
"Ayo ke rumah sakit." Orion menggendong tubuh Alea, tapi gadis itu menarik kerah baju Orion. "Jika kau membawaku ke rumah sakit, mereka akan curiga. Uhukk... Kak Sera tidak punya riwayat alergi starbwerry."
Orion menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Alea. Dilema segera melanda pria itu. Sementara Alea semakin merasa sesak.
"Himalayan salt, berikan aku terapi itu." Bisik Alea lemah. Wajah panik Orion semakin menjadi. Pria itu segera berbalik arah. Masuk ke kamar mandi. Menurunkan Alea di sisi bath up. Dengan pria itu langsung melepas jasnya. Alea semakin brutal menggaruk tubuhnya. Bintik-bintik merah itu timbul kian banyak. Alea mulai meringis menahan rasa terbakar plus rasa sesak.
Orion dengan cepat melihat ke arah meja di kamar mandi. Yang pertama kali di pikirkan oleh pria itu adalah membuat Alea muntah, itu akan mengurangi strawberry dicerna dan diserap tubuh. Hingga reaksi alergi bisa ditekan ke titik minimal. Selanjutnya Orion bisa menggunakan air garam himalayan untuk meredakan sesak Alea.
Pria itu mencampur himalayan salt dengan sebotol air mineral. Dia hanya asal mencampur. Ringisan Alea semakin menjadi saat Orion mendekat dengan segelas air himalayan salt di tangannya. "Alea...dengarkan aku, aku akan membuatmu muntah. Mungkin caraku agak menyakitkan. Jadi tahan sebentar, oke?"
Orion menegakkan tubuh Alea, lalu tanpa basa basi, jari panjang Orion menerobos masuk ke tenggorokan Alea. Detik berikutnya, gadis itu bergeser cepat ke closet yang ada di sampingnya. Meski rasanya sangat menyakitkan, saat jari Orion menyodok kerongkongan, tapi Alea bisa memuntahkan sisa puding yang dia makan. Setidaknya itu akan mengurangi reaksi alergi Alea.
"Minum ini." Orion mengulurkan segelas air himalayan salt. Alea menggeleng. Hingga Orion yang dilanda panik, dengan cepat memegang dagu Alea lalu meminumkan paksa air itu. Alea ingin memuntahkannya, tapi Orion segera memencet hidung Alea. Sampai "glek" air itu tertelan oleh Alea. Dalam keadaan itu, Alea masih sempat memberikan tatapan tajam pada Orion.
"Marahnya nanti saja." Orion kembali mengangkat tubuh Alea. Sesak masih dia rasa, dan kini rasa panas menyerang Alea. "Panas." Desis Alea. Orion memasukkan tubuh Alea ke dalam bath up, lantas menghidupkan showernya. Rasa dingin itu serasa nyaman saat menyentuh kulit Alea.
Gadis itu menarik nafasnya panjang, seolah merasakan kelegaan yang luar biasa. Alea memeluk lututnya sendiri. Membiarkan air shower sepenuhnya menyiram seluruh tubuhnya. Orion melihat hal itu dengan tatapan yang sulit diartikan, saat gaun Alea mulai basah, Orion ikut masuk ke dalam bath up. Pria itu masih melihat kepanikan di wajah Alea.
"Tenanglah, semua sudah berakhir. Aku akan di sini untuk menjagamu." Orion merengkuh tubuh Alea masuk dalam pelukannya. Bisa Orion rasakan nafas Alea yang terdengar berat.
Kredit Pinterest.com
"Masih sesak?" tanya Orion. Keduanya kini duduk dalam bath up yang airnya mulai naik permukaannya, hingga merendam mereka. Jangan tanyakan lagi pakaian keduanya yang sudah basah kuyup dari tadi.
__ADS_1
Alea menggeleng mendengar pertanyaan Orion. Yang Alea inginkan hanyalah tidur. Gadis itu menggerakkan kepalanya, mencari tempat yang nyaman untuk bersandar di dada Orion.
Huft....Orion menghela nafasnya, melihat Alea yang tidur pulas di ranjang. Meski Alea lemah, tapi gadis itu mampu mengganti pakaiannya sendiri. Dan di sinilah Alea, terlelap dalam mimpinya setelah meminum obat yang An antarkan.
Orion jelas kecolongan kali ini. Entah sengaja atau tidak, alergi strawberry Alea bisa dijadikan senjata oleh musuh untuk melukai Alea. Hari ini Orion akan membiarkan Alea istirahat sepuasnya. Selain akhir pekan, hari ini dia ada janji dengan Vano. Pria itu masih penasaran dengan identitas Orion. Dan sepertinya, hari ini Orion akan menunjukkan siapa dirinya.
Mobil Orion melenggang di jalanan yang masih sepi, menuju ke restaurant yang ada di sebuah bukit. Di mana Vano tengah menunggunya. Orion langsung menuju rooftop, tempat meja Vano berada. Pria itu langsung mendudukkan diri di hadapan Vano.
"Kau benar-benar ingin bertunangan dengannya?"
"Aku bahkan ingin menikahinya."
Vano menggebrak meja, sebagai tanda protes. Orion tersenyum tipis. Vano pikir Alea adalah Sera, gadis yang Orion tahu, Vano sukai sejak mereka masih kecil.
"Kau jangan main-main!" Desis Vano penuh penekanan. Dia jelas tidak terima jika Alea menjadi milik Orion.
Kepanikannya semalam soal keadaan Alea, membuat Orion yakin, dia punya perasaan lebih pada Alea. Sebuah rasa yang dulu pernah dia punya untuk Sera. Bertahun-tahun lalu. Kini Orion hanya ingin membuat Alea bahagia, setidaknya dia akan menjaga Alea sampai Felix kembali. Dan itu tidak lama lagi.
Di sisi lain, rahang Axa mengeras melihat Xuan yang tengah bersepeda ria bersama Nika. Akhir pekan tiba dan Nika memenuhi janjinya untuk berolaraga bersama Xuan. Sesuai kesepakatan Xuan dan Nika bersepeda. Tawa dua orang itu membuat telinga Axa risih. Hingga Axa memasang air pods di telinganya sambil terus menghajar samsak tinju di hadapannya. Pria itu sama sekali tidak melihat lagi keseruan Xuan dan Nika melalui kaca dua arah jendela ruang olahraga tempat Axa ngegym.
Cemburukah Axa? Pria itu jelas tidak tahu apa yang dia rasakan. Dia hanya tidak suka melihat Xuan bisa tertawa bersama Nika. Sedang bersamanya Nika hanya menyuguhkan raut wajah judes tidak ketulungan. Sementara Axa sibuk dengan pikirannya sendiri. Xuan justru menikmati waktu bermainnya bersama Nika. Orang lain akan menilai mereka berpacaran padahal tidak. Xuan mendekati Nika hanya untuk mengawasi Nika agar tidak mendekati Alea. Itu saja.
"Jadi Atika dan An dekat?" Tanya Nika dengan wajah terkejutnya. Raut wajah Xuan seketika menunjukkan ekspresi "ya begitulah."
"Lalu kamu sendiri?" kepo Nika.
__ADS_1
"Aku?" Xuan menunjuk wajahnya sendiri. Nika mengangguk antusias. Xuan berpikir sebentar. Dari ketiga rekannya, Xuanlah yang paling lama ikut dengan Orion. Xuan adalah asisten pertama Orion, pria yang menjadi tangan kanan Orion sejak pria itu mulai masuk ke dunia bisnis. Kemampuan Xuan sebagai hacker sekaligus bodyguard, sangat bisa diandalkan.
"Aku tidak ingin menjalani hubungan apapun saat ini. Aku hanya mau Orion bahagia dulu, baru aku akan mencari kebahagianku."
Satu suara tepuk tangan Xuan dengar, pria itu menoleh dan melihat Nika yang sedang bertepuk tangan untuknya. "Hebat! Xuan sangat hebat. Mementingkan kebahagiaan orang lain sebelum dirinya sendiri."
"Ahh, aku tidak sehebat itu." Xuan berkata malu.
"Lalu kau? Bagaimana denganmu? Apa kau tengah menyukai seseorang? Kalau iya, aku bisa mendekatkan kalian."
Nika gelagapan mendengar pertanyaan Xuan. Terlebih waktu itu bersamaan dengan Axa yang keluar dari gedung gym. Memakai jaket kulit dan celana jeans membuat Nika mengerutkan dahi.
"Apa lukanya sudah sembuh? Kenapa dia pakai jeans lagi. Sesak kan bisa buat lukanya terbuka lagi." Batin Nika terus melihat ke arah Axa. Sampai hal itu disadari oleh Xuan.
"Apa kau menyukai Axa?"
Nika membulatkan mata mendengar pertanyaan Xuan. Nika sendiri tidak tahu perasaannya pada Axa. Hingga kedikan bahu Nika menjadi jawaban gadis itu atas rasa ingin tahu Xuan.
"Wah sepertinya cupid perlu beraksi lagi."
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****