
Pintu mobil dibuka, dan Orion sigap menyambut Alea. Kembali otak Alea berusaha mengingat denah kantor Sera. Gadis itu menghela nafasnya lantas mengikuti langkah Orion, masuk ke kantor besar itu. "Dewan direksi ingin bertemu." Orion berkata singkat saat mereka memasuki lift.
Itu berarti mereka akan langsung ke ruang meeting. Kepala Alea kembali dipenuhi oleh beberapa laporan yang sudah Sera buat dan planning untuk Star Jewerly.
"Apa ini ada hubungannya dengan sepupu tercintaku itu?"
Orion menarik satu sudut bibirnya. Alea pintar membaca kondisi. Darrel sejak dulu menginginkan posisi CEO Star Jewerly. Padahal Beni sudah memberikan perusahaan lain untuk Darrel kelola. Namun karena nilai Star Jewerly lebih mahal dari Star Constraction, maka Darrel bersikukuh menginginkan perusahan perhiasan itu.
Tidak mendapat bantahan dari Orion, berarti dugaannya benar. Alea kembali menghela nafas. Kali ini kepalanya tengah mengingat data para anggota dewan direksi.
"Kita akan lihat bagaimana dia mengatasi masalah ini. Kau sudah menyuruhnya pergi?" seorang pria tua bertanya pada Darrel. Sepupu Sera itu mengangguk. Senyum puas terukir di bibir Darrel. Dia pikir kali ini akan mendepak Alea keluar dari sana.
Tak lama pintu terbuka, bisik-bisik pun berhenti. Alea masuk diiringi Orion dan Axa juga An. Semua orang tentu terkejut melihat Orion yang berada di sisi Alea.
"Mulai sekarang, Tuan Orion Harasya akan menjadi rekanku dalam mengelola kantor ini."
Kasak kusuk pun kembali terdengar. Terlebih pria yang berada di samping Darrel. Sorot mata Orion tajam memandang pria yang duduk bersama Darrel. Di ujung sana, Xuan bekerja menganalisa wajah rekan Darrel.
"Anton Darmawan, dia melakukan pencucian uang dari penjualan aset Star Jewerly."
Orion menarik sudut bibirnya. "Cari buktinya. Kita akan singkirkan mereka satu persatu." Desis Orion lirih. Xuan langsung melakukan tugasnya.
Di depan Orion, satu berkas sudah berada di tangan Alea. Wajah Alea seketika berubah kesal. Sedikit banyak dia mulai meraba situasi, kalau di rumah maupun di kantor, banyak orang membenci Sera dan ingin menjatuhkan gadis itu.
"Deadline-nya lusa. Waktumu dua hari untuk menyelesaikan masalah ini." Seorang anggota dewan bicara pada Alea.
Alea menatap tajam pada pria itu. "Bayu Aksara." Alea mengingat dengan jelas wajah pria itu juga semua profile dan...kelakuan busuknya.
"Kau bisa mengatasinya?" Darrel berucap setengah mengejek.
"Kenapa aku harus sendirian mengatasinya. Pinjaman ini diberikan satu tahun lalu, dan waktu itu aku belum ada di sini. Seharusnya kalian yang mencari solusinya. Bukankah kalian yang sudah menghabiskan dana pinjaman itu? Kenapa sekarang menyuruhku mencari cara untuk mengembalikannya. Padahal sepeser pun aku tidak menyentuh uang itu."
Kali ini baik Orion maupun An juga Axa terkejut dengan reaksi Alea. "Benar-benar berani." Begitulah yang Orion pikirkan. Gadis ini jauh berbeda dengan Sera. Alea punya sisi ambisius dalam dirinya. Satu sisi yang membuat Alea begitu yakin dan berani dalam mengambil tindakan serta ucapan.
Anggota dewan direksi terdiam. Tidak menyangkan jika CEO mereka yang baru bisa membalikkan keadaan.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku menyelesaikan ini dengan mengambil kembali aset kalian, yang sudah kalian dapatkan menggunakan dana pinjaman ini."
"Kau menuduh kami korupsi?" tanya Bayu Aksara.
"Kau ingin bukti? Akan kuberikan." Alea memajukan tubuhnya, menantang Bayu Aksara yang seketika mengkeret melihat betapa kuat dominasi Alea di tempat itu.
Beberapa orang yang merasa tidak melakukan kesalahan, tersenyum simpul. Mereka pikir era baru kepemimpinan telah datang. Masa yang mereka harapkan akan lebih baik dari kemarin.
"Lusa...jika aku bisa menyelesaikan ini. Semua yang terlibat dalam hal ini, akan kusingkirkan."
****
"Kau terlalu berani Alea!" Orion menarik pundak Alea, hingga gadis itu berbalik.
"Bukankah tugasmu adalah membantuku. Maka bantu aku sekarang."
"Kau pikir aku pembantumu....."
"Hey....bisa tidak bertengkarnya di pending dulu. Manager keuangan kabur. Sepertinya dia membawa daftar aset perusahaan ini. Jadi kita tidak akan menemukan asetnya, dan tidak bisa menjualnya." Xuan menyela perdebatan Orion dan Alea.
Keduanya langsung melesat keluar, setelah Orion menghubungi Axa. "Kalau acara mengumpat aja, kompak." Seru Xuan kembali menatap laptopnya. Namun perhatian pria itu teralihkan ke arah pintu.
"Kenapa kau ikut? Masuk sana!"
"Gak! Kau pikir setelah mencekikku semalam, aku akan takut padamu. Nggak ya." Ledek Alea.
Orion melongo mendengar jawaban Alea. Gadis ini sama sekali tidak termakan ancamannya. Di kursi depan, Axa mengerutkan dahi mendengar Alea menyebut Orion mencekiknya semalam. Orion memang temperamental. Terpancing sedikit, amarah pria itu bisa meledak. Dan tindakan fisik biasa jadi sasaran Orion.
"Jalan!" Perkataan Alea menyentak kesadaran Axa. Orion bergegas masuk ke mobil. Tak berapa lama, mobil itu sudah melandas di jalan raya. Orion dan Axa selalu terhubung dengan Xuan. Pria itu yang memantau pergerakan manager keuangan.
"Mereka mengumpankan orang lain."
Orion melirik Alea yang memandang ke arah depan. Pria itu lama-lama jadi penasaran. Pedasnya mulut Alea apa akan semanis rasa bibirnya.Terlebih gadis itu seperti menempatkan sebuah benteng di sekitar dirinya. Sekuat tenaga menolak pesona Orion.
Alea semalaman berpikir, dia awalnya berambisi menakhlukkan Orion, namun setelah pria itu mencekiknya. Alea berpikir ulang soal niatnya itu. Melihat aset Sera, bukanlah lebih mudah baginya untuk mempertahankan perannya sebagai Sera. Dia akan mulai mengumpulkan uang, dari celah yang bisa dia lihat. Meski Orion akan menggajinya tiap bulan. Namun kalau ada kesempatan, kenapa tidak.
__ADS_1
"Mobilnya ada di depan." Axa memberi info, di depan mereka sebuah mobil berwarna tampak melaju kencang. "Hadang mobilnya," perintah Orion.
Axa mengangguk, lantas menginjak pedal gasnya. Ciiiiiitttt, rem dua mobil itu berdecit keras. Pengemudi mobil hitam itu melihat Alea yang mirip Sera. Pria itu mulai ketakutan, detik berikutnya pria itu keluar dari mobilnya.
"Berhenti kau, brengsek! Berani mencuri dari Kak Sera!"
"Alea!!!" Orion menggeram marah. Tak berapa lama, Orion dan Axa ikut mengejar Alea. Kejar-kejaran pun terjadi. Alea jelas kesusahan, berlari dengan heels sepuluh senti. Gadis itu beberapa kali mengumpat sepatu Sera yang semuanya ber-heels tinggi.
"Aku tidak sependek itulah, Kak." Alea kembali menggerutu.
Di depannya, si manager keuangan terus berlari, melihat Alea yang dia kira Sera tengah mengejarnya. "Berikan itu padaku!" Pinta Alea setelah berhasil memojokkan pria itu di rooftop gedung itu. Nafas Alea terengah-engah. Teringat, terakhir kali dia bermaraton ria ketika dia hampir telat ke kampusnya.
Pria itu menyeringai, ternyata hanya seorang wanita yang mengejarnya. Baginya Alea tidak akan bisa melawannya.
"He....gadis kecil, pergi sana! Jangan menggangguku."
"Aku akan pergi jika kau berikan tas itu padaku."
Pinta Alea. Bukannya takut, manager keuangan itu malah berjalan mendekati Alea. Sebuah pisau berada di tangan pria itu. Alea memundurkan langkahnya. Terlebih pria itu begitu lihai memainkan pisau di tangannya.
"Kau takut?"
Alea memundurkan langkah, pria di hadapannya tampak tersenyum puas. Di belakang Alea adalah tangga. Satu dorongan akan membuat Alea jatuh, dan halangan bisa disingkirkan. Pikir pria itu, semakin mendekati Alea.
"Kau....kau mau apa?" tanya Alea cemas.
"Mengirimmu ke neraka!" Detik berikutnya, pria itu mendorong tubuh Alea ke arah tangga. Alea terkejut, merasakan pijakan di kakinya tidak ada lagi.
"Aku jatuh," batin Alea.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
*****