Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Belum Terkuak


__ADS_3

Felix mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang keluar dari bibir Orion, atau di masa lalu Felix dan yang lainnya mengenalnya sebagai Valdy, Rivaldy Antareksa. Valdy mengubah identitasnya menjadi Orion Harasya Alexander. Menggunakan nama belakang Alexander untuk mengecoh semua orang. Agar orang mengira dirinya adalah bagian dari keluarga konglomerat tersebut, padahal tidak ada hubungan apapun antara keduanya.


"Jadi mereka yang membuat kita jatuh ke air terjun hari itu. Dengan mengumpankan Sera?" Felix meletakkan berkas laporan yang baru saja Orion berikan.


"Meski aku belum yakin apa motifnya, tapi aku yakin mereka pelakunya. Untuk itu aku sungguh minta maaf. Aku tidak menyangka jika mereka akan melakukan itu. Dan untuk orang tuamu, aku dan yang lainnya masih mencari." Orion menunduk setelah mengatakan hal terakhir.


"Apa mereka masih hidup?" tanya Felix.


"Aku harap begitu." Orion menjawab tidak yakin.


Hening menyapa keduanya. "Ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Ini bagian paling buruk dari semuanya. Maafkan aku, aku gagal melindungi Sera." Orion kembali menundukkan wajah setelah mendorong satu berkas ke hadapan Felix.


Pria itu menatap tajam ke arah Orion, yang kali ini menampilkan wajah bersalah yang teramat dalam. Tangan Felix gemetar saat membuka halaman demi halaman laporan Orion.


"Dia meninggal. Maaf, lagi-lagi aku gagal melakukan tugasku." Orion tertunduk lesu. Dengan sudut mata mulai mengalirkan kristal bening yang membasahi pipi Orion. Pun dengan Felix. Sepuluh tahun pergi bersembunyi dan menyembuhkan diri, membuat Felix kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya. Sang adik pergi meninggalkannya. Dua pria itu menangis dalam diam. Orion merasa gagal, sedang Felix merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"Bukan salahmu. Melindungi Sera seharusnya jadi tugasku. Tapi aku yang payah tidak bisa melakukannya. Aku yang bersalah. Tugasmu sudah terlalu banyak dan aku masih memintamu untuk menjaga Sera." Bisa Orion lihat betapa putus asanya Felix saat ini. Pria itu menunduk dengan tangis tertahan.


"Dia yang paling kucinta, pergi karena ketidakmampuanku menjaganya." Tutur Felix sedih. Rasa sesal tergambar jelas di wajah Felix. Dua pria itu sesaat larut dalam kesedihan masing-masing.


Sementara itu, di kamar Alea. Gadis tersebut berjalan mondar mandir tidak karuan. Cemas, itu yang tengah Alea rasakan. Orion dan Felix masuk ke kamar kakak Sera sejak tadi. Setelah makan malam, sampai sekarang jam sepuluh lebih. Belum ada tanda-tanda mereka akan keluar. Kamar Felix berada di depan kamarnya. Dan belum terdengar pintu terbuka.


"Mereka lagi bahas apa sih?" Gerutu Alea. Gadis itu bahkan belum mengganti baju. Juga belum mandi. Dia terlalu takut kalau Felix tahu siapa dirinya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Gugup bukan main.

__ADS_1


Langkah Alea terhenti saat pintu kamarnya terbuka, dan masuklah Orion dan.....Felix. Alea langsung memundurkan langkah, melihat wajah Felix secara dekat untuk pertama kali.


"Belum mandi? Kau jorok Lea!" Mendengar panggilan Orion padanya, fix...Felix sudah tahu kalau dia bukan Sera.


Felix berdiri di hadapan Alea, menatap pada gadis yang langsung panik dibuatnya. Alea mencuri pandang pada Felix, sosok tinggi besar yang berdiri di hadapannya. Tampan, satu kata yang mewakili Felix. Wajahnya memang mirip dengan Sera, tidak heran mereka adalah saudara.


"Aku....Kak...maafkan aku. Aku tidak bermaksud...."


Ucapan Alea terhenti saat Felix menarik tubuh Alea ke dalam pelukannya. Alea tentu terkejut. Tidak tahu kenapa Felix justru memeluknya, bukannya memarahinya.


"Biarkan begini. Sebentar saja." Suara Felix bergetar menahan sedih dan tangis. Andai dia sembuh lebih cepat, hal buruk tidak akan terjadi pada Sera, tapi semua sudah terlambat. Dia terlambat menyelamatkan sang adik.


Untuk beberapa waktu, Alea membiarkan Felix memeluk dirinya. Hangat dan nyaman, Alea seperti mendapatkan sebuah tempat untuk berlindung. Ada satu rasa layaknya sebuah rumah dalam pelukan Felix. Felix sendiri seolah tengah menyalurkan rasa rindunya pada sang adik yang jelas, sudah meninggal.


"Dia benar-benar mirip." Komen Felix saat pria itu sudah melepaskan pelukannya. Alea tidak tahu apa yang Felix maksud.


"Kau yakin dia tidak punya hubungan darah dengan Sera?" Orion mengangguk menjawab pertanyaan Felix.


"So....aku hanya melepas rindu pada adikku melalui dirimu." Felix mengusap lembut rambut Alea. Kembali menatap intens pada Alea.


Alea tentu jadi salah tingkah jadi. Dia tidak tahu maksud perkataan Felix. "Apa kakak tidak marah? Kak Sera meninggal karena aku. Dia pergi sebab ingin menyelamatkanku. Aku penyebab kak Sera meninggal." Pada akhirnya keluar satu rentetan kalimat yang selama ini memenuhi kepala Alea. Dia merasa bersalah telah jadi penyebab kematian Sera.


"Marah? Aku bisa marah bagaimana? Sera sudah pergi, aku tidak bisa membawanya kembali. Dia menyelamatkanmu, itu memang kewajibannya. Kamu tidak seharusnya terlibat dalam masalah keluarga kami, tapi kamu justru terjebak di sini."

__ADS_1


Ada nada bersalah dalam ucapan Felix. Penyesalan terdalam yang pernah Felix rasa. Pria itu memegang dua lengan Alea, menatap dalam dua bola mata Alea. Bisa Felix rasakan kalau hidup Alea tidak mudah selama ada di sini. Tekanan pasti datang dari segala penjuru.


Jawaban Felix membuat Alea menarik nafasnya dalam penuh kelegaan. "Jadi apa langkah kita selanjutnya? Apa kita akan tetap pada rencana kita? Mengirimnya pulang setelah kau kembali?" Alea membulatkan mata mendengar pertanyaan Orion. Pulang? Dia akan pulang? Wajah Alea berubah, tidak bisa menebak apa gadis itu menyukainya atau tidak.


"Itu pilihan paling tepat. Kita harus mengeluarkannya dari sini. Di sini sangat berbahaya. Aku tidak mau menyeret Alea dalam rumitnya masalah keluarga Athaya lebih lama lagi."


Orion dan Felix saling pandang. Seolah sedang berdiskusi soal langkah selanjutnya.


Sementara itu, suasana berbeda justru terlihat di ruang kerja Mario. Pria itu marah bukan kepalang. Kehadiran Orion saja sudah menyulitkan langkahnya untuk menguasai Star Grup. Sekarang ditambah munculnya Felix, si pewaris utama.


"Sial! Bagaimana bisa dia kembali. Bahkan setelah sepuluh tahun. Aku pikir sudah berhasil membunuhnya." Geram Mario. Pria itu mengepalkan tangannya erat, menahan amarah agar tidak meledak keluar. Rencana yang dia susun bertahun-tahun hancur berantakan. Bahkan skenario yang ia buat secara apik, kini kacau balau.


"Aku harus mencari cara membalas dendam atas meninggalnya Valdy. Mereka harus membayar setimpal untuk kematian putraku!" Pria itu menggeram marah. Memandang jendela kaca yang ada di depannya. Hingga cerminan Mario Athaya terlihat di sana.


Tak seorang pun di rumah itu tahu, jika dua orang yang ada di sana bukanlah Mario dan Meida Athaya yang sebenarnya. Dua orang itu hanya orang lain yang menyamar menggunakan wajah ayah dan ibu Sera.


Mario Athaya meraih ponselnya, membuka lock screen-nya. Di mana foto tiga orang yang tersenyum bahagia tampil menjadi wall paper-nya. "Ayah rindu padamu, Valdy." Bisik Mario.


Siapa sangka jika Mario dan Meida Athaya yang sekarang adalah Abraham dan Belia yang tengah menyamar. Mereka adalah orang tua kandung Rivaldy Antareksa. Satu lagi tabir yang belum terkuak.


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2