Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Langkah Baru


__ADS_3

Alea menatap sengit pada Orion. Setelah kejadian tadi, sikap pria itu menjadi aneh. Meski tampak acuh, tapi Alea merasa kalau Orion diam-diam sering mencuri pandang padanya. Entah karena dirinya yang ke-ge-eran atau hal itu benar adanya, Alea menduga kalau Orion sering mengawasinya.


Malam beranjak turun. Alea sudah mandi, mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang lebih santai.Gaun rumahan dengan panjang sebetis. Sedang Orion hanya melepas jasnya, meninggalkan kemeja berwarna putih. Alea mulai menekuni berkasnya lagi. Seharian mereka mencari aset yang bisa mereka gunakan untuk jaminan pada bank.


"Kenapa semua datanya fiktif." Gumam Alea.


"Orion...." Alea seketika menghentikan panggilannya pada Orion, teringat ulah menyebalkan pria itu tadi.


"Apa?" tanya Orion.


"Gak jadi." Balas Alea cepat. Orion segera menghentikan pekerjaannya. Pria itu memandang Alea yang malah mencoret-coret kertas dengan design absurd, tidak jelas. Orion tahu kalau Alea sangat menyukai dan berbakat dalam design.


"Kau kenal Nika?" pertanyaan Orion membuat Alea menghentikan aksi gabutnya. Gadis itu langsung melihat pada Orion.


"Dia melamar di divisi design under Vano."


Pulpen Alea langsung tergelincir dari genggaman jarinya. Meluncur jatuh di atas karpet. Nama Nika membuat Alea ketakutan. Bagaimana jika Nika tahu soal dirinya. Annika Annabella. Sahabat karib Alea. Satu-satunya teman yang Alea punya. Nika sangat dekat dengan Alea. Hanya Nika yang tahu bagaimana sebenarnya kehidupan Alea. Betapa beratnya hidup yang sudah Alea jalani selama ini.


"Ba...bagaimana jika dia tahu soal diriku?" Kecemasan kini menyelimuti pikiran Alea. Dalam satu waktu gadis itu dihantam beberapa masalah sekaligus.

__ADS_1


"Jangan khawatir, untuk sementara kami masih bisa menghandlenya. An dan Axa sedang mendekati Nika."


Alea seketika bangkit dari duduknya. Dia tidak setuju jika An dan Axa yang maju. Nika model gadis baperan. Dikasih perhatian sedikit. Perasaan Nika langsung melambung ke langit ketujuh. Plus perasaan over thingking dari Nika, bisa saja membuat gadis itu salah paham pada An dan Axa.


"Jangan main perasaan dengan Nika, dia baperan." Alea sedikit kesal dengan tindakan Orion.


Pria itu semakin tajam menatap Alea. "Bukankah semua wanita baperan. Dikasih perhatian sedikit, mereka pikir kami para pria menyukainya. Padahal itu hanya untuk menjaga perasaan mereka."


"Itulah salah kalian. Kami para perempuan memang suka diperhatikan tapi dengan konteks yang jelas. Sebagai teman, atau kekasih atau sebatas cari masalah."


Orion kembali terpancing oleh perkataan Alea. Pria itu pikir, kalau Alea sengaja mencari perhatian. "Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan kalian para pria yang suka tebar pesona. Tidak tahu apa jika sikap kalian membuat kami salah paham. Kalian perhatian tapi nyatanya itu cuma palsu."


Alea menunjuk dada Orion dengan telunjuknya. Sangat kesal karena Alea memang tidak suka hubungan yang penuh kepura-puraan. "Lalu kenapa kau menyalahkanku?" tanya Orion tajam. Orion pikir, dia bukan satu-satunya pria di muka bumi, kenapa Alea terkesan hanya menyalahkan dirinya saja.


Orion menangkap jari telunjuk Alea yang sejak tadi menunjuk-nunjuk dadanya. "Jangan kau samakan aku dengan mereka." Ucap Orion penuh penekanan.


Alea seketika memundurkan langkahnya, melihat gelagat mencurigakan dari Orion. Alea bermaksud menjauh, tapi Orion menarik telunjuknya. Hingga gadis itu menabrak dada bidang pria itu. Wajah keduanya berdekatan. Alea kembali mencoba menjauhkan diri. Namun Orion kian mengeratkan cekalannya pada pergelangan tangan Alea.


"Lepas!" Seharian ini, Alea berada di titik yang sangat intim dengan Orion. Pria itu tiba-tiba berubah sikap. Orion menatap dalam dua bola mata Alea. Mata Sera, pria itu sesaat terpana. Kornea Sera terlihat lebih hidup saat disatukan dengan mata Alea. Jantung keduanya tiba-tiba terpacu, berdebar. Ada desir halus yang seketika mengalir dalam hati mereka.

__ADS_1


****


Pagi menjelang, Alea menguap lebar. Gadis itu baru saja membuka mata. Setelah hampir sepanjang malam terjaga, mencari satu aset keluarga Athaya yang berada di pinggiran kota. Menurut analisa Orion, harta itu yang paling memungkinkan dijadikan jaminan tambahan. Luas dan keadaannya tanah itu, bisa menjadi menutupi nilai pinjaman di masa depan.


Alea memicingkan mata. Melihat Orion yang tidur di sofa bed yang Axa datangkan kemarin. Banyak kertas berserakan di bawah Orion. Hal itu membuat Alea mendekat ke arah Orion. Memunguti berkas yang bertebaran di lantai karpet. Sesekali Alea melirik Orion yang masih tidur pulas. "Tampan sih, kalau lagi tidur," gumam Alea.


Setelah beres, gadis itu berlalu dari sana. Sampai satu igauan membuat langkah Alea terhenti. "Bertahanlah Felix."


Deg, bukankah Felix sudah meninggal? Kenapa Orion malah mengigau soal kakak Sera itu. "Apa Orion dan Felix saling kenal," tiba-tiba timbul pertanyaan itu dalam benak Alea. Walau detik berikutnya, Alea menggeleng pelan. Orion dan Felix mana mungkin saling kenal. Gadis itu melangkah masuk ke kamar pribadinya, bermaksud membersihkan diri. Hari ini, dia dan Orion akan mengecek properti SJ yang ada di pinggiran kota.


Di tempat lain, seorang pria tampak bermandi peluh. Pria itu tengah belajar berjalan, setelah mencoba beberapa kali namun akhirnya pria itu mampu menggeser kakinya. Satu langkah berhasil pria itu buat. Suara sorakan, terdengar membuat pria tersebut sangat senang.


"Lihatlah, baru satu langkah. Besok aku akan membuat banyak langkah baru." Batin pria itu penuh semangat. Sepuluh tahun mengalami kelumpuhan, pria itu mendapat kesembuhan, setelah dokter berhasil menyambungkan saraf yang putus di kakinya. Dan lihatlah, tubuh tinggi besar itu kembali berjalan di jalur latihan.


"Tunggu aku. Akan kubalas semua perbuatan kalian," tambah pria itu lagi.


****


Up lagi readers, tapi maaf cuma sedikit. Ngantuk banget ini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2