Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Pencarian


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Sementara itu, yang lain pusing tujuh keliling memikirkan ke mana Alea pergi. Gadis yang tengah menjadi target pencarian Orion dan yang lainnya justru tengah tersenyum lebar. Alea yang sengaja tidak membawa koper besar, terlihat merentangkan tangan. Menarik nafasnya dalam dan lama.


"Welcome back to my ordinary life!"


Alea berteriak kencang. Di depannya terdapat satu bangunan mirip tempat penginapan berbentuk kerucut. Tempat itu berada di sebuah area perkebunan. Dikelilingi pohon dan bunga, membuat udara di tempat itu terasa segar dan bersih. Bertempat di puncak bukit, tempat itu menawarkan pemandangan yang sangat indah.


"Sangat cocok untuk melukis." Gumam Alea bersemangat. Gadis itu menggeret koper dan satu paper bag besar berisi peralatan melukis. Alea sempat membeli set peralatan melukis beserta catnya. Juga satu kantong plastik besar berisi bahan makanan dan cemilan.


Masuk ke kamarnya, senyum Alea bertambah lebar. Sebuah kamar yang sederhana tapi dia suka. Satu buah kasur, satu set meja makan dan sebuah sofa di sudut kamar. Satu ruangan kecil dengan dapur minimalis dan kamar mandi. Beberapa alat masak sederhana ada di sana. Jangan lupakan bagian paling menyenangkan dari tempat itu adalah sebuah balkon di belakang pondokan yang mengarah ke hamparan kebun teh yang ada di bawah bukit itu.


"Sempurna!" Alea berteriak girang. Setelah berhasil meloloskan diri dari kepungan security bandara, yang mengira dirinya penumpang gelap. Akhirnya Alea bisa keluar dari bandara. Berencana mengambil liburan sejenak, sebelum kembali ke kehidupan lamanya. Alea menyewa tempat itu untuk jangka waktu satu minggu.


Seperti yang Xuan infokan, Alea mengambil sejumlah uang di ATM bandara. Dia sudah memperhitungkan biaya hidup selama satu minggu ini. Serta biaya hidup selama dia belum mendapat pekerjaan. Semua sudah Alea perhitungkan dengan matang. Uang kost sudah dia bayar sejak lama. Jadi aman.


Tanpa Orion tahu, Alea sudah memindahkan seluruh gajinya selama menggantikan Sera ke rekening lamanya. Gadis itu juga sudah membayar uang kuliahnya, jadi dia tinggal masuk saja nanti.


Mata Alea berbinar melihat indahnya view dari balkon belakang bangunan kerucut itu. Alea mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana, sembari meminum air mineral yang dia bawa. Alea menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Baru merasakan lelah, setelah aksi kejar-kejarannya dengan pihak pengamanan bandara. Pada akhirnya Alea dilepaskan setelah mengatakan kalau dia membatalkan penerbangannya, sambil menunjukkan bukti tiket dan pasport-nya.


"Bagaimana caranya mengembalikan pasport ini." Gumam Alea, meraih sling bagnya lantas melihat paspornya. Mata Alea membulat. Pasport-nya atas namanya bukan atas nama Sera. Alea Nadiva Vinata. Semua data juga miliknya. Ini aneh, kenapa semua profil adalah miliknya, bukan Sera.

__ADS_1


Sesaat Alea terdiam, hingga kemudian gadis itu tersenyum. Baguslah, dia tidak perlu mengembalikan paspor itu. Ini malah lebih baik. Satu helaan nafas panjang terdengar dari bibir Alea. Gadis itu mulai mencari posisi nyaman, hingga tak lama mata cantik Alea terpejam. Dalam pelukan udara yang sejuk, sedikit agak dingin, Alea tertidur. Di bawah matahari yang mulai bergerak ke arah barat. Sudah lama Alea tidak merasakan tidur di alam bebas, serasa hidup tanpa beban.


**


**


Di sisi lain, Orion melajukan mobilnya keluar dari area kost-an Alea yang berada di sekitar kampus gadis itu, setelah mendapat informasi kalau kamar Alea kosong tidak berpenghuni. Meski tidak berpenghuni, namun kamar itu tidak disewakan pada orang lain, sebab sudah dibayar.


Orion mengerutkan dahi, pasalnya dia tidak meminta Atika untuk membayar sewa kamar Alea. Sebab Orion ingin memindahkan Alea ke tempat yang lebih baik. Saat memberitahu hal itu pada Felix, satu analisa Felix simpulkan. Alea akan kembali ke tempat itu. Apalagi setelah dicek, pembayaran dilakukan oleh Alea delapan bulan lalu.


"Perintahkan satu orang untuk mengawasi kamar sewa Alea. Dia akan pulang satu waktu nanti. Dan itu tidak akan lama. Felix bisa menjaminya.


Sedang Orion langsung menuju rumah Alea. Satu jam dari rumah sewa Alea. Hari menjelang sore saat Orion menghentikan mobilnya di sebuah warung milik ayah dan ibu Alea.


Berpura-pura membeli air minum, dan menumpang istirahat. Orion memulai penyelidikannya. Awalnya dia hanya duduk diam di depan warung lumayan besar itu. Sangat ramai sebenarnya, hingga dilihatnya ayah dan ibu Alea sedikit kewalahan.


"Dia lagi magang, Bu. Jadi gak bisa pulang." Ayah Alea menjawab.


"Alah paling kalau dia pulang cuma mau minta duit doang. Sambil marah-marah." Timpal seorang ibu lain yang langsung disenggol oleh ibu yang tadi.


Orion menajamkan telinganya. Sepertinya hubungan Alea dan orang tuanya kurang baik. Orion kemudian teringat saat Alea mengigau setelah sesi bercinta mereka malam itu. Satu rentetan permintaan maaf untuk ayah dan ibunya terucap dari bibir Alea.


"Siapa tahu dia masih sama kayak dulu." Tambah yang lain.

__ADS_1


"Ah, bukankah itu biasa. Anak meminta uang pada orang tuanya." Ibu Alea yang bicara sekarang.


"Iya juga sih. Malah heran kalau ada anak tidak pernah minta duit sama orang tuanya. Siapa tahu tu anak malah nyambi main sama om-om." Serobot seorang ibu-ibu berdaster.


Etdah busettt, omongan emak-emak emang setajam silet ya. Orion hampir tersedak dibuatnya. Meski Alea tidak pernah melakukannya. Ya tentu saja, soalnya mahkota Alea, Orion yang mengambilnya. Pria itu sesaat mengulum senyum. Rasanya nikmat bercinta dengan Alea. Plakk, pria itu mengeplak kepalanya sendiri. Bisa-bisanya berpikir seperti itu saat Alea belum ditemukan.


"Oke kau ketemukan, akan kuseret kau ke KUA. Bodo amat mau masih marah atau tidak terima."


"Eh tapi sudah lama tidak pernah melihat Alea pulang." Seorang ibu kembali bertanya.


"Kan tadi sudah dibilangin magang." Sabar, ayah Alea menjawab pelan.


"Siapa tahu sudah pulang." Cecar yang lain.


"Belum, Alea belum pulang. Kalau sudah pulang kami akan libur. Mau menghabiskan waktu dengan Alea. Kami rindu dengannya." Ibu Alea menjawab sambil mengulurkan kantong plastik belanjaan ibu-ibu tersebut.


Fix, Alea tidak pulang ke rumah orang tuanya. Orion beranjak dari duduknya, kembali masuk ke mobilnya. Pria itu menghela nafas. Ke mana lagi dia harus mencari. Lelah sekali rasanya. Pencariannya hari ini tidak membuahkan hasil, zonk.


Mata Orion baru saja akan terpejam, saat kaca mobilnya diketuk dari luar. Mata Orion membulat melihat siapa yang berdiri di depannya.


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2