Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Ajakan Xia Lin


__ADS_3

Orion tampak pulas dalam tidurnya. Tubuh bagian atas Orion terbuka, hanya tertutup selimut rumah sakit. Luka di bahu Orion membuat pria itu sulit dipakaikan baju. Alhasil setelah kemejanya dipotong dan masuk ruang operasi empat jam lalu, Orion dibiarkan tanpa memakai pakaian.


"Bagaimana?" Xuan menerobos masuk ke ruang perawatan Orion. Tinggal Felix yang masih membuka mata. Sementara Darrel sudah meringkuk di sofa.


"Mayanlah, jahit enam." Balas Felix. Ya, dia pernah melihat Orion dengan keadaan lebih parah dari ini. Saat mereka jatuh di air terjun dan terseret arus.


Xuan menarik nafasnya lega, lantas ikut mendudukkan diri di sofa single sebelah Darrel. Pria itu melihat ke arah Orion, lantas membuang nafasnya kasar. Ada hal penting yang baru saja dia temukan. Namun melihat keadaan Orion, Xuan akan menunda memberitahu Orion.


Beni juga ditahan untuk menjalani serangkain pemeriksaan terkait kesehatan jantungnya. Pria itu meski merasa lemah, tapi juga bahagia. Dua putrinya berada di sisinya untuk merawatnya. Sementara Mario, Axa dan An masih berada di kantor polisi. Mereka akan mengajukan tuntutan terhadap Abraham dan Belia. Sepasang suami istri yang mengubah wajahnya menjadi seperti mereka.


Di ruangan Orion, Felix tampak gelisah. Berulang kali pria itu melihat ke arah Orion. Sesekali menggoyangkan kakinya. Pria itu sudah menemui mamanya. Meida jelas terharu melihat Felix yang masih hidup. Air mata Meida tak henti mengalir sambil memeluk tubuh tinggi sang putra. Doa yang dia panjatkan antara sadar dan tidak, terkabul. Meski wanita itu kecewa karena Sera tidak ada di sini. Beralasan kembali ke Milan untuk melanjutkan studinya. Namun Felix berjanji akan membawa Sera pulang.


Yang jadi beban pikiran Felix adalah bagaimana memberitahu orang-orang ini kalau Orion adalah Valdy, serta Abraham dan Belia adalah orang tua Valdy. Dilema melanda Felix. Baginya, dia tidak masalah dengan identitas Orion yang anak penipu. Tapi bagaimana dengan yang lain. Terlebih setelah ditelusuri, Abraham mempunya beberapa bisnis ilegal dengan menggunakan nama Athaya sebagai jaminannya. Pencemaran nama baik sudah pasti ikut menjerat Abraham. Belum lagi dengan penggelapan dana yang mulai terkuak setelah Xuan memberi kisi-kisi pada pihak kepolisian. Hanya berupa petunjuk kecil, selebihnya polisi yang bergerak untuk mengusutnya.


"Berikan aku alamat Alea." Bisik Felix pada Xuan. Satu tatapan penuh tanya Xuan berikan pada Felix. Pria itu beralasan kalau keadaan sudah aman sekarang. Abraham dan Belia sudah dipenjara. Jadi Alea bisa kembali.


Sesaat Xuan terdiam. Dia teringat ucapan Alea sebelum kontrak mereka berakhir. "Aku ingin menjalani kehidupanku dengan tenang. Tanpa konflik keluarga dan rebutan harta. Lagipula aku tidak berhak berada di sana. Aku cuma pengganti."


Alea bertekad tidak akan kembali. Dia ingin kembali ke kehidupannya yang lama. "Kenapa? Ada masalah?" pertanyaan Felix membuat lamunan Xuan buyar. Tak berapa lama, Xuan menjelaskan duduk perkaranya.


"Aku kan kakaknya. Aku akan membujuknya." Felix menjawab santai. Lagi pula dia ingin mengembalikan sesuatu pada Alea.


"Kalau dia ngamuk. Aku gak ikut nanggung lo. Tahu sendiri kalau dia ngamuk kek apa."


"Dia cuma ngamuk sama Orion. Sebab dia ingin diperhatikan oleh Orion." Kekeh Felix yang disambut wajah bingung Xuan. Namun Felix menggeram kesal, karena detik berikutnya Xuan mengatakan kalau yang tahu alamat Alea, itu Axa. Bukan dirinya.

__ADS_1


"Hack dong." Dongkol Felix parah. Xuan hanya nyengir tanpa dosa, melihat Felix yang keluar dari kamar Orion, kesal.


Di tempat lain, Abraham sibuk berteriak dari dalam sel tahanannya. Dia tidak terima sudah dijebloskan ke penjara. Pria itu terus memaki nama Orion. Pria itu bersumpah akan membalas dendam pada Orion. Tanpa Abraham sadari, sejak tadi ada seorang pria berparas bule Eropa memperhatikan dirinya. Pria itu menarik satu sudut bibirnya, menampilkan satu lengkung senyum di wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


Semua dokumen sudah lengkap, bukti-bukti pun sudah komplit cukup untuk menjerat dua orang itu. Tak lama lagi, Abraham dan Belia sudah bisa dibawa ke meja hijau, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.


Vano termenung di kafe rumah sakit. Pria itu baru bertukar jaga dengan Meida. Menikmati kopi juga merenungkan apa yang sudah terjadi pada keluarga Athaya. Satu hal yang pria itu pelajari, harta tidak serta merta membuat orang hidup damai dan tenteram.Meski punya harta juga mendukung kebahagiaan. Vano menarik nafasnya dalam. Dia akan mengikuti jejak sang papa, hidup semampunya tanpa memikirkan gengsi dunia.


Untuk pasangan, dia akan mencari gadis yang mau menerima keadaannya tanpa tuntutan. Awalnya dia ingin Alea karena dia yakin gadis itu hanya mirip dengan Sera. Bukan Sera. Namun sejak kejadian di kafe hari itu, dia sadar. Alea juga punya rasa untuk Orion dan dia tidak ingin merusak hubungan keduanya. Sama-sama memiliki rasa, dia akan mengalah pada Orion.


"Hai...." satu suara masuk ke telinga Vano. Pria itu menoleh, dan mendapati Xia Lin duduk di sampingnya. Gadis itu tampak sibuk menata makanan di atas meja.


"Apa ini?" tanya Vano sambil mengerutkan dahi. Xia Lin memasak? Yang benar saja. Tuan putri manja itu tidak mungkin akan masuk dapur. Atau dia akan meledakkan semua.


"Makananlah. Pakai tanya. Tante Mei dan Mika sudah makan, tinggal kamu. Kenapa?" tanya Xia Lin heran melihat raut wajah tidak percaya Vano.


"Cobain dulu napa, baru komen. Itu chef Albert yang buat. Bukan aku." Xia Lin menjawab tanpa semangat. Patah sudah semangatnya gara-gara ucapan Vano.


"Masak sih? Aku pikir kamu yang masak. Iya juga ya, kalau kamu yang masak, gak cantik gini tampilannya." Vano mulai antusias mengambil sendok dan garpu lalu mulai menyantap makanan dari Xia Lin.


Xia Lin mendengus geram. Sejak dulu Vano memang seperti itu, suka menggodanya. Seharusnya dia tahu kalau sifat Vano memang seperti itu. Xia Lin sendiri sudah bertekad tidak akan aneh-aneh lagi. Setelah diceramahi sang kakak, Xia Sun. Kakak Xia Lin berucap, cukup main-main dengan banyak pria. Bawa saja satu yang serius pada Xia Lin. Tidak perlu kaya yang penting dia pria baik.


Nama Vano langsung muncul di benak Xia Lin saat itu. Sejak kecil Vano lah yang selalu bersikap baik padanya, perhatian. Meski kadang menyebalkan, seperti sekarang ini. Namun Xia Lin sedikit ragu saat ingin mengungkapkan perasaannya, padahal dia sering mengatakan suka pada Vano.


"Ini enak. Aku percaya kalau chef Albert yang masak." Gumam Vano di sela kunyahannya.

__ADS_1


"Kak....ayo pacaran." Vano tertegun mendengar ajakan Xia Lin. Dia tidak salah dengar kan. Xia Lin mengajaknya pacaran.


"Pacaran? Kamu mengharapkan apa dariku? Aku miskin tidak sekaya kalian." Balas Vano santai.


"Karena itu aku tidak cari yang kaya. Yang penting kamu bisa ngasih aku 20 juta sebulan. Itu cukup."


"Ini pacaran bukan menikah." Balas Vano santai.


"Memang bisa ngasih 20 juta sebulan?" tantang Xia Lin. Vano tampak berpikir. Dia apartemen sudah punya, dia juga menanam saham di beberapa perusahaan. Plus beberapa investasi di bidang properti.


"Limitku 40....."


"Mari menikah!"


What? Bola mata Vano melotot mendengar ajakan absurd dari Xia Lin. Tidak pernah menyangka kalau gadis itu berani mengajaknya menikah.


****



Kredit Pinterest.com


Noh Van diajakin nikah ma Xia Lin..


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2