
Kredit Pinterest.com
Orion meminta Mario dan Meida menunggu di ruang tamu. Beralasan akan memberitahukan kedatangan mereka pada Beni. Padahal Orion dan yang lainnya akan mengkonfrontasi Abraham dan Belia. Namun rupanya Orion sudah terlambat. Di ruang keluarga, ketegangan sudah terasa. Rupanya Darrel sudah tidak bisa menahan diri. Hingga pria itu langsung mengungkapkan siapa Abraham dan Belia.
Orion yang baru saja datang langsung kena todong oleh Abraham. Suasana begitu panas dengan Beni tampak lemas. Adnan siap sedia di samping Beni. Bahkan Vano pun ada di sana.
"Nah ini biang keroknya. Pasti kau yang sudah memfitnahku." Tuduh Abraham.
"Jangan bawa-bawa Orion! Justru dia yang sudah berjasa membongkar kedok kalian!" Darrel berucap penuh amarah. Orion seketika melihat ke arah Felix. Biasanya Darrel selalu memusuhinya. Kenapa sekarang jadi ngajak temenan. Apa semua karena Alea yang mulai akrab dengan Darrel.
"Apa ini benar Orion?" tanya Beni putus asa. Pria tua itu seolah tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Orion menghela nafasnya, kenyataan Abraham dan Belia bukan Mario dan Meida saja sudah membuat Beni shock. Apalagi jika Beni tahu, kalau Sera sudah meninggal dan yang kemarin adalah Alea bukan Sera.
Orion dengan santai mengeluarkan kertas dari balik jasnya. Menyerahkannya pada Beni. Beni hanya membaca hasil akhirnya saja. Pria tua itu lantas menghembuskan nafasnya dalam, terlihat raut kecewa di wajah Beni.
"Apa kalian bisa jelaskan maksud kalian masuk ke rumah ini? Dan siapa kalian sebenarnya?"
"Jelas mereka ingin makan enak di sini. Mau merebut harta kita!" Darrel berteriak marah. Kembali Orion menyerahkan satu kertas yang dia bawa. Mata Beni membulat membaca siapa sebenarnya orang yang menyamar sebagai ayah dan ibu Sera.
"Ini bohong! Kalian semua sekongkol ingin mendepakku keluar dari sini! Aku Mario Kek. Bukan orang lain." Abraham mencoba meyakinkan semua orang. Sementara Mikayla juga tak kalah shock. Dia pikir sudah bercinta dengan iparnya yang kaya. Meski yang kaya sebenarnya sang kakak.
Rupanya dia kena tipu, pria yang selalu memberinya kepuasan, hanyalah orang lain yang menyamar menjadi iparnya. Sial! Rupanya Abraham membohonginya. Namun begitu, Mikayla akui, tidak ada pria yang bisa membuatnya menjerit nikmat sekaligus puas saat bercinta selain Mario...KW ini.
"Sudahlah, jangan mengelak lagi. Semua bukti sudah ada di tangan kami. Keluar dari sini atau kami telepon polisi!" Ancam Felix. Pria itu berdiri di samping sang kakek.
__ADS_1
Mendengar kata polisi, Belia ketakutan. Awalnya dia tidak mau mengikuti rencana sang suami. Tapi akhirnya dia mau, dan sekarang dia ketagihan dengan kehidupan mewah yang dia jalani. Sangat berbeda dengan kehidupan mereka di masa lalu. Miskis juga kekurangan.
"Aku tidak mau dipenjara." Bisik Belia cemas. Abraham menggertakkan giginya. Dia begitu dendam pada Orion. Pria itu berpikir kalau Orionlah, orang yang selalu jadi penghalang untuk semua rencananya. Tanpa tahu siapa Orion sebenarnya.
"Menyerahlah. Kedok kalian sudah terbongkar." Orion berkata sendu, sakit sekali harus menyerahkan orang tuanya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, kejahatan mereka sudah terlalu besar. Felix sendiri memutuskan kalau Abraham dan Belia hanya akan diusir dari kediaman Athaya. Mengingat siapa Abraham dan Belia, orang tua dari Orion atau Valdy.
"Aku adalah Mario bukan orang lain, kenapa kalian tidak percaya padaku?!" kali ini Abraham menurunkan suaranya. Berusaha membuat drama untuk meluluhkan hati semua orang.
"Kau masih ingin menyangkal. Kalau begitu lihatlah ini." Darrel melemparkan kertas hasil tes DNA ke wajah Abraham. Pria itu melotot saat membaca kertas itu. Beni hanya bisa diam, tanpa bisa berkata-kata.
"Sial! Bagaimana merekaa bisa melakukan tes sialann ini!" Abraham meremas kertas yang ada di tangannya. Marah, kesal dan takut, semua rasa itu bergabung menjadi satu.
"Dan lagi, kami punya kejutan untuk kalian." Orion memanggil Mario dan Meida melalui Axa.
Abraham dan Belia tentu terkejut melihat Mario dan Meida yang asli muncul di depan mata mereka. "Siapa kau? Berani mengambil tempat kami! Mengurung kami di rumah sakit jiwa. Memperlakukan kami seperti orang gila!" maki Mario tanpa basa basi. Pria yang telah menemukan kewarasannya itu, sekarang meluapkan kemarahannya pada orang yang sudah membuatnya dan Meida menderita.
"Kalian orang kaya tidak akan tahu rasanya menderita. Sampai kalian merasakan bagaimana kehilangan seorang anak!" Maki Abraham.
"Aku masih hidup ayah." Batin Orion pilu.
"Anak kalian masih hidup, lalu bagaimana dengan kami. Anak kami satu-satunya meninggal karena ulah kalian!" raung Belia. Baru kali ini wanita itu bersuara. Orion menunduk, semua ini salahnya. Dia pikir apa sudah waktunya mengungkap jati dirinya.
"Siapa yang kalian maksud?!!" Felix melangkah maju, berdiri di sisi Orion, diikuti oleh Darrel. Salah paham ini harus segera diluruskan.
"Kalian memang brengsek!" Tanpa diduga Abraham menarik pistol dari pinggangnya. Lalu tanpa basa-basi mengarahkannya ke arah Felix. Kenapa Felix masih hidup sedang putranya tidak.
__ADS_1
Semua orang menutup mulut melihat kelakuan Abraham. Tanpa basa basi pria itu menarik pelatuknya dan "doooorrr" bunyi tembakan terdengar kuat di ruang tengah nan luas milik keluarga Athaya.
Meida dan Mikayla juga Belia spontan menjerit. Axa dan An merangsek maju. Sementara Orion...pria itu meringis merasakan sakit di bahunya. Orion menjadi tameng bagi Felix.
"Rion!!" teriak Felix, begitu menyadari keadaan Orion. Felix dengan cepat menahan tubuh besar Orion yang bersandar ke dinding. Darah merembes di kemeja putih Orion yang berlapis jas hitam.
Orion menatap tajam pada Abraham yang sudah dicekal oleh Axa dan An. Tubuhnya yang limbung segera ditahan oleh Felix dan Darrel. "Aku harap kejahatan kalian cukup sampai di sini." Kata Orion terbata.
"Kita ke rumah sakit!" teriak Felix cemas. Sudah cukup dia berhutang budi pada Orion. Abraham meronta dalam cekalan Axa dan An yang cemas bukan kepalang melihat Orion terluka. Suasana itu semakin kacau saat Beni juga jatuh pingsan.
Tiga mobil melesat keluar dari kediaman Athaya. Satu ke kantor polisi dengan Mario yang memimpin. Dua ke rumah sakit dengan raut wajah cemas terlihat pada wajah orang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Rion! Jaga kewarasanmu. Tetaplah sadar!" Darrel berteriak konyol, melihat mata Orion yang mulai terpejam. Sementara Felix sibuk menekan luka Orion, mencoba menghentikan perdarahan pada luka Orion.
"Bisa lebih cepat gak sih!" maki Darrel pada sang asisten. Sementara di belakang mereka, Vano yang mengemudikan mobil Beni juga merasa sangat cemas.
"Alea....." lirih Orion antara sadar dan tidak.
"Bertahanlah Rion. Aku akan menjemput Alea setelah ini." Batin Felix. Insiden penembakan ini di luar perkiraan mereka.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1