Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Aneh


__ADS_3

Pagi datang, Darrel mengerjapkan matanya pelan. Pria itu menggeram lirih. Bangun dengan tubuh topless, dia melihat sekeliling. Kamar siapa ini. Batin pria itu penuh tanya.


"Sudah bangun?" Felix masuk membawa satu cangkir teh jahe. Darrel menatap malas pada Felix. Kenapa mereka jadi sedekat ini. Padahal kemarin keduanya seperti musuh bebuyutan.


"Apartemen siapa?" todong Darrel, seingatnya Felix tidak punya apartemen, punyanya vila, sama seperti Sera.


"Punya Orion. Dia punya dua. Semalam aku minta kunci sama Axa. Yang ini bebas kita gunakan, yang satu lagi khusus buat mereka berdua." Jelas Felix.


"Dasar bucin!" maki Darrel. Pria itu berjalan menuju jendela. Melihat ke arah luar, lumayan juga, batin Darrel. Tubuh sempurna Darrel terpampang nyata. "Kau normal kan?" tanya Darrel asal.


"Sembarangan kalau nanya. Aku doyan perempuanlah. Gak suka adu pedang." Giliran Felix yang menyahut absurd.


"Baguslah kalau begitu." Darrel pikir melihat Orion dan Felix dekat, pria itu agak curiga. Namun melihat bucinnya Orion pada Alea, penilaian Darrel mulai berubah.


"Ngapain kamu?" Tanya Darrel yang sudah memakai bathrope-nya. Melihat Felix sejak tadi sibuk dengan ponselnya.


"Aku menghubungi Axa dan An. Aku minta mereka untuk melakukan tes DNA secepatnya. Rumah sakit itu bisa melakukan tes itu dengan akurasi mencapai 90%." Info Felix.


"Baguslah. Minta dilakukan secepatnya. Aku malas melihat mereka di rumah." Geram Darrel sambil meneguk teh jahenya.


"Malas karena kejadian semalam?" ledek Felix.


Darrel melengos mendengar ucapan Felix. Dia benar-benar dibuat marah sekaligus malu dengan ulah ibunya. Bagaiamana bisa perempuan itu menjalin hubungan sampai sejauh itu dengan Mario atau entahlah siapa itu. Yang jelas mereka mengenal pria itu sebagai Mario Athaya. Bagaimana jika kakek mereka sampai tahu. Bisa kumat jantung tu orang tua.


"Orion, kemana dia?" Felix seketika menghentikan aktivitasnya. Felix bukannya tidak tahu Orion ke mana. Namun hal ini masih dirahasiakan. Alea akan tetap menjadi Sera di mata publik, di masa depan.


"Dia ke Milan, mantengin tunangannya." Balas Felix akhirnya. Darrel menganggukkan kepalanya. Paham dengan maksud Felix.

__ADS_1


**


**


"Turun!" Orion membukakan pintu untuk Alea. Sementara wanita itu malah duduk bergeming di tempatnya. Orion memaksa Alea pulang. Tidak peduli alasannya apa. Alea harus pulang, meski bukan ke rumah keluarga Athaya. Mereka ada di lingkungan sebuah rumah susun. Namun untuk kalangan menengah ke atas. Akan lebih bagi Orion untuk mengawasi Alea, jika Alea berada di wilayahnya.


"Ngapain ke sini?" Tanya Alea mendongak ke arah Orion yang berdiri di sebelahnya. Alea tentu akan memilih kost-annya yang lama. Murah, fasilitas lumayan. Dekat dengan kampus juga deretan restauran di mana dia bisa melakukan part time di sama, mencuci piring.


"Mulai sekarang kau akan tinggal di sini." Bisik Orion. Alea seketika mendorong Orion menjauhi mobil. Lalu menutup pintu kendaraan itu.


"Apalagi sekarang?"


"Pulang ya ke sana. Rugi aku sudah membayarnya mahal-mahal." Tolak Alea.Tidak ada tanggapan dari Orion. Namun Orion tiba-tiba merebut sling bag Alea. Mengambil ponsel wanita itu lantas menghidupkanya.


"Apaan sih?!" Protes Alea. Melihat bagaimana Orion mendapatkan nomornya. Padahal sejak kemarin Alea sudah menyembunyikan ponselnya.


Orion menunjukkan bukti mobile banking yang baru saja pria itu lakukan. Alea mendelik melihat hal itu. Segera saja protes dilayangkan oleh gadis itu. Namun bukannya menanggapi ocehan Alea. Pria itu justru tersenyum. Tidak peduli sama sekali dengan kemarahan Alea.


Pria itu memanggil seorang helper. Meski berkonsep rusun yang bisa di tinggali bertahun-tahun, tapi tempat itu laksana hotel bintang tiga atau empat. Si helper langsung membawa koper Alea dan juga beberapa paper bag. Plus peralatan melukis yang dia kirim ke alamat kontrakannya yang lama.


"Ini bagaimana ceritanya? Hei..hei...koperku mau di bawa ke mana?!" Alea berteriak kesal. Wanita itu berusaha mengejar helper yang sepertinya sudah tahu mana kamar Alea. Alea membalikkan badannya. Menatap marah pada Orion.


"Menurut atau aku paksa seperti biasa?" tanya Orion memberi pilihan.


"Kembalikan koperku!!!" Teriakan Alea berubah jadi lengkingan saat Orion mengangkat tubuhnya. Memanggulnya seperti karung beras. Alea jelas malu plus takut. Ada beberapa staf tempat itu juga beberapa pekerja cleaning service yang tengah bertugas. Mereka tentu melihat kejadian memalukan itu. Setidaknya itu menurut Alea. Berulangkali, wanita itu minta diturunkan. Namun Orion tidak menggubrisnya.


Alea memukul punggung Orion berkali-kali, tapi pria itu tidak terganggu dengan ulah Alea. Merasa sakit pun tidak. Tiiiing, bunyi pintu lift terbuka, Orion masuk ke dalamnya. "Rion turunkan aku!" teriak Alea untuk ke sekian kalinya.

__ADS_1


Orion menuruti permintaan Alea kali ini. Alea langsung memukuli lengan Orion begitu pria itu menurunkannya. Untuk beberapa saat Orion membiarkan Alea melakukan apa yang dia mau. Sampai akhirnya pria itu jengah juga dengan kelakuan Alea.


"Sudahlah Alea. Nurut saja, oke? Capek tahu berdebat mulu." Mohon Orion.


Alea mendengus kesal. Lagi-lagi jengkel dengan sikap Orion yang sangat santai padanya. Wanita itu menatap tajam pada Orion yang juga tengah memandangnya. Detik berikutnya Orion mencium bibir Alea, bola mata Alea membulat. Bagaimana bisa Orion melakukannya di tempat itu.


Alea mendorong tubuh Orion menjauh. Saat itulah rasa pusing menyerang Alea. Wanita itu terhuyung, limbung hampir jatuh. Beruntung dia berpegangan pada lengan Orion, hingga dia tidak sampai ambruk ke lantai.


"Kenapa Al?" tanya Orion yang menyadari keadaan Alea. Tidak menjawab, Alea merasa kegelapan mulai mendatanginya. Tubuh wanita itu melemah dalam pelukan Orion. Pria itu tentu panik. Alea jarang sekali mengalami masalah dengan kesehatan.


"Jangan panggil dokter." Lirih Alea.


"Tapi kamu pucat sekali." Cemas Orion. Menahan Alea menggunakan tubuhnya. Wanita itu menggeleng. "Aku cuma perlu tidur. Capek." Balas Alea. Keduanya sudah keluar dari lift. Berjalan perlahan menuju kamar Alea.


"Perlu dokter, Pak?" tanya si helper yang baru saja keluar dari kamar Alea setelah selesai memasukkan koper. Melihat Alea dalam gendongan Orion


"Tidak, terima kasih." tolak Orion sopan. Orion mencari dompetnya. Lalu memberikan tips pada helper tersebut. Setelah membaringkan Alea di sofa. Si helper tentu senang. Pria itu keluar dari kamar Alea, setelah memberitahu kalau ada apa-apa bisa menghubungi resepsionis. Mereka punya dokter dan klinik yang berjaga 24 jam.


"Kamu kenapa lagi sih?" Batin Orion, mengusap wajah Alea. Lantas mencium kening wanita itu. Merasa aneh dengan keadaan Alea beberapa hari terakhir ini.


****



Couple yang tidak jelas 🤭🤭


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2