Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Hanya Sementara


__ADS_3

"Sono Vincet, sono il consulente finanziario inviato dal signor Pablo."


"Saya Vincet, saya adalah penasehat keuangan yang dikirim oleh tuan Pablo."


Orion mengulurkan tangan, ingin berjabat tangan dengan pria yang bernama Ilario. Ilario heran, melihat ke arah tanda pengenal yang tergantung di leher Orion, pria itu lalu menoleh pada asistennya. Orion tersenyum tipis, Ilario ragu padanya. Sesaat kemudian Orion mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan bukti kalau dia adalah penasihat keuangan yang benar-benar dikirim oleh orang yang bernama Pablo.


"Mulai memindai."


Tanpa Ilario tahu, saat pria itu memegang ponsel Orion, Xuan mulai merekam data dari Ilario, mulai dari analisa wajah, scan kornea bahkan sidik jari Ilario yang sedikit tertempel layar ponsel Orion pun bisa Xuan dapat.


"Complete."


Orion tersenyum, misi berhasil. Sepuluh menit kemudian, Orion keluar dari hotel itu. Kedatangan Orion disambut lambaian tangan dari Xuan. Orion tidak bereaksi pada aksi Xuan yang kadang seperti bocil. Xuan hanya nyengir saat menangkap ear phone yang dilempar Orion padanya.


Xuan menyerahkan laptopnya pada Orion, sementara mobil mulai Axa jalankan. Jari Orion dengan lincah bergerak di keyboard benda persegi tersebut. Menerobos beberapa firewall untuk mencapai tujuannya. Meretas rekening milik Ilario. "Wah dia menambahkan sistem baru." Axa tampak acuh pada ucapan Orion, sementara Xuan menoleh antusias pada atasannya.


"Superalo." ("Bisa melewatinya.")


"Dubiti di me?" ("Kau meragukanku?")


"Ovviamente no." ("Tentu saja tidak.")


Orion tersenyum mendengar jawaban dari Xuan. Pria itu kembali mengulik laptop Xuan. Ketiganya tersenyum membayangkan bagaimana marahnya pria yang bernama Ilario itu, saat tahu kalau dua rekeningnya di Banca d'Italia, bank sentral yang terletak di Roma, Italia, mulai dikuras habis.


"Mulai." Orion menyentuh icon "start" dan uang milik Ilario mulai berpindah ke tujuh rekening yang ada di tujuh bank berbeda, sebelum berakhir pada satu rekening rahasia milik atasan Orion.


"Kapan dia akan menyadarinya?"


Orion melirik jam tangannya. "Emmmm, sekarang." Axa memacu mobilnya dengan kecepatan penuh setelah mengganti plat nomor mobilnya dan Xuan menghapus jejak wajah mereka dari semua kamera pengawas yang berhasil merekam aksi mereka.


Ketiganya tersenyum puas mengingat bagaimana kesal dan frutrasinya Ilario karena kehilangan uang dari rekeningnya tanpa tahu ke mana uang itu berakhir. Sekaligus mereka kehilangan jejak Orion dan yang lainnya.


"Berapa banyak?"

__ADS_1


"Sepuluh juta Euro." Mata Xuan dan Axa membulat mendengar nominal yang Orion peras dari rekening Ilario.


"25% bagi empat. Gila! Kita kaya, Xa."


"Itu jumlah yang dia dapat dari yayasan yang dia pimpin, juga hasil korupsi dari pajak."


Axa dan Xuan manggut-manggut mendengar keterangan Orion. Orion dan yang lainnya bekerja sampingan sebagai "pencuri" Meretas data milik target lalu memindahkannya ke tujuh rekening yang diberikan oleh atasannya. Setelah itu bye, Orion pun tidak tahu ke mana uang itu pergi. Yang jelas Orion dan timnya mendapat seperempat dari hasil tangkapan mereka plus bonus dari atasan Orion.


Dulu Orion mengerjakannya sendiri, sebelum bertemu Xuan dan yang lainnya. Dan selama ini aksinya selalu lepas dari pengawasan polisi. Sebab target yang mereka rampok kebanyakan politikus bermasalah juga bandar narkobaa. Mereka lapor polisi, mereka sendiri yang akan kena masalah.


Dan seperti yang dijanjikan oleh atasan Orion, kali ini adalah misi terakhir dari perjanjian lima tahun yang telah Orion dan atasannya sepakati. Setelah ini dia harus bekerja ekstra untuk menghilangkan jejak dirinya dari dunia peretasan data dan rekening alias hacker.


"Kau yakin kalau dia akan melepaskan kita begitu saja?" tanya Axa ragu.


"Aku pernah bertemu dengannya secara pribadi. Dia berjanji akan memutuskan hubungannya dengan kita. Kau tahu kan mereka sangat memegang teguh janji yang sudah mereka ucapkan."


"Baguslah kalau begitu. Kita bisa mulai hidup baru kita."


Ketiganya tersenyum, bahkan Axa pun ikut tersenyum. Entah apa yang bisa membuat pria tembok itu dapat tersenyum.


"Itu tergantung padanya." Orion menghentikan gerakan jarinya.


"Dia masih punya ayah dan ibu, kau tahu itu."


"Aku akan memikirkan itu nanti. Yang jelas, minggu depan aku harus mengeluarkannya dari rumah itu. Sementara dia akan tinggal di sana. Percayalah, mereka tidak akan tinggal diam. Meski Alea sudah pergi dari sana."


"Apa mereka akan memburu Alea sampai ke sana?" Axa kali ini yang bertanya.


"Kenapa kau yang khawatir?" Orion menutup laptopnya, menatap tajam ke arah Axa. Xuan mengulum senyum, melihat Axa yang menggaruk kepala, bingung.


"Aku hanya cemas itu saja. Dia kan teman Nika." Axa mulai mencari alasan. Orion memicingkan mata mendengar jawaban Axa.


"Oh ayolah, Rion. Mosok kau juga mau cemburu dengan Axa. Muka tembok gini, masih untung Nika mau terima.....ciiiitttt.... alamak buseet!! Bisa nyetir gak sih?!" Maki Xuan bersamaan dengan Orion yang kepalanya terbentur belakang kursi Axa.

__ADS_1


"Kupotong bonusmu!"


"Jangan dong Rion, modal kawin tu." Rengek Axa.


Orion dan Xuan membulatkan mata, untuk pertama kalinya Axa memohon. "Kagak ada! Benjol jidat gue!" Kesal Orion.


"Yah Rion, Rion jangan gitu dong." Hiba Axa sambil menjalankan mobilnya kembali menuju ibu kota.


Seminggu kemudian, tiga jam sebelum keberangkatan Alea. Gadis itu menatap sekeliling kamar Sera, sepuluh bulan dia berada di kamar ini. Ada banyak kenangan di tempat itu. Dari awal kedatangannya yang hanya sebagai pengganti, ya dirinya memang hanya pengganti.


Meski pernah berpikiran untuk memiliki ini selamanya, tapi niat itu kini berubah. Dia akan kembali ke kehidupannya yang lama. Melepas semua, karena semua ini memang bukan miliknya. Menjadi Alea yang miskin, mahasiswa seni lukis dan pekerja paruh waktu. Sudah cukup mimpinya jadi orang kaya, kini sudah waktunya dia bangun, dan menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya.


Orion memberitahu kalau dia akan diterbangkan ke Milan, tinggal di rumah pria itu. Bahkan Orion tahu kalau Alea matre dan menyukai barang-barang bagus. Pria itu mengatakan sudah menyiapkan semua keperluan Alea. Tanpa sepengetahuan Orion, Alea punya rencananya sendiri.


Melupakan semua yang terjadi adalah pilihan Alea. Gadis itu tidak ingin terlibat apa pun dengan Orion dan yang lainnya. Alea menghembuskan nafasnya pelan, bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Felix, kakak Sera masuk ke kamar itu.


"Siap untuk pergi?" tanya Felix. Pria itu berdiri di hadapan Alea. Sungguh sebuah impian jadi nyata, Alea yang bermimpi punya kakak, dikabulkan. Meski hanya beberapa waktu, namun Felix sungguh memperlakukannya seperti adik sungguhan. Alea bisa merasakan ketulusan Felix dalam sikap dan sentuhan pria itu padanya.


"Terima kasih." Alea berkata lirih. Tanpa di sangka Felix memeluk erat tubuh Alea.


"Bagaimanapun kamu akan tetap jadi adikku. Kamu dan Sera, anggap saja aku punya adik kembar. Sungguh, aku ingin kamu selalu berada di dekatku. Menjagamu, akan jadi impianku. Tapi sekarang...."


Felix menjeda ucapannya. Melepas pelukannya pada Alea. Lantas melihat wajah Alea, merapikan rambut gadis itu, sungguh manis perlakuan Felix pada Alea. "Belum waktunya kamu berada di sini. Di sini sangat berbahaya. Sampai aku dan Orion menyelesaikan semua, tetaplah di sana. Aku janji, aku sendiri yang akan menjemputmu. Ini hanya sementara."


Felix menatap dalam dua bola mata Alea, seolah meminta gadis itu untuk bersabar.


"Tapi maaf Kak, aku sudah memutuskan kalau aku akan berhenti di sini." Batin Alea.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2