Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
It's Showtime


__ADS_3

"Sshhh"


Sebuah ringisan terdengar dari mulut Alea, gadis itu seketika memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Orion yang berada di depan Alea langsung menghentikan gerakannya. Mengompres pipi Alea yang lebam terkena pukulan.


"Pelan-pelan napa sih?" protes Alea. Mendengar protes Alea, Orion malah menekan kuat kain kompres ke pipi Alea.


"Aduuhhh...." Alea merebut kain tersebut dari tangan Orion. Sedikit kasar, meski begitu Orion tidak marah. Pria itu hanya tersenyum tipis, lantas menjauhkan diri, sejenak melihat Alea yang meraih cermin lalu melanjutkan acara kompres mengompresnya.


Selanjutnya Orion kembali melakukan hal sama yang membuat Alea salah tingkah. "Kenapa sih dia selalu memakai syal seperti itu? Kenapa juga dia harus melepaskannya di depanku?" gerutu Alea dalam hati.


Orion dengan santai membiarkan dua kancing kemeja atasnya terbuka, setelah melepas syal yang melilit leher pria itu. "Kan...kan...dia sengaja melakukan itu." Lanjut Alea, masih dalam hati.


"Kenapa berhenti?" tanya Orion.


Alea mendengus kesal. Lantas melanjutkan kegiatannya sendiri. Membiarkan Orion sibuk dengan pekerjaannya. Diam, hanya itu yang terjadi di antara mereka. Sesekali terdengar suara kertas yang digeser atau Orion yang sesekali menarik nafasnya.


Tak berapa lama, ponsel Orion berbunyi, panggilan dari Axa. Orion melirik ke arah Alea, setelahnya pria itu langsung membiarkan Axa bicara soal kejadian tadi sore. Orion mendengarkan penuturan Axa sambil melihat ke arah Alea yang...tertidur. Ya, gadis itu memejamkan mata masih dengan kain kompres yang menempel di pipinya.


Orion menggeser kembali duduknya hingga berada tepat di depan Alea. Rahang Orion mengeras mendengar hasil penyelidikan Axa. Bisa Orion lihat bekas memar di pergelangan tangan dan paha yang sedikit terlihat di balik baju tidur yang Alea kenakan. Dan pria itu yakin, masih ada lebam lain yang tersembunyi di balik pakaian Alea.


"Kacaukan pengiriman mereka dan untuk Darrel aku sendiri yang akan membalasnya." Orion menutup panggilan telepon dari Axa. Pria itu lantas menyingkirkan kain dari pipi Alea. Sekilas Orion menyibak rambut Alea yang mulai panjang di bagian leher, hingga bekas biru itu lagi-lagi terlihat.


Orion semakin geram dibuatnya. Pria itu perlahan mengambil salep yang dia bawa, mengoleskannya dengan lembut pada lebam yang bisa dia lihat di tubuh Alea. Sesekali Alea menggeliat pelan, merasakan dingin saat salep itu menyentuh kulitnya.


"Tidurlah, maaf sudah membiarkanmu menghadapi semua ini sendirian." Orion berkata sambil mencium kening Alea. Setelah memindahkan tubuh gadis itu ke ranjangnya.


"Apa semua sudah siap?" Orion menghubungi An melalui ponselnya, pria itu sudah keluar dari kamar Alea, tengah menuruni tangga. Berjalan keluar menuju pintu keluar. Tanpa Orion tahu, seseorang menyelinap masuk ke kamar Alea.


Seseorang itu memeriksa kamar Alea sebentar, melihat Alea yang tidur pulas. Orang itu menyapukan pandangannya ke seluruh kamar itu. Hingga dia menemukan laptop Alea di atas meja. Pria itu bergegas mengutak atik benda persegi itu. Beberapa waktu berlalu, seseorang itu menggeram marah, sebab dia tidak menemukan apa-apa di benda canggih tersebut.

__ADS_1


Namun orang itu tidak kecewa sama sekali, karena detik berikutnya, dia menempelkan sesuatu di bawah meja itu. Alat perekam. Setelahnya, orang itu segera beranjak dari sana. Sejenak berhenti di depan kasur Alea. Memperhatikan Alea dengan penuh hasrat. "Akan tiba waktunya aku dapat menikmati tubuh seksimu itu. Tidak masalah meski kau bekas Orion. Rasamu pasti sangat nikmat."


Orang itu keluar dari sana setelah menggumamkan kalimat yang terdengar menjijikkan. Dia pikir harus segera mencari pelampiasan karena hasratnya meroket naik setelah melihat tubuh Alea yang hanya terbalut gaun tidur.


Di tempat lain, di sebuah tempat berjuluk klub malam. Sebuah tempat yang identik dengan pesta. Terlihat Orion yang berjalan santai melewati ratusan orang yang tengah menikmati suasana tempat itu. Para penari mulai menunjukkan aksi mereka. Menari dengan gerakan erotiiiss, memancing para hidung belang untuk mencari pasangan, guna melampiaskan hasrat yang tergugah karena aksi mereka. Tidak peduli mereka laki-laki atau perempuan, asal dapat kepuasan, itu sudah cukup buat mereka.


Mengenakan kaos hitam dan jaket hitam, Orion berjalan terus tanpa menghiraukan senyum dan panggilan menggoda dari para wanita penjaja kepuasan di tempat itu. Tujuan Orion hanya satu, sebuah meja di mana An sudah menunggunya.



Kredit Pinterest.com


An melambai setelah melihat sosok Orion berjalan ke arahnya. An tertawa melihat sang atasan harus berjibaku dengan beberapa wanita seksi yang berupaya menarik perhatian pria tampan itu.


"Kesal ya?" ledek An santai melihat wajah bersungut-sungut dari Orion. Bukannya menjawab, Orion langsung memberikan tatapan tajam pada An. Detik berikutnya Orion langsung menenggak habis minuman yang ada di depannya.


"Hei, kau bisa menahan itu? Itu tequila double shot." An memperingatkan Orion.


Orion berujar setengah berteriak. Pasalnya musik yang dimainkan seorang DJ di depan sana, sungguh ingin merobek telinga Orion. Saking kerasnya.


An memberi kode dengan jarinya, lima jari yang artinya 5 menit lagi, setelah pria itu melirik jam tangannya. Orion berdecak kesal. Dia tidak suka melihat para wanita yang memandangnya penuh nafssuu padanya.


"Ck, menyebalkan sekali. Berada di sini membuatku pusing." Gerutu Orion sesekali melempar tatapan tajam pada para wanita itu. Ingin memperingatkan mereka agar tidak mengusiknya. Apakah berhasil? Jelas tidak, para perempuan itu justru semakin tertarik pada sosok Orion.


Lima menit serasa lima tahun untuk Orion, sampai An beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menuju lantai tiga. Di mana di lantai dua Orion hanya bisa menggelengkan kepalanya. Di lantai dua sedang ada pertunjukkan dari beberapa penari striptease.


"Gila ya mereka." Celetuk An.


"Apanya yang gila? Mereka hanya belum menemukan satu gadis perawan yang bisa membuat mereka gila di ranjang. Seneng amat dapat bekas orang." Seloroh Orion tanpa sadar.

__ADS_1


An sejenak membulatkan mata, apa Orion pernah bercinta sebelumnya? Apa dengan Sera pria itu pernah tidur bersama? Atau dengan Alea malahan? Pertanyaan itu seketika menyeruak di benak An.


"Apa kau pernah melakukannya dengan Sera....atau Alea? Aduuuhhh." An mengeluh saat Orion menggeplak kepala An.


"Sembarangan kalau ngomong. Menyentuh Sera? Kau ingin aku digantung Felix. Sedang Alea...."


Orion menggantung ucapannya. Orion menyukai Sera sejak lama, namun dia tidak mungkin mendapatkan gadis itu sekarang, berhubung Sera sudah meninggal. Namun kehadiran Alea membuat Orion berpikir ulang soal cinta dan menyukai seseorang.


"Apa kau menyukai Alea?" Tanya An sambil membimbing Orion menaiki tangga ke lantai tiga. Meninggalkan pemandangan para penari telanjanggg yang mulai menelanjangii diri mereka sendiri.


"Jangan bahas itu!" Orion memberi peringatan pada An.


An tersenyum simpul, mengerti dengan kebingungan Orion. Mereka tidak akan memperpanjang pembahasan itu, setidaknya untuk malam ini. Sebab mereka sudah sampai di kamar yang mereka tuju.


Seorang pria berpakaian hitam, memberikan kunci pada An. Sejenak An menoleh ke arah Orion. "Kau siap menonton pertunjukkan?"


"Pertunjukkan apa? Melihat mereka seperti itu sangat menjijikkan. Aku heran kenapa mereka suka melakukannya?"


"Rasanya nikmat Bro, bikin nagih. Itu kata Jack tapi. Dia kan tukang begituan."


Orion berdecak kesal. Mendorong tubuh An untuk segera membuka pintu kamar itu.


"Penasaran ya. Oke, it's showtime."


*****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


*****


__ADS_2