
Alea memeluk satu persatu anggota keluarga Athaya, meski itu hanya basa basi. Beni jelas jadi yang paling sedih. Baru berkumpul sebentar sudah berpisah lagi. Meski Felix menjelaskan kalau Alea ke sana untuk menyelesaikan studinya yang tertunda, sekalian liburan. Felix meyakinkan kalau Alea akan kembali.
Wajah penuh kepura-puraan jelas ditunjukkan oleh Mikayla, wanita itu tidak bisa menutupi rasa sukanya akan kepergian Alea. Sedang Darrrel, entahlah. Beberapa waktu belakangan ini hubungan keduanya membaik. Keduanya sering terlibat saling ledek saat di green house. Rupanya Darrel sering menghabiskan waktunya di sana jika tidak sibuk. Hal itu tertangkap basah oleh Alea. Hingga pria itu jadi bahan ledekan oleh Alea. Bahkan ancaman Darrel yang akan menyeret Alea kembali ke atas ranjangnya tidak membuat gadis itu takut.
"Jangan kesepian lagi. Cari cewek yang banyak." Ledek Alea.
"Ciiihhhh!! Siapa kau berani menasehatiku." Alea terdiam mendengar perkataan Darrel. Memang benar apa yang dikatakan pria itu.
"Benar sih, aku bukan siapa-siapa." Hati Darrel seketika tercubit saat Alea berlalu dari hadapannya.
"Eh...tunggu!" Darrel memberikan satu paperbag kecil yang sejak tadi dibawanya. Setelahnya, Darrel berlalu pergi tanpa menunggu Alea masuk check in. Mata Alea berkaca-kaca, Darrel sebenarnya hanya kesepian, terlalu takut pada sang ibu. "Terima kasih!" Alea berteriak, dan hanya lambaian tangan Darrel yang menjadi jawabnya.
Di hadapan Alea kini ada Vano, satu pria yang selalu memancing kecemburuan Orion. Pria itu terdiam tanpa bicara. "Lihatlah Xia Lin, dia sangat menyukaimu, meski suka oleng kanan kiri." Alea berkata sambil melihat ke arah Orion. Pria itu balik memandang Alea dengan tatapan menantang.
Tanpa menunggu jawaban Vano, Alea berlalu dari depan pria itu setelah menepuk pelan lengan Vano. "Maaf." Alea menghentikan langkah mendengar ucapan Vano.
"Tidak ada yang perlu di maafkan." Alea memeluk ayah, ibu, kakek dan....Felix sebelum masuk ke area check in. Sementara Atika sudah menangis dalam pelukan An, permintaannya untuk menjaga Alea selama di Milan ditolak mentah-mentah oleh Orion. "Maria yang akan menjaga Alea selama di sana. Dia akan berada di bawah perlindungan Sebastian Vincent Arturo."
Lambaian tangan Alea menjadi salam perpisahan untuk semua. "Selamat tinggal." Alea berbalik cepat. Menyusul Orion yang sudah menunggu di pintu check in. Alea salah perhitungan, ternyata Orion mengantarkannya sampai boarding pass area, bahkan akan ikut menunggu di ruang tunggu, sampai pesawat berangkat.
__ADS_1
"Nangis?" Ledek Orion. Pria itu pikir apa yang harus ditangisi, Alea pergi tidak lama, tidak akan sampai setengah tahun. Selama waktu itu, Orion pastikan kalau dia dan Felix akan menyingkirkaan masalah dari rumah keluarga Athaya.
"Gaklah. Ingat ya, aku benci sama kamu!" Alea kembali menegaskan perasaannya sendiri. Sengaja membetengi hati agar dia tidak kesakitan jika suatu hari nanti, dia benar-benar tidak bisa melihat Orion lagi.
"Astaga! Masih marah karena malam itu. Dengarkan aku Alea, aku minta maaf. Sungguh, aku akui aku salah. Tapi aku pastikan aku akan bertanggungjawab. Aku akan menikahimu setelah masalah ini selesai." Pria berkata sambil memegang dua lengan Alea. Sejenak keduanya saling tatap.
"Bullshittt!!" Alea menepis dua tangan Orion yang menahannya. Dia benar-benar takut kalau dirinya jatuh dalam pesona seorang Orion.
"Jangan percaya! Jangan percaya!" Alea merapalkan doa dalam hati. Orion menghembuskan nafasnya pelan. Merasa putus asa, bagaimana lagi dia harus membujuk Alea. Pria itu mengikuti Alea yang sudah masuk proses boarding. Mengekor di belakang Alea, Orion menunjukkan ID khusus pengantar, hingga pria itu bisa mengantar Alea sampai ruang tunggu.
"Al....Alea tunggu." Orion mendudukkan diri di samping Alea. Pria itu menghembuskan nafas kasar, melihat Alea yang membuka hadiah dari Darrel, sebuah gelang. Cantik sekali, hingga Alea langsung memakainya.
"Aku tahu." Balas Alea cuek. Gadis itu melepas cincin pertunangannya. "Semua selesai, jadi lelucon konyol ini juga selesai." Alea mengembalikan cincin itu pada Orion.
"Apa maksudmu?" Orion bertanya heran. Melihat cincin dalam genggaman tangan Alea.
"Sudah kubilang kan kalau semua sudah usai, jadi peran penggantiku selesai. Juga pertunangan kita." Alea menunduk saat mengatakan semua sudah berakhir. Ada rasa sesak dan sakit di hati gadis itu.
"Siapa yang bilang semua selesai. Pertunangan kita nyata. Aku mau bertunangan denganmu, bukan karena alasan lain. Tapi aku memang menginginkannya. Karena aku mencintaimu." Alea mengangkat wajahnya, melihat Orion yang tengah menatap dirinya.
__ADS_1
"Sudahlah...."
"Pertunangan kita akan berlanjut sampai kita menikah. Dengarkan aku, aku sungguh-sungguh dengan perasaanku. Sampai di Milan, ada Maria yang akan menjemputmu. Kamu akan tinggal di rumahku, sampai aku atau Felix yang menjemputmu. Selain kami, kamu tidak boleh ikut."
"Jangan ngawur kamu!" Alea kembali menjatuhkan hatinya yang hampir melayang tinggi mendengar ungkapan manis dari Orion. Detik berikutnya pria itu menarik tangan Alea, hingga tubuh gadis itu merapat ke arah Orion. "Aku berani menjamin kalau aku bukan pria brengsek yang pergi setelah mengambil kehormatan seorang gadis. Meski aku khilaf waktu itu, tapi aku memang menginginkannya. Aku ingin kamu jadi milikku...seutuhnya."
Detik berikutnya, satu tangan Orion menekan tengkuk gadis itu, saat bibir Orion meraup manisnya bibirnya Alea untuk ke sekian kalinya. Sesaat Alea ingin berontak, melihat di mana mereka berada. Meski berada di ruang tunggu VIP, tetap saja mereka ada di tempat umum.
"Maafkan aku, aku mungkin tidak bisa menunggu. Karena aku memilih pergi. Ini akan jadi perpisahan untuk kita."
Air mata Alea tanpa terasa luruh, dia benar-benar dilema dengan perasaannya sendiri. Entah apa yang menyebabkan Alea mengambil keputusan ini.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1