Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Bekerja Sama


__ADS_3

Orion membalikkan badan, namun suara yang tadi dia dengar sudah hilang. Pria itu melihat kiri dan kanan, mencari sumber suara. Dilihatnya seorang wanita berjalan menjauh dari lobbi, melalui jalan setapak di antara lobbi dan sebuah toko.


Orion terus memperhatikan wanita itu, siluet tubuhnya serasa tidak asing untuknya. Orion baru akan berteriak memanggil saat wanita itu menekan tombol lift. Melihat lobi sepi, Orion menerobos masuk. Hanya beberapa detik dengan langkah lebarnya Orion berhasil menyusul wanita itu. Pintu lift hampir tertutup saat Orion menerjang masuk. Bola mata Alea membulat melihat siapa yang masuk ke dalam lift.


Tiga hari tidak bertemu membuat rasa rindu membuncah di dada Orion. Tanpa kata pria itu langsung mendorong tubuh Alea ke dinding lift, dengan satu tangan berada di belakang kepala Alea. Menahan benturan yang mungkin terjadi. Orion lantas mencium bibir Alea. Satu perasaan lega menyusup ke dalam hati Orion. Alea mendorong bahu Orion, berusaha lepas dari pria itu. Namun Orion dengan cepat menahan tangan Alea ke dinding lift.


"Brengsek!" maki Alea begitu Orion melepaskan ciuman paksanya.


"Maki saja semaumu. Setelah ini jangan harap kau bisa lepas dariku." Orion menatap dalam wajah Alea. Tangan Orion terulur mengusap pipi Alea. Sesaat gadis itu mengelak, tapi itu tidak bertahan lama. Apalagi setelah jari Orion mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman tadi.


"Aku merindukanmu." Kata Orion lirih.


**


**


"Pergi sana!" Usir Alea pada Orion yang terus mengekornya. Kemanapun kaki Alea melangkah, ke sanalah Orion menyusul. Wanita itu berpikir untuk menghabiskan tiga hari di sana. Tapi kemunculan Orion merusak kesenangannya. Namun begitu ada sejumput rasa bahagia saat Orion ada di depannya. Mulai cintakah Alea pada Orion?


"Lakukan saja apa yang kamu mau. Aku tidak akan mengganggu." Balas Orion santai.


"Kehadiranmu menggangguku. Duuhh kenapa sih aku tidak bisa lari dari orang ini." Keluh Alea dalam hati. Tadinya Alea ingin membeli bahan untuk memasak capcay. Namun selera makannya hilang sudah.


"Kenapa tidak mau pergi ke Milan? Bukannya kamu sangat ingin ke sana."


"Gak mood." Sahut Alea. Melihat sikap cuek Alea, Orion tahu dia berbuat salah.


"Katakan jika aku berbuat salah. Kamu tahu kan tujuan kami mengirimmu ke sana." Orion mencekal tangan Alea. Pria itu kembali menatap dalam wajah Alea. Cinta, rasa itu yang pasti Orion punya dalam hati untuk Alea. Dan Orion yakin kalau Alea juga punya hal itu.

__ADS_1


"Jika kau terus memikirkannya, berarti dia juga tengah memikirkanmu. Jika kau mencintainya, maka ada kemungkinan dia juga merasakan hal yang sama."


"Tidak ada yang salah. Aku hanya ingin sendiri. Healing, lalu...."


"Kembali ke kampus dan jadi pekerja paruh waktu." Potong Orion cepat.


Alea menghela nafasnya. "Pilihan apa lagi yang ku punya. Itu adalah kehidupanku yang sebenarnya. Sudah waktunya aku bangun dari khayalanku. Menggantikan Sera hanyalah mimpi buatku." Bisa Orion lihat, kegundahan dalam diri Alea.


"Kamu bisa tetap berkhayal dan berada di alam itu, jika kamu bersamaku. Mimpi apa yang ingin kamu jelajahi. Beritahu aku, aku akan mewujudkannya untukmu."


Alea tertawa sinis. Tidak percaya dengan apa yang Orion katakan. "Dahlah, jangan dibahas lagi. Kepalaku jadi pusing." Alea menyentuh pelan kepalanya. Hari mulai gelap, dia pikir akan memesan delivery order saja malam ini. Dan besok dia akan pergi dari sini. Terserah jika Orion masih ingin tinggal di tempat itu.


"Ehhhh, turunkan aku!"


"Kamu tampak lelah. Apa kamu begadang beberapa hari ini?" tanya Orion santai. Mengabaikan kaki Alea yang seperti biasa bergoyang-goyang jika dia gendong.


"Villamu yang mana?"


"Kalau begitu kita buka villa baru."


"Orion!!!" Alea kesal sekali dengan sikap seenaknya dari Orion.


**


**


Waktu makan malam datang, keluarga Athaya minus Alea melakukan santap malam seperti biasa. Meski Beni masih sedih soal keputusan Alea untuk kembali ke Milan, tapi dia bisa apa. Waktu Beni memanggil Sera pulang, gadis itu tinggal selangkah lagi meraih gelar S2-nya. Jadi dia tidak bisa mencegah sang cucu saat pendidikan dijadikan alasan untuk kembali ke sana.

__ADS_1


Namun setidaknya kini Felix ada di rumah ini. Mengira kalau Felix sudah meninggal, pria itu diberi kejutan yang luar biasa di usia senjanya. Cucunya pulang dalam keadaan sehat. Sungguh satu keajaiban bagi keluarga Athaya.


Dalam makan malam itu, tampak Darrel beberapa kali mencuri pandang ke arah Mario dan Meida. Paman dan bibinya. "Siapa yang palsu di antara mereka." Batin Darrel kepo. Sekilas tidak ada yang berbeda dari kedua orang itu. Hingga Darrel menyadari kalau Mario menggunakan tangan kirinya saat makan. Seingat Darrel sang paman tidak kidal. Yang kidal sang bibi. Lah Meida justru makan seperti biasa menggunakan tangan kanannya.


Satu hal mulai membuat Darrel waspada. "Mereka memang mencurigakan." Batin Darrel. Tanpa Darrel tahu, aksinya itu ditangkap oleh mata Felix. Satu sudut bibir pria itu tertarik. Dia merasa punya sekutu di rumah ini.


Selepas makan malam, Felix menyusul Darrel ke ruang kerja pria itu. Darrel, saat Felix pergi pria itu hanya seorang remaja introvert yang tidak suka berteman. Teman Darrel hanya dirinya, Sera, Vano dan Valdy. Juga Xia Lin yang terkadang datang untuk bermain.


"Ada apa? Aku tidak melakukan apapun." Tanya Darrel melihat Felix yang langsung duduk di hadapannya.


"Kalau begitu kau melakukan sesuatu." Darrel berdecak kesal mendengar tuduhan Felix


"Kau selalu menyebalkan!" Maki Darrel. Felix tertawa mendengar umpatan Darrel. Pria itu sudah tumbuh jadi seorang pria dewasa. Felix tentu tahu track record Darrel yag suka main perempuan.


"Kau pun sama. Lebih suka hura-hura dari pada bercerita." Balas Felix on poin.


"Sudahlah jangan dibahas. Apa yang kau inginkan? Sudah kukatakan aku tidak melakukan apa-apa," tegas Darrel lagi. Dia sungguh bosan selalu dituduh jadi biang kerok beberapa kejadian yang tidak dia lakukan. Satu hal yang membuat Darrel sebenarnya muak berada di rumah itu.


"Aku tahu. Tujuanku ke sini adalah ingin mengajakmu bekerja sama." Darrel memicingkan mata mendengar kata kerja sama terucap dari bibir Felix.


"Maksudmu?"


"Dua orang itu. Mari selidiki siapa mereka sebenarnya. Aku kira, kau dan aku punya pikiran yang sama."


Darrel memandang wajah Felix. Kakak Sera itu terlihat serius ingin menyelidiki soal orang tuanya sendiri.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Sudah selesai baca? Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2