinya.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Orion heran.


"Ngantuk tahu." Balas Alea lirih. Orion lantas menggendong Alea yang kali ini tidak melawan. Wanita itu justru mengalungkan tangannya di leher Orion.


"Makan dulu, aku beli makanan tadi. Ada microwave kan, akan kupanaskan." Kata Orion ingin mendudukkan Alea di sofa. Alea hanya diam, sambil memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di dada Orion.


"Al....."

__ADS_1


"Aku benci padamu." Gumam Alea. Entah sadar atau tidak. Orion memutar matanya jengah mendengar ucapan Alea. Bosan dia mendengar kata-kata itu. "Kamu gak marah aku bilang benci padamu?"


"Siapa juga yang percaya ucapan wanita yang lain di hati lain di mulut, sepertimu." Dua orang itu saling tatap. Jengkel sekali Alea mendengar jawaban santai dari Orion. "Aaarrgghhh, ngapain sih hobi banget gigit pundak aku." Orion meringis kala Alea menggigit bahu Orion. Bekas biru malam itu saja belum lama hilang, dan ini Alea sudah membuat tanda baru.


"Ngeselin! Kenapa kamu gak nyari yang lain aja!"


"Aku maunya kamu!"


"Aku matre!"


"Kamu minta apa? Coba bilang! Aku berikan!" tantang Orion. Urusan duit lagi yang Alea ributkan. Alea diam tidak menjawab. Kembali keduanya saling pandang. Tidak, Orion tidak marah dengan ucapan Alea. Dia tahu benar bagaimana sifat wanita itu.


"Mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mewah...." gumam Alea pelan. Bercanda, sebab dia sudah pernah merasakan itu semua.


"Aku punya itu semua. Hartaku tidak akan habis tujuh turunan, tujuh belokan, tujuh tanjakan dan tujuh gajlugan."


Alea meledakkan tawa, mendengar jawaban Orion. "Kamu koruptor ya?" tuduh Alea.


"Bohong saja." Potong Alea cepat. Wanita itu meminta turun dari gendongan Orion. Alea juga mengangguk saat Orion memanaskan makanannya. "Aku tidak cinta padamu." Kata Alea pada akhirnya.


Lagi, Orion sama sekali tidak tersinggung ataupun marah karena ucapan Alea. Satu lagi pria sabar yang diciptakan oleh author 🤣🤣


"Kamu tidak marah aku bilang tidak cinta padamu?"


"Kenapa harus marah? Asal kamu tidak membenciku. Aku bisa menumbuhkan rasa cinta di hatimu." Orion berjongkok di hadapan Alea yang seketika memalingkan wajah mendengar ucapan manis dari bibir Orion. Harus Alea akui, sikap tenang Orion saat menangani sifat keras kepalanya juga sikap sesuka hatinya mulai membuat hati Alea luluh. Meski sampai sekarang masih ada satu hal yang membuat gadis itu tidak terima. Ulah Orion yang menidurinya malam itu. Hal itu masih menyisakan kesal di hati Alea.


"Lihat aku....."

__ADS_1


"Tidak mau!" tolak Alea, dia takut kalau sikap Orion yang kini lembut padanya, akan meruntuhkan benteng yang sudah susah payah dia bangun, untuk menangkis pesona pria yang sangat kejam padanya di awal perjumpaan mereka.


Orion gemas, tanpa ragu pria itu menarik tengkuk Alea, lantas mencium bibir wanita yang kerap kali membuat hatinya melompat-lompat tidak karuan seperti sedang menaiki rollercoaster.


Alea mendorong bahu Orion, berusaha menolak ciuman pria itu. Namun bukannya menjauh, Orion justru menekan tengkuk Alea dalam. Alhasil wanita itu membuka mulutnya karena hidung Orion menutupi hidungnya. French kiss pun jadi hal berikutnya yang terjadi. Kali ini Alea tidak lagi mampu menolak. Wanita itu mulai menikmati permainan lidah Orion.


"Lihat, kau tidak membenciku. Tapi kau hanya belum sadar kalau kamu juga punya rasa padaku. Kamu mulai jatuh cinta padaku." Ujar Orion penuh kemenangan.


"Tidak seperti itu kejadiannya. Aku hanya terbawa suasana." Sanggah Alea. Orion berdecak pelan. Masih saja menyangkal. Pria itu lalu pergi ke dapur menyiapkan makanan mereka.


Di sisi lain, Darrel terlihat begitu kacau. Pria itu sudah menenggak alkohol berbotol-botol. Mabuk, Darrel meracau tidak karuan. Sibuk memaki dalam keadaan setengah sadar. Felix yang mendengar ocehan Darrel lama-lama pusing dibuatnya.


"Dasar wanita murahan! Aku pikir kau setia! Nyatanya kau sama saja dengan perempuan lain di luar sana!" maki Darrel sejak tadi.


"Siapa sih yang dia maki?" tanya Felix pada asisten Darrel. Si asisten jadi serba salah. Mau cerita atau tidak ya.


"Kenapa juga kau malah main dengan ayah Felix? Dia itu iparmu!" Tambah Darrel. Kali ini Felix kepo luar biasa. Siapa yang tengah di omeli oleh Darrel.


"Tuan mau ke mana?" asisten Darrel bertanya saat Felix keluar dari ruang itu.


"Toilet!" jawab Felix asal. Lah padahal toilet ada di ruangan itu. Namun Felix tidak pergi ke toilet. Tapi pria itu pergi ke ruang sebelah, Felix kepo dengan racauan Darrel soal perempuan yang tengah bermain dengan Abraham. Kesempatan itu datang saat seorang pelayan masuk mengantarkan minuman.


Felix menyelinap masuk. Setelah pelayan itu keluar lagi, baru Felix mengintip apa yang terjadi di dalam ruangan itu.


"Astaga, pantas saja Darrel frustrasi. Ternyata mamanya sendiri yang ada main dengan Abraham." Felix membatin sambil memandang jijik pada apa yang tengah terjadi di depan matanya. Dua orang tengah bercinta dengan panas di sofa.


****

__ADS_1


Up lagi readera. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****


__ADS_2