
Dua hari berlalu, Beni sudah lebih dulu pulang ke rumah. Sedang Orion dirawat sehari lagi, akibat lukanya terbuka kembali. Takut infeksi, dokterpun meminta Orion tinggal satu hari lagi. Ngamuklah si Orion. Dia sudah sangat bosan di rumah.
"Makanya kalau disuruh diam itu nurut!" Galak Alea. Orion langsung mengkeret mendengar gertakan Alea.
Tinggal keduanya di ruang rawat Orion. Karena Orion juga, Alea kembali tidak masuk kuliah. Dan selama itu wanita itu jadi lupa dengan kehamilannya. Pasalnya dia tidak mengalami mual dan muntah lagi. Bagus sekali.
Felix sendiri jadi sibuk sejak dia bertemu Tessa kembali. Pria itu bersedia menjadi investor di bengkel ayah Tessa, satu hal yang membuat ayah Tessa heran. Siapa pria tampan dan terlihat kaya yang datang menggandeng tangan sang putri.
Di hadapan ayah Tessa, Felix menceritakan kalau dialah kekasih Tessa yang selama ini disembunyikan oleh gadis itu. Sandiwara mereka berhasil, ayah Tessa membebaskan Tessa untuk memilih pasangannya.
"Terima kasih sudah membantu." Kata Tessa malu-malu.
"Aku tidak membantu. Yang aku katakan benar. Aku ingin kamu jadi kekasihku, aku bahkan ingin menikahimu."
Tessa membulatkan mata mendengar ucapan Felix. Tidak percaya? Tentu saja. Dia merasa tidak pantas bersanding dengan Felix, terlebih setelah Tessa tahu siapa pria itu. Mereka beda kasta.
"Jangan ngawur kamu."
"Kenapa? Tessa apa kamu tahu, hanya kamu orang yang dekat denganku selama ini. Tahu diriku luar dalam. Aku ingin selamanya orang itu hanya kamu. Tidak mau yang lain."
Blusshhh, rona merah menyebar di wajah Tessa. Meski ucapan Felix terdengar kaku, tapi dia tahu Felix berusaha keras melakukan itu. Felix jelas bukan pria yang bisa bersikap manis pada orang lain.
"Mau ya?" todong Felix.
Ha? Yang tadi itu serius? Tessa tentu tidak bisa menjawabnya. "Aku tidak tahu." Balas Tessa.
"Ah elah digantung lagi." Kini dia tahu rasanya jadi Orion yang digantung Alea terus.
Di sisi lain, bruuukkkk. "Alah busyet! Jalan pakai mata dong!" maki Darrel pada seorang perawat yang tidak sengaja ditubruknya. Dia yang salah tapi dia yang sewot.
"Woiii di mana-mana jalan pakai kaki, begee!" balas perawat itu tidak kalah galak.
"Lu berani sama gue?!" tantang Darrel.
"Berani! Ngapain juga gue harus takut sama lu?" Cowok gak tahu sopan santun." Darrel mendelik saat gadis itu menendang aset pribadi Darrel.
__ADS_1
"Cewek gila!!!!" maki Darrel tertahan. Pria itu meringis menahan ngilu dipangkal pahanya.
"Jangan lu kira sudah hebat jadi cowok! Disentil dikit aja keok!" Aduuhhh pedesnya tu mulut. Gadis itu berbalik meninggalkan Darrel yang menepi sambil bersandar di dinding rumah sakit.
"Awas lu! Gue pastiin lu bertanggungjawab sudah bikin junior gue ngilu. Tunggu aja tanggal mainnya. Sial! Mana sakitnya gak ilang-ilang lagi. Tu cewek tenaganya kuat banget." Batin Darrel. Sepertinya pria akan kena batunya.
Kedatangan Darrel yang setengah meringis itu membuat semua orang saling pandang. Ada apa gerangan dengan casanova penikmat wanita malam itu. Awalnya Darrel diam saja, tapi melihat seorang wanita yang berdiri di samping Felix, membuat Darrel meradang.
"Cewek gila! Di sini lu rupanya!" Darrel merangsek maju bersiap menyerang. Namun Felix dengan sigap menahan Darrel.
"Mau ngapain kamu?"
"Dia cewek gila yang sudah nendang junior gue!" teriak Darrel. Semua orang sesaat terdiam, detik berikutnya tawa pecah di ruangan itu.
"Kapok lu! Akhirnya ada juga yang berani sama pusaka kebanggaanmu itu." Oceh Alea.
"Sera sialan! Awas ya!" Maki Darrel seketika. Darrel kembali mengejar wanita itu, tapi Felix menghalangi.
"Minggir! Gue mau hajar tu cewek!" Kata Darrel. Tessa jelas ketakutan mendengar ucapan Darrel. Pria itu sudah memegang tangan Tessa saat pintu terbuka.
"Alamak! Salah orang!"
***
"Messa Adriani. Adik dari Tessa, kekasih Felix saat ini."
Darrel berjalan penuh semangat ke arah nurse station ruangan VIP tempat Orion dirawat. Orion baru saja pulang setelah Messa mengantarkan obat pria itu.
"Kita lihat bagaimana reaksi lu saat gue balas dendam." Gumam Darrel. Sebelumnya Darrel sudah meminta sang asisten untuk menyelidiki soal Messa. Dari informasi itu, Darrel tahu kalau Messa punya pacar seorang dokter di rumah sakit itu. Namun satu hal yang Messa tidak tahu. Sang pacar selingkuh dengan dokter lain.
Semua perawat di nurse station melongo melihat Darrel bertanya soal Messa. Mereka tentu kepo dengan sosok Darrel yang tampan. Meski pacar Messa juga tidak kalah tampan.
Darrel berhenti di depan loker room, setelah mendapat info kalau Tessa pergi ke sana. Jam kerja gadis itu sudah selesai. Saatnya pulang.
"Wait...wait...mau ke mana lu?" Messa membulatkan mata melihat Darrel berada di depan loker room. Terlebih pria itu mencekal tangannya.
__ADS_1
"Ngapain lu di mari? Masih kurang dihajar itunya." Balas Messa judes.
"Jelas kurang dong. Apalagi kalau dihajar sama bibir lu yang seksi." Darrel mendekat ke arah Messa yang reflek mundur. Tiba-tiba Darrel penasaran dengan rasa bibir Messa yang sejak tadi sibuk mengucapkan kalimat pedas padanya.
"Mesum!" Kata Messa mendorong jauh dada Darrel.
"Baru tahu ya. Gue sudah tidur dengan banyak wanita, asal lu tahu. Dan lu keknya lumayan juga."
Tangan Messa terangkat ingin menampar Darrel, tapi Darrel sigap menahannya. Yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan Messa. Darrel berani mencium dirinya.
"Dasar breng....mmphh." Umpatan Messa tenggelam saat Darrel kembali membungkam bibir Messa. Manis, rasanya sungguh berbeda dengan bibir semua wanita yang pernah Darrel cium.
Messa dengan cepat menginjak kaki Darrel, membuat pria itu memaki seketika." Ohhhh, shiiitttt!!"
"Rasakan dasar kadal buntung....."
Umpatan Messa terhenti saat dia melihat sang pacar lewat di depan Messa. Gadis itu langsung berlari mengejar. Diikuti Darrel yang pincang jalannya. Awalnya Messa senang bisa pulang bareng sang pacar. Namun sampai di parkiran, Messa tertegun, melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Sang pacar tengah berciuman dengan seorang wanita yang Messa tahu juga dokter di sana. Keduanya berciuman mesra, seolah lupa di mana mereka berada.
"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Messa. Dua orang itu langsung menjauhkan diri. Tampak kikuk, meski detik selanjutnya mereka terlihat biasa saja.
"Kalian punya hubungan? Kau selingkuh sama dia?!" Messa bertanya tanpa henti. Sakit hati Messa melihat hal itu. Ternyata rasa cintanya dibalas dengan perselingkuhan.
"Kenapa Sa?" Darrel tiba-tiba muncul. Pria itu lantas melihat kemana Messa memandang. Dalam sekali lihat, Darrel bisa tahu. Kalau Messa pasti sudah menangkap basah pacarnya berselingkuh.
"Ooohh, mereka bisa melakukannya. Kenapa lu gak bisa?" Darrel dengan cepat menangkup wajah Messa lalu tanpa ragu kembali mencium bibir gadis itu. Pacar Messa tentu terkejut. Dia pikir Messa gadis baik-baik yang susah diajak begituan. Namun nyatanya dengan Darrel, Messa tampak sudah terbiasa melakukannya.
Messa awalnya ingin menolak tapi teringat bagaimana sang pacar berselingkuh, gadis itu seperti terbakar amarahnya. Detik berikutnya, Messa mulai membalas pagutaann Darrel.
"Kena kau!" Batin Darrel sambil menyeringai.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****