Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Bukan Pengganti


__ADS_3

"Kode yang anda masukkan salah."


Suara notifikasi sistem kunci brankas itu merespon hal sama setelah dua kali Alea salah memasukkan password. Gadis itu hampir saja ambruk saking lemasnya. Panik, kalut, bingung, takut semua menjadi satu. Alea tidak tahu lagi kode apa yang harus di masukkan. Apalagi menurut kabar, Sera sendiri yang memberikan kode itu. Bahkan Beni dan yang lainnya, mereka tidak tahu. Mereka hanya diberi akses kartu yang sudah disahkan oleh Sera dan Felix.


"Kenapa? Apa kau hilang ingatan sejak liburan itu?" Xia Lin bertanya setengah mengejek. Sungguh gadis itu merasa di atas angin. Jika sampai Alea gagal membuka pintu, orang akan mulai curiga padanya.


Vano seketika menoleh ke arah Xia Lin. Kecelakaan? Kecelakaan apa? Kenapa dia tidak tahu soal hal ini. Di depan sana, Alea mengumpat kesal. Kenapa Xia Lin tahu banyak soal dirinya? Bahkan kecelakaan yang dia alami bersama Sera, Xia Lin tahu soal itu.


"Dia mengalami benturan saat itu. Jadi dia sedikit mengalami masalah dengan ingatannya." An berujar.


"Aduuuhhh, kenapa sih An malah bilang soal kecelakaan itu. Nanti mereka tambah curiga." Batin Alea kesal.


"Nona, tinggal lima menit dan satu kesempatan lagi. Jika waktu habis dan Nona belum bisa ingat passwordnya atau passwordnya salah, pintu ini akan terkunci otomatis, perlu teknisi dan ahli IT untuk membukanya."


Mampuuss!!! Alea seketika mengumpat Xia Lin. Gara-gara wanita ular itu dia terjebak di sini. Bergulat dengan pikirannya sendiri juga pikiran Sera. Kira-kira kode apa yang akan Sera gunakan untuk hal sepenting ini. Beberapa detik Alea termenung, hingga ingatannya kembali ke saat kecelakaan itu terjadi. Waktu Sera memintanya menghubungi Orion.


Kode ponsel itu....apa kode itu yang di maksud. Alea perlahan menekan bilah keyboard tersebut. Mencoba perutungannya kali ini. Boleh dikatakan Alea mempertaruhkan semua di sini. Nasibnya, nasib Orion, juga kepercayaan semua orang atas dirinya adalah Sera.


Di ruangan Alea. Orion hanya bisa duduk tanpa mengalihkan pandangannya dari CCTV yang memantau Alea. Di mana gadis itu tengah memasukkan kode untuk membuka pintu brankas. Semua orang menahan nafas saat icon enter ditekan oleh Alea. Gadis itu memejamkan mata, menunggu loading verifikasi dari kode yang baru saja dia masukkan. Hening untuk beberapa detik, hingga terdengar suara notifikasi yang menyatakan kalau kode yang Alea masukkan adalah benar.


Alea memejamkan mata semakin rapat. Merasakan kelegaan luar biasa dalam hatinya. An dan Vano melakukan tos tanpa sadar, sedang Xia Lin, bisa dibayangkan bagaimana kesalnya wajah wanita itu. Di ruangan Alea, Axa dan Xuan saling berpelukan. Dengan Orion yang menarik dua sudut bibirnya.


An tampak berlari mengejar Alea yang kesal padanya. Keduanya sudah berada di lorong menuju lift. "Sorrylah, Al...aku salah." Mohon An. Pria itu lupa kalau kecelakaan yang menyebabkan pertukaran itu adalah rahasia. Bahkan Beni saja tidak tahu.


"Makanya kalau punya mulut jangan lemes. Lemesnya sama Atika aja. Yang lain jangan." Judes Alea. Beuuhhh, gadis itu kalau lagi mode ngamuk seperti singa belum ketemu pawangnya. Tidak ada lawan.


"Kok jadi bawa nama Atika, ini soal ke...." An seketika bungkam saat melihat Vano berjalan ke arahnya dan Alea. Tanpa basa basi pria itu menarik tangan Alea pergi dari sana. "Ehhhh, mau ke mana? Tour-nya bagaimana?"


"Bodo amat dengan tour-nya. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan." Vano membawa Alea ke rooftop di mana pria itu langsung memeluk Alea. Seolah takut jika hal buruk terjadi pada gadis itu.

__ADS_1


"Apaan sih?" Alea beringsut ingin lepas dari pelukan Vano. Namun pria itu tidak mau melepasnya.


"Kenapa kamu tidak cerita soal kecelakaan itu?" tanya Vano setelah pria itu mengurai pelukannya.


"Aahhh, itu hanya kecelakaan kecil. Mobilku menyerempet mobil lain. Hanya sedikit benturan, seperti An katakan. Semua baik-baik saja, jangan khawatir." Alea menjawab tanpa berani memandang wajah Vano. Takut kalau pria itu tahu akan kebohongannya.


"Sudah diperiksa?"


"Sudah. Dokternya bilang tidak apa-apa." Detik berikutnya bola mata Alea membulat saat Vano kembali memeluknya. Kali ini dengan sebuah ciuman yang mendarat di puncak kepala Alea. Satu tindakan yang membuat Alea terkejut dan bara kecemburuan muncul di hati Orion.


Alea meronta dari pelukan Vano, saat Orion berada di depannya, dengan Vano membelakangi Orion. Hingga pria itu tidak melihat kedatangan Orion. "Aaaaarghhhhh." Alea berteriak saat Orion menarik Alea dari pelukan Vano.


"Sudah kubilang jangan menyentuhnya!" Orion berucap penuh peringatan.


"Val...Orion aku hanya merasa lega melihat Sera baik-baik saja setelah kecelakaan saat liburannya kemarin." Vano berusaha menjelaskan.


Orion mendelik saat Vano hampir menyebut nama aslinya. "Jangan berpikir macam-macam. Tidak ada apa-apa di antara kami." Lagi Vano berkata.


Alea langsung memandang Vano dan Orion bergantian. Tidak percaya dengan apa yang Orion katakan. "Tapi....meski kau menyukai Sera, dia akan jadi tunanganku minggu depan." Vano seketika mengepalkan tangannya mendengar ucapan Orion.


Pria itu hanya diam, tidak mampu membantah ucapan Orion. Vano bahkan sudah bicara pada Kakek Beni, dan pria itu tetap pada pendiriannya. Beni akan menikahkan Orion dan Alea.


"Kau lihat, sekeras apa pun kau berusaha merebutnya dari Orion. Kau tidak akan berhasil." Suara Xia Lin muncul di samping Vano. Vano jelas semakin kesal mendengar perkataan Xia Lin. Bagai menyiram minyak di bara api yang menyala, ucapan Xia Lin kian mengobarkan amarah Vano. Xia Lin tersenyum penuh makna saat Vano berlalu dari hadapannya.


"Kita lihat, apa kau masih senekat dulu." Gumam Xia Lin.


*


*

__ADS_1


"Orion lepas! Woi....aku bilang lepas!!" Alea berteriak keras, tidak peduli kalau ada staf yang mendengarnya. Dan berhasil, Orion langsung membungkam mulut Alea dengan tangannya.


"Berisik tahu!"


"Bodo!" Alea adalah Alea. Kau meneriakinya. Dia akan balas berteriak dua kali lipat lebih keras. Orion melepas bungkamannya pada mulut Alea, pria itu lantas berjalan mondar mandir tidak karuan. Dia tidak suka dan marah saat Vano memeluk Alea. Tapi dia tidak tahu sebabnya.


"Berhenti gak. Pusing tahu lihatnya." Cecar Alea. Orion menghentikan aksinya. Lalu memandang Alea. "Bisa tidak kau itu manis sedikit di depanku? Kita mau tunangan minggu depan."


"Gak bisa. Yang pengen tunangan kan kamu sama kakek. Jadi sana, kalian aja yang tukar cincin." Alea menyahut enteng.


"Alea......" Orion menggeram marah. Sungguh baru kali ini pria itu berhadapan dengan gadis yang sulit ditakhlukkan.


"Ayolah Orion. Pertunangan ini tidak ada dalam skenario kita. Jadi gak usah ya." Bujuk Alea.


"Aku berubah pikiran. Aku memasukkan part ini dalam rencana kita. Agar kenyataan kalau Sera dan aku saling mencintai semakin kuat."


Giliran Alea yang mendengus kesal. Orion adalah pria konsisten. Jika dia sudah memutuskan, akan sangat sulit untuk mengubah keputusannya. Orion menarik sudut bibirnya, meraih helaian rambut Alea. Lantas menyelipkannya di belakang telinga Alea.


"Jadi bersiaplah untuk pesta pertunangan kita minggu depan. Serafina Athaya."


"Aku bukan dia!"


"Kau adalah dia, kau menggantikan dia selama perjanjian kita berlangsung." Orion menatap tajam Alea yang berusaha lari dari cekalan tangan Orion di lengannya.


"Aku adalah aku! Aku bukan pengganti!"


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****


__ADS_2